Diseminasi Video Edukatif Interaktif sebagai Media Pembelajaran Digital untuk Meningkatkan Motivasi dan Keterlibatan Belajar Siswa Sekolah Dasar

·

·

, ,

Adinda Juwita Tri Hapsari

2301216924

Kelas A23

Bagian I

Pendahuluan – Analisis Kesenjangan

Perkembangan pendidikan di era digital menuntut transformasi pembelajaran dari pola penyampaian informasi satu arah menuju penciptaan pengalaman belajar yang bermakna dan partisipatif. Secara ideal, pembelajaran di sekolah dasar seharusnya dirancang untuk menumbuhkan motivasi belajar, rasa ingin tahu, dan keterlibatan aktif siswa melalui lingkungan belajar yang kaya akan interaksi. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara harapan pedagogis tersebut dengan praktik pembelajaran yang berlangsung. Pemanfaatan teknologi masih didominasi oleh penggunaan media pasif, seperti video satu arah, yang belum sepenuhnya dirancang sebagai bagian dari sistem pembelajaran yang interaktif dan berorientasi pada pengalaman belajar siswa. Kondisi ini mencerminkan kritik Hokanson et al. (2018) bahwa teknologi pendidikan sering terjebak pada orientasi konten semata (beyond content), tanpa memperhatikan desain pengalaman belajar. Oleh karena itu, diperlukan solusi berbasis teknologi pendidikan yang mampu menjembatani kebutuhan pedagogis siswa dengan pemanfaatan teknologi secara sistematis dan bermakna, sebagaimana ditegaskan oleh Albert et al. (2021) tentang pentingnya sinergi antara kecerdasan manusia dan teknologi.

Bagian II

Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)

Fokus Masalah dan Landasan Desain Pembelajaran

Fokus utama permasalahan dalam proyek ini terletak pada rendahnya motivasi dan keterlibatan belajar siswa sekolah dasar akibat desain pembelajaran yang masih bersifat teacher-centered dan minim interaksi. Video pembelajaran yang digunakan cenderung hanya berfungsi sebagai media penyampai informasi, bukan sebagai sarana yang mendorong proses berpikir aktif siswa. Berdasarkan perspektif desain pembelajaran, kondisi ini menunjukkan lemahnya integrasi antara tujuan pembelajaran, strategi penyajian, dan pengalaman belajar yang dialami siswa. Bishop et al. (2020) menegaskan bahwa desain pembelajaran yang efektif harus berlandaskan pada teori pembelajaran dan riset empiris agar mampu memfasilitasi keterlibatan kognitif dan afektif peserta didik. Oleh karena itu, pengembangan Video Edukatif Interaktif dalam proyek ini dirancang sebagai respons pedagogis untuk menghadirkan media yang selaras dengan karakteristik belajar siswa sekolah dasar.

Transformasi Teknologi dan Koherensi Fitur Proyek

Transformasi teknologi dalam proyek ini diwujudkan melalui pergeseran fungsi video dari media pasif menjadi media interaktif yang terintegrasi dengan aktivitas kognitif siswa. Setiap fitur dalam Video Edukatif Interaktif dirancang secara koheren dan saling terhubung, mulai dari pembukaan kontekstual, penyajian materi berbasis visual dan audio, hingga penyematan kuis interaktif dan refleksi singkat. Koherensi ini penting agar siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat dalam proses pengolahan makna secara bertahap. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Spector et al. (2014) bahwa teknologi pembelajaran harus menciptakan lingkungan belajar yang terstruktur, adaptif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas proses belajar. Dengan demikian, transformasi teknologi yang dilakukan bukan sekadar inovasi teknis, tetapi merupakan transformasi pedagogis yang mendukung pengalaman belajar yang lebih bermakna.


Bagian III

Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)

Analisis “How”: Kolaborasi Manusia dan Teknologi

Dari perspektif teknologi pendidikan, Video Edukatif Interaktif berfungsi sebagai bentuk kolaborasi konkret antara manusia (guru dan siswa) dengan teknologi. Guru tidak digantikan oleh media, melainkan diperkuat perannya sebagai perancang dan fasilitator pembelajaran. Teknologi hadir untuk membantu guru menyajikan materi secara menarik dan sistematis, sementara siswa berinteraksi langsung dengan media sebagai bagian dari proses belajar. Konsep ini selaras dengan gagasan Albert et al. (2021) mengenai pentingnya menjembatani kecerdasan manusia dengan kecerdasan teknologi, di mana teknologi berfungsi sebagai mitra pedagogis, bukan sebagai pengganti peran manusia.

Analisis “How”: Dekomposisi Masalah dalam Produk

Masalah utama dalam pembelajaran, yaitu rendahnya motivasi belajar siswa, didekomposisi ke dalam beberapa aspek yang lebih sederhana, seperti kurangnya visual menarik, minimnya interaksi, dan tidak adanya refleksi belajar. Setiap aspek tersebut dijawab melalui fitur spesifik dalam Video Edukatif Interaktif. Visual dan animasi menjawab kebutuhan representasi konkret, kuis interaktif menjawab kebutuhan partisipasi aktif, dan refleksi singkat membantu penguatan pemahaman. Pendekatan ini mencerminkan penerapan berpikir komputasional dalam desain pembelajaran, sebagaimana dijelaskan oleh Rich dan Hodges (2017), di mana masalah kompleks dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih terkelola dan sistematis.

Analisis “How”: Definisi dan Peran Teknologi Pendidikan

Secara keilmuan, proyek ini menempatkan Video Edukatif Interaktif sebagai karya dalam disiplin Teknologi Pendidikan. Mengacu pada definisi Januszewski dan Molenda (2008), teknologi pendidikan merupakan studi dan praktik etis dalam memfasilitasi belajar dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan sumber teknologi yang tepat. Video Edukatif Interaktif dalam proyek ini memenuhi definisi tersebut karena dirancang secara sistematis untuk memfasilitasi proses belajar siswa, meningkatkan motivasi, serta memperkaya pengalaman belajar melalui pemanfaatan teknologi digital.


Bagian IV

Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek

Aksesibilitas dan Konsep Pembelajaran

Video pembelajaran interaktif ini dapat diakses melalui platform berbasis web seperti YouTube atau Learning Management System (LMS) yang mendukung integrasi kuis. Aksesibilitas ini memungkinkan siswa untuk mengerjakan kuis secara mandiri maupun terbimbing sesuai dengan konteks pembelajaran. Dari perspektif pedagogis, penyematan kuis dalam video mendukung pembelajaran aktif karena siswa diarahkan untuk berhenti sejenak, memproses informasi, dan memberikan respon terhadap materi yang dipelajari, sehingga proses belajar tidak bersifat linier, melainkan reflektif dan partisipatif.

Tutorial Penggunaan dan Video Demonstrasi

Video tutorial yang disematkan pada bagian ini berfungsi sebagai panduan praktis dalam menggunakan produk Video Edukatif Interaktif. Tutorial tersebut menampilkan langkah-langkah mengakses video pembelajaran, memahami instruksi kuis, serta tata cara mengerjakan soal-soal interaktif yang muncul di dalam video. Penyajian tutorial dilakukan secara langsung oleh pengembang dengan menampilkan wajah sebagai presenter, sehingga pengguna memperoleh penjelasan yang lebih komunikatif dan mudah dipahami. Dengan demikian, video tutorial tidak hanya berperan sebagai petunjuk teknis, tetapi juga sebagai bagian dari diseminasi pemanfaatan produk pembelajaran digital secara efektif.


Bagian V

Penutup – Kesimpulan dan Unconstrained Learning

Sebagai kesimpulan, pengembangan Video Edukatif Interaktif dalam proyek ini menunjukkan bahwa teknologi pendidikan dapat dimanfaatkan secara strategis untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan belajar siswa sekolah dasar. Produk ini tidak hanya berfungsi sebagai media pembelajaran, tetapi sebagai sistem pembelajaran digital yang dirancang secara pedagogis dan teknologis. Pemanfaatan video interaktif mencerminkan paradigma unconstrained learning, yaitu pembelajaran tanpa batasan ruang dan waktu, yang memungkinkan peserta didik mengakses pengalaman belajar secara fleksibel dan berkelanjutan (Moller & Huett, 2012). Dengan demikian, proyek ini berkontribusi pada pengembangan praktik pembelajaran digital yang lebih adaptif, humanis, dan relevan dengan tantangan pendidikan di era digital.

Referensi (APA Style)

Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.

Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.

Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.

Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.

Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.

Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.

Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.

Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *