Merari Else Pradipta
230121602159
Kelas A
Harapan Proyek
Pendidikan di zaman digital memerlukan perubahan mendasar dari sekadar penyampaian pengetahuan faktual menjadi pembentukan pengalaman belajar yang lebih mendalam. Perkembangan MOOC (Kursus Daring Terbuka Massal) dan mikro-kredensial telah menyediakan kesempatan baru untuk pengembangan profesional guru yang dapat disesuaikan, dapat dibawa, dan berorientasi pada kompetensi. MOOC menjangkau ribuan pelajar dan menawarkan micro credentials sebagai jalur sertifikasi singkat yang sesuai untuk para profesional di bidang pendidikan. Program ini berusaha memanfaatkan tren tersebut guna meningkatkan kompetensi guru secara praktis
Konteks Proyek
Kompleksitas dalam merancang pembelajaran yang efisien dan dapat disesuaikan sangat krusial. Namun, tantangan klasik MOOC seperti rendahnya tingkat penyelesaian dan kurangnya praktik terapan memerlukan desain Pengembangan Profesional (PD) yang berbasis bukti dan terhubung dengan pekerjaan untuk mendorong penerapan di lapangan. Beragam Lembaga Pendidikan menyatakan bahwa micro-credentials yang dirancang dengan rubrik, bukti artefak, dan penilaian yang dapat dipercaya mampu memperbaiki penerapan praktik baru oleh para guru
Deskripsi Kesenjangan
Kenyataan di lapangan menunjukkan adanya perbedaan antara pemahaman teori guru tentang blended learning dan kemampuan nyata dalam menerapkannya di kelas. Untuk mengatasi kesenjangan ini, dibutuhkan solusi yang menggabungkan micro-credentials (badging) dengan tugas praktikum dan penilaian yang terstandar untuk meningkatkan motivasi, memvalidasi keterampilan, serta berperan sebagai jalur sertifikasi. Oleh sebab itu, program ini menetapkan bukti praktik (rencana pembelajaran, video, demo, data pre-post) sebagai syarat untuk pengakuan micro-credentials
Uraian Deskripsi Solusi Proyek
Sebagai solusi konkret atas tantangan tersebut, proyek ini mengembangkan program “Micro-Credentials; Blended Learning for Teacher”. Program ini merupakan rangkaian tiga micro-credentials bertipe stackable (badge 1-3) yang fokus pada bukti praktik (penilaian berbasis artefak) dan penilaian menggunakan rubrik.
Inovasi utama dari proyek ini adalah:
- Evidence based badging: Setiap badge diterbitkan jika artefak peserta memenuhi kriteria rubrik yang telah ditentukan (alignment tujuan aktivitas, assessment, penggunaan teknologi, inklusivitas, refleksi praktik).
- Stackable pathway: Modul disusun berjenjang (Fundamental-Implementasi-Evaluasi) sehingga memudahkan proses pembelajaran secara berkelanjutan.
- Model hybrid MOOC-MOCC: Diluncurkan MOOC terbuka pilot (freemium) dengan pilihan MOCC berbayar yang menyediakan mentor, verifikasi artefak akhir, dan badge terverifikasi (Credly/Badgr).
Secara materi, proyek fokus pada tiga kompetensi inti: (1) desain Rencana Pelajaran Blended (RPB) yang terintegrasi teknologi; (2) pengelolaan aktivitas sinkron dan asinkron; dan (3) pengukuran dampak pembelajaran dan refleksi praktik.
Rumusan Masalah Proyek
Permasalahan utama dalam proyek ini berfokus pada:
- Bagaimana bukti basis desain micro credentials dapat memperkuat kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan blended learning di kelas?
- Apakah model MOCC (jalur berbayar/bersertifikat) yang menyertakan verifikasi artefak dan bimbingan meningkatkan tingkat penyelesaian dan penerapan praktik dibandingkan dengan MOCC terbuka?
Tujuan Proyek
Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk meningkatkan kapabilitas pedagogis guru dalam merancang pengalaman Blended Learning yang bermakna:
- Dalam 12 minggu pilot, 70% peserta $(n=100)$ yang mendaftar menyelesaikan minimal 1 micro-credential dan mengumpulkan artefak praktik yang dinilai $\ge70\%$ menurut rubrik yang ditetapkan19.
- Meningkatkan skor self-efficacy peserta terkait desain dan implementasi blended learning sebesar minimal 25% (pre post) serta meningkatkan tingkat penerapan minimal satu praktik blended learning di kelas dalam 1 bulan pasca-badge20.
Metodologi Pengembangan Proyek
Proyek ini dilaksanakan dengan mengadaptasi model pengembangan konten digital yang sistematis, yaitu model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Strategi pedagogis menggabungkan competency-based education, job-embedded learning, dan active learning.
- Fase Analisis (Minggu 1): Analisis kebutuhan & pemetaan kompetensi guru; pengumpulan sampel artefak; desain rubrik.
- Fase Desain (Minggu 2-3): Penyusunan blueprint badge, storyboard microlearning, pembuatan rubrik detail, template lesson plan.
- Fase Pengembangan (Minggu 4-6): Produksi materi Badge 1, konfigurasi Moodle & H5P, integrasi Badgr/Credly.
- Fase Implementasi (Minggu 7-9): Peluncuran pilot Badge 1 untuk 100 peserta; fasilitasi forum; pelaksanaan peer review.
- Fase Evaluasi (Minggu 10-12): Analisis pre/post, penilaian artefak oleh assessor, laporan evaluasi, persiapan Badge 2 & 3.
Microlearning singkat (video 5-8 menit + tugas praktik) meminimalkan beban waktu guru, dan tugas praktik dirancang agar langsung diterapkan di kelas (work-integrated).
Referensi
Adeoye, M. A., Wirawan, K. A. S. I., Pradnyani, M. S. S., & Septiarini, N. I. (2024). Revolutionizing education: Unleashing the power of the ADDIE model for effective teaching and learning. JPI (Jurnal Pendidikan Indonesia), 13(1), 202-209.
Adriani, D., Lubis, P., & Triono, M. (2020). Teaching material development of educational research methodology with Addie Models. In 3rd International Conference Community Research and Service Engagements, IC2RSE 2019, 4 December 2019, North Sumatra, Indonesia. Almelhi, A. M. (2021).
Effectiveness of the ADDIE model within an E-learning environment in developing creative writing in EFL students. English Language Teaching, 14(2), 20-36. Daryanes, F., Darmadi, D., Fikri, K., Sayuti, I., Rusandi, M. A., & Situmorang, D. D. B. (2023).
The development of articulate storyline interactive learning media based on case methods to train student’s problem-solving ability. Heliyon, 9(4). Donnellan, J. (2021). Articulate storyline 360. Computer-Assisted Language Learning Electronic Journal, 22(3), 251-260.
Dwitiyanti, N., Kumala, S. A., & Widiyatun, F. (2020). Using the ADDIE model in development of physics unit convertion application based on Android as learning media. Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 10(2).
Fitria, T. N. (2022). Microlearning in teaching and learning process: A review. CENDEKIA: Jurnal Ilmu Sosial, Bahasa Dan Pendidikan, 2(4), 114-135. Hadza, C., Sesrita, A., & Suherman, I. (2020).
Development of learning media based on articulate storyline. Indonesian Journal of Applied Research (IJAR), 1(2), 80-85. Heliawati, L., Lidiawati, L., & Pursitasari, I. D. (2022). Articulate Storyline 3 multimedia based on gamification to improve critical thinking skills and self-regulated learning.
International Journal of Evaluation and Research in Education, 11(3), 1435-1444. Javorcik, T., Kostolanyova, K., & Havlaskova, T. (2023).
Microlearning in the education of future teachers: Monitoring and evaluating students’ activity in a microlearning course. Electronic Journal of E-learning, 21(1), 13-25. Leong, K., Sung, A., Au, D., & Blanchard, C. (2021).
A review of the trend of microlearning. Journal of Work-Applied Management, 13(1), 88-102. Mbagho, H. M., & Tupen, S. N. (2020)

Tinggalkan Balasan