DIGILearn: Media Microlearning Interaktif untuk Meningkatkan Literasi Digital Mahasiswa

·

·

, ,

Bagian I. Pendahuluan

  1. Analisis Kesenjangan

Perkembangan teknologi pendidikan idealnya memungkinkan mahasiswa tidak hanya mengakses materi pembelajaran secara daring, tetapi juga membangun pemahaman, keterampilan berpikir kritis, serta literasi digital yang aplikatif. Dalam perspektif teknologi pendidikan, Januszewski dan Molenda (2013) menegaskan bahwa teknologi pembelajaran seharusnya dirancang untuk memfasilitasi proses belajar yang bermakna, bukan sekadar sebagai alat penyampai informasi. Namun, kondisi nyata di banyak perguruan tinggi Indonesia menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan tersebut dan praktik pembelajaran daring di lapangan. Pembelajaran digital yang difasilitasi melalui LMS seperti SPADA Indonesia masih didominasi oleh penyajian materi berbasis teks, slide, dan dokumen statis, dengan tingkat interaktivitas yang terbatas. Akibatnya, mahasiswa memang mampu mengakses konten, tetapi belum sepenuhnya terlibat secara kognitif dan reflektif dalam proses belajar. Spector (2016) menekankan bahwa pembelajaran digital yang efektif menuntut desain pengalaman belajar yang mendorong keterlibatan aktif, pengambilan keputusan, dan pemrosesan informasi tingkat tinggi. Ketika media pembelajaran tidak dirancang secara interaktif dan adaptif, potensi teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran justru tidak tercapai. Kondisi ini sejalan dengan pandangan Moller et al. (2008) yang menyatakan bahwa tantangan utama pembelajaran daring bukan pada ketersediaan teknologi, melainkan pada kualitas desain instruksional dan pengalaman belajar yang ditawarkan. Kesenjangan inilah yang melatarbelakangi pengembangan DIGILearn sebagai media microlearning interaktif, yang dirancang untuk menjembatani perbedaan antara harapan pembelajaran digital yang bermakna dan realitas praktik pembelajaran daring yang masih bersifat pasif dan minim interaksi.

Bagian II. Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)

  1. Fokus Masalah dan Landasan Desain

Fokus utama permasalahan dalam proyek DIGILearn terletak pada rendahnya keterlibatan kognitif mahasiswa dalam pembelajaran daring yang disebabkan oleh desain media pembelajaran yang kurang interaktif dan tidak selaras dengan prinsip pembelajaran bermakna. Dalam kerangka teknologi pendidikan, Januszewski dan Molenda (2013) menegaskan bahwa desain pembelajaran harus berangkat dari analisis kebutuhan belajar dan karakteristik peserta didik, bukan semata-mata dari ketersediaan teknologi. Oleh karena itu, DIGILearn dirancang dengan pendekatan kognitivistik berbasis microlearning untuk membantu mahasiswa mengolah informasi secara bertahap dan terstruktur. Fitur-fitur seperti konten singkat, visual interaktif, dan kuis reflektif bukan sekadar elemen teknis, melainkan representasi dari prinsip desain pembelajaran yang mendukung proses encoding, pengorganisasian informasi, dan penguatan memori. Spector (2016) menekankan bahwa lingkungan belajar digital yang efektif harus mendorong pembelajar untuk aktif membangun pengetahuan melalui interaksi, refleksi, dan evaluasi diri. Dengan demikian, fokus masalah DIGILearn bukan hanya pada keterbatasan media, tetapi pada ketidaksesuaian antara desain pembelajaran daring yang ada dengan kebutuhan kognitif mahasiswa dalam mengembangkan literasi digital secara bermakna.

  1. Transformasi Teknologi dan Koherensi Fitur

Transformasi teknologi dalam proyek DIGILearn diwujudkan melalui pemanfaatan platform Genially sebagai sarana untuk mengonversi materi literasi digital yang bersifat abstrak menjadi pengalaman belajar yang visual, interaktif, dan terstruktur secara pedagogis. Dalam perspektif teknologi pendidikan, transformasi teknologi bukan sekadar adopsi alat digital baru, melainkan proses integrasi teknologi ke dalam desain pembelajaran yang koheren dan berorientasi pada tujuan belajar (Januszewski & Molenda, 2013). Setiap fitur dalam DIGILearn—mulai dari modul microlearning berdurasi singkat, elemen click-to-reveal, hingga kuis evaluatif—dirancang saling terhubung dalam satu alur belajar yang logis, sehingga mahasiswa dapat membangun pemahaman secara progresif. Moller et al. (2008) menekankan bahwa pembelajaran daring yang berkualitas harus memiliki keselarasan antara tujuan, aktivitas belajar, dan asesmen. Prinsip ini tercermin dalam DIGILearn melalui hubungan yang jelas antara penyajian materi, aktivitas interaktif, dan evaluasi pemahaman pada setiap modul. Koherensi fitur tersebut memastikan bahwa teknologi tidak berfungsi sebagai distraksi, melainkan sebagai mediator pembelajaran yang memperkuat proses berpikir kritis dan reflektif mahasiswa. Dengan demikian, DIGILearn merepresentasikan transformasi teknologi yang berakar pada teori pendidikan, di mana fitur teknis dirancang secara sadar untuk mendukung proses belajar yang efektif dan berorientasi pada pengembangan literasi digital mahasiswa.

Bagian III. Analisis “How” – Kolaborasi & Teknologi

  1. Analisis “How”: Kolaborasi Manusia dan Teknologi

Dalam proyek DIGILearn, kolaborasi antara manusia dan teknologi diwujudkan melalui desain media pembelajaran interaktif yang menempatkan mahasiswa sebagai pengendali utama proses belajar, sementara teknologi berperan sebagai fasilitator kognitif. Produk ini bekerja dengan menyediakan lingkungan belajar digital yang memungkinkan mahasiswa berinteraksi langsung dengan konten melalui eksplorasi visual, klik interaktif, dan refleksi mandiri. Menurut Spector (2016), teknologi pembelajaran yang efektif harus mendukung pembelajar dalam mengelola aktivitas belajar mereka sendiri, bukan menggantikan peran berpikir manusia. Prinsip tersebut diterapkan dalam DIGILearn dengan memberi ruang bagi mahasiswa untuk menentukan tempo belajar, mengulang materi, serta mengevaluasi pemahaman melalui kuis reflektif. Teknologi Genially berfungsi sebagai medium yang menjembatani interaksi ini, memungkinkan konten statis diubah menjadi pengalaman belajar aktif. Dengan demikian, kolaborasi manusia dan teknologi dalam DIGILearn bersifat komplementer, di mana teknologi memperkuat kapasitas belajar manusia tanpa menghilangkan peran kognitif dan reflektif mahasiswa sebagai subjek utama pembelajaran.

  1. Analisis “How”: Dekomposisi Masalah

DIGILearn dirancang sebagai solusi sistematis melalui proses dekomposisi masalah, yaitu menguraikan persoalan kompleks literasi digital menjadi bagian-bagian pembelajaran yang lebih sederhana, terfokus, dan mudah dipahami. Literasi digital yang mencakup aspek keamanan data, etika bermedia, dan kecerdasan informasi sering kali dipersepsikan mahasiswa sebagai konsep abstrak dan luas. Oleh karena itu, proyek ini memecahnya ke dalam modul microlearning berdurasi singkat dengan satu tujuan belajar spesifik pada setiap unit. Pendekatan ini selaras dengan prinsip desain pembelajaran daring yang dikemukakan oleh Moller et al. (2008), yang menekankan pentingnya segmentasi konten agar pembelajar tidak mengalami beban kognitif berlebih. Dalam struktur aplikasi DIGILearn, dekomposisi masalah diwujudkan melalui alur pembelajaran bertahap: pengenalan konsep, eksplorasi interaktif, refleksi, dan evaluasi. Setiap bagian saling terhubung namun berdiri secara mandiri, sehingga mahasiswa dapat memahami masalah literasi digital secara parsial sebelum membangun pemahaman yang utuh dan komprehensif.

  1. Analisis “How”: Definisi dan Peran Teknologi

Secara konseptual, DIGILearn menegaskan posisinya dalam disiplin Teknologi Pendidikan sesuai dengan definisi standar yang dikemukakan oleh Januszewski dan Molenda (2008), yaitu sebagai “studi dan praktik etis dalam memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan proses serta sumber teknologi yang tepat.” Dalam proyek ini, teknologi tidak dipahami sebagai sekadar alat digital, melainkan sebagai sistem terencana yang dirancang untuk memfasilitasi pembelajaran literasi digital secara efektif. Peran teknologi dalam DIGILearn mencakup fungsi desain (perancangan konten interaktif), fungsi fasilitasi (mendukung proses belajar mandiri), dan fungsi evaluasi (memberikan umpan balik pembelajaran). Spector (2016) menegaskan bahwa teknologi pendidikan harus berorientasi pada peningkatan kualitas belajar, bukan hanya efisiensi penyampaian informasi. Oleh karena itu, DIGILearn menempatkan teknologi sebagai sarana pedagogis yang terintegrasi dengan tujuan, aktivitas, dan asesmen pembelajaran. Dengan pendekatan ini, DIGILearn secara jelas merepresentasikan karya dalam ranah Teknologi Pendidikan yang berbasis teori, berorientasi pada pemecahan masalah belajar, dan relevan dengan kebutuhan pembelajaran digital di pendidikan tinggi.

Bagian IV: Tutorial Pemanfaatan Produk

  1. Aksesibilitas & Konsep Pembelajaran

Untuk menggunakan DIGILearn, pengguna terlebih dahulu membuka tautan modul pembelajaran yang terintegrasi pada Learning Management System (LMS). DIGILearn dirancang berbasis web menggunakan platform Genially sehingga dapat diakses secara fleksibel melalui perangkat laptop, tablet, maupun smartphone tanpa memerlukan instalasi aplikasi tambahan. Karakteristik ini sejalan dengan prinsip aksesibilitas dalam teknologi pendidikan, di mana teknologi pembelajaran harus mudah dijangkau, ramah pengguna, dan mendukung pembelajaran mandiri (Januszewski & Molenda, 2008; Spector, 2016). Dari sisi pedagogis, desain microlearning memungkinkan mahasiswa mempelajari literasi digital secara bertahap melalui unit pembelajaran singkat yang mendukung pemrosesan kognitif dan retensi informasi secara lebih efektif.

  1. Tutorial Penggunaan Produk & Integrasi Video

Setelah modul dibuka, pengguna diarahkan untuk mengikuti alur pembelajaran yang telah disusun secara linear-interaktif, dimulai dari pengantar materi, eksplorasi konten visual interaktif, aktivitas klik (click-to-reveal), hingga kuis reflektif di akhir modul. Navigasi antarbagiannya dilakukan melalui tombol interaktif yang responsif, sehingga pengguna dapat mengontrol kecepatan belajar sesuai kebutuhannya. Untuk memperjelas cara penggunaan media, proyek ini dilengkapi dengan video tutorial yang diunggah melalui YouTube dan disematkan pada artikel, menampilkan penjelasan langsung oleh pengembang sebagai presenter. Kehadiran video tutorial ini berfungsi sebagai scaffolding teknologi, yang membantu pengguna memahami fungsi media sekaligus memperkuat keterhubungan antara desain teknologi dan pengalaman belajar (Moller et al., 2008; Januszewski & Molenda, 2008).

Bagian V: Penutup

  1. Kesimpulan & Unconstrained Learning

Berdasarkan hasil perancangan proyek, DIGILearn merepresentasikan bentuk pemanfaatan teknologi pendidikan yang strategis untuk menjawab tantangan rendahnya literasi digital dan keterbatasan interaktivitas dalam pembelajaran daring di perguruan tinggi. Melalui pendekatan microlearning interaktif berbasis Genially, DIGILearn menghadirkan pengalaman belajar yang fleksibel, berpusat pada mahasiswa, dan mudah diintegrasikan ke dalam ekosistem pembelajaran digital yang sudah ada. Produk ini menegaskan peran teknologi sebagai sarana sistematis untuk memfasilitasi proses belajar yang lebih bermakna, sebagaimana didefinisikan dalam kerangka teknologi pendidikan oleh Januszewski dan Molenda (2008), serta sejalan dengan pandangan Spector (2016) mengenai pentingnya desain pembelajaran digital yang adaptif dan berorientasi pada kebutuhan pengguna.

Lebih jauh, DIGILearn selaras dengan paradigma Unconstrained Learning, yaitu pembelajaran tanpa kendala ruang, waktu, dan perangkat, yang menjadi ciri utama pendidikan digital kontemporer. Mahasiswa dapat mengakses, mengeksplorasi, dan merefleksikan materi literasi digital secara mandiri sesuai ritme belajarnya, tanpa dibatasi oleh struktur pembelajaran konvensional. Konsep ini memperkuat transformasi pembelajaran jarak jauh menuju model yang lebih inklusif, fleksibel, dan berkelanjutan (Moller et al., 2008). Dengan demikian, DIGILearn tidak hanya berfungsi sebagai media pembelajaran, tetapi juga sebagai wujud konkret penerapan prinsip Unconstrained Learning dalam disiplin Teknologi Pendidikan, yang mendukung pengembangan kompetensi digital mahasiswa secara relevan dengan tuntutan era digital.

Daftar Referensi 

Amri, M., Fitria, Y., & Putri, R. A. (2023). Literasi digital mahasiswa dalam pembelajaran daring di perguruan tinggi. Jurnal Teknologi Pendidikan, 25(2), 145–156.

Balasundaram, S., Rahman, A., & Ismail, M. (2024). Interactive microlearning design for higher education: Enhancing engagement and cognitive efficiency. International Journal of Educational Technology, 11(1), 33–47.

Conde-Caballero, D., García-Peñalvo, F. J., & Therón, R. (2023). Microlearning strategies in higher education: A systematic review. Computers & Education: Artificial Intelligence, 4, 100124.

Denojean-Mairet, M. (2024). Authoring tools for interactive learning content: Pedagogical affordances of Genially. Journal of Educational Multimedia and Hypermedia, 33(1), 55–72.

Dinata, K. B. (2022). Penguatan literasi digital mahasiswa melalui media pembelajaran interaktif. Jurnal Inovasi Pendidikan, 9(1), 21–30.

Getenet, S., Beswick, K., & Callingham, R. (2024). Digital literacy, self-efficacy, and student engagement in online learning. Education and Information Technologies, 29(2), 1893–1912.

Januszewski, A., & Molenda, M. (2008). Educational technology: A definition with commentary. New York: Routledge.

Moller, L., Foshay, W. R., & Huett, J. (2008). The evolution of distance education: Implications for instructional design on the potential of the web. TechTrends, 52(4), 70–75.

Natsir, M., Sari, D. P., & Hidayat, R. (2022). Interaktivitas media digital dan pengaruhnya terhadap literasi digital mahasiswa. Jurnal Pendidikan Digital, 4(2), 101–112.

Praherdhiono, H., Adi, E. P., & Soepriyanto, Y. (2017). Teknologi pada media pembelajaran. Malang: UM Press.

Rini, E. S., Handayani, N., & Prasetyo, Z. K. (2022). Tantangan literasi digital mahasiswa dalam pembelajaran daring. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 29(3), 367–378.

Smith, T., & Storrs, J. (2023). Digital literacy in higher education: A user-centered learning design approach. Journal of Learning Design, 16(2), 45–60.

Spector, J. M. (2016). Foundations of educational technology: Integrative approaches and interdisciplinary perspectives. Educational Technology Research and Development, 64(5), 1001–1008.

Tinmaz, H., Goktas, Y., & Yilmaz, R. (2022). Digital competence and technology integration in higher education. Education Sciences, 12(4), 256.

Zhao, Y., Lei, J., & Frank, K. A. (2021). The cognitive theory of multimedia learning in digital education contexts. Educational Media International, 58(3), 211–225.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *