
Aditya Satrio Avianto
230121608996
Kelas B
I.Pendahuluan
1: Analisis Kesenjangan
Pembelajaran ideal pada era digital menuntut terciptanya ekosistem belajar yang reflektif, adaptif, dan multimodal, di mana teknologi berfungsi sebagai mitra pedagogis yang mampu memperkuat pemahaman konseptual serta proses metakognitif mahasiswa. Namun, dalam konteks pembelajaran asinkron mata kuliah Kajian Iklim Pembelajaran di lingkungan SIPEJAR, realitas yang terjadi masih didominasi oleh penyajian materi tekstual yang linear dan minim interaktivitas, sehingga kurang mampu memvisualisasikan konsep-konsep abstrak mengenai dinamika interaksi dan suasana kelas. Kondisi ini bertentangan dengan prinsip multimedia learning dan cognitive load theory yang menegaskan bahwa representasi visual dan segmentasi informasi berperan penting dalam mengurangi beban kognitif dan memperdalam pemahaman (Clark & Mayer, 2016; Mayer, 2021). Selain itu, ketiadaan umpan balik yang cepat dan personal dalam pembelajaran asinkron menghambat berkembangnya reflective thinking, padahal umpan balik merupakan elemen kunci dalam pembelajaran bermakna dan pembentukan regulasi diri mahasiswa (Hattie & Clarke, 2019). Kesenjangan antara harapan pembelajaran yang reflektif–human–AI dan praktik pembelajaran aktual ini menunjukkan perlunya solusi pedagogis berbasis microlearning interaktif yang tidak hanya menyajikan konten secara ringkas dan visual, tetapi juga mengintegrasikan AI-feedback untuk mendukung refleksi adaptif dan personal, sebagaimana ditegaskan oleh Spector (2020) dan Albert et al. (2021) mengenai peran teknologi cerdas dalam mendukung proses berpikir tingkat tinggi di pendidikan tinggi.
II. Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)
2: Fokus Masalah & Landasan Desain
Fokus masalah utama dalam proyek ini terletak pada ketidakmampuan lingkungan pembelajaran asinkron untuk memfasilitasi pemahaman konseptual dan refleksi mahasiswa secara optimal, khususnya pada materi iklim pembelajaran yang bersifat abstrak dan kontekstual. Untuk menjawab masalah tersebut, desain modul microlearning interaktif dirancang berlandaskan teori Cognitive Load Theory dan Multimedia Learning, dengan menyajikan materi dalam unit-unit kecil, visual, dan interaktif guna mendukung pemrosesan informasi secara segmentatif dan multimodal (Clark & Mayer, 2016; Mayer, 2021). Fitur teknis seperti navigasi non-linear, interactive hotspots, timeline, dan kuis formatif tidak diposisikan sebagai elemen dekoratif, melainkan sebagai instructional scaffolding yang mendorong elaborasi pengetahuan dan keterlibatan aktif mahasiswa. Integrasi AI-feedback berbasis pemrosesan bahasa alami menjadi penguat landasan pedagogis proyek ini, karena berfungsi sebagai mekanisme umpan balik adaptif yang mendukung proses metakognitif dan refleksi diri mahasiswa, sejalan dengan pandangan bahwa teknologi pendidikan harus memfasilitasi berpikir tingkat tinggi, bukan sekadar penyampaian konten (Spector et al., 2014; Albert et al., 2021). Dengan demikian, hubungan antara fitur teknis produk dan landasan teori pembelajaran dalam proyek ini bersifat koheren dan saling menguatkan dalam membangun ekosistem pembelajaran reflektif, adaptif, dan human-centered.
3: Transformasi Teknologi & Koherensi Fitur
TTransformasi teknologi dalam proyek ini tidak diposisikan sebagai sekadar digitalisasi materi, melainkan sebagai pergeseran paradigma pembelajaran menuju ekosistem belajar reflektif–adaptif berbasis kolaborasi manusia–AI. Koherensi fitur dalam modul microlearning interaktif berbasis Genially dirancang secara sistemik, di mana setiap elemen teknis memiliki justifikasi pedagogis yang saling terhubung dan masuk akal. Segmentasi konten menjadi unit microlearning yang ringkas merepresentasikan penerapan prinsip cognitive load theory (Clark & Mayer, 2016; Mayer, 2021) untuk meminimalkan beban kognitif intrinsik, sementara penggunaan elemen multimodal seperti visual interaktif, hotspot, dan timeline mendukung dual coding dan memperkuat konstruksi makna konseptual. Navigasi non-linear tidak hanya bersifat teknis, tetapi mencerminkan prinsip learner autonomy dan unconstrained learning (Moller & Huett, 2012), memungkinkan mahasiswa mengatur jalur belajar sesuai kebutuhan kognitifnya. Integrasi AI-feedback berbasis pemrosesan bahasa alami berfungsi sebagai instructional scaffolding digital yang koheren dengan tujuan reflektif proyek, karena teknologi secara aktif memediasi proses metakognitif melalui umpan balik adaptif tanpa menggantikan peran refleksi manusia. Dengan demikian, hubungan antara fitur teknis—microlearning, interaktivitas, navigasi non-linear, dan AI-feedback—membentuk satu kesatuan transformasi teknologi yang selaras dengan teori pembelajaran kontemporer, sebagaimana ditegaskan oleh Januszewski dan Molenda (2008) serta Spector et al. (2014), bahwa teknologi pendidikan yang bermakna harus terintegrasi secara konseptual, pedagogis, dan etis untuk benar-benar memfasilitasi pembelajaran mendalam.
III. Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)
4: Analisis “How” – Kolaborasi Manusia & TeknologiModul microlearning interaktif berbasis Genially dengan integrasi AI-feedback dalam proyek ini bekerja sebagai solusi sistematis melalui kolaborasi konkret antara mahasiswa dan teknologi dalam proses pembelajaran asinkron. Teknologi tidak menggantikan peran manusia, melainkan berfungsi sebagai pedagogical partner yang memfasilitasi pengolahan informasi, refleksi, dan regulasi diri secara berkelanjutan. Genially berperan sebagai medium visual-interaktif yang menyajikan konten tersegmentasi, non-linear, dan multimodal untuk mengurangi beban kognitif serta membantu mahasiswa membangun pemahaman konseptual secara mandiri, selaras dengan prinsip cognitive load theory dan multimedia learning. Sementara itu, integrasi AI-feedback berbasis pemrosesan bahasa alami memungkinkan mahasiswa mengeksternalisasi refleksi dalam bentuk teks, yang kemudian ditanggapi secara otomatis melalui umpan balik adaptif sebagai bentuk instructional scaffolding digital. Mekanisme ini menciptakan alur kolaboratif yang jelas: manusia berperan sebagai agen reflektif dan pengambil keputusan belajar, sedangkan teknologi berperan sebagai fasilitator kognitif dan metakognitif yang responsif. Dengan demikian, hubungan manusia–teknologi dalam proyek ini bersifat kooperatif dan bermakna, di mana teknologi memperluas kapasitas berpikir reflektif mahasiswa tanpa menghilangkan otonomi belajar, sejalan dengan paradigma kolaborasi human–AI dalam teknologi pendidikan kontemporer.
5: Analisis “How” – Dekomposisi Masalah
Dari sisi teknologis, modul microlearning interaktif berbasis Genially dengan integrasi AI-feedback bekerja melalui proses dekomposisi masalah pembelajaran yang sistematis terhadap kompleksitas materi Kajian Iklim Pembelajaran. Masalah utama berupa kesulitan mahasiswa memahami konsep abstrak, rendahnya keterlibatan dalam pembelajaran asinkron, serta minimnya refleksi bermakna diuraikan menjadi sub-masalah yang lebih terkelola, yaitu penyajian konten yang terlalu padat, ketiadaan visualisasi dinamika kelas, dan tidak tersedianya umpan balik personal. Setiap sub-masalah tersebut kemudian dipetakan ke dalam struktur fitur yang spesifik: segmentasi materi diwujudkan melalui unit microlearning satu konsep per slide untuk mengurangi beban kognitif (Clark & Mayer), visualisasi abstraksi diwujudkan melalui elemen interaktif seperti hotspot, timeline, dan skenario bercabang, sementara keterbatasan refleksi ditangani melalui integrasi AI-feedback berbasis NLP yang memproses input reflektif mahasiswa secara otomatis. Dengan pendekatan ini, teknologi tidak bekerja sebagai sistem monolitik, melainkan sebagai ekosistem modular yang setiap komponennya memiliki fungsi pedagogis yang jelas dan saling terhubung secara koheren. Dekomposisi masalah tersebut memungkinkan solusi bekerja secara adaptif, efisien, dan selaras dengan prinsip desain pembelajaran berbasis computational thinking, di mana kompleksitas pedagogis dipecah menjadi struktur teknologi yang lebih sederhana, logis, dan bermakna bagi proses belajar mahasiswa.
6: Analisis “How” – Definisi & Peran Teknologi
Dalam perspektif Teknologi Pendidikan, modul microlearning interaktif berbasis Genially dengan integrasi AI-feedback yang dikembangkan dalam proyek ini diposisikan bukan sekadar sebagai media penyaji materi, melainkan sebagai sistem fasilitasi belajar yang dirancang secara sadar untuk mendukung proses kognitif dan metakognitif mahasiswa. Sejalan dengan definisi Teknologi Pendidikan menurut Januszewski dan Molenda (2008) sebagai praktik etis untuk memfasilitasi pembelajaran melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan proses serta sumber teknologi yang tepat, teknologi dalam proyek ini berperan sebagai pedagogical partner yang mengorkestrasi interaksi konten, aktivitas, dan refleksi. Genially berfungsi sebagai lingkungan belajar multimodal yang memungkinkan segmentasi informasi, navigasi non-linear, dan visualisasi konsep abstrak iklim pembelajaran, sementara integrasi AI-feedback berperan sebagai scaffolding reflektif berbasis Natural Language Processing yang memberikan umpan balik adaptif terhadap respons mahasiswa. Dengan demikian, teknologi tidak mengambil alih peran manusia, tetapi memperkuat kapasitas belajar mandiri mahasiswa melalui dukungan sistematis yang terencana. Posisi karya ini secara tegas berada dalam ranah Teknologi Pendidikan karena fokus utamanya bukan pada kecanggihan alat, melainkan pada bagaimana teknologi dirancang, dimanfaatkan, dan dikelola untuk memfasilitasi belajar yang lebih bermakna, reflektif, dan selaras dengan prinsip pedagogi digital di pendidikan tinggi.
IV. Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek
7: Aksesibilitas & Konsep Pembelajaran
Produk proyek ini dirancang sebagai modul microlearning interaktif berbasis Genially yang diakses melalui lingkungan pembelajaran SIPEJAR, sehingga selaras dengan konteks pembelajaran asinkron di pendidikan tinggi. Akses dilakukan secara daring melalui tautan modul yang terintegrasi dalam LMS, memungkinkan mahasiswa mempelajari materi secara fleksibel tanpa terikat ruang dan waktu. Struktur modul yang non-linear memberi kebebasan navigasi sesuai ritme belajar mahasiswa, sekaligus merepresentasikan prinsip learner autonomy dan self-regulated learning. Setiap unit microlearning disajikan dalam satu layar dengan dukungan visual, interaktivitas, dan segmentasi konten untuk menekan beban kognitif, sebagaimana ditegaskan dalam teori multimedia learning dan microlearning. Fitur refleksi berbasis AI-feedback diakses melalui tautan terintegrasi pada modul, di mana mahasiswa menuliskan refleksi konseptual dan memperoleh umpan balik otomatis yang adaptif. Mekanisme ini menghubungkan aspek teknis penggunaan produk dengan konsep pembelajaran reflektif dan metakognitif, karena teknologi tidak hanya memfasilitasi akses materi, tetapi juga memandu mahasiswa dalam mengevaluasi dan memperdalam pemahamannya secara mandiri. Dengan demikian, aksesibilitas produk ini tidak bersifat teknis semata, melainkan menjadi bagian dari desain pedagogis yang mendukung pembelajaran fleksibel, reflektif, dan bermakna sesuai karakteristik pembelajaran digital di perguruan tinggi.
8. Panduan proyek
Panduan pemanfaatan produk proyek ini disusun dalam bentuk alur penggunaan konseptual yang merepresentasikan cara kerja satu modul microlearning interaktif berbasis Genially yang terintegrasi dengan mekanisme refleksi berbantuan AI secara utuh dan berkesinambungan. Alur ini dirancang tidak hanya sebagai panduan teknis penggunaan, tetapi sebagai representasi logika pedagogis bagaimana teknologi berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran reflektif dalam konteks pembelajaran asinkron
Langkah Proyek 1 (Orientasi dan Pembentukan Konteks Belajar) diawali melalui halaman pembuka modul Eksplorasi Iklim Pembelajaran yang berfungsi membangun orientasi kognitif awal mahasiswa. Pada tahap ini, mahasiswa memasuki pembelajaran melalui judul modul dan narasi sambutan singkat yang disertai ilustrasi ruang kelas interaktif dan musik latar lembut. Elemen ini dirancang sebagai advance organizer untuk membangun kesiapan mental dan mengaktifkan skemata awal sebelum mahasiswa melanjutkan ke struktur materi inti melalui tombol Mulai yang mengarahkan pengguna ke menu utama.
Langkah Proyek 2 (Navigasi Mandiri dan Eksplorasi Non-Linear) dilanjutkan melalui menu utama modul yang menampilkan empat kartu topik, yaitu Konsep Dasar, Dinamika Interaksi, Strategi Iklim Positif, dan Refleksi. Pada tahap ini, mahasiswa diberikan kebebasan navigasi untuk memilih topik pembelajaran sesuai kebutuhan dan ritme belajarnya. Desain non-linear ini merepresentasikan prinsip learner autonomy dalam microlearning, di mana teknologi tidak mengunci urutan belajar, tetapi menyediakan struktur yang fleksibel namun tetap koheren secara konseptual.
Langkah Proyek 3 (Pemahaman Konseptual melalui Interaksi Multimodal) dilakukan melalui Modul Konsep Dasar dan Modul Dinamika Interaksi. Pada Modul Konsep Dasar, mahasiswa berinteraksi dengan elemen click-to-reveal dan pop-up yang menyajikan definisi serta komponen iklim pembelajaran secara tersegmentasi, sehingga membantu mengurangi beban kognitif dan memperjelas konsep abstrak. Selanjutnya, pada Modul Dinamika Interaksi, mahasiswa mengeksplorasi timeline dan marker interaktif yang menampilkan contoh kasus interaksi dosen–mahasiswa, sehingga konsep iklim pembelajaran tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga secara kontekstual dan situasional.
Langkah Proyek 4 (Pengambilan Keputusan dan Elaborasi Pemahaman) diarahkan melalui Modul Strategi Membangun Iklim Positif yang menggunakan skenario interaktif berbasis pilihan strategi. Pada tahap ini, mahasiswa memilih alternatif tindakan (Strategi A atau Strategi B) dan secara langsung melihat konsekuensi pedagogis dari setiap pilihan. Mekanisme ini dirancang untuk melatih pemikiran reflektif dan pengambilan keputusan pedagogis, sekaligus menunjukkan bagaimana strategi pengajaran tertentu berdampak langsung pada kualitas iklim pembelajaran.
Langkah Proyek 5 (Pengecekan Pemahaman melalui Kuis Formatif) dilaksanakan setelah eksplorasi materi melalui kuis formatif berbasis pilihan ganda yang terintegrasi langsung dalam modul. Kuis ini berfungsi sebagai alat self-assessment untuk mengecek pemahaman konseptual mahasiswa, disertai umpan balik otomatis benar–salah yang memungkinkan koreksi pemahaman secara mandiri sebelum mahasiswa melanjutkan ke tahap refleksi.
Langkah Proyek 6 (Refleksi Mendalam Berbantuan AI) merupakan tahap kunci dalam proyek ini, di mana mahasiswa diarahkan ke aktivitas refleksi tertulis melalui tautan Google Form yang terintegrasi dalam modul. Pada tahap ini, mahasiswa menuliskan refleksi terhadap pemahaman dan pengalaman belajarnya, yang kemudian diproses oleh sistem AI-feedback untuk memberikan respons otomatis yang bersifat adaptif dan personal. Tahap ini merepresentasikan kolaborasi konkret antara manusia dan teknologi, di mana teknologi berperan sebagai metacognitive scaffold yang mendukung refleksi diri mahasiswa.
Langkah Proyek 7 (Penutup dan Penguatan Pengalaman Belajar) diakhiri melalui halaman penutup modul yang menampilkan pesan apresiatif dan peneguhan capaian belajar. Seluruh alur penggunaan ini kemudian dijelaskan secara eksplisit melalui video tutorial pemanfaatan produk yang disematkan dalam ekosistem pembelajaran, yang berfungsi membantu mahasiswa memahami urutan penggunaan modul sekaligus logika pedagogis di balik setiap tahapan, sehingga teknologi tidak hanya digunakan, tetapi juga dipahami sebagai sistem pembelajaran yang terstruktur dan bermakna.
V. Penutup
9 : Kesimpulan & Unconstrained Learning
Secara keseluruhan, proyek modul microlearning interaktif berbasis Genially dengan integrasi AI-feedback ini merepresentasikan pergeseran paradigma pembelajaran digital dari sekadar penyampaian konten menuju ekosistem belajar reflektif, adaptif, dan human-centered. Dengan menyederhanakan kompleksitas konsep iklim pembelajaran ke dalam unit microlearning multimodal yang non-linear serta memperkuatnya melalui refleksi berbantuan AI, proyek ini secara strategis mengatasi keterbatasan pembelajaran asinkron yang selama ini bersifat statis dan minim umpan balik. Dalam konteks Unconstrained Learning, produk ini memungkinkan mahasiswa belajar tanpa dibatasi ruang, waktu, urutan, maupun ketergantungan langsung pada kehadiran pengajar, sekaligus tetap memperoleh scaffolding pedagogis yang bermakna. Teknologi tidak diposisikan sebagai pengganti peran manusia, melainkan sebagai mitra pedagogis yang memperluas kapasitas refleksi, regulasi diri, dan pemaknaan belajar. Dengan demikian, proyek ini menegaskan bahwa pembelajaran digital masa depan tidak lagi diukur dari kecanggihan teknologinya semata, tetapi dari sejauh mana teknologi tersebut mampu menghilangkan hambatan belajar tradisional dan memfasilitasi pengalaman belajar yang lebih otonom, mendalam, dan berkelanjutan.
Referensi
Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.
Tinggalkan Balasan