Implementasi Konten Digital Interaktif Pecahan Eksplorasi Interaktif (PEI) Berbasis Simulasi Toy Theater untuk Meningkatkan Pemahaman Konseptual Siswa SD Kelas V

·

·

, ,

Dava Fayrano Morey Widiama

230121603964

Kelas A23

BAGIAN 1: IMPLEMENTASI DAN DISEMINASI HASIL PROYEK

1.1. Skenario Implementasi di Lingkungan Belajar

Implementasi uji coba prototipe Pecahan Eksplorasi Interaktif (PEI) dilaksanakan secara asinkron (self-paced) di lingkungan belajar mandiri siswa guna memvalidasi efektivitas produk. Uji coba dilakukan pada siswa Kelas V SD yang telah teridentifikasi mengalami kesulitan signifikan pada materi operasi hitung pecahan (Pendidikan et al., 2025). Pelaksanaan uji coba dilakukan secara mandiri, di mana siswa diberi link materi untuk diakses dari rumah menggunakan perangkat masing-masing.

Alur Interaksi Siswa (Real-Time):

Interaksi dimulai ketika pengguna (siswa) mengakses tautan materi (dari Toy Theater). Siswa memilih topik yang ingin dipelajari. Pada tahap ini, terekam durasi tunggu singkat saat siswa membaca instruksi, yang kemudian diakhiri dengan transisi visual ke bingkai simulasi interaktif yang disematkan (embed dari Toy Theater). Siswa mulai melakukan manipulasi objek virtual (misalnya, membagi lingkaran, persegi panjang) untuk mencoba menjumlahkan secara visual.

Respons Sistem:

Sistem merespons manipulasi tersebut secara instan. Ketika siswa berinteraksi (misalnya mengklik bangun datar), sistem akan memberikan feedback visual yang dinamis. Jika manipulasi konseptual salah (mencoba menggabungkan penyebut berbeda), sistem memberikan feedback visual berupa batasan atau animasi hint, mengarahkan siswa untuk mengoreksi dirinya sendiri. Proses ini membuktikan bahwa sistem mampu menerjemahkan input konseptual siswa (manipulasi) menjadi visualisasi yang nyata, memperkuat prinsip Discovery Learning.

1.2. Demonstrasi Fungsionalitas Produk

Demonstrasi fungsionalitas produk menonjolkan keunggulan PEI dalam mengintegrasikan Mastery Learning ke dalam Microlearning. Produk ini tidak hanya menyajikan simulasi Toy Theater, tetapi berfungsi sebagai manajer alur pembelajaran siswa.

Fungsionalitas Kunci (Mastery Assessment Embedded):

Fungsionalitas utama terlihat pada fitur Assessment Embedded. Setelah sesi eksplorasi bebas dengan simulasi, akan diberi kuis formatif (10 soal) yang menguji pemahaman konsep tersebut. Fitur ini dirancang untuk menjamin linieritas antara rencana pembelajaran dengan evaluasi. Nilai tambah yang krusial terlihat pada fitur Sistem Kunci Otomatis (Gating). Di kuis ini, apabila siswa memberikan jawaban benar, maka akan mendapatkan poin 10 untuk 1 soal. Kemudian, jika siswa memberikan jawaban salah, maka tidak akan mendapatkan nilai, namun akan diberi feedback mana jawaban yang benar.

1.3. Analisis Penerimaan Pengguna (User Acceptance)

Kepuasan pengguna menjadi indikator utama. Hal ini membuktikan efektivitas produk dalam menjembatani abstraksi konsep pecahan. Reliabilitas sistem dan keramahan pengguna (user-friendly) terkonfirmasi ketika siswa mampu menyelesaikan semua modul, membuktikan efisiensi strategi Microlearning. Kutipan umum yang terekam dari pengguna adalah “Lebih seru main di sini daripada lihat buku,” yang menyoroti motivasi intrinsik yang didorong oleh Manipulatif Virtual Dinamis Toy Theater. Evaluasi efektivitas ini menunjukkan bahwa alur kerja linier yang ditawarkan mulai dari eksplorasi, manipulasi, hingga tes penguasaan telah berhasil menurunkan beban kognitif siswa secara signifikan.

1.4. Strategi Diseminasi Profesional

Strategi diseminasi proyek ini dirancang secara komprehensif untuk memenuhi standar kompetensi yang menuntut kemampuan komunikasi hasil proyek secara profesional. Eksekusi diseminasi dilakukan melalui pendekatan ganda yang saling melengkapi.

  1. Kanal Visual dan Demonstrasi (YouTube): Kanal visual dimaksimalkan melalui platform YouTube dengan menyajikan Video Tutorial Wajah yang menyajikan bukti empiris fungsionalitas produk secara transparan dan mudah dipahami, menunjukkan alur interaksi siswa.
  2. Kanal Akademik (Publikasi Artikel): Aspek akademik dan konseptual diperkuat melalui publikasi Artikel Ilmiah Populer di laman profesional. Publikasi ini berfungsi sebagai landasan teoritis yang memvalidasi rasionale pedagogis di balik pengembangan produk (Pedagogi Discovery Learning dan Tekno-Pedagogi Unconstrained Learning).

Sinergi antara visualisasi praktis dan pendalaman materi memastikan bahwa karya ini diakui sebagai inovasi pendidikan yang memiliki basis keilmuan yang kuat (Javorcik et al., 2023).

BAGIAN 2: REFLEKSI KRITIS DAN PENGEMBANGAN PROYEK

2.1. Tantangan Signifikan dalam Pengembangan

Mengacu pada panduan refleksi mengenai tantangan terbesar, hambatan utama yang dihadapi dalam pengembangan proyek PEI terletak pada benturan antara Pedagogi Kustom dan Integrasi Teknologi Pihak Ketiga.

Meskipun model ADDIE (Adeoye et al., 2024) memastikan desain instruksional kuat, tantangan teknis muncul saat mengintegrasikan simulasi high-fidelity (Toy Theater). Keterbatasan teknis ini membatasi kemampuan untuk menciptakan feedback yang sangat adaptif. Pertanyaan kritis yang terus muncul selama proses pengembangan adalah bagaimana memastikan sistem tidak hanya menguji, tetapi juga “mengajarkan” secara personal di tengah-tengah keterbatasan integrasi embed. Risiko penyederhanaan berlebihan (over-simplification) menjadi kekhawatiran utama, di mana esensi Discovery Learning yang kaya nuansa berpotensi tereduksi menjadi urutan klik yang kaku. Oleh karena itu, membangun jembatan logika yang presisi agar sistem tidak hanya bekerja secara teknis, tetapi juga adaptif secara pedagogis, menjadi perjuangan intelektual terberat dalam proyek ini.

2.2. Pembelajaran Penting (Key Insights)

Mengacu pada panduan refleksi mengenai lessons learned, wawasan paling fundamental yang diperoleh dari proyek ini adalah redefinisi peran teknologi sebagai jembatan vital untuk pemahaman konsep abstrak.

  1. Teknologi sebagai Mediator Konsep: Teknologi terbukti bukan sekadar alat bantu teknis, melainkan mediator strategis yang menghubungkan teori abstrak matematika dengan realitas praktik visual yang konkret. Tanpa simulasi interaktif Toy Theater, kesulitan konsep pecahan (Suciati & Wahyuni, 2018) memiliki risiko besar untuk stagnan. Intervensi PEI mengubah pecahan dari sekadar angka menjadi objek yang dapat dimanipulasi, selaras dengan perspektif Bridging Human Intelligence and Artificial Intelligence (Sasoko & Mahrudi, 2023).
  2. Kesederhanaan UX adalah Fitur Paling Berharga: Pembelajaran krusial lainnya terletak pada urgensi User Experience (UX). Respons pengguna yang spontan menyatakan kondisi “aman” saat menggunakan sistem memberikan validasi kuat bahwa, dalam konteks teknologi pendidikan, “kesederhanaan” dan alur yang linier adalah fitur yang paling berharga. Kecanggihan algoritma backend menjadi sia-sia jika antarmuka depan gagal memberikan kejelasan dan kenyamanan bagi siswa SD.

2.3. Rencana Pengembangan Diri dan Proyek Lanjutan

Mengacu pada panduan refleksi terkait pengembangan diri di masa depan, fokus utama saya terarah pada evolusi fungsionalitas produk serta pendalaman keahlian teknis.

  • Fitur Masa Depan (Konkret): Asesmen Adaptif (Adaptive Assessment). Rencana strategis berikutnya adalah mengekspansi sistem agar tidak hanya berhenti pada tahap Mastery Check statis, melainkan turut mengintegrasikan modul asesmen adaptif. Fitur ini dirancang untuk mampu mendeteksi jenis kesalahan spesifik (misalnya, kesalahan pada konsep pembilang vs. penyebut) dan menyesuaikan scaffolding serta materi pembelajaran tambahan secara dinamis.
  • Kompetensi Diri yang Akan Diasah: Sejalan dengan itu, saya berkomitmen untuk memperkuat kompetensi teknis melalui pendalaman Analisis Data Lanjutan dan Pemrograman Dasar (JavaScript). Ambisi saya adalah mentransformasi logika sistem yang saat ini masih bekerja berdasarkan template kaku menjadi sistem cerdas yang mampu memberikan feedback yang lebih personalisasi dan adaptif, melampaui sekadar fungsi Mastery Check dasar.

KESIMPULAN

Sintesis Keberhasilan Proyek

Berdasarkan hasil implementasi dan evaluasi, dapat disimpulkan bahwa proyek Pecahan Eksplorasi Interaktif (PEI) Berbasis Simulasi Toy Theater telah berhasil menjawab tantangan kesulitan pemahaman konsep pecahan yang abstrak secara signifikan. Keberhasilan ini terbukti melalui peningkatan skor pemahaman pada siswa Kelas V SD. Proyek ini mendemonstrasikan bahwa integrasi antara strategi pedagogis Discovery Learning dan Mastery Learning sebagai landasan teori dan aplikasi microlearning berbasis simulasi interaktif sebagai wujud praktik berjalan sangat efektif. Sinergi ini berhasil mentransformasi konsep kurikulum yang semula rumit dan abstrak menjadi solusi teknologi yang praktis, self-paced, dan memberdayakan siswa untuk membangun pemahaman mendalam.

Penutup

Secara keseluruhan, proyek ini telah berhasil menuntaskan siklus lengkap pengembangan konten digital pendidikan sebagaimana dipersyaratkan. Dimulai dari tahap analisis kebutuhan yang mendalam, perancangan yang berlandaskan teori pedagogis yang kuat, hingga eksekusi produksi purwarupa yang presisi. Tidak berhenti di situ, fase uji coba dan diseminasi profesional pun telah dilaksanakan, memastikan seluruh alur capaian pembelajaran terpenuhi secara komprehensif. Pengalaman ini tidak hanya membuktikan keberhasilan akademis, tetapi juga menjadi fondasi krusial bagi pengembangan kompetensi penulis di bidang teknologi adaptif. Hal ini mengukuhkan kesiapan penulis sebagai teknolog pendidikan yang adaptif dan mampu menciptakan solusi-solusi inovatif serta solutif dalam menjawab tantangan dinamis di era digital, khususnya dalam mewujudkan Unconstrained Learning.

Daftar Referensi

Adeoye, M. A., Adrian, K., Indra, S., Satya, M. S., & Septiarini, N. I. (2024). Revolutionizing Education : Unleashing the Power of the ADDIE Model for Effective Teaching and Learning. 13(1), 202–209.

Javorcik, T., Kostolanyova, K., & Havlaskova, T. (2023). Microlearning in the Education of Future Teachers : Monitoring and Evaluating Students ’ Activity in a Microlearning Course. 21(1), 13–25.

Pendidikan, J., Terapan, T., Mailani, E., Rarastika, N., Parista, I., Syakura, W., & Fitri, M. (2025). Strategi Pembelajaran Matematika untuk Mengatasi Kesulitan Pemahaman Konsep Pecahan pada Siswa Sekolah Dasar. 02(02), 131–135.

Sasoko, D. M., & Mahrudi, I. (2023). Jurnal Studi Interdisipliner Perspektif Teknik Analisis SWOT dalam Sebuah Perencanaan Kegiatan. Jpian, 22(1), 9–19.

Suciati, I., & Wahyuni, D. S. (2018). Analisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika pada operasi hitung pecahan pada siswa kelas v sdn pengawu. 11(2), 129–144.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *