Implementasi Modul “Structured Microlearning” Berbasis Moodle untuk Meningkatkan Retensi Belajar Sejarah pada Pebelajar Dewasa: Studi Penerimaan dan Refleksi Pengembangan

·

·

, ,

BAGIAN 1: IMPLEMENTASI DAN DISEMINASI HASIL PROYEK

1.1. Skenario Implementasi di Lingkungan Belajar

Proses uji coba lapangan modul “Jejak Kemaharajaan Majapahit” dilaksanakan pada minggu kedua Desember 2025 dengan melibatkan subjek uji coba dari kalangan pebelajar dewasa muda (usia 19-24 tahun). Kelompok ini dipilih karena merepresentasikan demografi digital native yang sering mengalami hambatan atensi (short attention span) dalam pembelajaran daring konvensional.

Skenario implementasi dimulai saat pengguna mengakses LMS Moodle. Pada fase awal interaksi, pengguna dihadapkan pada antarmuka kursus yang menampilkan tiga unit topik utama, namun Topik 2 dan 3 terlihat dalam kondisi non-aktif (greyed out) disertai ikon gembok terkunci. Ketika pengguna mencoba mengakses materi lanjutan tanpa menyelesaikan prasyarat, sistem tidak memberikan respons akses, yang secara implisit memandu mereka kembali ke urutan instruksional awal. Alur pembelajaran baru terbuka secara dinamis setelah pengguna melakukan “Klik Presensi” pada Topik 1. Sistem memberikan respons otomatis (system feedback) berupa penyegaran halaman (refresh), di mana materi video mikro “Siasat Raden Wijaya” yang sebelumnya tersembunyi, kini menjadi aktif.

Puncak interaksi terjadi pada aktivitas Branching Scenario (“Simulasi Raja”). Pengguna diharuskan mengambil keputusan strategis berdasarkan narasi sejarah. Ketika pengguna memilih opsi yang kurang tepat, sistem mengarahkan mereka ke halaman remediasi yang menjelaskan konsekuensi historis dari pilihan tersebut, sebelum mengizinkan mereka kembali ke titik keputusan awal. Mekanisme ini menciptakan siklus umpan balik instan yang menjaga keterlibatan kognitif pengguna hingga akhir sesi.

1.2. Demonstrasi Fungsionalitas Produk

Secara teknis, fungsionalitas inti produk ini bertumpu pada orkestrasi fitur Restrict Access dan Activity Completion di Moodle. Penggunaan fitur ini bukan sekadar pengaturan administratif, melainkan manifestasi teknis dari strategi pedagogis Mastery Learning. Sistem dirancang untuk memvalidasi ketuntasan belajar secara algoritmik: akses ke modul $N+1$ hanya diberikan jika kondisi pada modul $N$ bernilai True (Lulus Kuis > 80). Hal ini menjawab tantangan desain instruksional modern di mana teknologi harus berfungsi melampaui penyajian konten semata (Technology Beyond Content), tetapi juga memfasilitasi struktur belajar itu sendiri (Hokanson et al., 2018).

Selain itu, integrasi konten interaktif H5P (HTML5 Package) memungkinkan penyajian materi visual seperti “Peta Interaktif” tertanam langsung (embedded) di dalam LMS. Hal ini memastikan pengalaman pengguna yang mulus (seamless) tanpa gangguan perpindahan antar-platform, yang sering menjadi celah hilangnya fokus pada pembelajaran jarak jauh.

1.3. Analisis Penerimaan Pengguna (User Acceptance)

Hasil observasi dan umpan balik pengguna menunjukkan pergeseran perilaku belajar yang signifikan. Pengguna melaporkan bahwa struktur ketat yang diterapkan awalnya terasa membatasi, namun kemudian dipahami sebagai bantuan untuk tetap fokus. Salah satu respons pengguna menyatakan bahwa mekanisme “terkunci” memberikan rasa pencapaian (sense of achievement) yang lebih tinggi ketika materi berhasil dibuka. Hal ini mengonfirmasi prinsip bahwa dalam lingkungan pendidikan jarak jauh, struktur yang jelas dapat mengurangi beban kognitif dan kecemasan navigasi.

Dari perspektif efektivitas, data log sistem menunjukkan tingkat retensi yang tinggi, di mana 85% peserta uji coba berhasil menuntaskan modul hingga mendapatkan sertifikat akhir. Angka ini jauh melampaui statistik drop-off MOOC pada umumnya di Indonesia yang sering kali menjadi kendala utama (Lubis et al., 2020). Pemecahan materi menjadi segmen mikro (microlearning) terbukti efektif dalam menjaga stamina belajar peserta, sejalan dengan temuan Suparman & Hadi (2024) mengenai korelasi microlearning dengan retensi informasi.

1.4. Strategi Diseminasi Profesional

Diseminasi produk dilakukan melalui strategi dua kanal (dual-channel dissemination). Kanal pertama bersifat visual-praktis, melalui video demonstrasi berdurasi 5 menit di YouTube yang memperlihatkan mekanisme “Gembok & Kunci” secara real-time. Kanal kedua bersifat konseptual-akademis, melalui publikasi artikel di laman WordPress. Artikel tersebut tidak hanya menampilkan produk, tetapi juga membedah landasan teori di balik keputusan desain tersebut. Tujuannya adalah untuk memvalidasi bahwa inovasi dalam teknologi pendidikan tidak harus selalu berupa perangkat keras baru, tetapi bisa berupa kebaruan dalam strategi pemanfaatan fitur LMS yang sudah ada untuk memfasilitasi pembelajaran yang lebih efektif (Spector et al., 2014).


BAGIAN 2: REFLEKSI KRITIS DAN PENGEMBANGAN PROYEK

2.1. Tantangan Signifikan dalam Pengembangan

Tantangan paling signifikan yang dihadapi selama pengembangan bukan pada aspek instalasi teknis, melainkan pada kesenjangan antara fleksibilitas narasi sejarah dengan rigiditas logika sistem komputer. Merancang Branching Scenario pada fitur Lesson Moodle menuntut dekomposisi cerita sejarah yang kompleks menjadi logika biner (Benar/Salah atau Lanjut/Kembali). Saya menemukan kesulitan dalam menyederhanakan nuansa keputusan politik Gajah Mada menjadi pilihan ganda tanpa mereduksi esensi sejarahnya. Hal ini mencerminkan tantangan dalam Computational Thinking, khususnya pada tahap abstraksi dan algoritma desain (Rich & Hodges, 2017).

2.2. Pembelajaran Penting (Key Insights)

Pembelajaran terbesar dari proyek ini adalah pemahaman ulang mengenai definisi teknologi pendidikan. Merujuk pada Januszewski & Molenda (2008), teknologi pendidikan adalah studi dan praktik etis untuk memfasilitasi pembelajaran. Saya menyadari bahwa dalam konteks pembelajaran mandiri pebelajar dewasa, teknologi (Moodle) harus berperan sebagai “regulator eksternal” yang menggantikan kehadiran instruktur. Paradoks yang ditemukan adalah bahwa pebelajar dewasa menginginkan fleksibilitas waktu (unconstrained learning secara temporal), namun membutuhkan struktur ketat (constrained path) secara proses untuk membantu regulasi diri mereka (Moller & Huett, 2012).

2.3. Rencana Pengembangan Diri dan Proyek Lanjutan

Jika proyek ini dilanjutkan ke tahap berikutnya, fitur prioritas yang akan dikembangkan adalah Asesmen Adaptif berbasis Kecerdasan Buatan (AI). Saat ini, sistem “Kunci Gembok” masih bersifat statis (sama untuk semua orang). Ke depannya, sistem diharapkan mampu memberikan soal remedial yang berbeda secara personal menyesuaikan titik lemah pengguna. Hal ini relevan dengan diskursus terkini mengenai jembatan antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan dalam pendidikan (Albert et al., 2021). Untuk mendukung hal tersebut, saya berencana meningkatkan kompetensi diri dalam bidang Learning Analytics dan dasar pemrograman PHP agar dapat melakukan kustomisasi plugin Moodle secara mandiri.


KESIMPULAN

Sintesis Keberhasilan Proyek

Proyek ini berhasil membuktikan bahwa tingginya angka drop-off pada MOOC dapat dimitigasi melalui intervensi desain instruksional yang tepat, yakni Microlearning Terstruktur. Solusi teknis berupa “mekanisme penguncian bertahap” pada Moodle terbukti efektif “memaksa” terjadinya regulasi diri pada pengguna, mengubah perilaku belajar yang pasif menjadi aktif dan berorientasi pada penuntasan misi.

Penutup

Dengan selesainya tahap implementasi, uji coba, hingga refleksi kritis ini, maka siklus pengembangan konten digital dalam mata kuliah Pendidikan Era Digital telah terpenuhi secara utuh. Proyek ini tidak hanya menghasilkan produk pembelajaran, tetapi juga menawarkan model praktis bagaimana LMS standar dapat dioptimalkan untuk menjawab tantangan retensi belajar di era digital.


DAFTAR PUSTAKA

Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.

Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.

Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.

Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.

Lubis, A. H., Idrus, S. Z. S., & Rashid, S. V. A. (2020). The exposure of MOOCs in Indonesia: A massive discrepancy with the global trend. International Journal of Scientific & Technology Research, 9(2), 3462-3466.

Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.

Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.

Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.

Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.

Suparman, S., & Hadi, M. S. (2024). Implementasi Model Microlearning Untuk Meningkatkan Retensi Belajar Dalam Pendidikan Agama Islam Era Digital. Berkala Ilmiah Pendidikan, 4(3), 702–711.

Utami, S., Widiastuti, I. A. M. D., & Gunawan, I. K. P. (2025). The Impact of Digital Storytelling Applications on Enhancing Critical Thinking Abilities in Higher Education. Jurnal Cetta, 8(1).



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *