Pengembangan Modul Augmented Reality untuk Mendukung Pembelajaran Prosedural Kimia pada Materi Senyawa Hidrogen di SMA

·

·

, ,

Bagian I: Pendahuluan

1. Uraian Produk Proyek

Produk yang dikembangkan dalam proyek ini adalah Modul Augmented Reality (AR) Prosedur Kimia: Senyawa Hidrogen yang dirancang sebagai media pembelajaran digital interaktif untuk membantu siswa SMA memahami prosedur praktikum kimia secara visual, runtut, dan aman. Modul ini menampilkan simulasi tiga dimensi tahapan kerja praktikum senyawa hidrogen, mulai dari persiapan alat dan bahan hingga pelaksanaan reaksi dan aspek keselamatan kerja. Kehadiran teknologi AR memungkinkan siswa mengamati dan berinteraksi langsung dengan prosedur praktikum tanpa harus berada di laboratorium fisik, sehingga pembelajaran tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga pengalaman belajar yang imersif dan bermakna.

Bagian II: Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)

2. Hasil Analisis Fokus Proyek

Produk Modul Augmented Reality (AR) Prosedur Kimia: Senyawa Hidrogen dirancang secara spesifik untuk memfasilitasi pembelajaran prosedural yang mendalam, dengan menggeser fokus pembelajaran dari sekadar penguasaan konsep teoretis menuju pemahaman struktural dan operasional yang aplikatif. Fokus proyek ini terletak pada kebutuhan siswa SMA untuk menguasai urutan kerja praktikum kimia secara aman, runtut, dan reflektif, yang selama ini sulit dicapai akibat keterbatasan fasilitas laboratorium dan risiko keselamatan. Desain modul AR ini merupakan langkah pedagogis yang bersifat intensional, karena setiap fitur visualisasi, animasi prosedur, dan penekanan keselamatan dirancang untuk membantu siswa membangun pemahaman prosedural secara bertahap. Sebagaimana ditegaskan oleh Bishop et al. (2020), perancangan lingkungan belajar yang efektif harus berlandaskan pada prinsip riset instruksional yang valid agar intervensi teknologi benar-benar berdampak pada capaian belajar. Dengan demikian, fokus proyek ini tidak hanya pada penyediaan media digital, tetapi pada penciptaan pengalaman belajar prosedural yang bermakna dan sesuai dengan standar pedagogi pendidikan sains.

3. Hasil Analisis Transformasi Pembelajaran Prosedural

Integrasi teknologi Augmented Reality dalam proyek ini merepresentasikan transformasi pedagogis dari pembelajaran kimia konvensional menuju pembelajaran digital yang lebih adaptif dan berorientasi pengalaman. Transformasi ini terjadi ketika prosedur praktikum yang sebelumnya hanya dipelajari melalui teks atau demonstrasi guru dihadirkan kembali dalam bentuk simulasi visual tiga dimensi yang interaktif dan dapat diulang tanpa risiko. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya mempelajari “apa” dan “bagaimana” suatu prosedur dilakukan, tetapi juga memahami “mengapa” setiap langkah harus dilakukan secara tepat. Transformasi pembelajaran ini sejalan dengan gagasan educational technology beyond content yang menekankan bahwa teknologi pembelajaran seharusnya membentuk cara berpikir dan cara belajar siswa, bukan sekadar menyajikan materi (Hokanson et al., 2018). Dengan demikian, Modul AR Prosedur Kimia berfungsi sebagai sarana transformasi pedagogis yang memungkinkan siswa membangun keterampilan prosedural secara lebih mendalam, reflektif, dan kontekstual

Bagian III: Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)

4. Kolaborasi Manusia dan Teknologi dalam Pembelajaran

Modul Augmented Reality (AR) Prosedur Kimia: Senyawa Hidrogen dirancang sebagai bentuk kolaborasi konkret antara manusia dan teknologi dalam proses pembelajaran. Dalam konteks ini, teknologi AR tidak menggantikan peran guru, melainkan berfungsi sebagai mitra pedagogis yang membantu memfasilitasi pengalaman belajar prosedural secara aman dan terstruktur. Siswa berperan aktif dalam mengeksplorasi simulasi prosedur kimia, sementara guru bertindak sebagai fasilitator yang mengarahkan, memberi umpan balik, dan mengaitkan pengalaman virtual dengan konsep ilmiah yang relevan. Kolaborasi ini mencerminkan pendekatan pembelajaran modern di mana teknologi digunakan untuk memperluas kapasitas manusia dalam belajar, bukan sekadar sebagai alat presentasi digital (Albert, Lin, Spector, & Dunn, 2021).

5. Dekomposisi Masalah dalam Struktur Teknologi

Dari sisi teknologis, Modul AR Prosedur Kimia menerapkan prinsip dekomposisi masalah dengan memecah prosedur praktikum yang kompleks menjadi langkah-langkah yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Setiap tahapan, mulai dari persiapan alat dan bahan, pelaksanaan reaksi, hingga aspek keselamatan dan pembuangan limbah, disajikan secara terpisah namun saling terhubung secara logis. Pendekatan ini memungkinkan siswa memahami prosedur kimia secara bertahap tanpa merasa terbebani oleh kompleksitas keseluruhan proses. Prinsip dekomposisi ini sejalan dengan pengembangan computational thinking dalam pendidikan, di mana pemecahan masalah kompleks dilakukan melalui struktur yang sistematis dan terorganisasi (Rich & Hodges, 2017). Dengan demikian, teknologi AR tidak hanya menyajikan visualisasi, tetapi juga membangun pola berpikir prosedural siswa secara bertahap.

6. Definisi dan Peran Teknologi Pendidikan

Jika ditinjau dari definisi Teknologi Pendidikan, Modul AR Prosedur Kimia ini menegaskan peran teknologi sebagai proses sistematis dalam menciptakan, menggunakan, dan mengelola sumber belajar untuk meningkatkan kinerja belajar. Hal ini selaras dengan definisi Teknologi Pendidikan menurut Januszewski dan Molenda (2008) yang menekankan bahwa teknologi pendidikan tidak terbatas pada perangkat keras atau perangkat lunak, melainkan mencakup keseluruhan proses desain dan pemanfaatan pembelajaran. Dalam proyek ini, teknologi AR diposisikan sebagai sarana untuk merancang pengalaman belajar prosedural yang aman, efektif, dan bermakna, sehingga karya ini secara jelas berada dalam koridor keilmuan Teknologi Pendidikan, bukan sekadar inovasi teknis semata.

Bagian IV: Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek

7. Aksesibilitas Produk dan Konsep Pembelajaran

Pemanfaatan Modul Augmented Reality Prosedur Kimia diawali dengan akses menggunakan perangkat gawai yang mendukung teknologi AR, seperti smartphone atau tablet. Siswa mengakses modul melalui aplikasi yang telah disiapkan, kemudian memindai marker atau objek tertentu untuk memunculkan simulasi prosedur senyawa hidrogen dalam bentuk objek tiga dimensi. Konsep pembelajaran yang diterapkan bersifat fleksibel dan mandiri, memungkinkan siswa belajar sesuai kecepatan masing-masing, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Pendekatan ini mendukung pembelajaran aktif dan reflektif, di mana siswa dapat mengulangi prosedur hingga mencapai pemahaman yang optimal.

8. Tutorial Penggunaan dan Dukungan Multimedia

Tahapan penggunaan modul dimulai dari pemilihan menu prosedur, pengamatan simulasi langkah kerja, hingga interaksi dengan objek virtual yang disertai penjelasan visual dan narasi. Setiap langkah dirancang untuk menekankan aspek keselamatan kerja dan ketepatan prosedur. Sebagai pendukung, modul ini dilengkapi dengan video tutorial yang disematkan melalui platform YouTube dan menampilkan penjelasan langsung dari pengembang sebagai presenter. Kehadiran video ini berfungsi untuk memperjelas alur penggunaan modul sekaligus menjadi sarana diseminasi pembelajaran berbasis teknologi secara terbuka. Dengan dukungan multimedia tersebut, pengalaman belajar menjadi lebih komprehensif dan mudah diakses oleh berbagai pihak.

Bagian V: Penutup

9. Kesimpulan dan Refleksi Unconstrained Learning

Pengembangan Modul Augmented Reality (AR) Prosedur Kimia: Senyawa Hidrogen merupakan bentuk inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan prinsip pedagogi dan teknologi pendidikan secara seimbang. Modul ini tidak hanya menjawab keterbatasan praktikum kimia di sekolah, tetapi juga menawarkan pengalaman belajar prosedural yang aman, imersif, dan fleksibel. Melalui pemanfaatan AR, pembelajaran tidak lagi terikat oleh keterbatasan ruang, waktu, dan fasilitas fisik, sehingga sejalan dengan paradigma unconstrained learning yang menekankan pembelajaran tanpa hambatan. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan keterampilan prosedural siswa, tetapi juga merepresentasikan arah baru pengembangan pembelajaran di era digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

referensi:
Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.

Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.

Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.

Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.

Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.

Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.

Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.

Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *