Sasmita Regina Putri Kusuma Machmudi
Bagian I : Pendahuluan
- Analisis Kesenjangan
Pendidikan di era digital saat ini menaruh harapan besar pada terciptanya pembelajaran yang adaptif, personal, dan bermakna melalui integrasi teknologi, di mana peserta didik tidak hanya menjadi objek pasif tetapi agen aktif yang memiliki keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis dan kolaborasi (Thornhill-Miller et al., 2023). Namun, realitas di lapangan menunjukkan kesenjangan yang cukup tajam, khususnya pada mata pelajaran Biologi materi Sistem Pencernaan yang bersifat abstrak dan kompleks (Kompen et al., 2019). Praktik pembelajaran aktual sering kali masih didominasi oleh metode konvensional dan media satu arah seperti PowerPoint yang gagal mengakomodasi gaya belajar siswa, sehingga berdampak pada rendahnya motivasi dan pemahaman konsep (Ayittey et al., 2019). Kondisi ini diperparah dengan rendahnya literasi digital siswa yang belum optimal dalam memanfaatkan sumber belajar secara efektif. Oleh karena itu, hadirnya proyek pengembangan media “DIGEST” ini merupakan respon strategis untuk menjembatani kesenjangan tersebut, mengubah tantangan materi abstrak menjadi pengalaman belajar yang interaktif dan kontekstual.
Bagian 2 : Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)
- Fokus Masalah & Landasan Desain
Fokus utama masalah yang diselesaikan dalam proyek ini adalah kesulitan siswa memvisualisasikan proses fisiologis kompleks dalam sistem pencernaan yang sulit dipahami hanya lewat teks statis (Kassa et al., 2024). Sebagai solusi pedagogis, desain media DIGEST tidak dibangun sembarangan, melainkan berlandaskan pada Cognitive Theory of Multimedia Learning dari Mayer. Teori ini menekankan bahwa pembelajaran menjadi lebih efektif ketika informasi disajikan melalui kombinasi kata dan gambar yang relevan, serta disajikan secara tersegmentasi untuk mengurangi beban kognitif siswa (Mayer, 2024). Integrasi teknologi di sini bukan sekadar alat presentasi, melainkan sarana untuk membangun pengalaman belajar yang interaktif dan relevan dengan kebutuhan nyata peserta didik, sehingga materi yang rumit dapat dicerna dengan lebih mudah melalui visualisasi yang tepat (Drigas et al., 2023).
- Transformasi Teknologi & Koherensi Fitur
Transformasi teknologi dalam proyek DIGEST terlihat dari pergeseran paradigma pembelajaran satu arah menjadi pembelajaran multimodal yang kohesif. Fitur-fitur yang disematkan dalam Google Sites ini mulai dari teks interaktif, video, animasi, hingga kuis disusun secara logis untuk mengakomodasi keberagaman gaya belajar siswa, baik visual, auditori, maupun kinestetik (Dzulfikry et al., 2024). Secara teoritis, koherensi fitur ini mendukung personalisasi pembelajaran, di mana teknologi memungkinkan siswa menyesuaikan kecepatan belajar mereka sendiri dan mengakses sumber belajar yang sesuai (Kompen et al., 2019). Hal ini sejalan dengan prediksi para pakar bahwa teknologi dan sumber belajar terbuka adalah pendorong utama dalam mewujudkan akses pendidikan yang luas dan kolaboratif (Kalyani, 2024). Tingkat interaktivitas yang tinggi melalui navigasi mandiri juga dirancang untuk mendorong keterlibatan aktif, yang merupakan kunci utama dalam peningkatan motivasi belajar.
Bagian 3 : Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)
- Kolaborasi Manusia & Teknologi
Secara teknis, media DIGEST bekerja sebagai wujud kolaborasi konkret antara kecerdasan manusia (guru dan siswa) dengan kemampuan teknologi. Dalam ekosistem ini, teknologi tidak menggantikan peran guru, melainkan menempatkan guru sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar inovatif, sementara teknologi bertugas memperluas akses pengetahuan (Mardiana, 2024). Media ini mengintegrasikan konsep kecerdasan buatan dan teknologi web untuk mendemokratisasi pendidikan, memungkinkan siswa mengakses materi tanpa batas ruang dan waktu. Mekanisme kerjanya mendorong siswa untuk menjadi pembelajar yang mandiri dan reflektif, di mana mereka berinteraksi dengan konten digital untuk membangun pemahaman, sementara guru memandu proses tersebut agar tetap terarah pada tujuan pembelajaran
- Dekomposisi Masalah
Sistem kerja media DIGEST menerapkan prinsip dekomposisi masalah, yaitu mengurai kompleksitas materi dan proses pengembangan menjadi bagian-bagian yang terstruktur dan logis. Dalam proses pengembangannya, proyek ini menggunakan model Lee & Owens yang sistematis, dimulai dari analisis kebutuhan (analysis) hingga evaluasi (evaluation), untuk memastikan setiap elemen media menjawab akar permasalahan belajar siswa. Secara struktur aplikasi, materi sistem pencernaan yang rumit dipecah (segmented) menjadi sub-topik yang lebih kecil dan mudah dicerna, didukung oleh prinsip signaling dan coherence untuk memandu fokus siswa pada informasi inti. Pendekatan sistematis dan iteratif ini menjamin bahwa produk akhir benar-benar valid, efektif, dan mampu memecahkan masalah kesulitan belajar biologi secara mendalam.
- Definisi & Peran Teknologi
Menganalisis peran teknologinya, proyek DIGEST merupakan manifestasi nyata dari definisi standar Teknologi Pendidikan menurut Januszewski & Molenda (2008). Definisi tersebut menyatakan bahwa teknologi pendidikan adalah studi dan praktik etis dalam memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan proses dan sumber teknologi yang tepat. Dalam konteks ini, DIGEST berperan sebagai sumber daya teknologi yang diciptakan (media berbasis web) dan dikelola untuk memfasilitasi pemahaman materi yang bersifat abstrak. Teknologi di sini berfungsi strategis untuk mendukung pembelajaran yang inklusif dan adaptif, mengakomodasi perbedaan karakteristik siswa di kelas yang heterogen, serta memastikan proses belajar berjalan efektif sesuai standar etika pendidikan modern.
Bagian 4 : Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek
- Aksesibilitas & Konsep Pembelajaran
Pemanfaatan media DIGEST dirancang dengan prinsip fleksibilitas tinggi, mencerminkan konsep pembelajaran modern yang mudah diakses. Pengguna dapat mengakses media ini melalui berbagai perangkat (smartphone, tablet, atau laptop) hanya dengan tautan web, tanpa perlu instalasi aplikasi yang memberatkan, mendukung konsep mobile learning. Setelah masuk ke halaman utama, siswa akan disuguhi antarmuka intuitif yang meminimalkan beban navigasi, memungkinkan mereka langsung fokus pada konten. Siswa disarankan memulai dengan mengeksplorasi materi melalui video dan animasi untuk membangun pemahaman visual awal, kemudian memperdalamnya melalui teks interaktif, dan menguji pemahaman melalui fitur kuis yang memberikan umpan balik langsung. Alur ini mendukung kemandirian belajar, di mana siswa memegang kendali penuh atas proses belajarnya (student-centered learning), sekaligus melatih keterampilan literasi digital mereka dalam menavigasi informasi.
- Tutorial & Video
Bagian 5 : Penutup
- Kesimpulan & Unconstrained Learning
Sebagai penutup, pengembangan media DIGEST membuktikan bahwa integrasi teknologi yang tepat guna mampu meningkatkan literasi digital dan hasil belajar siswa secara signifikan pada materi yang kompleks. Lebih dari sekadar alat bantu kelas, produk ini merepresentasikan paradigma Unconstrained Learning (Pembelajaran Tanpa Kendala), sebuah konsep pendidikan generasi baru yang memanfaatkan teknologi web untuk menghilangkan hambatan fisik dan waktu dalam belajar. Dengan menciptakan lingkungan belajar tanpa batas, DIGEST membuka peluang bagi peserta didik untuk belajar kapan saja dan di mana saja, mewujudkan visi pendidikan masa depan yang inklusif, fleksibel, dan memberdayakan.
Daftar Rujukan
Thornhill-Miller, B., Camarda, A., Mercier, M., Burkhardt, J., Morisseau, T., Bourgeois-Bougrine, S., Vinchon, F., Hayek, S., Augereau-Landais, M., Mourey, F., Feybesse, C., Sundquist, D., & Lubart, T. (2023). Creativity, critical thinking, communication, and collaboration: Assessment, certification, and promotion of 21st century skills for the future of work and education. Journal of Intelligence, 11(3). https://doi.org/10.3390/jintelligence11030054
Kompen, R., Edirisingha, P., Canaleta, X., Alsina, M., & Monguet, J. (2019). Personal learning environments based on Web 2.0 services in higher education. Telematics and Informatics, 38, 194–206. https://doi.org/10.1016/j.tele.2018.10.003
Ayittey, A., Arthur-Nyarko, E., & Onuman, F. (2019). Impact of multimedia instruction in biology on senior high school students’ achievement. Computer Science and Information Technology, 7(5), 87–94. https://doi.org/10.13189/csit.2019.070502
Kassa, M., Azene, M., Mengstie, S., & Ferede, M. (2024). Effect of using multimedia and dynamic classroom integrated instruction on grade 11 students’ biology academic achievement. Heliyon, 10(3), e37315. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e37315
Mayer, R. (2017). Using multimedia for e-learning. Journal of Computer Assisted Learning, 33, 403–423. https://doi.org/10.1111/jcal.12197
Drigas, A., Papanastasiou, G., & Skianis, C. (2023). The school of the future: The role of digital technologies, metacognition and emotional intelligence. International Journal of Emerging Technologies in Learning (iJET), 18(9), 65–85. https://doi.org/10.3991/ijet.v18i09.38133
Dzulfikry, R., Bundu, P., & Saud, S. (2024). Interactive biology media learning development to the student learning style (Audio-Visual-Kinesthetic) based on Google Site. Journal of Multidisciplinary Academic Business Studies. https://doi.org/10.35912/jomabs.v1i3.2096
Kalyani, L. (2024). The role of technology in education: Enhancing learning outcomes and 21st century skills. International Journal of Scientific Research in Modern Science and Technology, 3(4). https://doi.org/10.59828/ijsrmst.v3i4.199
Mardiana, H. (2024). Perceived impact of lecturers’ digital literacy skills in higher education institutions. SAGE Open, 14(2). https://doi.org/10.1177/21582440241256937
Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
Tinggalkan Balasan