Transformasi Interaksi Mahasiswa melalui Implementasi SPADA Connect Berbasis Padlet: Analisis Penerapan Teori Mayer dan Refleksi Pengembangan Sistem yang Adaptif

·

·

, ,

Nama: Rahma Izzatul Hajjah
NIM: 230121601480
Kelas: C23

BAGIAN 1: IMPLEMENTASI DAN DISEMINASI HASIL PROYEK

Skenario Implementasi di Lingkungan Belajar

Proyek SPADA Connect berbasis Padlet diimplementasikan sebagai solusi jembatan (bridging solution) untuk mengatasi masalah interaktivitas di LMS SPADA yang telah diidentifikasi pada Tahap 1. Uji coba dilakukan pada kelompok belajar mahasiswa dalam konteks pembelajaran asinkronus. Alur interaksi pengguna dirancang untuk meminimalkan cognitive load teknis. Mahasiswa memulai dengan Login ke LMS SPADA, lalu memilih Mata Kuliah, dan mengklik tautan embedded Padlet. Alur ini secara strategis mengatasi hambatan navigasi forum internal. Respons sistem Padlet sangat instan dan visual; setiap post muncul sebagai kartu media (teks, foto, video) yang memicu notifikasi interaksi bagi rekan sejawat dan dosen. Outputnya adalah repository ide kolaboratif yang terstruktur, didukung feedback dosen, yang merupakan implementasi dari visi teknologi untuk masa depan (Moller, Huett, & Harvey, 2009).

Demonstrasi Fungsionalitas Produk

Fungsionalitas inti Padlet yang diimplementasikan adalah Fitur Unggulan Rich Media Posting dan Structured Feedback. Rich Media Posting memungkinkan mahasiswa mengunggah gambar, video, atau link sebagai argumen, yang secara teknis memecahkan masalah forum SPADA yang hanya mendukung teks. Untuk Integrasi/Interoperabilitas, Padlet memungkinkan embedding di berbagai LMS, meskipun integrasinya bersifat eksternal. Keunggulan teknis ini berfungsi sebagai Solusi Masalah utama: Padlet menyediakan interface visual yang memenuhi Prinsip Multimedia Mayer, menjadikan interaksi lebih menarik dan memecah kebosanan interface LMS tradisional.

Analisis Penerimaan Pengguna (User Acceptance)

Analisis penerimaan pengguna dilakukan melalui survei dan rekaman wawancara pasca-implementasi. Bukti Empiris menunjukkan kepuasan tinggi. Contoh testimoni yang terkumpul adalah: “Padlet jauh lebih visual dan tidak bikin pusing; saya jadi berani kasih ide pakai video, tidak hanya teks saja.” Testimoni ini diterjemahkan menjadi Indikator Keberhasilan: (1) Efisiensi Waktu (proses posting lebih cepat) dan (2) Kemudahan Penggunaan (Usability) yang tinggi. Secara Dampak Kognitif/Psikologis, Padlet berhasil menurunkan beban kognitif (cognitive load) mahasiswa karena tampilannya yang bersih dan minimalis (sesuai Teori Mayer), meningkatkan motivasi dan partisipasi.

Strategi Diseminasi Profesional

Strategi diseminasi (sesuai CPMK 6.1) menggunakan dua kanal utama:

  1. Kanal Visual (YouTube/Sosmed): Video demonstrasi produk yang disematkan (https://youtu.be/_t0a_i7sXhA) berfungsi untuk menunjukkan alur teknis dan fungsionalitas produk secara langsung, menjangkau praktisi yang memerlukan panduan implementasi.
  2. Kanal Konseptual (Artikel Web): Artikel yang dipublikasikan (UAS Tahap 1 dan 2) berperan untuk menjelaskan landasan teoritis proyek (Mayer, Interaktivitas, Personalisasi) dan metodologi pengembangan kepada komunitas akademis.

Tujuan Diseminasi ini adalah untuk berbagi praktik baik dalam mengatasi masalah LMS formal dan memberikan umpan balik konstruktif mengenai kebutuhan arsitektur sistem yang lebih terbuka.

BAGIAN 2: REFLEKSI KRITIS DAN PENGEMBANGAN PROYEK

Tantangan Signifikan dalam Pengembangan

Tantangan terberat adalah Kesenjangan Teori vs Praktik dalam mewujudkan Interaktivitas yang mulus. Secara ideal, interaktivitas memerlukan integrasi data yang seamless, tetapi tantangan ini terbentur pada arsitektur LMS SPADA yang tertutup (Moller, dkk., 2009). Hal ini menciptakan Kompleksitas Desain di mana saya harus menyeimbangkan keinginan idealis (integrasi penuh) dengan kemampuan teknis (hanya embedding). Tantangan ini memaksa secara kritis mengakui bahwa solusi Padlet adalah kompromi yang cerdas yang berfungsi sebagai jembatan, tetapi datanya tidak terintegrasi ke database SPADA (Albert, dkk., 2021).

Pembelajaran Penting (Key Insights)

Setelah menyelesaikan proyek, Moment terbesar adalah pergeseran Peran Teknologi; saya belajar bahwa teknologi yang efektif adalah yang memperbaiki proses (procedural fluency), bukan hanya menyediakan fitur. Teknologi Padlet adalah jembatan solusi strategis yang mengisi gap fungsional pada LMS formal. Dari Perspektif Pengguna (UX), saya belajar bahwa pengguna (mahasiswa) lebih menghargai tampilan sederhana dan fungsional (usability tinggi) daripada fitur LMS yang canggih tetapi rumit, sebuah temuan penting dalam desain teknologi pendidikan (Bishop, dkk., 2020).

Rencana Pengembangan Diri dan Proyek Lanjutan

Jika proyek ini dilanjutkan, Fitur Masa Depan konkret yang akan ditambahkan adalah AI Chatbot Umpan Balik Instan. Chatbot ini akan memberikan feedback korektif otomatis pada postingan mahasiswa sebelum dosen melakukan evaluasi, memberikan dukungan scaffolding yang cepat (Rich & Hodges, 2017). Untuk mewujudkan hal ini, saya merencanakan penguatan Kompetensi Diri di bidang Analisis Data dan Machine Learning. Keterampilan ini krusial untuk menganalisis pola interaksi Padlet dan melatih model AI agar umpan balik yang diberikan relevan dan kontekstual.

KESIMPULAN

Sintesis Keberhasilan Proyek

Proyek SPADA Connect berbasis Padlet berhasil mengatasi kegagalan fungsional forum LMS formal dan meningkatkan partisipasi mahasiswa secara signifikan. Keberhasilan ini didukung oleh bukti Efisiensi dan Efektivitas dari hasil uji coba. Analisis mendalam menunjukkan bahwa produk ini berhasil menerapkan Teori Mayer, mengaktifkan Interaktivitas (Hokanson, dkk., 2018), dan mendukung Personalisasi, sesuai dengan landasan keilmuan yang ditetapkan. Karya ini menegaskan peran teknologi sebagai sumber daya yang dikelola untuk memfasilitasi pembelajaran (Januszewski & Molenda, 2008).

Penutup

Proyek ini telah memenuhi siklus pengembangan konten digital secara utuh—dari analisis kebutuhan, desain, produksi, implementasi, hingga refleksi kritis dan diseminasi. Inovasi ini secara fundamental mendukung paradigma Unconstrained Learning (Pembelajaran Tanpa Kendala, Moller & Huett, 2012). Dengan menghilangkan kendala media, waktu, dan interaktivitas yang kaku dalam LMS tradisional, proyek ini menjamin bahwa proses belajar dapat berjalan dinamis, fleksibel, dan sepenuhnya partisipatif.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
  2. Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
  3. Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
  4. Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
  5. Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
  6. Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
  7. Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
  8. Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *