Pengembangan ECO-LAB Problem Solver Interaktif Berbasis Google Sites dengan model Problem Based Learning

·

·

Yasmin Dwi Utari

220341600255

Kelas C23

Harapan Proyek

Kondisi ideal pendidikan di era digital menuntut pergeseran dari transfer informasi pasif menuju penciptaan lingkungan belajar yang mendorong konstruksi pengetahuan yang bermakna (konstruktivisme). Sejalan dengan perspektif Hokanson et al. (2018), teknologi pendidikan harus melampaui konten statis (beyond content) dan fokus pada pengembangan kapasitas intelektual peserta didik, khususnya keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah (4C Skills). Secara spesifik dalam mata pelajaran Biologi, peserta didik idealnya mampu mengaplikasikan konsep kompleks, seperti materi Perubahan Lingkungan, ke dalam isu-isu nyata (kontekstual) dan merumuskan solusi berbasis sains. Lingkungan belajar ideal harus memfasilitasi penyelidikan mandiri (student-centered dan self-directed) dan tidak terbatas ruang maupun waktu (unconstrained learning).

Konteks Proyek

Proyek ini diterapkan dalam konteks pembelajaran Biologi, khususnya pada materi kompleks Perubahan Lingkungan, yang menuntut visualisasi fenomena yang abstrak di kelas. Pencapaian pembelajaran yang mendalam (deep learning) dalam konteks ini memerlukan desain instruksional yang canggih dan intensional, selaras dengan definisi Teknologi Pendidikan yang menekankan pada proses “penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan” sumber daya teknologi secara etis dan tepat guna untuk memfasilitasi belajar.

Peran teknologi dalam Eco-Lab adalah mentransformasi media digital dari sekadar repositori materi menjadi laboratorium ekologi digital. Google Sites dipilih sebagai platform hosting karena keunggulannya dalam aksesibilitas tinggi (dapat diakses kapan saja dan di mana saja), kemudahan implementasi (guru dapat dengan cepat mengunggah materi tanpa perlu kemampuan coding yang mendalam), dan kemampuan untuk mengintegrasikan seluruh ekosistem Google Workspace (seperti Google Docs, Forms, dan YouTube). Integrasi ini memungkinkan pembelajaran yang interaktif dan kolaboratif, sangat penting untuk mendukung tahapan Problem Based Learning (PBL).

Deskripsi Kesenjangan (Das Sein/Realita Masalah)

Realitas di lapangan menunjukkan adanya jurang pemisah (gap) yang signifikan antara tuntutan penguasaan keterampilan pemecahan masalah (HOTS) dengan praktik pembelajaran materi Perubahan Lingkungan. Salah satu masalah utamanya adalah Media Digital yang Konvensional, di mana media digital yang tersedia masih cenderung mengadopsi model transfer informasi satu arah yang bersifat statis, sehingga gagal memicu keterlibatan aktif peserta didik dan menghambat pengembangan Higher Order Thinking Skills (HOTS) (Effendi et al., 2024). Lebih lanjut, terdapat isu Materi yang Abstrak dan Minim Konteks; penggunaan metode konvensional atau media presentasi statis seringkali gagal memvisualisasikan kompleksitas fenomena lingkungan, membuat materi terasa abstrak dan menghambat kemampuan peserta didik dalam menghubungkan konsep sains dengan isu dunia nyata (Muhartini et al., 2023). Kesenjangan diperparah dengan Kegagalan Memicu Investigasi, sebab pembelajaran Biologi pada materi ini sangat menuntut peserta didik untuk melakukan analisis dan merumuskan solusi, tetapi metode yang digunakan seringkali gagal menyediakan kasus nyata (pemicu) yang kuat sebagai titik awal penyelidikan berbasis inkuiri. Kesenjangan ini secara kolektif menghambat tercapainya kondisi ideal di mana peserta didik mampu mengkonstruksi pengetahuannya secara aktif dan mandiri.

Uraian Deskripsi Solusi Proyek

Solusi konkret yang diusulkan untuk menjembatani kesenjangan tersebut adalah pengembangan “Eco-Lab: Problem Solver“, sebuah website pembelajaran Biologi interaktif yang dibangun di atas platform Google Sites. Aspek inovatif utamanya terletak pada integrasi penuh strategi pedagogis Problem Based Learning (PBL) ke dalam struktur navigasi website (Syah & Hidayatullah, 2024). Integrasi ini direalisasikan melalui Representasi Sintaks PBL, di mana struktur navigasi website dirancang untuk secara langsung mewakili tahapan PBL. Setiap Modul materi Perubahan Lingkungan memandu siswa melalui serangkaian tahapan: dari Orientasi Masalah (menyajikan masalah pemicu kontekstual), Organisasi Belajar (menyediakan panduan LKPD kolaboratif melalui Google Docs), Penyelidikan Mandiri (konten multimodal untuk eksplorasi), hingga Perumusan Solusi (membimbing peserta didik untuk berpikir kritis). Selain itu, proyek ini memanfaatkan Konten Multimodal yang disajikan secara visual dan interaktif melalui fitur embed Google Sites, memanfaatkan Google Docs untuk LKPD kolaboratif, Google Forms untuk kuis evaluasi, dan video YouTube sebagai stimulus kasus nyata (Napitu et al., 2023). Keseluruhan desain Eco-Lab mengadopsi Pendekatan Konstruktivisme, berfungsi sebagai sumber daya yang mendorong siswa untuk membangun pemahaman mereka sendiri melalui interaksi aktif dengan konten, selaras dengan prinsip bahwa pembelajaran adalah proses aktif (Nerita et al., 2023; Pratami, 2024).

Rumusan Masalah Proyek

Rumusan masalah utama dalam proyek ini berfokus pada pertanyaan pengembangan:

Bagaimana merancang dan mengembangkan purwarupa website interaktif Eco-Lab berbasis Google Sites yang mampu memvisualisasikan materi perubahan lingkungan secara terstruktur, informatif, dan mudah diakses?

Tujuan Proyek

Tujuan utama dari proyek ini adalah menghasilkan purwarupa media pembelajaran interaktif Biologi berupa website berbasis Google Sites yang terintegrasi penuh dengan sintaks Problem Based Learning (PBL) dan tervalidasi oleh ahli media dan ahli materi.

Tujuan Khusus (Specific Objectives)

Tujuan khusus dari pengembangan Eco-Lab: Problem Solver ini mencakup aspek teknis, pedagogis, dan fungsional:

  1. Teknis dan Fungsional: Menciptakan purwarupa website pembelajaran Biologi berbasis Google Sites yang memiliki struktur navigasi terorganisir (sesuai Site Map), user interface yang ramah pengguna, dan konten multimodal (teks, video, kuis, dan lembar kerja kolaboratif Google Docs) yang efektif dan praktis.
  2. Pedagogis (Model Pembelajaran): Mengintegrasikan sintaks model Problem Based Learning (PBL) secara utuh ke dalam alur navigasi website, memastikan setiap tahapan PBL (mulai dari orientasi masalah hingga perumusan solusi) dapat dijalankan secara sistematis oleh peserta didik.
  3. Dampak Pembelajaran: Menyediakan lingkungan belajar yang secara sistematis mendorong peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri dan meningkatkan keterampilan pemecahan masalah pada materi Perubahan Lingkungan (sebagai dasar untuk uji efektivitas di tahap penelitian selanjutnya).

Metodologi Pengembangan Proyek

Proyek pengembangan Eco-Lab: Problem Solver ini menggunakan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) sebagai kerangka kerja sistematis. Mengingat produk purwarupa (prototype) telah selesai dibuat dan dipublikasikan, metodologi ini mencerminkan fase-fase yang telah dilalui dan fase validasi yang sedang berlangsung:

Tahap pertama, Analysis (A), Tahap ini mencakup analisis kebutuhan konten, analisis karakteristik peserta didik, dan penetapan tujuan pembelajaran spesifik untuk mengatasi kesenjangan yang ada.

Tahap kedua, Design (D), Dilakukan perancangan Site Map yang merepresentasikan sintaks PBL, pembuatan wireframe tampilan, dan desain visual yang kohesif sebelum perakitan.

Tahap ketiga, Development (D), Tahap perakitan dan integrasi konten di Google Sites telah dilakukan (Development).

Tahap keempat, Implementation (I), Produk telah dipublikasikan dan dapat diakses (Implementation) melalui URL: https://sites.google.com/students.um.ac.id/ecolab?usp=sharing, yang memungkinkan aksesibilitas tinggi.

Tahap kelima, Evaluation (E), Fase ini berfokus pada Uji Validitas (Expert Review) purwarupa oleh Ahli Materi (Biologi) dan Ahli Media/Teknologi Pendidikan. Tujuannya adalah memastikan bahwa Eco-Lab secara teoretis dan teknis layak untuk digunakan dan sesuai dengan tujuan pedagogis PBL.

Daftar Rujukan

Aisyah, S., Fatonah, U., Nuri, S., Munawarah, S., & Niarti, D. (2025). Efektivitas Model Pembelajaran Problem-Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Kompetensi Peserta Didik Kelas V terhadap Materi Organ Pernapasan Manusia pada Pembelajaran IPAS. JURNAL KOMPETENSI GURU INDONESIA, 1, 76–85.

Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.

Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.

Branch, R. M. (2009). Instructional Design: The ADDIE Approach. USA: University of Georgia.

Cahyaningsih, A., Aulia, H., Ramadhani, L., Alwi, N. A., & Padang, U. N. (2025). Transformasi Kurikulum dalam Menghadapi Tantangan Pendidikan Abad.

Darwati, I. M., & Purana, I. M. (2020). Problem Base Learning (PBL) : Suatu Model Untuk Mengembangkan Cara Berpikir Kritis Peserta Didik. Widya Accarya: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra, 11(1), 24–33.

Effendi, M., Elmunsyah, H., & Widiyati. (2024). Peran Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) terhadap Ketercapaian 4C Skills (Critical Thinking, Creative Thinking, Collaboration, and Communication) Siswa SMK. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(001), 435–444.

Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.

Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.

Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.

Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.

Muhartini, Amril Mansur, & Abu Bakar. (2023). PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING. Lencana: Jurnal Inovasi Ilmu Pendidikan, 1(1), 66–77.

Nafis, H., Ms, T. K., Sa, S., & Asmaret, D. (2025). Transformasi Metode / Teknik Mengajar Era Digital.

Napitu, F. R., Fitri, I. N., Limbong, J., Sulistiani, N. R., Korespondensi, P., & Sites, G. (2023). Pemanfaatan google sites sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran ipa di kelas iii sekolah dasar. Jurnal Siliwangi: Seri Pendidikan, 9(1), 2–7.

Nerita, S., Ananda, A., & Mukhaiyar. (2023). Pemikiran Konstruktivisme dan Implementasinya dalam Pembelajaran. Jurnal Education and Development, 11(2), 292–297.

Pratami, R. (2024). Pendekatan Konstruktivisme dalam Kebijakan Pembelajaran Berbasis Proyek: Transformasi Pendidikan Menuju Kreativitas dan Kolaborasi Constructivism Approach in Project-based Learning Policy: Transforming Education Toward Creativity and Collaboration. JEJARING ADMINISTRASI PUBLIK, 16(c), 76–87.

Rajagukguk, H. O., & Mayasari, L. I. (2025). Massive Open Online Courses (MOOC) dalam Proses Digitalisasi Pembelajaran di Perguruan Tinggi.

Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.

Sarbani, Y. A., Mulyati, H., & Astuti, S. I. (2024). Literasi Digital, Lansia, dan Konstruktivisme. Scriptura, 14(1), 72–81.

Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.

Syah, Y. A., & Hidayatullah, R. S. (2024). Pengembangan media pembelajaran interaktif google sites untuk meningkatkan hasil belajar siswa smk. JVTE: Journal of Vocational and Technical Education, 6, 56–65.

Walangitan, M. N., Sumampouw, H. M., Tengker, A. C., Jl, A., Unima, K., Selatan, K. T., Minahasa, K., & Utara, S. (2025). Peningkatan Hasil Belajar Biologi melalui Pendekatan Kontekstual Berbantuan PowerPoint Interaktif: Studi pada Materi Sistem Pernapasan Manusia and Learning (CTL). Pentagon: Jurnal Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, 3(3), 13–26.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *