BAGIAN 1 : IMPLEMENTASI DAN DISEMINASI HASIL PROYEK
Skenario Implementasi di Lingkungan Belajar
Implementasi microlearning interaktif berbasis inquiry learning ini dilakukan dalam konteks uji coba terbatas pada pembelajaran IPA materi Bumi dan Tata Surya untuk siswa kelas VII SMP. Uji coba dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran berjalan dalam skenario pembelajaran luring-terbimbing. Peserta uji coba yaitu siswa yang telah terbiasa menggunakan perangkat digital seperti telepon pintar dalam kegiatan belajar.
Alur implementasi dimulai ketika saya membagikan tautan microlearning berbasis Genially melalui platform komunikasi. Siswa diminta membuka modul microlearning secara mandiri. Pada tahap awal, siswa disajikan stimulus visual berupa animasi pergerakan Bumi, Matahari, dan Bulan. Selanjutnya, siswa diarahkan untuk mengamati fenomena tersebut dan menjawab pertanyaan pemantik yang mendorong aktivitas menanya.
Pada tahap berikutnya, siswa melakukan eksplorasi melalui simulasi interaktif. Mereka dapat memilih ingin belajar materi apa yang akan dipelajari terlebih dahulu. Setelah eksplorasi, siswa mengerjakan kuis reflektif singkat yang disertai umpan balik otomatis. Sistem merespons setiap input siswa dengan notifikasi benar/salah serta visual pendukung, sehingga proses belajar berlangsung secara langsung dan berkelanjutan.
Demonstrasi Fungsionalitas Produk
Microlearning ini memiliki beberapa fitur unggulan yang menjadi inti pengembangan. Fitur utama pertama adalah modul pembelajaran berdurasi singkat (3–5 menit) yang disusun secara modular. Setiap modul hanya memuat satu konsep kunci, sehingga siswa dapat belajar secara fokus tanpa mengalami kelebihan beban kognitif.
Fitur kedua adalah simulasi interaktif berbasis inquiry. Melalui simulasi ini, siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi secara aktif menguji hipotesis sederhana, seperti memprediksi penyebab terjadinya siang dan malam. Integrasi platform Genially memungkinkan microlearning diakses melalui berbagai perangkat, baik telepon pintar maupun laptop, tanpa instalasi aplikasi tambahan.
Keunggulan fungsional ini secara langsung menjawab permasalahan pembelajaran IPA yang selama ini bersifat abstrak dan sulit divisualisasikan. Dengan adanya animasi dan simulasi interaktif, konsep astronomi menjadi lebih konkret dan mudah dipahami oleh siswa.
Analisis Penerimaan Pengguna (User Acceptance)
Analisis penerimaan pengguna dilakukan melalui wawancara singkat dan observasi selama uji coba. Siswa menyampaikan bahwa microlearning mudah digunakan dan membantu memahami materi. Siswa juga menyatakan bahwa animasi dan simulasi membuat mereka lebih tertarik dan tidak cepat bosan.
Testimoni tersebut menunjukkan indikator keberhasilan pada aspek kemudahan penggunaan (usability), efisiensi waktu belajar, dan kejelasan materi. Dari sisi dampak kognitif, microlearning ini membantu siswa memahami hubungan sebab-akibat dalam fenomena astronomi. Dari sisi psikologis, siswa terlihat lebih antusias dan percaya diri dalam menjawab pertanyaan reflektif.
Strategi Diseminasi Profesional
Diseminasi proyek dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu visual dan konseptual. Kanal visual diwujudkan melalui video demonstrasi microlearning yang menampilkan cara penggunaan dan fitur utama produk. Video ini ditujukan untuk menjangkau praktisi pendidikan dan calon pengguna secara luas.
Sementara itu, kanal konseptual dilakukan melalui penulisan makalah akademik yang menjelaskan landasan teoritis, desain pembelajaran, serta refleksi pengembangan produk. Tujuan diseminasi ini adalah untuk berbagi praktik baik pengembangan konten digital berbasis inquiry learning sekaligus memperoleh umpan balik dari komunitas akademik dan praktisi pendidikan.
BAGIAN 2 : REFLEKSI KRITIS DAN PENGEMBANGAN PROYEK
Tantangan Signifikan dalam Pengembangan
Tantangan utama dalam pengembangan proyek ini terletak pada upaya menerjemahkan teori inquiry learning ke dalam desain microlearning yang bersifat singkat dan modular. Inquiry learning pada dasarnya menuntut proses eksplorasi yang mendalam, sementara microlearning memiliki keterbatasan durasi.
Selain itu, terdapat tantangan dalam menyederhanakan konsep astronomi yang kompleks tanpa menghilangkan esensi ilmiahnya. Penyeimbangan antara idealisme pedagogis dan keterbatasan teknis platform menjadi proses reflektif yang signifikan selama pengembangan.
Pembelajaran Penting (Key Insights)
Salah satu pembelajaran penting dari proyek ini adalah pemahaman bahwa teknologi bukan sekadar alat penyampai materi, melainkan jembatan yang menghubungkan konsep abstrak dengan pengalaman belajar konkret. Microlearning terbukti efektif ketika dirancang dengan mempertimbangkan pengalaman pengguna.
Dari perspektif pengguna, ditemukan bahwa siswa lebih menyukai tampilan sederhana, navigasi intuitif, dan aktivitas interaktif yang langsung memberikan umpan balik. Hal ini menegaskan pentingnya desain berorientasi pada pengguna (user-centered design) dalam pengembangan konten digital.
Rencana Pengembangan Diri dan Proyek Lanjutan
Jika proyek ini dilanjutkan, pengembangan berikutnya akan difokuskan pada penambahan fitur asesmen adaptif yang menyesuaikan tingkat kesulitan dengan kemampuan siswa. Selain itu, integrasi elemen gamifikasi lanjutan juga direncanakan untuk meningkatkan motivasi belajar.
Dari sisi pengembangan diri, kompetensi yang perlu diasah meliputi desain pengalaman pengguna (UX design), analisis data hasil belajar, serta penguasaan platform pengembangan konten digital yang lebih kompleks.
KESIMPULAN
Sintesis Keberhasilan Proyek
Berdasarkan seluruh rangkaian proses pengembangan dan implementasi, proyek microlearning interaktif berbasis inquiry learning ini dapat disimpulkan berhasil menjawab tantangan rendahnya literasi sains siswa SMP, khususnya pada materi Bumi dan Tata Surya yang selama ini dianggap abstrak dan sulit dipahami. Integrasi microlearning dengan pendekatan inquiry learning memungkinkan siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat secara aktif dalam proses mengamati, menanya, mengeksplorasi, dan merefleksikan fenomena ilmiah.
Hasil implementasi menunjukkan bahwa penyajian materi dalam unit singkat, visual, dan interaktif mampu membantu siswa membangun pemahaman konseptual secara bertahap tanpa mengalami kelebihan beban kognitif. Kehadiran animasi dan simulasi interaktif menjembatani kesenjangan antara konsep teoritis dan pengalaman belajar konkret, sehingga mendukung terbentuknya pemahaman sebab-akibat yang menjadi inti literasi sains. Selain itu, umpan balik langsung yang diberikan melalui kuis reflektif turut memperkuat proses belajar mandiri dan meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam memahami konsep astronomi.
Dengan demikian, microlearning interaktif berbasis inquiry learning tidak hanya berperan sebagai media pendukung pembelajaran, tetapi juga sebagai strategi pedagogis yang relevan dengan karakteristik belajar siswa di era digital. Pendekatan ini terbukti mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan literasi sains.
PENUTUP
Secara keseluruhan, proyek ini telah melalui siklus pengembangan konten digital secara komprehensif, mulai dari analisis kebutuhan pembelajaran, perancangan desain instruksional, produksi media, implementasi terbatas di lingkungan belajar nyata, hingga evaluasi dan diseminasi hasil. Setiap tahap pengembangan memberikan pengalaman reflektif yang memperkaya pemahaman penulis mengenai pentingnya keselarasan antara tujuan pedagogis, desain teknologi, dan karakteristik peserta didik.
Meskipun masih memiliki keterbatasan, terutama pada skala implementasi dan variasi fitur asesmen, proyek ini menunjukkan potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Pengembangan lanjutan dapat diarahkan pada penerapan asesmen adaptif, perluasan materi IPA lainnya, serta pengujian efektivitas pada konteks dan karakteristik siswa yang lebih beragam.
Referensi
Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
Azneezal Ar-Rashid Mohd Ramli, & Borhan, M. T. (2024). Bridging digital tools and scientific literacy: A systematic review on inquiry-based learning approaches. International Journal of Modern Education (IJMOE), 6(23).
Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
Dinihari, Y., Santosa, I., Ayuardini, M., & Yulistiana. (2025). Trends in microlearning and literacy integration in digital learning. International Seminar on Humanity, Education, and Language, 1(1), 681–688.
Herlina, E., & Abidin, Z. (2024). Development of interactive e-modules to improve students’ scientific literacy abilities: A literature review. Jurnal Mangifera Edu, 8(2), 74–87.
Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer
Putri, L. A. (2025). Implementing technology-based inquiry learning models to increase science literacy and critical thinking. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, 58(2), 304–315.
Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.

Tinggalkan Balasan