Pengembangan Fitur Simulasi Peer-Review Tugas Menggunakan Padlet Untuk Meningkatkan Sense Of Community Mahasiswa Dalam Pembelajaran Daring.

·

·

, ,

Rika Rimelda Balkis
230121602097
Kelas B

Harapan Proyek

Transformasi pendidikan digital menuntut pendidik untuk merancang pengalaman belajar yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian konten, tetapi juga membangun interaksi sosial yang bermakna. Dalam pembelajaran daring, keterlibatan sosial serta hubungan antar mahasiswa menjadi salah satu fondasi penting bagi keberhasilan proses belajar. Hal ini sejalan dengan temuan Rovai (2002) yang menegaskan bahwa sense of community dalam pembelajaran jarak jauh berkorelasi positif dengan motivasi, kepuasan, serta keberlanjutan partisipasi mahasiswa.

Lebih jauh, kerangka Community of Inquiry (CoI) yang dikembangkan oleh Garrison, Anderson, dan Archer (2000) menempatkan social presence sebagai elemen kunci dalam mewujudkan pengalaman belajar yang mendalam (deep and meaningful learning). Kehadiran sosial ini tidak terjadi secara otomatis, tetapi harus dirancang melalui strategi instruksional yang memfasilitasi interaksi, kolaborasi, dan dialog akademik antarmahasiswa.

Dalam konteks itulah proyek pengembangan simulasi peer-review tugas menggunakan Padlet menghadirkan harapan besar untuk memperkuat keterlibatan sosial mahasiswa. Peer-review dipandang bukan sekadar aktivitas untuk menilai karya teman sejawat, tetapi sebagai proses reflektif yang memicu pengembangan kemampuan berpikir kritis, komunikasi akademik, dan tanggung jawab kolektif terhadap pembelajaran. Penelitian Topping (1998) menunjukkan bahwa peer-review dan peer-assessment mampu meningkatkan kualitas pemahaman konseptual mahasiswa melalui interaksi, negosiasi makna, serta pemberian umpan balik yang berkesinambungan.

Sebagai platform kolaboratif visual, Padlet menawarkan ruang yang intuitif untuk memfasilitasi aktivitas peer-review secara daring. Dengan memanfaatkan fitur unggah tugas, komentar, dan kolaborasi visual, mahasiswa dapat berinteraksi dalam lingkungan belajar yang lebih terbuka, mudah diakses, dan mendukung diskusi akademik. Diharapkan, integrasi Padlet dalam mekanisme peer-review mampu memperkuat sense of community, meningkatkan kualitas interaksi mahasiswa, serta membangun pengalaman belajar daring yang lebih reflektif, kolaboratif, dan bermakna. Dengan demikian, harapan utama proyek ini adalah menghadirkan sebuah desain pembelajaran digital yang mampu menumbuhkan komunitas belajar yang aktif serta menguatkan praktik kolaboratif mahasiswa melalui mekanisme umpan balik sejawat yang terstruktur dan mendalam.

Konteks Proyek

Proyek “Pengembangan Fitur Simulasi Peer-Review Tugas Menggunakan Padlet untuk Meningkatkan Sense of Community Mahasiswa dalam Pembelajaran Daring” diterapkan dalam konteks pembelajaran berbasis daring di lingkungan perguruan tinggi. Situasi pembelajaran jarak jauh menuntut adanya media yang mampu mendukung interaksi akademik secara sinkron maupun asinkron, serta menjaga dinamika sosial yang biasanya hadir secara alami dalam pembelajaran tatap muka. Tantangan ini menjadi signifikan terutama ketika mahasiswa kurang memiliki kesempatan untuk berkomunikasi, berdiskusi, atau memberikan umpan balik secara langsung.

Dalam konteks tersebut, teknologi pendidikan berperan strategis sebagai fasilitator utama pembelajaran. Teknologi tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian materi, tetapi juga sebagai ruang kolaboratif yang memungkinkan mahasiswa terlibat aktif dalam proses pembangunan pengetahuan. Platform seperti Padlet menyediakan lingkungan digital yang intuitif, berbasis visual, dan mudah diakses, sehingga memungkinkan mahasiswa untuk mengunggah hasil kerja, memberikan komentar, dan berinteraksi secara terbuka dengan teman sejawat. Karakteristik ini mendukung kebutuhan pembelajaran kolaboratif dan konstruktivistik yang diperlukan dalam proses peer-review.

Proyek ini dirancang agar mahasiswa dapat merasakan pengalaman autentik dalam memberikan dan menerima umpan balik melalui simulasi peer-review yang terstruktur. Melalui Padlet, interaksi mahasiswa menjadi lebih cair karena mereka dapat menanggapi karya teman secara langsung, menyampaikan evaluasi berbasis rubrik, serta berpartisipasi dalam diskusi reflektif. Dengan demikian, teknologi pendidikan tidak hanya menjadi alat bantu teknis, tetapi menjadi bagian integral dari pembentukan learning community yang mendorong keterlibatan, interaksi sosial, dan rasa memiliki terhadap kelompok belajar.

Pengembangan simulasi peer-review berbasis Padlet ini diterapkan sebagai bagian dari upaya memperkaya proses pembelajaran daring dengan aktivitas yang menekankan kolaborasi dan komunikasi akademik. Oleh karena itu, konteks proyek ini tidak hanya menyentuh aspek teknis penggunaan platform digital, tetapi juga peran fundamental teknologi dalam mendukung kualitas pengalaman belajar mahasiswa secara holistik.

Deskripsi Kesenjangan

Meskipun pembelajaran daring memberikan fleksibilitas dalam mengakses materi dan mengikuti kegiatan akademik, realitas di lapangan menunjukkan bahwa interaksi sosial mahasiswa dalam lingkungan virtual masih jauh dari optimal. Harapan untuk membangun sense of community yang kuat sering kali tidak tercapai karena keterbatasan desain aktivitas pembelajaran yang mampu mendorong kolaborasi bermakna. Mahasiswa cenderung mengalami pengalaman belajar yang individualistik, minim dialog, serta kurang mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi secara konstruktif dengan teman sejawat.

Salah satu faktor utama penyebab kesenjangan ini adalah terbatasnya pemanfaatan strategi pembelajaran kolaboratif seperti peer-review, yang sebenarnya memiliki potensi besar dalam meningkatkan partisipasi dan kualitas interaksi sosial. Di banyak kelas daring, proses pemberian umpan balik masih didominasi oleh dosen, sementara mahasiswa berperan pasif sebagai penerima informasi. Hal ini berbeda dengan praktik peer-review yang ideal, di mana mahasiswa saling menilai, berdiskusi, dan mengembangkan pemahaman melalui tukar pemikiran. Akibatnya, aktivitas pembelajaran menjadi kurang dialogis dan tidak memberikan ruang bagi mahasiswa untuk membangun hubungan akademik yang suportif.

Selain itu, sebagian besar mahasiswa belum terbiasa memberikan umpan balik yang berbasis rubrik atau bersifat konstruktif. Ketika tidak ada panduan yang jelas, mahasiswa cenderung hanya memberikan komentar singkat atau sekadar apresiasi tanpa analisis. Hambatan literasi akademik ini menyebabkan proses peer-review tidak berjalan optimal dan tidak mampu mencapai tujuan pedagogisnya.

Dari sisi teknologi, guru atau dosen juga menghadapi kendala dalam mendesain aktivitas peer-review yang efektif. Tidak semua platform pembelajaran menyediakan fitur kolaboratif yang mudah digunakan atau memungkinkan mahasiswa untuk melakukan penilaian sejawat secara terbuka. Kurangnya dasar teknis atau pengetahuan tentang cara memanfaatkan platform seperti Padlet menyebabkan aktivitas kolaboratif tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Dengan demikian, terdapat kesenjangan yang jelas antara harapan pedagogis untuk membangun komunitas belajar yang kolaboratif dan realitas pelaksanaan pembelajaran daring yang cenderung monologis dan minim interaksi sosial. Kesenjangan inilah yang menjadi dasar dan urgensi bagi pengembangan fitur simulasi peer-review menggunakan Padlet, agar mahasiswa dapat terlibat dalam proses pembelajaran yang lebih reflektif, interaktif, dan kolaboratif.

Uraian Deskripsi Solusi Proyek

Untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan interaksi sosial dalam pembelajaran daring dan praktik pembelajaran yang masih minim kolaborasi, proyek ini menawarkan solusi konkret berupa pengembangan fitur simulasi peer-review tugas menggunakan platform Padlet. Solusi ini dirancang sebagai pengalaman belajar terstruktur yang memungkinkan mahasiswa mengunggah tugas, saling memberikan umpan balik berbasis rubrik, serta melakukan refleksi atas masukan yang diterima. Pendekatan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga pedagogis, karena memfasilitasi interaksi akademik yang autentik antar mahasiswa.

Padlet dipilih sebagai platform utama dalam proyek ini karena karakteristiknya yang mendukung kolaborasi visual dan interaksi asinkron secara efektif. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa lingkungan digital berbasis kolaborasi dapat meningkatkan keterlibatan sosial dalam pembelajaran daring (Garrison et al., 2000), sehingga penggunaan Padlet dinilai relevan dalam upaya memperkuat sense of community. Selain itu, aktivitas peer-review terbukti mampu meningkatkan pemahaman konseptual dan kemampuan refleksi mahasiswa melalui proses memberi dan menerima feedback (Topping, 1998). Oleh karena itu, simulasi peer-review melalui Padlet diharapkan dapat mengintegrasikan aspek kolaboratif dan reflektif secara bersamaan.

Solusi yang ditawarkan dikembangkan dalam bentuk fitur simulasi peer-review yang meliputi beberapa komponen utama:

  1. Fitur Unggah Tugas (Task Submission Panel) 

Mahasiswa dapat mengunggah tugas mereka dalam bentuk dokumen, gambar, atau video. Fitur ini memungkinkan visualisasi karya secara terbuka sehingga mahasiswa dapat saling melihat dan mempelajari hasil kerja teman sejawat. Tahap ini bertujuan memfasilitasi shared understanding dalam komunitas belajar.

  1. Fitur Komentar Berbasis Rubrik (Structured Feedback Commenting) 

Agar proses peer-review tidak sekadar menjadi komentar singkat, disediakan rubrik sederhana yang memandu mahasiswa dalam memberikan umpan balik. Struktur rubrik meliputi aspek kejelasan isi, kualitas penyajian, serta saran perbaikan. Dengan adanya rubrik, mahasiswa memiliki pedoman yang jelas sehingga kualitas umpan balik menjadi lebih bermakna dan analitis.

  1. Fitur Validasi Komentar (Feedback Completeness Check) 

Mahasiswa diminta melakukan pengecekan ulang terhadap komentar yang mereka berikan. Mekanisme ini dirancang untuk mendorong mahasiswa memberikan umpan balik yang lengkap dan konstruktif. Tahap ini relevan dengan prinsip self-monitoring dalam pembelajaran reflektif.

  1. Fitur Penerimaan dan Revisi Tugas (Revision Loop) 

Setelah menerima umpan balik dari teman sejawat, mahasiswa diminta melakukan revisi. Siklus revisi ini mendukung proses deep learning karena mahasiswa tidak hanya menerima masukan, tetapi juga menggunakannya untuk perbaikan kualitas tugas.

  1. Fitur Dokumentasi Interaksi (Interaction Archive) 

Semua proses peer-review dan revisi direkam dalam Padlet sehingga interaksi dapat ditinjau kembali. Dokumentasi terbuka seperti ini mendukung transparansi, akuntabilitas, serta pembelajaran sosial secara kolektif.

Dengan menggabungkan fitur-fitur tersebut, proyek ini merancang pengalaman peer-review yang lengkap, terarah, dan selaras dengan tujuan pedagogis untuk memperkuat interaksi sosial mahasiswa dalam pembelajaran daring. Solusi ini tidak hanya mengatasi kesenjangan teknis, tetapi juga menguatkan aspek penting dalam pembelajaran kolaboratif seperti kehadiran sosial (social presence), dialog akademik, dan refleksi kritis.

Rumusan Masalah Proyek

Permasalahan utama dalam proyek ini berfokus pada bagaimana proses peer-review yang idealnya berfungsi sebagai sarana kolaborasi dan dialog akademik dapat dihadirkan secara efektif dalam lingkungan pembelajaran daring. Dalam praktiknya, banyak kelas daring masih menghadirkan pengalaman belajar yang cenderung individualistik dan minim interaksi sosial, sehingga mahasiswa tidak memperoleh kesempatan yang cukup untuk memberikan maupun menerima umpan balik sejawat secara bermakna. Padahal, penelitian telah menunjukkan bahwa mekanisme peer-review memiliki potensi besar dalam meningkatkan pemahaman konseptual serta membangun koneksi sosial antar pembelajar (Topping, 1998).

Tantangan berikutnya adalah keterbatasan guru dan mahasiswa dalam memanfaatkan platform digital untuk mengelola aktivitas kolaboratif yang terstruktur. Meskipun berbagai media pembelajaran daring tersedia, tidak semuanya menyediakan fitur yang intuitif atau mudah digunakan untuk proses peer-review. Hal ini sering menyebabkan interaksi antar mahasiswa menjadi dangkal dan kurang diarahkan. Kesenjangan ini sejalan dengan temuan Garrison et al. (2000) yang menekankan bahwa keberhasilan pembelajaran daring sangat dipengaruhi oleh desain lingkungan belajar digital yang mampu memfasilitasi kehadiran sosial (social presence) dan hubungan interpersonal.

Dalam konteks tersebut, proyek ini memunculkan kebutuhan untuk menghadirkan sebuah solusi yang dapat mensistematisasikan proses peer-review agar lebih mudah diakses, terstruktur, dan dapat memperkuat sense of community mahasiswa. Platform Padlet dipandang sebagai media yang potensial, namun tetap diperlukan desain fitur simulatif yang mampu mengarahkan mahasiswa untuk memberikan umpan balik yang berkualitas melalui struktur rubrik yang jelas dan alur interaksi yang tertata.

Dengan demikian, rumusan masalah inti dari proyek ini adalah:

“Bagaimana pengembangan fitur simulasi peer-review tugas menggunakan Padlet dapat meningkatkan sense of community dan memperkuat kualitas interaksi akademik mahasiswa dalam pembelajaran daring?”

Tujuan Proyek

Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk meningkatkan keterlibatan sosial dan kualitas interaksi akademik mahasiswa dalam pembelajaran daring melalui penerapan fitur simulasi peer-review berbasis Padlet. Proyek ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar kolaboratif yang memungkinkan mahasiswa tidak hanya menerima materi pembelajaran, tetapi juga berperan aktif sebagai pemberi dan penerima umpan balik sejawat. Dengan demikian, simulasi peer-review ini diharapkan dapat memperkuat sense of community mahasiswa serta menciptakan ruang belajar yang lebih dialogis dan reflektif.

Secara lebih khusus, proyek ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah desain sistematis dan terstruktur yang memandu mahasiswa dalam melakukan aktivitas peer-review digital yang bermakna. Struktur tersebut meliputi alur unggah tugas, pemberian umpan balik berbasis rubrik, validasi komentar, hingga proses revisi tugas. Pendekatan ini memastikan bahwa mahasiswa memperoleh panduan yang jelas dalam berinteraksi, sehingga kualitas umpan balik yang diberikan lebih mendalam, terarah, dan konstruktif.

Tujuan khusus lainnya adalah mengembangkan simulasi digital yang mudah diakses dan intuitif, sehingga dapat digunakan dalam berbagai konteks pembelajaran daring tanpa bergantung pada keterampilan teknis yang tinggi. Pemilihan Padlet sebagai platform didasarkan pada kemampuannya menyediakan ruang kolaboratif yang fleksibel, terbuka, dan mendukung kerja sama asinkron. Integrasi teknologi ini sejalan dengan prinsip pembelajaran terbuka yang menekankan aksesibilitas, partisipasi, dan kesempatan belajar tanpa batas ruang maupun waktu.

Melalui serangkaian desain pedagogis dan teknis yang terintegrasi, proyek ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penyempurnaan praktik pembelajaran daring, khususnya dalam memfasilitasi interaksi sejawat yang reflektif dan memperkuat hubungan sosial mahasiswa sebagai bagian dari komunitas belajar digital.

Metodologi Pengembangan Proyek

Metodologi pengembangan proyek ini disusun berdasarkan pendekatan sistematis yang dilaksanakan sepanjang semester, mencakup empat tahapan utama: Analysis, Design, Development, dan Evaluation. Setiap tahap dirancang untuk memastikan bahwa produk simulasi peer-review berbasis Padlet tidak hanya memenuhi kebutuhan teknis, tetapi juga sesuai dengan prinsip pedagogis yang mendukung interaksi sosial dan penguatan sense of community mahasiswa.

1. Tahap Analysis (Analisis Kebutuhan dan Konteks Belajar)

Tahap awal berfokus pada identifikasi kebutuhan pembelajaran yang muncul dari praktik perkuliahan daring. Hasil analisis menunjukkan bahwa mahasiswa sering mengalami rendahnya interaksi sosial dan kurangnya proses umpan balik sejawat yang terarah. Selain itu, ditemukan bahwa dosen membutuhkan media yang sederhana namun efektif untuk mengelola aktivitas kolaboratif secara asinkron. Analisis ini kemudian diarahkan pada pemetaan fitur-fitur Padlet yang berpotensi mendukung proses peer-review, seperti fitur unggah file, komentar, dan kolaborasi visual.

2. Tahap Design (Perancangan Solusi dan Alur Interaksi)

Pada tahap desain, struktur dan mekanisme simulasi peer-review mulai dirumuskan. Proses ini meliputi:

  • penyusunan alur kerja mahasiswa dari unggah tugas hingga revisi,
  • perancangan flowchart yang menggambarkan navigasi dan titik keputusan pengguna,
  • perancangan storyboard panel demi panel yang mendeskripsikan tampilan visual, teks instruksional, interaksi pengguna, serta simulasi hasil,
  • penyusunan rubrik penilaian yang menjadi panduan mahasiswa dalam memberikan umpan balik.

Tahap desain ini memastikan bahwa alur interaksi dalam Padlet terarah, konsisten, serta sesuai dengan tujuan memperkuat kualitas interaksi mahasiswa.

3. Tahap Development (Pengembangan Produk Simulasi)

Tahap ini mencakup proses produksi aset dan konstruksi fitur simulasi peer-review secara nyata. Kegiatan yang dilakukan meliputi:

  • pembuatan prototype Padlet yang berisi kolom instruksi, area unggah tugas, ruang komentar, dan dokumentasi interaksi,
  • pengintegrasian rubrik peer-review melalui postingan tersemat (pinned post),
  • pengaturan privasi dan kolaborasi pada Padlet sehingga mahasiswa dapat mengunggah karya dan memberikan feedback secara terbuka,
  • penyusunan panduan teknis penggunaan Padlet bagi mahasiswa.

Pada tahap ini juga dihasilkan dokumen-dokumen pendukung seperti flowchart final, storyboard final, serta struktur tugas berbasis Padlet.

4. Tahap Evaluation (Evaluasi Terbatas dan Refleksi Pengembangan)

Evaluasi dilakukan melalui proses uji coba terbatas terhadap prototype. Sejumlah rekan sejawat diminta mensimulasikan aktivitas peer-review dengan:

  • mengunggah tugas,
  • memberikan komentar berbasis rubrik,
  • mengevaluasi kejelasan instruksi,
  • memberikan umpan balik tentang pengalaman kolaborasi dalam Padlet.

Hasil uji coba menunjukkan bahwa desain alur sudah cukup mudah diikuti, namun terdapat masukan terkait penyederhanaan instruksi dan perlunya validasi komentar. Umpan balik ini digunakan untuk melakukan penyempurnaan pada storyboard, instruksi teknis, dan struktur rubrik. Tahap evaluasi memastikan bahwa produk akhir siap digunakan dalam konteks pembelajaran daring.

Referensi
Garrison, D. R., Anderson, T., & Archer, W. (2000). Critical inquiry in a text-based environment: Computer conferencing in higher education. The Internet and Higher Education, 2(2–3), 87–105. https://doi.org/10.1016/S1096-7516(00)00016-6

Rovai, A. P. (2002). Building sense of community at a distance. International Review of Research in Open and Distributed Learning, 3(1), 1–16. https://doi.org/10.19173/irrodl.v3i1.79Topping, K. J. (1998). Peer assessment between students in colleges and universities. Review of Educational Research, 68(3), 249–276. https://doi.org/10.3102/00346543068003249



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *