Pengembangan Video Microlearning Interaktif sebagai Media Pengenalan MOOC (Massive Open Online Course) untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Mandiri di Era Digital
Prilin Agustin Talaksoru
230121608856
Kelas A
Harapan Proyek
Pendidikan di era digital menuntut transformasi dari pembelajaran berbasis transmisi menuju pembelajaran mandiri dan terbuka. Sejalan dengan pandangan Moller dan Huett (2012) tentang unconstrained learning, pembelajaran abad ke-21 tidak lagi dibatasi ruang dan waktu, melainkan dikelola secara mandiri oleh pembelajar melalui akses teknologi yang luas dan terbuka. Kondisi ideal pendidikan masa kini adalah terciptanya ekosistem belajar yang fleksibel, kolaboratif, dan adaptif, di mana pembelajar dapat mengakses sumber belajar global dan berinteraksi dalam jaringan digital tanpa batas (Spector et al., 2014). Seperti ditegaskan oleh Bishop et al. (2020), teknologi pendidikan kini harus berfungsi sebagai sistem yang memfasilitasi pengalaman belajar aktif dan reflektif, bukan sekadar alat penyampai informasi. Konsep Massive Open Online Course (MOOC) menjadi salah satu wujud nyata dari paradigma ini. MOOC memungkinkan siapa pun untuk mengikuti kursus daring dari universitas terkemuka di seluruh dunia, memperoleh sertifikat resmi, dan mengembangkan kompetensi lintas disiplin (Downes, 2019). Namun, realitas menunjukkan bahwa banyak pembelajar digital belum memahami atau memanfaatkan potensi MOOC secara optimal. Oleh karena itu, proyek ini dikembangkan untuk membantu mahasiswa memahami dan mengenal MOOC secara lebih menarik melalui pendekatan video microlearning interaktif. Dengan memanfaatkan prinsip edutainment (Hokanson et al., 2018), proyek ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan motivasi belajar mandiri yang selaras dengan visi pendidikan abad ke-21: terbuka, fleksibel, dan berorientasi pada pengembangan diri sepanjang hayat (lifelong learning).
Konteks Proyek
Proyek ini dikembangkan dalam konteks pendidikan tinggi dan pembelajaran digital modern, di mana mahasiswa dituntut untuk mengelola pembelajaran secara mandiri dan kritis. Teknologi pendidikan berperan penting sebagai fasilitator pengalaman belajar digital, bukan sekadar penyampai informasi (Januszewski & Molenda, 2008). Menurut Bishop et al. (2020), teknologi harus dimanfaatkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang adaptif dan kontekstual dengan mengintegrasikan unsur visual, naratif, dan interaktif. Prinsip ini diterapkan melalui pengembangan video microlearning interaktif, yang mampu menghadirkan pengalaman belajar personal dan efisien dengan durasi singkat namun berdampak tinggi. Format microlearning dipilih karena mendukung just-in-time learning penyajian materi yang cepat, fokus, dan relevan dengan kebutuhan pembelajar (Clark & Mayer, 2016). Selain itu, gaya edutainment yang digunakan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan ringan, sesuai dengan kebiasaan konsumsi media digital generasi muda.Dengan demikian, proyek ini bukan hanya memperkenalkan MOOC sebagai konsep, tetapi juga menjadi jembatan literasi digital yang menumbuhkan minat mahasiswa untuk belajar secara mandiri di lingkungan pembelajaran terbuka (Moller et al., 2009).
Deskripsi Kesenjangan
Meskipun MOOC telah dikenal luas secara global, tingkat pemanfaatannya di kalangan mahasiswa Indonesia masih rendah. Banyak mahasiswa belum mengetahui manfaat dan peluang yang ditawarkan oleh MOOC (Downes, 2019). Realita ini menunjukkan adanya kesenjangan literasi digital dan kesadaran belajar mandiri, yang memperlambat integrasi pembelajaran terbuka di tingkat pendidikan tinggi. Sebagian besar media pengenalan MOOC masih bersifat tekstual dan informatif, belum menggunakan pendekatan visual dan interaktif yang sesuai dengan gaya belajar digital generasi Z (Hokanson et al., 2018). Menurut Spector et al. (2014), media pembelajaran yang efektif harus memperhatikan aspek kognitif, afektif, dan motivasional pembelajar. Ketika aspek visual dan emosional diabaikan, pembelajaran menjadi tidak bermakna dan sulit diingat. Mahasiswa cenderung lebih tertarik pada konten audio visual singkat yang interaktif dibandingkan teks panjang yang monoton (Clark & Mayer, 2016). Akibatnya, informasi tentang MOOC yang disampaikan secara konvensional sering kali gagal menarik perhatian dan memotivasi pembelajar. Oleh karena itu, dibutuhkan media pembelajaran inovatif dan komunikatif yang dapat memperkenalkan MOOC secara menarik, informatif, dan relevan dengan kehidupan digital mahasiswa. Media yang dikembangkan melalui proyek ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan pemahaman dan minat, sekaligus memperkuat budaya belajar mandiri di kalangan pembelajar digital.
Uraian Deskripsi Solusi Proyek
Sebagai solusi atas kesenjangan tersebut, proyek ini mengembangkan Video Microlearning Interaktif berjudul “Pengenalan MOOC & Belajar Mandiri di Era Digital.” Media ini berfungsi untuk memperkenalkan konsep MOOC dengan pendekatan visual, naratif, dan interaktif yang menyesuaikan karakteristik pembelajar digital (Clark & Mayer, 2016). Video ini menggunakan pendekatan konstruktivisme di mana pembelajar membangun makna melalui pengalaman belajar dan interaksi dengan media (Spector et al., 2014). Materi disajikan dengan struktur microlearning agar fokus pada satu konsep utama, didukung gaya penyajian edutainment (Hokanson et al., 2018) yang menyenangkan dan tidak membebani kognitif.
Konten utama video mencakup:
- Pengenalan konsep MOOC dan contoh platform seperti Coursera, EdX, dan SPADA Indonesia.
- Manfaat MOOC dalam meningkatkan keterampilan, kompetensi, dan literasi digital mahasiswa.
- Langkah-langkah sederhana untuk memulai pembelajaran daring terbuka.
- Ajakan reflektif agar mahasiswa mencoba platform MOOC sebagai langkah awal menuju pembelajaran mandiri.
Pada tahap pengembangan saat ini, proyek masih dalam bentuk prototipe storyboard dan script video, yang menggambarkan alur visual, narasi, serta desain interaktif yang akan digunakan. Prototipe ini akan diuji melalui expert review oleh ahli media dan ahli pembelajaran untuk menilai kejelasan pesan, daya tarik visual, dan kesesuaian pedagogis sebelum tahap produksi final dilakukan (Bishop et al., 2020).
Rumusan Masalah Proyek
Permasalahan utama dalam proyek ini berfokus pada rendahnya pemahaman dan motivasi mahasiswa dalam memanfaatkan MOOC (Massive Open Online Course) sebagai sarana belajar mandiri di era digital. Meskipun MOOC menawarkan akses pembelajaran terbuka dan fleksibel, sebagian besar pembelajar masih belum memahami konsep, manfaat, maupun cara memanfaatkannya secara efektif (Downes, 2019).Selain itu, media pembelajaran yang menjelaskan MOOC umumnya masih bersifat informatif dan tekstual, sehingga kurang menarik bagi generasi digital yang lebih menyukai pendekatan visual dan interaktif (Clark & Mayer, 2016). Ketidaksesuaian ini menimbulkan kesenjangan antara potensi teknologi pembelajaran terbuka dengan gaya belajar pembelajar masa kini (Hokanson et al., 2018).Oleh karena itu, diperlukan sebuah strategi komunikasi edukatif yang mampu menjembatani konsep kompleks seperti MOOC melalui media yang engaging dan mudah dipahami. Pengembangan video microlearning interaktif dipandang sebagai solusi yang efektif karena mampu menggabungkan kekuatan narasi, visual, dan interaktivitas dalam menyampaikan informasi secara singkat namun bermakna (Spector et al., 2014).Isu ini selaras dengan pandangan Bishop et al. (2020) yang menegaskan bahwa keberhasilan inovasi teknologi pendidikan tidak hanya terletak pada kecanggihannya, tetapi pada sejauh mana media tersebut dapat mempersonalisasi pengalaman belajar dan menumbuhkan motivasi intrinsik pembelajar untuk terlibat aktif dalam proses belajar. Dengan demikian, proyek ini menempatkan video microlearning interaktif sebagai jembatan antara literasi digital dan kemandirian belajar mahasiswa, mendukung arah pendidikan masa depan yang terbuka, reflektif, dan berpusat pada pembelajar.
Tujuan Proyek
Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan motivasi belajar mandiri mahasiswa melalui pengembangan video microlearning interaktif bertema “Pengenalan MOOC & Belajar Mandiri di Era Digital.”
Media ini dikembangkan untuk membantu mahasiswa memahami konsep Massive Open Online Course (MOOC) dengan cara yang menarik, ringan, dan sesuai dengan karakteristik generasi digital yang menyukai pembelajaran visual dan interaktif (Clark & Mayer, 2016).
Secara khusus, proyek ini bertujuan untuk:
- Menghasilkan prototipe video microlearning interaktif yang memperkenalkan MOOC secara informatif dan engaging, dengan integrasi unsur edutainment dan microlearning (Hokanson et al., 2018).
- Meningkatkan kesadaran dan literasi digital mahasiswa mengenai manfaat MOOC dalam pengembangan pembelajaran mandiri dan keterampilan abad ke-21 (Downes, 2019).
- Menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar secara mandiri dengan memanfaatkan platform pembelajaran terbuka global (Moller & Huett, 2012).
Inisiatif ini selaras dengan prinsip unconstrained learning yang dikemukakan oleh Moller dan Huett (2012), bahwa pembelajaran di era digital seharusnya bersifat terbuka, fleksibel, dan berkelanjutan tanpa batas ruang dan waktu. Melalui video microlearning interaktif ini, pembelajar diharapkan mampu mengembangkan kemandirian belajar dan kesadaran digital sebagai bagian dari transformasi pendidikan abad ke-21.
Metodologi Pengembangan Proyek
Proyek ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan Design-Based Development (DBD) suatu model pengembangan konten digital yang sistematis, iteratif, dan berbasis evaluasi ahli. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan proses desain yang reflektif serta berorientasi pada perbaikan berkelanjutan (Bishop et al., 2020).
Tahapan utama dalam metodologi pengembangan proyek ini meliputi empat fase:
- Tahap Analisis (Analysis)
Tahap ini berfokus pada identifikasi kebutuhan pengguna, yakni mahasiswa yang memiliki tingkat literasi digital dasar namun belum memahami konsep MOOC. Analisis dilakukan untuk mengetahui hambatan dalam mengenal dan mengakses MOOC serta kecenderungan mahasiswa terhadap media pembelajaran singkat dan visual (Downes, 2019).
Selain itu, dilakukan analisis pedagogis untuk menentukan pendekatan yang sesuai, yakni konstruktivisme dan microlearning, yang memungkinkan pembelajar membangun makna melalui pengalaman interaktif (Spector et al., 2014). - Tahap Perancangan (Design)
Pada tahap ini dilakukan perancangan konten, alur storyboard, serta naskah video (script) yang menggabungkan narasi, visual, dan interaktivitas. Desain pembelajaran dirancang berdasarkan prinsip edutainment, dengan fokus pada penyajian materi yang singkat namun bermakna (Hokanson et al., 2018).
Struktur konten mencakup intro (hook dan pengantar topik), isi utama (penjelasan MOOC dan contohnya), serta call-to-action (ajakan belajar mandiri). Tahap ini juga memastikan setiap elemen visual dan naratif mendukung motivasi belajar pembelajar digital (Clark & Mayer, 2016). - Tahap Pengembangan Prototipe (Prototype Development)
Pada tahap ini, hasil rancangan dituangkan dalam bentuk storyboard dan script video sebagai prototipe awal. Storyboard menggambarkan alur visual dan teks, sementara script berisi naskah narasi yang akan digunakan dalam produksi video. Prototipe ini menjadi representasi desain awal yang akan diuji kepada ahli media dan ahli pembelajaran untuk memperoleh masukan terkait kejelasan isi dan daya tarik visual (Bishop et al., 2020). - Tahap Evaluasi (Evaluation)
Tahap ini melibatkan expert review atau uji coba ahli yang terdiri dari dua pihak ahli media untuk menilai aspek teknis dan visual, serta ahli materi untuk menilai keakuratan dan relevansi pedagogis. Evaluasi dilakukan berdasarkan kriteria efektivitas penyampaian pesan, kesesuaian media dengan tujuan pembelajaran, dan potensi peningkatan motivasi belajar (Spector et al., 2014).
Umpan balik dari para ahli digunakan sebagai dasar revisi dan penyempurnaan media agar hasil akhirnya siap dikembangkan menjadi video final.
Metodologi ini sejalan dengan pandangan Januszewski dan Molenda (2008) bahwa teknologi pendidikan mencakup proses penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan sumber belajar secara etis dan efektif. Dengan demikian, pengembangan video microlearning interaktif ini bukan sekadar produksi media, tetapi juga proses pedagogis yang bertujuan menciptakan pengalaman belajar yang adaptif, bermakna, dan menyenangkan.
Referensi
Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
Clark, R. C., & Mayer, R. E. (2016). E-learning and the science of instruction. Wiley.
Downes, S. (2019). MOOC theory and practice. Routledge.
Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.
Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
Ran, H., Cai, J., Hwang, S., Han, J., Ma, Y., & Muirhead, F. (2025). Effects of engaging in problem-posing interventions on learners’ cognitive mathematics outcomes: A comprehensive meta-analysis. Journal for Research in Mathematics Education, 56(5), 259-282.
Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.

Tinggalkan Balasan