Implementasi LiteraNum untuk Meningkatkan Literasi dan Numerasi Dasar Anak Usia Sekolah Dasar Hingga Sekolah Menengah Pertama: Kajian Persepsi Pengguna dan Tinjauan Pengembangan

·

·

, ,

Bagian 1: Implementasi Dan Diseminasi Hasil Proyek

  • Skenario Implementasi di Lingkungan Belajar

Proses validasi empiris produk dilakukan melalui skenario uji coba lapangan yang bertempat di Gedung Sekretariat Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Universitas Negeri Malang, dengan melibatkan mahasiswa S1 Pendidikan Matematika sebagai pengguna representatif untuk meninjau aspek pedagogis numerasi. Dalam simulasi ini, diterapkan metode blind testing di mana fasilitator memberikan instruksi kepada pengguna untuk mengeksplorasi produk tanpa memberikan informasi awal mengenai fitur maupun cara kerja sistem, dengan tujuan melihat tingkat intuitif desain produk. Pengguna memulai interaksi dengan mengakses laman Google Sites tempat produk diintegrasikan, kemudian secara mandiri menavigasi modul, mengisi kolom refleksi yang tersedia, hingga menyelesaikan seluruh unit pembelajaran. Sepanjang proses tersebut, sistem merespons setiap input pengguna secara responsif, di mana penyelesaian satu sub-modul memicu perubahan tampilan ke unit selanjutnya serta memberikan umpan balik otomatis pada segmen evaluasi, yang kemudian diakhiri dengan sesi wawancara untuk menggali testimoni terkait kemudahan akses dan desain materi.

  • Demonstrasi Fungsionalitas Produk

LiteraNum hadir sebagai modul digital berbasis flipbook yang diintegrasikan ke dalam ekosistem Google Sites, sebuah keputusan desain yang memprioritaskan kemudahan aksesibilitas bagi pengguna lintas perangkat. Di balik kesederhanaan aksesnya, produk ini menawarkan dua fitur unggulan yang dirancang berdasarkan prinsip psikologi kognitif, yaitu Enforced Break dan Parent-child Reflection. Fitur Enforced Break berfungsi secara otomatis untuk memberikan jeda istirahat terstruktur bagi pengguna, sebuah mekanisme yang krusial untuk mengelola beban kognitif (cognitive load) siswa agar tidak mengalami kelelahan mental saat memproses materi literasi dan numerasi. Sementara itu, fitur Parent-child Reflection bertindak sebagai checkpoint interaktif yang mensyaratkan keterlibatan pendamping belajar sebelum pengguna dapat melangkah ke unit materi selanjutnya, memastikan adanya pendampingan dan validasi pemahaman secara berkala.

  • Analisis Penerimaan Pengguna (User Acceptance)

Berdasarkan evaluasi lapangan, laporan penerimaan pengguna menunjukkan sentimen positif yang signifikan terhadap kegunaan dan estetika LiteraNum. Pengguna menyoroti bahwa modul ini memiliki navigasi yang intuitif dan sangat potensial untuk diterapkan dalam remediasi siswa yang mengalami ketertinggalan literasi dan numerasi dasar. Dari segi desain visual, pengguna memberikan apresiasi khusus terhadap keseimbangan elemen grafis, menyatakan bahwa “produk ini memiliki kemungkinan besar disukai anak-anak karena menarik dengan menghadirkan animasi yang tidak berlebihan namun tetap menunjang sisi dekoratif produk.” Pernyataan ini menegaskan bahwa pendekatan visual yang digunakan berhasil menciptakan daya tarik tanpa mendistraksi fokus belajar, memvalidasi keputusan desain untuk menjaga tampilan tetap sederhana namun memikat.

  • Strategi Diseminasi Profesional

Sebagai upaya untuk memastikan kebermanfaatan produk meluas melampaui ruang kelas uji coba, strategi diseminasi dilakukan melalui dua saluran komunikasi utama yang menyasar audiens umum dan akademis. Pertama, sebuah video demonstrasi komprehensif diunggah ke platform YouTube, berisi tutorial visual tentang cara mengakses dan memaksimalkan fitur flipbook LiteraNum, yang bertujuan untuk memberikan panduan praktis bagi masyarakat luas. Kedua, penyusunan artikel ilmiah dilakukan untuk membedah proses pengembangan LiteraNum dari perspektif akademis, memberikan landasan teoritis yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai bagaimana produk ini dibangun, sekaligus berkontribusi pada diskursus pengembangan teknologi pendidikan.

Bagian 2: Refleksi Kritis Dan Pengembangan Proyek

  • Tantangan Signifikan dalam Pengembangan

Hambatan paling substansial yang dihadapi selama siklus pengembangan LiteraNum adalah kompleksitas dalam menyederhanakan konten agar selaras dengan kemampuan kognitif target pengguna yang belum menguasai dasar literasi dan numerasi. Tantangan utamanya terletak pada upaya mereduksi kompleksitas materi agar tidak membebani pengguna, namun di sisi lain harus tetap mempertahankan esensi tantangan yang memicu proses berpikir kritis (higher-order thinking). Untuk mengatasi dilema pedagogis ini, pengembangan materi akhirnya merujuk secara ketat pada prinsip-prinsip Multimedia Learning dari Richard E. Mayer, memastikan setiap elemen teks dan gambar bekerja sinergis untuk memfasilitasi konstruksi pengetahuan tanpa menciptakan beban kognitif yang tidak perlu (extraneous cognitive load).

  • Pembelajaran Penting (Key Insights)

Proyek ini memberikan wawasan mendalam (insight) bahwa inovasi teknologi pendidikan tidak selalu identik dengan kecanggihan sistem yang kompleks, melainkan pada ketepatan solusi terhadap konteks pengguna. Saya belajar untuk merancang solusi yang “rendah teknologi namun berdampak tinggi” (high touch, low tech), mengingat permasalahan literasi dan numerasi dasar seringkali berkorelasi dengan masyarakat menengah ke bawah yang memiliki keterbatasan perangkat keras. Oleh karena itu, prioritas pengembangan bergeser pada penciptaan produk yang ringan dan kompatibel dengan gawai berspesifikasi rendah, memastikan bahwa intervensi pendidikan ini bersifat inklusif dan dapat diakses oleh mereka yang paling membutuhkannya tanpa terhalang kendala teknis.

  • Rencana Pengembangan Diri dan Proyek Lanjutan

Refleksi atas keterbatasan teknis saat ini mendorong saya untuk menetapkan rencana pengembangan diri yang berfokus pada pendalaman keilmuan teknologi pendidikan serta akuisisi keterampilan pengkodean (coding) dasar. Jika proyek LiteraNum ini dilanjutkan di masa depan, visi utamanya adalah mentransformasi modul statis ini menjadi sistem yang adaptif. Fitur kunci yang ingin dikembangkan adalah mekanisme asesmen diagnostik awal yang mampu memetakan tingkat pemahaman pengguna, sehingga sistem dapat menyajikan materi yang dipersonalisasi—menyesuaikan tingkat kesulitan dan konten berdasarkan pemahaman awal atau miskonsepsi spesifik yang dimiliki oleh setiap pengguna.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, proyek LiteraNum telah berhasil mensintesiskan masalah kesenjangan literasi dan numerasi dengan solusi teknologi tepat guna yang terbukti efektif secara empiris. Melalui implementasi fitur Enforced Break dan desain visual berbasis prinsip multimedia, produk ini tidak hanya menjawab kebutuhan aksesibilitas materi bagi siswa dengan gawai spesifikasi rendah, tetapi juga menawarkan lingkungan belajar yang ramah kognitif. Hasil uji coba lapangan dan penerimaan pengguna yang positif menjadi bukti valid bahwa intervensi teknologi yang dirancang dengan empati terhadap kondisi pengguna mampu memberikan dampak nyata dalam proses pembelajaran dasar.

Proyek ini sekaligus menandai selesainya siklus belajar pengembangan konten digital yang komprehensif, mulai dari tahap analisis kebutuhan yang mendalam, perancangan desain instruksional, produksi konten multimedia, hingga tahap evaluasi dan diseminasi. Seluruh tahapan ini telah memberikan pengalaman autentik dalam menerjemahkan teori teknologi pendidikan menjadi produk nyata, menegaskan kesiapan penulis untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam memecahkan masalah pendidikan di era digital melalui pendekatan yang sistematis dan terukur.

Referensi

Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.

Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.

Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.

Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.

Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.

Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.

Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.

Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *