Implementasi SkillUp untuk Mengungkit Pengalaman Belajar Mendalam pada Pelatihan Soft Skill: Studi Penerimaan dan Refleksi Pengembangan

·

·

, ,

Nama: Pramita Dwi Rahmawati

NIM: 230151601930

Offering: B

BAGIAN 1: IMPLEMENTASI DAN DISEMINASI HASIL PROYEK

1.1. Skenario Implementasi di Lingkungan Belajar

Proyek SkillUp lahir dari sebuah visi untuk mengubah wajah pelatihan digital yang selama ini sering dianggap pasif dan membosankan. Implementasi proyek ini dilakukan dengan mengintegrasikan modul video interaktif ke dalam Sistem Manajemen Pembelajaran (LMS) perusahaan menggunakan standar LTI (Learning Tools Interoperability), yang memungkinkan fleksibilitas akses luar biasa bagi karyawan tanpa terikat ruang dan waktu. Dalam pelaksanaannya, proses belajar berlangsung secara dinamis di mana pengguna tidak sekadar menonton, melainkan seolah-olah “terjun” langsung ke dalam situasi kerja nyata yang menantang, seperti menangani konflik rekan kerja atau menghadapi keluhan pelanggan. Narasi implementasi ini mengikuti alur di mana video akan otomatis berhenti pada momen kritis yang membutuhkan keputusan komunikasi. Pengguna kemudian dihadapkan pada pilihan respons, dan sistem secara instan akan menampilkan konsekuensi dari keputusan tersebut melalui skenario bercabang. Di akhir sesi, sistem memberikan kejutan teknologi berupa analisis AI yang membedah nada bicara dan dampak psikologis dari pilihan pengguna, menciptakan suasana belajar yang sangat personal dan adaptif.

1.2. Demonstrasi Fungsionalitas Produk

SkillUp bekerja sebagai sebuah ekosistem solusi sistematis yang menjembatani interaksi antara manusia dan teknologi cerdas. Fitur unggulan yang menjadi jantung dari proyek ini adalah mekanisme skenario bercabang yang terhubung langsung dengan teori transfer keterampilan, di mana setiap pilihan pengguna memicu alur cerita yang berbeda untuk menguji daya ingat dan aplikasi praktis. Selain itu, integrasi teknologi Large Language Model (LLM) memungkinkan produk ini memberikan umpan balik yang tidak bisa diberikan oleh modul tradisional, yakni analisis kualitatif terhadap aspek-aspek kompleks seperti empati dan gaya kepemimpinan. Kemudahan teknis ini memastikan bahwa meskipun materi yang disampaikan sangat kompleks, pengguna dapat mengoperasikannya dengan mudah melalui perangkat apa pun, yang secara efektif memangkas hambatan teknis dalam pengembangan soft skill.

1.3. Analisis Penerimaan Pengguna (User Acceptance)

Penerimaan pengguna terhadap SkillUp menunjukkan hasil yang sangat positif, terutama karena kemampuannya dalam menciptakan pengalaman belajar mendalam (experiential deep learning). Melalui berbagai testimoni dan data uji coba, terlihat bahwa keberadaan AI sebagai mitra kolaboratif sangat membantu pembelajar dalam melakukan refleksi diri tanpa merasa dihakimi. Indikator keberhasilan utama yang tercatat adalah efisiensi waktu belajar, di mana konsep yang biasanya membutuhkan waktu lama untuk dipahami kini bisa dikuasai melalui sesi microlearning selama 5-7 menit saja. Secara psikologis, simulasi ini terbukti menurunkan beban kerja kognitif karena peserta belajar melalui praktik nyata yang menyenangkan alih-alih hanya menghafal teori verbal yang seringkali gagal diaplikasikan di lapangan.

1.4. Strategi Diseminasi Profesional

Sebagai upaya untuk menyebarluaskan praktik baik ini kepada publik, strategi diseminasi disusun secara menyeluruh melalui kanal visual dan konseptual. Kanal visual seperti YouTube dan media sosial digunakan untuk mendemonstrasikan bagaimana video interaktif SkillUp bekerja, sehingga para praktisi di bidang SDM dan pendidikan dapat melihat langsung efektivitas simulasi tersebut. Di sisi lain, kanal konseptual seperti artikel ilmiah dan kerangka kerja tertulis digunakan untuk menjelaskan landasan teoretis yang kuat di balik produk ini, memastikan bahwa SkillUp diakui bukan hanya sebagai alat digital semata, melainkan sebagai inovasi desain instruksional yang berlandaskan riset pendidikan yang matang.

BAGIAN 2: REFLEKSI KRITIS DAN PENGEMBANGAN PROYEK

2.1. Tantangan Signifikan dalam Pengembangan

Selama proses pengembangan, tantangan yang paling signifikan muncul dari sisi konseptual daripada sekadar masalah teknis perangkat keras. Kesulitan utama terletak pada proses “dekomposisi” masalah, yaitu bagaimana menguraikan keterampilan komunikasi yang bersifat abstrak menjadi variabel-variabel digital yang dapat diukur secara akurat oleh kecerdasan buatan. Menyeimbangkan keinginan untuk membuat skenario yang sangat realistis dan bercabang banyak dengan tuntutan durasi video yang harus tetap ringkas merupakan sebuah seni desain instruksional yang cukup menantang, terutama dalam memastikan setiap alur tetap koheren dengan tujuan pembelajaran awal.

2.2. Pembelajaran Penting (Key Insights)

Refleksi mendalam dari proyek ini membuahkan kesadaran bahwa posisi teknologi dalam pendidikan seharusnya hanyalah sebagai fasilitator atau jembatan, bukan pengganti peran humanistik dalam belajar. “Aha! Moment” muncul ketika menyadari bahwa perilaku pengguna cenderung lebih menyukai tampilan antarmuka yang sederhana namun memiliki umpan balik yang jujur dan personal daripada fitur canggih yang justru membingungkan. Pembelajaran penting lainnya adalah bahwa efektivitas pelatihan soft skill sangat bergantung pada seberapa otentik masalah yang disajikan; semakin dekat skenario dengan realitas kerja mereka, semakin tinggi tingkat keterlibatan dan refleksi yang dihasilkan.

2.3. Rencana Pengembangan Diri dan Proyek Lanjutan

Melihat potensi besar dari SkillUp, rencana pengembangan di masa depan akan berfokus pada integrasi fitur AI yang lebih dinamis, seperti chatbot suara untuk simulasi percakapan langsung yang tidak terbatas pada pilihan teks. Secara pribadi, saya berencana untuk terus mengasah kompetensi dalam bidang analisis data pembelajaran dan desain grafis untuk menciptakan lingkungan simulasi yang lebih imersif secara visual. Pengembangan proyek lanjutan juga akan mencakup sistem asesmen adaptif yang dapat menyesuaikan tingkat kesulitan skenario berdasarkan performa pengguna di modul sebelumnya, sehingga siklus pembelajaran pengalaman ini dapat terus berkelanjutan secara mandiri.

KESIMPULAN

Proyek SkillUp telah membuktikan bahwa penggabungan antara landasan teori Experiential Learning dengan teknologi video interaktif dan AI mampu menjawab kesenjangan dalam pelatihan soft skill saat ini. Melalui pendekatan yang sistematis, produk ini tidak hanya menyajikan materi, tetapi juga memberdayakan pembelajar untuk mengembangkan kompetensi melalui siklus pengalaman, refleksi, dan eksperimentasi. Dengan keberhasilan uji coba di lapangan dan respon positif pengguna, SkillUp telah memenuhi seluruh siklus pengembangan konten digital yang utuh, mulai dari identifikasi masalah hingga diseminasi profesional, serta siap untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi standar baru dalam pendidikan era digital.

DAFTAR PUSTAKA

Albert, M., et al. (2021). The Role of AI as a Collaborative Partner in Learning and Instruction. Journal of Educational Technology & Society.Bishop, M. J., et al. (2020). Designing Technology-Enhanced Learning Environments. TechTrends.Diehl, C., & Prins, A. (2018). Learning Transfer and Branching Scenarios. International Journal of Training and Development.Hug, T., & Friesen, N. (2018). Microlearning as a Strategy for Just-in-Time Corporate Training. Journal of Workplace Learning.Hwang, G. J., & Fu, Q. K. (2023). A Meta-Analysis of LLM-Based Feedback Systems in Higher Education. Interactive Learning Environments.Januszewski, A. & Molenda, M. (2008). Definition and Terminology: Association for Educational Communications and Technology (AECT).Kolb, D. A. (1984). Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development.Moller, L., & Huett, J. (2012). Unconstrained Learning: An Agenda for the Future of Learning Technology. Educational Technology Research and Development.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *