Olivia Novena Widyaputri
230121601212
Kelas A
Harapan Proyek
Pendidikan di era digital telah mengalami pergeseran paradigma mendasar dari sekadar transfer pengetahuan faktual menuju penciptaan pengalaman belajar yang mendalam dan berpusat pada pengembangan kompetensi. Sejalan dengan perspektif Hokanson et al. (2018), teknologi pendidikan idealnya tidak lagi dipandang sebagai alat penyampaian materi semata, melainkan sebagai sarana untuk “melampaui konten” (beyond content) dalam rangka mengembangkan kapasitas intelektual dan kesiapan kerja pembelajar. Pergeseran ini diperkuat oleh temuan Gamage dan Dehideniya (2025) yang menunjukkan bahwa micro-credential telah merevolusi pendidikan tinggi dan pembelajaran sepanjang hayat dengan membuka potensi karier melalui pengakuan kompetensi spesifik.
Harapan proyek ini adalah terwujudnya lingkungan belajar korporat yang bersifat unconstrained learning (Moller & Huett, 2012), di mana pembelajaran dapat diakses kapan saja dan di mana saja, tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Dalam konteks ini, sistem pembelajaran ideal akan terintegrasi secara mulus dengan perencanaan karier, menciptakan ekosistem di mana pengembangan kompetensi menjadi bagian organik dari pertumbuhan organisasi dan individu.
Konteks Proyek
Pencapaian pembelajaran mendalam dalam konteks korporat menuntut lingkungan belajar yang dirancang secara intensional dan sistematis. Hal ini sejalan dengan definisi Teknologi Pendidikan oleh Januszewski dan Molenda (2008), yang menekankan bahwa fasilitasi belajar memerlukan proses “penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan” sumber daya teknologi secara etis dan tepat guna. Kompleksitas perancangan ini dipertegas oleh Bishop et al. (2020), yang menyoroti perlunya penerapan prinsip-prinsip riset terkini untuk membangun ekosistem pembelajaran yang efektif dan adaptif.
Dalam konteks proyek ini, teknologi berperan sebagai:
- Platform integratif yang menghubungkan sistem kompetensi, pembelajaran, sertifikasi, dan data karier
- Fasilitator personalisasi yang menggunakan prinsip computational thinking (Rich & Hodges, 2017) untuk menganalisis kebutuhan individu
- Mekanisme validasi yang memastikan kredibilitas micro-credential melalui proses otomatis dan transparan
Lingkungan implementasi adalah perusahaan di sektor pendidikan, di mana kebutuhan pengembangan kompetensi berkelanjutan menjadi krusial untuk mempertahankan daya saing organisasi dan memfasilitasi pertumbuhan karier karyawan.
Deskripsi Kesenjangan
Realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara harapan ideal pengembangan kompetensi terintegrasi dengan kapasitas implementasi sistemik di banyak organisasi. Meskipun micro-credential diakui sebagai terobosan dalam pembelajaran sepanjang hayat (Gamage & Dehideniya, 2025), implementasinya menghadapi tantangan nyata dalam hal standarisasi, akreditasi, dan integrasi dengan sistem yang ada (Raj et al., 2024; Varadarajan et al., 2023).
Kesenjangan utama meliputi:
- Fragmentasi sistem antara pelatihan, kompetensi, dan perencanaan karier
- Kurangnya mekanisme pengakuan formal untuk pencapaian kompetensi spesifik
- Platform LMS konvensional yang tidak dirancang untuk personalisasi berbasis kompetensi
- Beban administratif dalam pelacakan dan validasi pencapaian pembelajaran
Healy (2025) menegaskan bahwa pembelajar micro-credential membutuhkan dukungan karier dan employability yang berkualitas, namun sistem yang ada seringkali tidak menyediakan jalur yang jelas antara pencapaian pembelajaran dan peluang karier. Kesenjangan ini menyebabkan rendahnya return on investment dalam pengembangan SDM dan terhambatnya mobilitas karier internal.
Uraian Deskripsi Solusi Proyek
Sebagai solusi konkret atas tantangan tersebut, proyek ini mengembangkan “LMS Terintegrasi Kompetensi dan Micro-Credential”, sebuah platform pembelajaran korporat yang dibangun di atas filosofi “menjembatani kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan” (Albert et al., 2021). Solusi ini merupakan panduan strategis dan sistem terintegrasi yang mengorkestrasi empat komponen utama:
Arsitektur Sistem:
- Backend: Database kompetensi terstruktur dengan rule engine untuk penerbitan micro-credential otomatis
- Frontend: Antarmuka responsif berbasis web dan mobile dengan prinsip usability yang kuat (Kondoro et al., 2023)
- Integrasi: Kemampuan koneksi dengan sistem HRIS untuk sinkronisasi data
Fitur Inti:
- Profil Kompetensi Dinamis dengan pemetaan kemampuan berbasis assessment
- Jalur Pembelajaran Personal yang direkomendasikan berdasarkan gap kompetensi
- Modul Microlearning Interaktif dengan pendekatan mastery learning
- Competency Tracker dengan visualisasi progress real-time
- Automated Micro-Credential Issuance dengan metadata lengkap
- Career Path Visualizer yang menghubungkan kompetensi dengan jenjang karier
Pendekatan ini selaras dengan definisi Teknologi Pendidikan yang dikemukakan oleh Januszewski dan Molenda (2008), di mana sistem ini berfungsi sebagai sumber teknologi yang diciptakan untuk mengelola proses pengembangan kompetensi secara lebih efektif dan efisien.
Rumusan Masalah Proyek
Permasalahan utama dalam proyek ini berfokus pada bagaimana teknologi pembelajaran dapat diintegrasikan secara efektif dengan sistem manajemen kompetensi dan perencanaan karier untuk memfasilitasi pengembangan SDM yang terstruktur dan berbasis bukti. Seringkali, kompleksitas desain sistem terintegrasi menjadi hambatan bagi organisasi, sementara solusi yang ada belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pengakuan kompetensi melalui micro-credential. Oleh karena itu, diperlukan sebuah kerangka kerja yang mampu mensinergikan pembelajaran, kompetensi, sertifikasi, dan perencanaan karier dalam satu ekosistem yang kohesif.
Rumusan Masalah:
“Bagaimana pengembangan LMS Terintegrasi Kompetensi dan Micro-Credential dapat memfasilitasi perencanaan karier internal yang terstruktur dan berbasis bukti bagi karyawan di perusahaan pendidikan?”
Tujuan Proyek
Metodologi pengembangan Proyek
Proyek ini dilaksanakan dengan mengadaptasi model pengembangan ADDIE yang sistematis, mencakup lima tahapan utama: Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation.
Tahap 1: Analysis
Berfokus pada analisis kebutuhan pengguna dan konteks organisasi. Survei kompetensi dan wawancara dengan stakeholder dilakukan untuk memetakan kebutuhan riil. Analisis ini merujuk pada prinsip-prinsip dalam Bishop et al. (2020) yang menekankan pentingnya desain pembelajaran yang berpusat pada pengguna dan berbasis bukti.
Tahap 2: Design
Mencakup perancangan arsitektur sistem, desain antarmuka pengguna, dan blueprint kompetensi. Storyboard dan wireframe dikembangkan untuk memvisualisasikan alur pengguna. Pendekatan computational thinking (Rich & Hodges, 2017) diterapkan dalam merancang logika sistem dan rule engine.
Tahap 3: Development
Merupakan fase produksi sistem dan konten. Platform dikembangkan berbasis Moodle yang dimodifikasi, dengan penekanan pada usability (Kondoro et al., 2023). Micro-credential framework dibangun mengikuti standar Open Badges dengan metadata yang komprehensif.
Tahap 4: Implementation
Melibatkan uji coba terbatas dengan kelompok pengguna pilot. Pelatihan admin dan pengguna dilakukan untuk memastikan adopsi yang efektif. Fase ini mengadopsi prinsip unconstrained learning (Moller & Huett, 2012) dengan memastikan aksesibilitas dan fleksibilitas sistem.
Tahap 5: Evaluation
Melibatkan pengukuran efektivitas sistem melalui multiple metrics: completion rate, mastery rate, user satisfaction, dan impact pada persepsi karier. Evaluasi mengacu pada framework Spector et al. (2014) untuk memastikan validitas dan reliabilitas pengukuran.
Referensi
Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
Gamage, K. A. A., & Dehideniya, S. C. P. (2025). Unlocking career potential: How micro-credentials are revolutionising higher education and lifelong learning. Education Sciences, 15(5), 525.
Healy, M. (2025). Microcredential learners need quality careers and employability support: Provocation. Journal of Teaching and Learning for Graduate Employability, 12(1), 21–23.
Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
Kondoro, A., Maro, S., Mtebe, J., Haßler, B., & Proctor, J. (2023). Usability testing of a mobile-based learning management system for teacher continuous professional development in Tanzania. International Journal of Education and Development using ICT, 19(2), 75–92.
Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
Raj, R., Singh, A., Kumar, V., & Verma, P. (2024). Achieving professional qualifications using micro-credentials: A case of small packages and big challenges in higher education. International Journal of Educational Management, 38(4), 916–947.
Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
Sharma, H., Jain, V., Mogaji, E., & Babbilid, A. S. (2024). Blended learning and augmented employability: A multi-stakeholder perspective of the micro-credentialing ecosystem in higher education. International Journal of Educational Management, 38(10), 1021–1037.
Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.
Varadarajan, S., Koh, J. H. L., & Daniel, B. K. (2023). A systematic review of the opportunities and challenges of micro-credentials for multiple stakeholders: learners, employers, higher education institutions and government. International Journal of Educational Technology in Higher Education, 20, Article 13.

Tinggalkan Balasan