MindConnect sebagai Konten Digital Microlearning Emosional untuk Mendukung Kesejahteraan dan Keterlibatan Mahasiswa dalam Pembelajaran Daring

·

·

, ,

Tiara Aisyah Putri
230121603941
Kelas C

1. Harapan Proyek

Pendidikan di era digital tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai proses transfer pengetahuan kognitif, melainkan sebagai proses pembelajaran yang bersifat holistik dan berpusat pada peserta didik. Pembelajaran daring yang semakin masif digunakan di perguruan tinggi menuntut mahasiswa untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan belajar digital yang fleksibel, mandiri, dan berbasis teknologi. Namun, dalam praktiknya, pembelajaran daring sering kali memunculkan tantangan berupa kelelahan digital (digital fatigue), tekanan akademik, serta menurunnya keterlibatan emosional mahasiswa.

Harapan dari proyek MindConnect adalah menghadirkan sebuah konten digital pembelajaran yang tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai ruang pendamping emosional bagi mahasiswa. MindConnect dirancang untuk membantu mahasiswa merasa lebih terhubung, dipahami, dan didukung secara emosional dalam proses pembelajaran daring. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada kesejahteraan dan pengalaman belajar mahasiswa secara menyeluruh.

2. Konteks Proyek

Proyek MindConnect dikembangkan dalam konteks pembelajaran daring di perguruan tinggi yang memanfaatkan Learning Management System (LMS) sebagai media utama pembelajaran. LMS umumnya telah menyediakan berbagai fitur seperti unggah materi, forum diskusi, penugasan, dan asesmen. Namun, sebagian besar fitur tersebut lebih menekankan aspek kognitif dan administratif, sementara dimensi sosial dan emosional mahasiswa belum terfasilitasi secara optimal.

Sebagai mahasiswa S1 Teknologi Pendidikan, pengembangan proyek ini berpijak pada definisi teknologi pendidikan sebagai studi dan praktik etis dalam memfasilitasi belajar serta meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan sumber belajar (Januszewski & Molenda, 2008). Dalam konteks tersebut, MindConnect diposisikan sebagai konten digital pendamping (learning companion) yang melengkapi sistem pembelajaran daring dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan berorientasi pada kebutuhan emosional mahasiswa.

3. Deskripsi Kesenjangan

Kesenjangan utama yang melatarbelakangi proyek ini adalah minimnya integrasi aspek sosial dan emosional dalam konten pembelajaran daring. Banyak konten digital dirancang secara informatif dan satu arah, sehingga mahasiswa berperan sebagai penerima materi tanpa ruang untuk mengekspresikan perasaan, refleksi diri, atau pengalaman emosional selama belajar.

Forum diskusi daring yang tersedia pada LMS juga cenderung bersifat formal dan berorientasi pada penyelesaian tugas. Interaksi yang terjadi sering kali terbatas pada pemenuhan kewajiban akademik, bukan pada pertukaran pengalaman atau dukungan emosional. Kondisi ini dapat menyebabkan mahasiswa merasa terisolasi, kurang termotivasi, dan mengalami penurunan keterlibatan belajar.

Kesenjangan tersebut menunjukkan perlunya inovasi konten digital yang mampu menghadirkan social presence dan emotional engagement dalam pembelajaran daring. Tanpa adanya dukungan emosional yang memadai, efektivitas pembelajaran daring berpotensi menurun meskipun secara teknis sistem pembelajaran telah berjalan dengan baik.

4. Uraian Deskripsi Solusi Proyek: MindConnect

Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, proyek ini mengembangkan MindConnect, yaitu konten digital pembelajaran berbasis microlearning emosional yang terintegrasi dalam LMS. Pendekatan microlearning dipilih karena mampu menyajikan konten dalam durasi singkat, fokus, dan mudah diakses, sehingga dapat mengurangi beban kognitif mahasiswa (Mayer, 2020).

MindConnect terdiri atas beberapa komponen utama. Pertama, video microlearning berbasis storytelling yang mengangkat situasi nyata yang sering dialami mahasiswa dalam pembelajaran daring, seperti stres menghadapi tugas, konflik kerja kelompok, atau kelelahan akibat aktivitas digital yang padat. Storytelling digunakan untuk membangun kedekatan emosional dan meningkatkan keterlibatan mahasiswa.

Kedua, aktivitas refleksi digital terstruktur yang memberikan ruang aman bagi mahasiswa untuk mengenali dan menuliskan kondisi emosional mereka. Aktivitas refleksi ini mendorong mahasiswa untuk lebih sadar terhadap perasaan dan pengalaman belajarnya, sehingga selaras dengan prinsip reflective learning.

Ketiga, forum empati (MindShare Forum) yang dirancang sebagai ruang interaksi sosial yang suportif. Forum ini mendorong komunikasi yang empatik, saling menghargai, dan tidak menghakimi, sehingga dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan dukungan sosial antarmahasiswa.

Keempat, MoodCheck Dashboard, yaitu fitur pemantauan kondisi emosional kelas secara agregat. Data yang ditampilkan bersifat umum dan tidak menampilkan identitas individu, sehingga tetap menjaga privasi mahasiswa. Informasi ini dapat dimanfaatkan dosen sebagai bahan refleksi untuk menyesuaikan strategi pembelajaran.

5. Rumusan Masalah Proyek

Rumusan masalah dalam proyek ini adalah:
Bagaimana merancang dan mengembangkan konten digital pembelajaran berbasis microlearning emosional yang terintegrasi dalam LMS untuk meningkatkan keterlibatan emosional, interaksi sosial, dan kesejahteraan mahasiswa dalam pembelajaran daring?

6. Tujuan Proyek

Tujuan utama proyek MindConnect adalah mengembangkan konten digital pembelajaran yang mendukung keterlibatan emosional dan sosial mahasiswa dalam pembelajaran daring. Secara khusus, tujuan proyek ini adalah:

  1. Meningkatkan emotional engagement mahasiswa dalam pembelajaran daring.
  2. Menyediakan ruang refleksi dan ekspresi emosional yang aman bagi mahasiswa.
  3. Meningkatkan kualitas interaksi sosial dan empati antarmahasiswa.
  4. Mendukung dosen dalam memantau iklim emosional kelas secara non-invasif.

7. Metodologi Pengembangan Proyek

Pengembangan MindConnect dilakukan melalui tahapan analisis, desain, pengembangan, dan evaluasi. Tahap analisis mencakup identifikasi kebutuhan mahasiswa, karakteristik pembelajaran daring, serta potensi dan keterbatasan LMS. Tahap desain meliputi perancangan alur konten, storyboard video, serta strategi pedagogis yang digunakan.

Tahap pengembangan mencakup produksi konten microlearning, penyusunan instrumen refleksi digital, dan perancangan forum empati. Tahap evaluasi dilakukan melalui uji coba terbatas dan refleksi terhadap keterlibatan mahasiswa serta kualitas interaksi sosial yang terjadi.

8. Referensi

Januszewski, A., & Molenda, M. (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.

Mayer, R. E. (2020). Multimedia learning (3rd ed.). Cambridge University Press.

Hokanson, B., Clinton, G., & Kaminski, K. (2015). Educational technology and narrative. Springer.

Moore, M. G. (2013). Handbook of distance education. Routledge.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *