Maulidathul Hasanah
230151608727
B23
HARAPAN PROYEK
Pembelajaran di pendidikan dasar menuntut penggunaan media yang mampu memvisualisasikan konsep secara konkret, menarik, dan mudah dipahami oleh siswa. Idealnya, guru dapat memanfaatkan teknologi digital untuk menyajikan materi melalui media visual yang kaya, terstruktur, dan interaktif. Video animasi menjadi salah satu bentuk teknologi pendidikan yang sangat relevan pada era saat ini, karena mampu menjembatani kesenjangan antara konsep abstrak dan pemahaman siswa melalui visualisasi yang sederhana namun efektif.
Dalam perspektif desain pembelajaran, video animasi memberikan representasi multimodal berupa teks, narasi audio, grafik, dan gerak yang dapat meningkatkan attention, retention, dan comprehension. Sejalan dengan pemikiran Januszewski & Molenda (2008), teknologi pendidikan idealnya berfungsi sebagai alat untuk menciptakan pengalaman belajar yang efektif, efisien, dan menarik. Video animasi menawarkan idealita tersebut melalui penyampaian materi yang terstruktur, estetis, dan konsisten, sehingga membantu siswa memahami materi secara lebih bermakna.
KONTEKS PROYEK
Proyek ini diterapkan dalam konteks pembelajaran Sekolah Dasar, khususnya pada mata pelajaran yang membutuhkan visualisasi konsep, seperti IPA, IPS, Bahasa Indonesia, atau Pendidikan Pancasila. Banyak sekolah menghadapi keterbatasan media pembelajaran digital yang relevan, padahal karakteristik siswa SD sangat membutuhkan stimulus visual dan narasi sederhana.
Di era digital, siswa semakin akrab dengan konten berbasis video. Hal ini selaras dengan penelitian terbaru yang menekankan bahwa video animasi dapat meningkatkan fokus, memudahkan pemrosesan informasi, dan membangun koneksi belajar yang lebih kuat. Teknologi pendidikan berperan sebagai sarana untuk menghadirkan materi pembelajaran yang menarik, mudah diakses, serta mampu menyesuaikan dengan gaya belajar visual-auditori siswa.
Dengan memanfaatkan platform seperti Canva, Powtoon, atau aplikasi animasi dasar lainnya, guru dapat menyajikan materi secara dinamis. Pengembangan video animasi ini sejalan dengan gagasan Bishop et al. (2020) mengenai pentingnya lingkungan belajar digital yang responsif dan dirancang berbasis riset.
DESKRIPSI KESENJANGAN
Realitas pembelajaran di banyak sekolah menunjukkan bahwa penyampaian materi masih didominasi oleh metode ceramah serta penggunaan media statis seperti gambar atau teks panjang. Kondisi ini membuat siswa kesulitan memahami konsep-konsep yang bersifat abstrak karena tidak adanya media yang mampu membantu mereka berimajinasi maupun memvisualisasikan materi dengan lebih konkret. Selain itu, banyak guru belum terbiasa mengembangkan media video animasi secara mandiri, sehingga mereka masih bergantung pada bahan ajar yang tersedia di internet. Namun, video yang ditemukan sering kali tidak sesuai dengan konteks pembelajaran, penggunaan bahasa, maupun tingkat perkembangan kognitif siswa sekolah dasar. Materi yang disajikan pun kerap kurang menarik sehingga siswa dengan mudah kehilangan fokus selama proses belajar.
Situasi tersebut menunjukkan adanya kebutuhan yang mendesak akan media pembelajaran yang lebih relevan, menarik, dan mudah dipahami oleh siswa. Video animasi menjadi salah satu solusi yang paling potensial untuk menjembatani kesenjangan ini karena mampu menyajikan materi secara terstruktur, visual, dan dilengkapi narasi sederhana yang selaras dengan karakteristik belajar anak usia sekolah dasar. Sejalan dengan pandangan Spector et al. (2014), pengembangan media digital yang tepat guna dan dirancang dengan baik sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran serta membantu siswa membangun pemahaman yang lebih kuat terhadap materi yang dipelajari.
URAIAN DESKRIPSI SOLUSI PROYEK
Solusi yang diusulkan dalam proyek ini berupa pengembangan video animasi pembelajaran berdurasi 3–7 menit yang mampu memvisualisasikan konsep tertentu sesuai dengan kurikulum. Video animasi ini dirancang untuk menghadirkan ilustrasi bergerak, narasi audio, teks sederhana, dan contoh-contoh konkret yang membantu siswa memahami materi dengan lebih mudah. Setiap video disusun secara runtut, dimulai dari penyajian konsep yang bersifat konkret sebelum berlanjut pada penjelasan yang lebih abstrak, sehingga sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif siswa sekolah dasar.
Bahasa yang digunakan dalam narasi maupun teks dibuat sederhana agar mudah dipahami, sementara elemen visual ditampilkan secara menarik namun tetap proporsional agar tidak membebani perhatian siswa. Kombinasi antara ilustrasi, narasi, dan musik latar digunakan untuk menjaga fokus siswa selama video berlangsung. Di akhir tayangan, disisipkan pula bagian rangkuman atau recap untuk memperkuat retensi serta memastikan siswa memahami inti materi yang disampaikan.
Media ini bersifat fleksibel sehingga guru dapat menggunakannya pada berbagai tahapan pembelajaran, baik saat apersepsi, penyampaian materi inti, remidi, maupun pengayaan. Pengembangan video animasi ini sejalan dengan prinsip desain instruksional modern yang menekankan pentingnya pengalaman belajar visual, multimodal, dan kontekstual demi menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna.
RUMUSAN MASALAH PROYEK
Proyek ini dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan yang sering ditemui dalam proses pembelajaran di sekolah dasar. Banyak siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami materi yang bersifat abstrak karena tidak tersedianya media visual yang memadai untuk membantu mereka membangun gambaran konkret tentang konsep yang dipelajari. Di sisi lain, guru juga belum memiliki keterampilan serta akses yang memadai untuk mengembangkan media berupa video animasi yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di kelas. Media pembelajaran yang tersedia di internet pun sering kali tidak sesuai dengan konteks, bahasa, atau tingkat perkembangan kognitif siswa sekolah dasar, sehingga kurang efektif dalam meningkatkan pemahaman mereka.
Melihat kondisi tersebut, diperlukan upaya untuk menghadirkan media pembelajaran yang lebih menarik, relevan, dan mudah dipahami oleh siswa. Oleh karena itu, proyek ini dirancang untuk menjawab pertanyaan utama: Bagaimana pengembangan video animasi pembelajaran dapat menyediakan media visual yang menarik, efektif, dan sesuai kebutuhan siswa SD untuk meningkatkan pemahaman konsep? Proyek ini berupaya menghadirkan solusi yang mampu mengatasi keterbatasan media sekaligus mendukung proses pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa.
TUJUAN
Tujuan Umum
Mengembangkan media pembelajaran berupa video animasi yang mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa SD dengan penyajian materi yang menarik, visual, dan mudah dipahami.
Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari proyek ini adalah untuk menyajikan konten pembelajaran dalam bentuk visual dan audio yang terstruktur serta sesuai dengan kurikulum, sehingga materi dapat dipahami siswa dengan lebih mudah dan sistematis. Melalui penggunaan ilustrasi, narasi sederhana, dan contoh konkret, video animasi ini diharapkan mampu memfasilitasi proses pemahaman konsep secara lebih efektif bagi peserta didik sekolah dasar. Selain itu, proyek ini juga bertujuan memberikan alternatif media bagi guru agar dapat mengajar dengan lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan teknologi pembelajaran saat ini. Video yang dikembangkan dirancang agar dapat digunakan secara fleksibel, baik sebagai alat bantu belajar mandiri, materi remedi, maupun bahan pengayaan, sehingga mendukung keberagaman kebutuhan belajar siswa.
METODOLOGI PENGEMBANGAN PROYEK
Model pengembangan yang digunakan adalah ADDIE, yang terdiri dari lima tahap:
1. Analisis
Tahap ini mencakup identifikasi kebutuhan pembelajaran siswa dan guru. Pada fase ini dikaji kesulitan siswa dalam memahami materi yang bersifat abstrak, serta keterbatasan guru dalam menyediakan media yang menarik. Analisis juga mencakup karakteristik kognitif siswa SD yang membutuhkan visualisasi konkret.
2. Desain
Pada tahap desain, disusun alur video, storyboard, skrip narasi, gaya visual, tone warna, serta elemen interaktif yang diperlukan. Desain ini mengacu pada prinsip multimedia Mayer, sehingga setiap elemen visual-audio dirancang untuk mendukung pemahaman, bukan sekadar estetika.
3. Pengembangan
Tahap ini merupakan proses produksi video animasi menggunakan aplikasi seperti Canva, Powtoon, atau platform serupa. Proses meliputi pembuatan ilustrasi, animasi, rekaman suara narasi, pemilihan musik latar, serta penyusunan adegan sesuai storyboard. Hasil akhirnya berupa video animasi siap tayang.
4. Implementasi
Video diuji coba kepada siswa atau guru dalam skala kecil untuk melihat respons, kemudahan memahami konten, serta efektivitas media dalam penyampaian konsep. Feedback digunakan untuk memperbaiki kualitas visual maupun narasi video.
5. Evaluasi
Evaluasi dilakukan secara formatif dan sumatif untuk menilai efektivitas media. Aspek yang dinilai meliputi kejelasan materi, daya tarik visual, kelayakan audio, serta dampak penggunaan video terhadap pemahaman siswa. Hasil evaluasi digunakan untuk penyempurnaan media sebelum digunakan lebih luas.
REFERENSI
Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
Januszewski, A., & Molenda, M. (2008). Educational technology: A definition with commentary. Routledge.
Mayer, R. E. (2021). Multimedia learning (4th ed.). Cambridge University Press.
Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.

Tinggalkan Balasan