Zaskia Adya Medina
230121606358
Kelas C
Harapan Proyek
Pembelajaran Sains menuntut terwujudnya literasi sains yang tidak hanya berorientasi pada hafalan, tetapi pada kemampuan memahami, menganalisis, dan menerapkan konsep ilmiah dalam konteks nyata. Namun berbagai asesmen nasional menunjukkan bahwa pemahaman konseptual siswa masih rendah, misalnya pada materi Bumi dan Tata Surya. Mayoritas peserta didik hanya mengingat urutan planet tanpa menguasai fenomena penting seperti rotasi, revolusi, dan gerhana secara ilmiah.
Sejalan dengan konsep beyond content yang dikemukakan oleh Hokanson et al. (2018), pembelajaran sains di era digital harus bertransformasi dari sekadar penyajian materi menuju penciptaan pengalaman belajar yang menumbuhkan inquiry, refleksi, dan pemaknaan mendalam. Pembelajaran yang memungkinkan siswa mengeksplorasi fenomena astronomi secara mandiri akan berkontribusi pada peningkatan literasi sains dan kemampuan berpikir kritis.
Dalam konteks tersebut, proyek ini diharapkan mampu menghadirkan microlearning interaktif yang memungkinkan peserta didik belajar secara modular, singkat, visual, dan eksploratif. Microlearning berpotensi memberikan pengalaman belajar yang fokus, mudah diakses, dan mampu menstimulasi rasa ingin tahu siswa, terutama ketika dikombinasikan dengan inquiry learning. Pendekatan ini sejalan dengan visi masa depan pembelajaran tanpa batas (unconstrained learning) yang dikemukakan oleh Moller dan Huett (2012), di mana teknologi digital mendukung pembelajaran yang fleksibel, adaptif, dan berpusat pada kebutuhan peserta didik.
Konteks Proyek
Literasi sains peserta didik SMP masih tergolong rendah sebagaimana hasil ANBK dan berbagai penelitian terbaru. Siswa kesulitan memahami konsep ilmiah yang bersifat abstrak, pada materi bumi dan tata surya seperti pergerakan benda langit, penyebab siang-malam, perbedaan musim, dan mekanisme gerhana. Observasi kelas memperlihatkan bahwa pembelajaran masih berpusat pada ceramah, sedangkan media yang digunakan tidak mendukung visualisasi fenomena astronomi secara dinamis. Temuan ini sejalan dengan studi Fadillah & Rahayu (2023) serta Hasanah et al. (2024), yang menunjukkan bahwa keterbatasan media interaktif menjadi faktor utama lemahnya pemahaman konsep IPA.
Konteks teknologi pendidikan modern menuntut pemanfaatan media digital interaktif guna menghadirkan lingkungan belajar yang kaya pengalaman. Hal ini sejalan dengan definisi teknologi pendidikan oleh Januszewski dan Molenda (2008), yang menekankan pentingnya proses penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan sumber daya teknologi secara etis dan sistematis untuk memfasilitasi belajar. Lebih lanjut, Bishop et al. (2020) menjelaskan bahwa desain pembelajaran efektif di era digital membutuhkan struktur modular, interaktivitas, dan visualisasi multimedia.
Proyek microlearning ini lahir dari kebutuhan untuk mengintegrasikan teknologi interaktif dengan pendekatan inquiry learning, sehingga siswa tidak hanya menerima informasi pasif, tetapi juga mengeksplorasi, menanya, dan menemukan konsep ilmiah melalui pengalaman belajar digital yang bermakna.
Deskripsi Kesenjangan
Kesenjangan utama yang menjadi dasar pengembangan proyek ini adalah ketidaksesuaian antara tuntutan pembelajaran sains modern dengan praktik pembelajaran aktual di kelas. Meskipun pendekatan inquiry learning terbukti meningkatkan pemahaman konsep ilmiah secara signifikan, guru masih menghadapi kesulitan dalam merancang pengalaman belajar yang bersifat eksploratif, modular, dan visual.
Di sisi lain, microlearning sebagai strategi pembelajaran digital telah terbukti efektif menurunkan beban kognitif siswa dan meningkatkan retensi (Teng, 2021; Rahmawati & Kustandi, 2024). Namun implementasi microlearning dalam pembelajaran IPA SMP masih terbatas, terutama untuk topik yang bersifat astronomis. Desain media interaktif berbasis simulasi juga membutuhkan keahlian teknis, sehingga banyak guru belum mampu memanfaatkannya secara optimal.
Sejalan dengan pandangan Albert et al. (2021), sinergi antara kecerdasan manusia dan teknologi perlu diwujudkan agar guru dapat meningkatkan kualitas desain instruksional tanpa terbebani tuntutan teknis. Dengan kata lain, diperlukan media pembelajaran digital yang dirancang secara sistematis, intuitif, dan didukung oleh fondasi pedagogis yang kuat.
Uraian Deskripsi Solusi Proyek
Proyek ini menawarkan solusi berupa Microlearning Interaktif Berbasis Inquiry Learning tentang materi Bumi dan Tata Surya untuk siswa kelas VII SMP. Microlearning ini dirancang dalam bentuk modul modular berdurasi singkat (3–5 menit), dilengkapi animasi gerak benda langit, simulasi digital, dan kuis reflektif dengan umpan balik otomatis. Platform utama yang digunakan adalah Genially, karena memiliki kemampuan integrasi multimedia dan interaktivitas tanpa perlu kemampuan pemrograman.
Setiap unit microlearning menerapkan model inquiry learning yang terdiri dari tahapan mengamati, menanya, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan. Misalnya, siswa diminta mengamati simulasi pergerakan Bumi lalu memprediksi penyebab siang-malam, atau menganalisis posisi Matahari–Bumi–Bulan untuk memahami gerhana. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip learning by doing yang ditekankan oleh Hokanson et al. (2018).
Struktur modular microlearning mendukung prinsip desain multimedia learning sebagaimana dijelaskan Bishop et al. (2020), yaitu penyajian informasi dalam unit kecil yang terfokus untuk mengurangi beban kognitif. Selain itu, integrasi aktivitas interaktif menggunakan Genially mendukung prinsip desain instruksional untuk memfasilitasi pembelajaran bermakna sebagaimana dibahas oleh Spector et al. (2014).
Dengan demikian, proyek ini menghadirkan solusi yang tidak hanya menggabungkan inquiry learning dan microlearning, tetapi juga memanfaatkan teknologi digital secara etis dan efektif sesuai panduan Januszewski dan Molenda (2008).
Rumusan Masalah Proyek
Permasalahan utama dalam proyek ini berfokus pada bagaimana teknologi pembelajaran digital khususnya microlearning interaktif dapat menjembatani secara efektif kecerdasan pedagogis guru untuk memfasilitasi penyusunan dan pelaksanaan pembelajaran IPA yang bermakna dan mendukung penguasaan konsep ilmiah secara mendalam. Seringkali, kompleksitas desain instruksional IPA, terutama pada materi yang bersifat abstrak seperti Bumi dan Tata Surya, menjadi hambatan bagi guru dalam menghadirkan pengalaman belajar yang eksploratif, visual, dan berbasis inquiry. Oleh karena itu, diperlukan sebuah mekanisme atau kerangka kerja pengembangan media yang mampu mensinergikan potensi teknologi interaktif dengan intuisi pedagogis guru dalam merancang microlearning yang modular, sistematis, dan mendukung inquiry learning.
Tujuan Proyek
Tujuan utama proyek ini adalah meningkatkan literasi sains siswa SMP melalui pengembangan microlearning interaktif yang memfasilitasi pemahaman konseptual dan mendorong eksplorasi ilmiah.
Tujuan khusus:
- Menghasilkan microlearning berbasis inquiry yang valid secara pedagogis dan interaktif.
- Meningkatkan kemampuan siswa memahami konsep Bumi dan Tata Surya melalui visualisasi digital.
- Menyediakan media pembelajaran modular yang mudah diakses dan digunakan.
- Mendorong pembelajaran mandiri dan eksploratif melalui simulasi astronomi berbasis inquiry.
Metodologi Pengembangan Proyek
Proyek dikembangkan dengan mengadaptasi model pengembangan konten digital yang sistematis, mencakup empat tahapan utama: Analysis, Design, Prototype, dan Evaluation.
Tahap Pertama
Analisis kebutuhan siswa, konteks pembelajaran, dan kesenjangan teknologi dilakukan untuk memastikan media yang dikembangkan relevan dan efektif. Hal ini sesuai prinsip desain berbasis riset dalam Bishop et al. (2020).
Tahap Kedua
Tahap ini meliputi penyusunan storyboard, alur navigasi microlearning, pemilihan elemen inquiry, dan perancangan visual. Prinsip Computational Thinking (Rich & Hodges, 2017) digunakan untuk memastikan struktur konten sistematis dan logis.
Tahap Ketiga
Pengembangan microlearning dilakukan melalui Genially dan Canva, yang mendukung visualisasi fenomena astronomi dan interaktivitas. Tahapan ini mendukung visi ubiquitous learning (Moller, Huett, & Harvey, 2009).
Tahap Keempat
Evaluasi formatif dilakukan selama pengembangan, sedangkan evaluasi sumatif dilakukan melalui uji coba terbatas. Prinsip evaluasi teknologi pendidikan dari Spector et al. (2014) digunakan untuk menilai efektivitas pembelajaran.
Referensi
Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
Fadillah, N., & Rahayu, W. (2023). Penerapan microlearning berbasis Genially untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa SMP. Jurnal Pendidikan Sains Terapan, 11(2), 145–156. https://doi.org/10.22219/jpst.v11i2.38917
Hasanah, S. T., Hidayat, R., & Mirawati, M. (2024). Pengembangan media pembelajaran interaktif menggunakan platform Genially pada pembelajaran IPA materi siklus air. Innovative: Journal of Social Science Research, 4(4), 14440–14451.
Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
Rahmawati, A., & Kustandi, C. (2024). Pengaruh microlearning interaktif terhadap motivasi belajar dan keterlibatan siswa SMP dalam pembelajaran IPA. Jurnal Teknologi Pendidikan Indonesia, 12(1), 25–37. https://doi.org/10.21009/jtpi.v12i1.4068
Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.
Teng, Y. (2021). Microlearning in science education: The effect on conceptual understanding and student engagement. Educational Media International, 58(4), 267–280. https://doi.org/10.1080/09523987.2021.2004978

Tinggalkan Balasan