Pengembangan Multimedia Linear Berbasis Video untuk Pembelajaran Alat Laboratorium IPA Kelas VII SMP

·

·

Imelda Rosiana

NIM: 230121608837

Offering: C23

Harapan Proyek 

Pembelajaran IPA pada jenjang Sekolah Menengah Pertama idealnya tidak hanya berorientasi pada penguasaan konsep secara teoritis, tetapi juga membangun pemahaman prosedural melalui pengalaman belajar yang bermakna. Dalam pandangan teknologi pendidikan modern, pembelajaran seharusnya tidak lagi berhenti pada penyampaian konten, melainkan mendorong terbentuknya cara berpikir dan pemahaman konseptual yang mendalam. Hokanson et al. (2018) menegaskan bahwa fokus teknologi pendidikan masa kini adalah beyond content, yaitu bagaimana teknologi membentuk proses belajar, bukan hanya menyajikan informasi.

Sejalan dengan hal tersebut, Spector et al. (2014) menekankan bahwa teknologi pembelajaran yang efektif harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung aktivitas kognitif siswa secara aktif. Artinya, media pembelajaran tidak cukup hanya informatif, tetapi harus dirancang untuk membantu siswa membangun pemahaman melalui visualisasi, simulasi, dan pengalaman belajar yang terstruktur.

Dalam konteks pembelajaran IPA, khususnya materi alat laboratorium, idealitas pembelajaran adalah ketika siswa tidak hanya mengenal nama alat, tetapi juga memahami fungsi dan prosedur penggunaannya secara benar sebelum melakukan praktikum. Januszewski dan Molenda (2008) memandang teknologi pendidikan sebagai praktik etis dalam menciptakan dan mengelola sumber belajar untuk memfasilitasi belajar dan meningkatkan kinerja. Oleh karena itu, kehadiran multimedia pembelajaran yang dirancang secara sadar menjadi kebutuhan penting untuk menjembatani keterbatasan pengalaman langsung siswa di laboratorium.

Konteks Proyek

Proyek ini dikembangkan dalam konteks pembelajaran IPA kelas VII SMP, dengan karakteristik peserta didik sebagai generasi digital native berusia 12–13 tahun. Siswa pada usia ini cenderung lebih responsif terhadap media visual, animasi, dan video dibandingkan pembelajaran berbasis teks panjang. Namun, di sisi lain, mereka juga mudah kehilangan fokus jika pembelajaran disajikan secara monoton.

Lingkungan belajar yang menjadi sasaran proyek adalah ruang kelas SMP yang didukung perangkat teknologi seperti laptop, LCD proyektor, dan speaker. Meskipun demikian, pembelajaran IPA di kelas masih sering didominasi metode ceramah dan buku teks. Di sisi lain, keterbatasan fasilitas laboratorium fisik menyebabkan siswa jarang memperoleh pengalaman langsung menggunakan alat laboratorium.

Moller dan Huett (2012) menegaskan bahwa pembelajaran di era digital seharusnya bersifat unconstrained learning, yaitu pembelajaran yang tidak terbatasi oleh ruang, waktu, maupun keterbatasan sarana fisik. Berdasarkan pemikiran ini, multimedia berbasis video dipandang relevan untuk menghadirkan pengalaman belajar prosedural secara virtual, sehingga siswa tetap dapat memahami penggunaan alat laboratorium meskipun tanpa akses langsung ke laboratorium fisik.

Kesenjangan Permasalahan (Das Sein / Realitas di Lapangan)

Berdasarkan hasil analisis pada Proposal UTS dan Laporan Kemajuan, pembelajaran materi alat laboratorium IPA kelas VII masih menunjukkan kesenjangan antara idealitas dan realitas. Siswa umumnya sudah mengenal nama alat laboratorium, tetapi belum memahami secara optimal fungsi dan prosedur penggunaannya. Hal ini berpotensi menimbulkan kesalahan saat praktikum dilakukan.

Keterbatasan fasilitas laboratorium fisik menyebabkan pembelajaran alat laboratorium lebih sering disampaikan secara teoritis melalui buku teks dan penjelasan lisan. Pola pembelajaran ini membuat siswa kesulitan memvisualisasikan cara kerja alat secara konkret. Bishop et al. (2020) menekankan bahwa lingkungan belajar yang tidak dirancang secara visual dan kontekstual akan menyulitkan siswa dalam membangun pemahaman yang bermakna.

Selain itu, guru juga masih menghadapi keterbatasan dalam mengembangkan media pembelajaran digital yang sistematis dan berbasis prinsip pembelajaran multimedia. Video pembelajaran yang tersedia sering kali bersifat informatif semata dan belum dirancang untuk mendukung proses berpikir prosedural siswa. Kesenjangan inilah yang melatarbelakangi pentingnya pengembangan multimedia linear yang dirancang khusus untuk materi alat laboratorium IPA.

Uraian Deskripsi Solusi Proyek

Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, proyek ini mengembangkan multimedia linear berbasis video menggunakan aplikasi Canva untuk pembelajaran alat laboratorium IPA kelas VII SMP. Video ini dirancang berdurasi ±3 menit dengan penyajian materi yang runtut, singkat, dan mudah dipahami. Materi meliputi pengenalan alat laboratorium seperti mikroskop, termometer, dan gelas ukur, beserta fungsi dan prosedur penggunaannya.

Pemilihan multimedia berbasis video didasarkan pada pandangan Spector et al. (2014) yang menyatakan bahwa visualisasi prosedural sangat efektif digunakan dalam pembelajaran sains karena mampu menghubungkan konsep abstrak dengan representasi konkret. Selain itu, prinsip beyond content yang dikemukakan Hokanson et al. (2018) memperkuat bahwa video ini tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai sarana membangun pengalaman belajar prosedural siswa.

Dalam perancangannya, multimedia ini menerapkan prinsip Cognitive Theory of Multimedia Learning (Mayer) dengan memadukan visual, teks singkat, dan narasi audio. Pendekatan ini dipilih untuk mengurangi beban kognitif siswa serta meningkatkan pemahaman dan retensi informasi. Dengan demikian, video tidak hanya menjadi media tontonan, tetapi menjadi sarana pembelajaran yang dirancang secara sadar dan terstruktur.

Rumusan Masalah Proyek

Rumusan masalah dalam proyek ini adalah:

“Bagaimana pengembangan multimedia linear berbasis video dapat membantu meningkatkan pemahaman prosedural alat-alat laboratorium IPA bagi siswa kelas VII SMP?”

Tujuan Proyek

Tujuan utama dari pengembangan multimedia linear berbasis video ini adalah untuk menyediakan media pembelajaran yang efektif, menarik, dan terstruktur dalam membantu siswa kelas VII SMP memahami alat-alat laboratorium IPA beserta fungsi dan prosedur penggunaannya. Tujuan ini sejalan dengan pandangan Spector et al. (2014) yang menegaskan bahwa teknologi pembelajaran harus dirancang untuk meningkatkan kualitas pengalaman belajar, bukan sekadar menyampaikan informasi.

Secara khusus, tujuan pengembangan proyek ini adalah:

  1. Membantu siswa mengenali jenis-jenis alat laboratorium IPA yang digunakan di kelas VII secara visual dan kontekstual.
  2. Membantu siswa memahami fungsi serta prosedur penggunaan alat laboratorium secara benar sebelum melakukan praktikum.
  3. Menyediakan alternatif media pembelajaran bagi guru IPA dalam kondisi keterbatasan fasilitas laboratorium fisik.
  4. Meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa melalui penggunaan multimedia berbasis video.

Tujuan-tujuan tersebut selaras dengan konsep unconstrained learning yang dikemukakan oleh Moller dan Huett (2012), bahwa teknologi pembelajaran harus mampu memperluas akses pengalaman belajar tanpa dibatasi keterbatasan ruang dan sarana. Dengan demikian, pengembangan multimedia ini tidak hanya berorientasi pada hasil belajar kognitif, tetapi juga pada kesiapan prosedural siswa dalam menghadapi pembelajaran praktikum IPA.

Metodologi Pengembangan Proyek

Model pengembangan yang digunakan dalam proyek ini adalah model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Pemilihan model ini didasarkan pada pandangan Moller, Huett, dan Harvey (2009) yang menegaskan bahwa teknologi pembelajaran harus dikembangkan melalui tahapan yang sistematis, terstruktur, dan dapat dievaluasi secara berkelanjutan.

  1. Analysis
    Analisis kebutuhan dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik siswa, materi alat laboratorium IPA, serta kendala pembelajaran yang dihadapi guru dan siswa.
  2. Design
    Tahap ini meliputi penyusunan tujuan pembelajaran, naskah video, serta storyboard yang disesuaikan dengan prinsip pembelajaran multimedia.
  3. Development
    Pengembangan dilakukan dengan memproduksi video menggunakan aplikasi Canva, mencakup visual, animasi, narasi, dan backsound.
  4. Implementation
    Video diimplementasikan dalam pembelajaran IPA baik melalui pemutaran di kelas menggunakan LCD maupun melalui platform digital.
  5. Evaluation
    Evaluasi dilakukan melalui pengamatan respons siswa dan umpan balik pengguna untuk menilai kejelasan visual, efektivitas narasi, serta keterpahaman materi.

Model ADDIE dipilih karena memberikan alur kerja yang jelas dari tahap perencanaan hingga evaluasi, sehingga pengembangan multimedia tidak dilakukan secara intuitif semata, melainkan berbasis prosedur ilmiah.

Penutup

Pengembangan multimedia linear berbasis video untuk pembelajaran alat laboratorium IPA kelas VII merupakan solusi atas kesenjangan antara idealitas pembelajaran berbasis pengalaman dengan realitas keterbatasan fasilitas di sekolah. Dengan landasan teori teknologi pendidikan dan pembelajaran multimedia, proyek ini tidak hanya bertujuan menyediakan media belajar, tetapi juga membangun pengalaman belajar prosedural yang bermakna bagi siswa.

Proyek ini diharapkan dapat membantu guru dalam menyajikan materi alat laboratorium secara lebih visual, menarik, dan sistematis, serta membantu siswa dalam memahami fungsi dan prosedur penggunaan alat sebelum melakukan praktikum secara langsung.


Referensi
A Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.).Springer. 

Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.).Springer. 

Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.).(2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning.Springer.

Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.

Multimedia Learning with Instructional Video — Fiorella, L., Stull, A., Kuhlmann, S., & Mayer, R. E.(2018).https://www.researchgate.net/publication/359588372_Multimedia_Learning_with_Instruc tional_Video 

Development of Video-Based Learning Media on SLETV Material to Improve Mathematics Learning Outcomes — Kusumah, S. W. (2024). C:\Users\WINDOWS 11\Downloads\dsulisworo,+cece_1_1_2.pdf

Exploring Interactive Video Learning: Techniques, Applications and Pedagogical Insights — Dahlan, M. B. & Abdul Halim, N. S. (2024). OA article.https://www.mdpi.com/2076 3417/15/3/1054?

Improving the Efficiency of Multimedia Learning and the Quality of Experience by Reducing Cognitive Load — Ljubojević, M., Savić, M., Mijić, D., & Vico, G. (2025). OA article.https://journal.privietlab.org/index.php/PSSJ/article/view/215?

Teachers as Creators of Digital Multimedia Learning Materials: Are they Aligned with Multimedia Learning Principles — Désiron, J. C., Schmitz, M-L., & Petko, D. (2024). OA article. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/17501229.2022.2131791?

Development of Learning Media Text Tutorials Video-Based Procedures Screencast O Matic — Wangi, NBS., & Darul ‘Ulum Lamongan et al. (2021). Full-text PDF.https://media.neliti.com/media/publications/378226-development-of-learning-media text-tutor-64f633c2.pdf? 

Abdulrahaman, M. D. (2020). Multimedia tools in the teaching and learning processes: A systematic review. Education and Information Technologies, 25(5), 1-15. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2405844020321551? 

Ningsi, N. (2025). Developing interactive learning media to enhance elementary students’ motivation and engagement. Jurnal Ilmiah Edukasi, 11(1), 1-10. https://educare.uinkhas.ac.id/index.php/jie/article/view/291? 

Abdul Samat, M. S. (2020). The effectiveness of multimedia learning in enhancing reading comprehension among indigenous pupils. Arab World English Journal, 11(2), 1-15. https://www.awej.org



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *