Pengembangan Media Google Site untuk Mendukung Pembelajaran Mendalam pada Materi Produktivitas Primer dan Sekunder melalui Pengamatan Langsung Ekosistem

·

·

Friska Florida Manurung

220341601027

Kelas C23

Harapan Proyek
Proyek pengembangan media Google Site ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran inovatif yang memungkinkan peserta didik mengeksplorasi materi produktivitas primer dan sekunder melalui pengalaman belajar yang lebih terstruktur, interaktif, dan autentik. Integrasi media digital ini dirancang untuk mendukung pembelajaran mendalam dengan menghubungkan materi konsep ekologi dengan hasil pengamatan langsung di ekosistem setempat. Pendekatan ini selaras dengan perspektif Bishop et al. (2020) yang menekankan bahwa teknologi pembelajaran harus berfungsi sebagai jembatan antara representasi konten dan proses kognitif peserta didik. Dengan penyajian materi yang sistematis dan multimodal, Google Site diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konseptual siswa melalui scaffolding visual, data lapangan, dan penjelasan terintegrasi. Selain itu, media ini juga diharapkan memperkuat kemampuan siswa dalam menafsirkan fenomena ekologis secara lebih mendalam melalui pengalaman eksploratif yang terarah.

Lebih jauh, proyek ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang memfasilitasi kolaborasi, pemikiran kritis, dan integrasi pengalaman empiris dengan pengetahuan teoretis. Google Site dipilih karena mampu menyediakan ruang belajar fleksibel yang memungkinkan peserta didik mengakses materi, data lapangan, serta aktivitas refleksi dalam satu ekosistem digital terpadu. Prinsip ini sejalan dengan pandangan Januszewski & Molenda (2008) bahwa teknologi pembelajaran harus memfasilitasi proses instruksional yang efektif melalui desain yang bermakna dan terukur. Media ini juga diarahkan untuk membantu peserta didik tidak hanya memahami konsep produktivitas ekosistem, tetapi juga menghubungkannya dengan dinamika lingkungan nyata yang mereka amati. Dengan demikian, proyek ini diharapkan mampu mendukung pembelajaran mendalam yang mendorong pemahaman holistik, analitis, dan berkesinambungan mengenai keterkaitan antar komponen ekosistem.

Konteks Proyek

Pencapaian pembelajaran mendalam pada materi produktivitias primer dan sekunder menuntut adanya lingkungan belajar yang memadukan pengalaman langsung di lapangan dengan media digital yang dirancang secara sistematis. Sejalan dengan pandangan Bishop et al. (2020), pengembangan media pembelajaran berbasis Google Site bukan hanya proses menyusun konten, tetapi merupakan penerapan prinsip desain teknologi pendidikan yang menekankan integrasi representasi visual, struktur informasi, dan scaffolding kognitif untuk meningkatkan pemahaman peserta didik. Pendekatan ini juga diperkuat oleh temuan Lai dan Hwang (2016), yang menunjukkan bahwa penggunaan platform digital terpadu dapat meningkatkan kemampuan analitis dan kualitas refleksi siswa dalam pembelajaran berbasis observasi lingkungan. Oleh karena itu, proyek Google Site ini tidak hanya menyediakan materi, tetapi berfungsi sebagai ekosistem belajar yang menghubungkan data pengamatan langsung, penjelasan konseptual, serta aktivitas analitis yang mendukung terbentuknya pemahaman ekologis yang lebih mendalam. Dengan menggabungkan prinsip teknologi pendidikan modern dan praktik pembelajaran berbasis pengalaman, proyek ini diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual, reflektif, dan bermakna bagi peserta didik.

Deskripsi Kesenjangan

Meskipun pembelajaran ekologi menuntut pengalaman autentik melalui pengamatan langsung, praktik di lapangan menunjukkan bahwa banyak guru kesulitan mengintegrasikan temuan lapangan dengan media digital yang sistematis dan mudah diakses. Bishop et al. (2020) menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran mendalam sangat bergantung pada desain teknologi pembelajaran yang terstruktur, namun banyak guru belum memiliki kapasitas atau waktu untuk merancang media digital yang memenuhi prinsip desain tersebut. Di sisi lain, Januszewski dan Molenda (2008) menekankan bahwa teknologi pendidikan bukan hanya alat penyampai konten, tetapi suatu proses yang harus dikelola secara terpadu kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara pemahaman teori dan praktik aktual di sekolah. Tantangan ini semakin diperkuat oleh temuan Herodotou et al. (2019), yang menunjukkan bahwa guru sering mengalami kesulitan dalam memadukan data hasil observasi lapangan dengan platform digital karena keterbatasan kompetensi teknopedagogis. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan media seperti Google Site yang tidak hanya memfasilitasi integrasi data lapangan, tetapi juga dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara tuntutan teoritis teknologi pembelajaran dan realitas kemampuan teknis guru.

Uraian Deskripsi Solusi Proyek

Pengembangan media Google Site untuk materi produktivitas primer dan sekunder dirancang sebagai solusi strategis untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan pembelajaran mendalam dan keterbatasan teknik pedagogis guru. Google Site dipilih karena mampu mengintegrasikan berbagai elemen teknologi pembelajaran teks, visualisasi data, grafik hasil observasi, hingga aktivitas analitis dalam satu platform terstruktur. Pendekatan ini sejalan dengan definisi teknologi pendidikan oleh Januszewski dan Molenda (2008), yang menekankan bahwa teknologi pendidikan mencakup proses penciptaan dan pengelolaan sumber belajar secara sistematis untuk meningkatkan kinerja pembelajar. Integrasi berbagai elemen ini memungkinkan guru mengorkestrasi pengalaman belajar yang lebih autentik dan terarah. Dengan menggabungkan data lapangan dan multimedia, Google Site berfungsi sebagai ruang pembelajaran yang menghubungkan teori ekologi dengan fenomena nyata secara lebih efektif.

Solusi proyek ini juga didasarkan pada prinsip desain berbasis bukti sebagaimana diuraikan dalam Handbook of Research in Educational Communications and Technology oleh Bishop et al. (2020), yang menegaskan bahwa media digital harus dirancang dengan mempertimbangkan bagaimana peserta didik memproses, membangun, dan menerapkan pengetahuan. Google Site dioptimalkan untuk mendukung proses berpikir tingkat tinggi melalui penyajian scaffolding visual, lembar analisis produktivitas ekosistem, dan instruksi reflektif yang mendorong siswa menautkan data observasi dengan konsep teoretis. Pendekatan ini diperkuat oleh temuan Herodotou et al. (2019), yang menunjukkan bahwa platform digital terpadu dapat meningkatkan kualitas eksplorasi ilmiah siswa ketika desainnya mendukung inquiry berbasis data. Dengan demikian, solusi ini tidak hanya memfasilitasi akses informasi, tetapi juga memantik analisis, interpretasi, dan evaluasi yang menjadi fondasi pembelajaran mendalam.

Lebih lanjut, desain proyek ini mengadopsi perspektif Hokanson et al. (2018), yang menekankan bahwa teknologi pendidikan harus melampaui penyampaian konten dan berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dalam kerangka ini, Google Site tidak diperlakukan sebagai media pasif, melainkan sebagai alat kognitif (cognitive tool) yang memandu peserta didik dalam menggeneralisasi pola ekologi, membandingkan data produktivitas, dan membangun pemahaman holistik tentang dinamika ekosistem. Efektivitas pendekatan ini didukung oleh penelitian Bonney et al. (2016), yang mengungkapkan bahwa keterlibatan siswa dalam observasi lapangan dan analisis berbasis data digital dapat meningkatkan literasi ilmiah dan kemampuan penalaran ekologis. Dengan kombinasi antara landasan teori teknologi pendidikan dan praktik inquiry berbasis bukti, proyek Google Site ini menjadi solusi komprehensif yang memperkuat pembelajaran mendalam melalui integrasi pengalaman langsung dan pemaknaan konseptual secara digital

Rumusan Masalah Proyek

Permasalahan utama dalam proyek ini berfokus pada bagaimana mengembangkan media Google Site yang mampu mengintegrasikan data hasil pengamatan ekosistem dengan penyajian materi produktivitas primer dan sekunder secara terstruktur untuk mendukung pembelajaran mendalam. Pada praktiknya, guru masih menghadapi kesulitan dalam mengelola dan memvisualisasikan informasi lapangan menjadi media digital yang efektif, sehingga proses konstruksi pengetahuan peserta didik kurang optimal. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan desain instruksional yang sistematis dan kemampuan teknis pedagogis guru dalam memproduksi media berbasis web. Sebagaimana ditegaskan oleh Bishop et al. (2020), efektivitas teknologi pendidikan sangat bergantung pada kualitas desainnya dalam mendukung proses kognitif dan pemaknaan konsep secara mendalam. Selain itu, Januszewski dan Molenda (2008) menekankan bahwa teknologi pendidikan harus mencakup proses penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan sumber belajar, sehingga kegagalan guru dalam mengintegrasikan data observasi dengan media digital menunjukkan perlunya solusi yang lebih terarah dan aplikatif.

Tujuan Proyek

Tujuan utama, Tujuan utama dari proyek ini adalah mengembangkan media pembelajaran Google Site yang mampu mengintegrasikan hasil pengamatan langsung ekosistem dengan materi produktivitas primer dan sekunder secara terstruktur untuk mendukung pembelajaran mendalam

Tujuan khusus, Tujuan khusus dari proyek ini adalah menyediakan media digital yang memudahkan guru dan peserta didik dalam mengakses materi, data observasi, serta aktivitas analitis secara terpadu dalam satu platform. Proyek ini bertujuan membantu peserta didik melakukan analisis produktivitas ekosistem melalui visualisasi data dan instruksi terarah, sekaligus mendukung guru dalam mengelola pembelajaran yang lebih kontekstual dan interaktif. Selain itu, pengembangan media ini ditujukan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna, fleksibel, dan mendorong keterlibatan aktif peserta didik dalam memahami fenomena ekologis secara mendalam.

Metodologi Pengembangan Proyek

Proyek ini dikembangkan menggunakan model pengembangan konten digital yang sistematis melalui empat tahapan utama: Analysis, Design, Development, dan Evaluation

Tahap pertama, Analysis, berfokus pada identifikasi kebutuhan pengguna dan konteks pembelajaran ekologi. Sasaran pengguna dalam proyek ini adalah siswa SMA yang mempelajari ekosistem serta guru biologi yang membutuhkan media terintegrasi antara hasil pengamatan lapangan dengan konsep produktivitas primer dan sekunder. Analisis dilakukan untuk memetakan elemen kognitif yang diperlukan dalam memahami dinamika ekosistem, seperti kemampuan menghubungkan data observasi dengan teori ekologi serta melakukan interpretasi produktivitas. Mengacu pada Bishop et al. (2020), analisis ini penting untuk memastikan media yang dikembangkan tetap berada dalam koridor desain instruksional yang valid secara pedagogis. Selain itu, tahap analisis juga mempertimbangkan prinsip keterlibatan belajar aktif (active learning) sebagaimana ditekankan Bonwell dan Eison (1991), sehingga Google Site tidak hanya menjadi wadah informasi, tetapi juga sarana interaksi konseptual.

Tahap kedua, Design, mencakup perancangan struktur halaman, navigasi konten, dan alur integrasi antara data lapangan siswa (foto, video, catatan observasi) dengan penjelasan materi. Desain visual dan alur interaksi dirancang agar sederhana, intuitif, dan mendukung konstruksi pengetahuan. Penyusunan konten dilakukan dengan memetakan setiap bagian ekosistem—seperti produsen, konsumen, rantai makanan, dan dinamika energi—ke dalam halaman terstruktur yang memudahkan siswa menghubungkan pengalaman observasi dengan konsep produktivitas primer dan sekunder. Tahap ini disusun dengan prinsip multimedia learning dari Mayer (2009), memastikan bahwa penyajian teks, gambar, dan video tidak membebani kognisi. Selain itu, desain alur belajar juga mengikuti prinsip Shneiderman dan Plaisant (2010) agar pengalaman pengguna tetap konsisten dan logis.

Tahap ketiga, Development, berfokus pada pembuatan media Google Site secara langsung, termasuk pengumpulan aset visual ekosistem, penyusunan materi ajar, integrasi hasil observasi lapangan, serta pembuatan fitur interaktif seperti kuis, refleksi, dan petunjuk aktivitas. Tahap produksi memastikan bahwa setiap komponen tersusun rapi dan mudah diakses. Pemilihan platform Google Site dipertimbangkan karena sifatnya yang mudah digunakan, kolaboratif, dan dapat diakses kapan saja—selaras dengan gagasan Moller, Huett, dan Harvey (2009) mengenai pentingnya teknologi pendidikan yang bersifat ubiquitous untuk mendukung pembelajaran tanpa batas.

Tahap terakhir, Evaluation, dilakukan melalui uji coba terbatas kepada siswa dan masukan dari guru biologi mengenai kelayakan, kejelasan konten, interaktivitas, serta kemanfaatan Google Site sebagai media pembelajaran ekosistem. Proses evaluasi dilakukan dengan menggunakan lembar penilaian dan angket yang menilai aspek tampilan, struktur, relevansi materi, serta kebermanfaatan media terhadap pemahaman produktivitas ekosistem. Prinsip evaluasi ini mengacu pada Spector et al. (2014) yang menekankan pentingnya menggunakan instrumen asesmen yang valid dan reliabel dalam menilai efektivitas teknologi pendidikan. Hasil evaluasi digunakan untuk revisi dan penyempurnaan media sebelum diterapkan secara lebih luas.

Referensi

Albert, D., Pelau, C., & Mija, F. (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence in educational systems.

Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.

Almandhari, B. (2025). Empowering educators in the age of AI: Balancing humanistic teaching with technological integration. Edited Volume, 161.

Ataş, A. H., & Yıldırım, Z. (2025). A shared metacognition-focused instructional design model for online collaborative learning environments. Educational Technology Research and Development, 73(1), 567-613.

Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational 

Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.

Bonney, R., Phillips, T. B., Ballard, H. L., & Enck, J. W. (2016). Can citizen science enhance public understanding of science? Public Understanding of Science, 25(1), 2–16.

Bonwell, C., & Eison, J. (1991). Active Learning: Creating Excitement in the Classroom. ASHE-ERIC Higher Education Report.

Gong, X., Xu, W., & Qiao, A. (2025). Exploring undergraduates’ computational thinking and human-computer interaction patterns in generative progressive prompt-assisted programming learning. International Journal of Educational Technology in Higher Education, 22(1), 51. https://doi.org/10.1186/s41239-024-00445-x

Herodotou, C., Sharples, M., Gaved, M., Kukulska-Hulme, A., Rienties, B., Scanlon, E., & Whitelock, D. (2019). Innovative pedagogies of the future: An evidence-based selection. The Open University Innovation Reports, 3, 1–38.

Hill, T. D., & Ellis, A. (2025). Beyond content: An exploration of teachers’ practices for supporting academically advanced students in elective high school classrooms. Journal of Advanced Academics. https://doi.org/10.1177/1932202X251361596

Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.

Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.

Honeyman, K., & Eck, C. J. (2025). Beyond content knowledge: Inquiry-based learning and preservice teachers’ perceived ability to incorporate STEM and AFNR concepts. Journal of Agricultural Education, 66(3), 19-19.

Hsu, H. P. (2025). From programming to prompting: Developing computational thinking through large language model-based generative artificial intelligence. TechTrends, 1-22. https://doi.org/10.1007/s11528-024-01026-6

Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.

Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.

Jing, Y., Dai, J., Wang, C., Shen, S., & Shadiev, R. (2025). Unleashing the power of virtual learning environment: exploring the impact on learning outcomes through a meta-analysis. Interactive Learning Environments, 33(1), 52-69.

Lai, C.-L., & Hwang, G.-J. (2016). A self-regulated flipped classroom approach to improving students’ learning performance in a mathematics course. Computers & Education, 100, 126–140.

Mayer, R. E. (2009). Multimedia Learning (2nd ed.). Cambridge University Press.

Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.

Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.

Ran, H., Cai, J., Hwang, S., Han, J., Ma, Y., & Muirhead, F. (2025). Effects of engaging in problem-posing interventions on learners’ cognitive mathematics outcomes: A comprehensive meta-analysis. Journal for Research in Mathematics Education, 56(5), 259-282.

Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer. 

Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (2014). Handbook of Research on Educational Communications and Technology. Springer.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *