Nama: Rahma Izzatul Hajjah
NIM: 230121601480
Kelas: C23
Bagian I: Pendahuluan
Paragraf 1: Analisis Kesenjangan
Implementasi Learning Management System (LMS) seperti SPADA di perguruan tinggi menghadapi kesenjangan substansial antara Harapan ideal dan Kondisi Kenyataan di lapangan. Harapan adalah terciptanya lingkungan pembelajaran kolaboratif yang didukung teknologi (Unconstrained Learning, Moller & Huett, 2012). Namun, kondisi kenyataan menunjukkan bahwa fitur forum diskusi SPADA sering mengalami kendala teknis dan tidak dapat digunakan optimal, menghambat komunikasi dua arah dan menurunkan motivasi. Kesenjangan ini menciptakan pola belajar yang pasif, yang bertentangan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21. Oleh karena itu, inovasi ini mengintegrasikan Padlet ke dalam SPADA—sebuah solusi strategis yang menjembatani jurang teknis dan pedagogis ini, dengan landasan keilmuan teknologi pendidikan yang kuat.
Bagian II: Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)
Paragraf 2: Fokus Masalah & Landasan Desain
Fokus masalah utama proyek adalah mengatasi kegagalan desain interaksi dalam LMS formal yang menghambat Interaktivitas dan membatasi potensi Personalisasi mahasiswa. Untuk mengatasinya, landasan desain proyek ini bertumpu pada Konstruktivisme Sosial (Vygotsky) dan Connectivism. Secara pedagogis, fitur Padlet yang kaya media mendukung prinsip Konstruktivisme Sosial, memungkinkan mahasiswa membangun pengetahuan bersama melalui diskusi dan peer review yang visual. Desain yang fleksibel ini juga mendukung Personalisasi, karena mahasiswa dapat memilih format media (video, gambar, teks) sesuai preferensi dan gaya belajar mereka, yang sejalan dengan prinsip motivasi belajar seperti ARCS.
Paragraf 3: Transformasi Teknologi & Koherensi Fitur
Proyek ini mewakili transformasi teknologi dari forum pasif berbasis teks menjadi media partisipatif visual. Transformasi ini didukung oleh koherensi fitur yang logis dan alur yang terstruktur. Secara kritis, Padlet dipilih karena mampu memenuhi Prinsip Mayer (Desain Multimedia)—lensa analisis wajib ketiga. Desain Padlet yang bersih dan minimalis mematuhi Prinsip Koherensi dengan menghilangkan elemen visual yang mengganggu, sementara fitur unggahan multimedia memaksimalkan Prinsip Multimedia (belajar lebih efektif dengan teks dan visual/audio), secara langsung mengoptimalkan beban kognitif (Spector, dkk., 2014) mahasiswa. Koherensi alur diskusinya (Posting-Umpan Balik-Refleksi) menjamin siklus belajar yang reflektif dan berkelanjutan.
Bagian III: Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)
Paragraf 4: Analisis “How” – Kolaborasi Manusia & Teknologi
Analisis operasional menunjukkan solusi ini bekerja sebagai kolaborasi strategis antara manusia dan teknologi. SPADA berfungsi sebagai administrator host formal (teknologi kaku), sementara Padlet berperan sebagai fasilitator interaksi visual (teknologi fleksibel). Namun, proyek ini secara kritis menemukan bahwa arsitektur LMS SPADA bersifat tertutup dan tidak mendukung open API. Hal ini mengharuskan implementasi melalui embedding manual, sebuah kompromi teknis yang justru memperkuat narasi proyek: Teknologi Padlet berfungsi sebagai jembatan komunikasi yang harus beradaptasi untuk mengatasi keterbatasan arsitektur sistem LMS nasional yang gagal mendukung fleksibilitas pembelajaran digital.
Paragraf 5: Analisis “How” – Dekomposisi Masalah
Efektivitas solusi ini berasal dari proses dekomposisi masalah yang sistematis. Masalah utama interaktivitas didekomposisi menjadi tiga bagian fungsional: 1) Keterbatasan Media diatasi dengan fitur rich media posting Padlet; 2) Kurangnya Refleksi diatasi dengan mengurai alur diskusi hingga tahap wajib Refleksi Pribadi yang menciptakan decision point metakognitif; dan 3) Kurangnya Umpan Balik diatasi dengan kolom feedback dosen yang eksplisit. Dekomposisi ini menghasilkan alur sistematis yang mengonversi aktivitas pasif menjadi proses active learning yang terstruktur.
Paragraf 6: Analisis “How” – Definisi & Peran Teknologi
Sesuai dengan definisi standar, Teknologi Pendidikan adalah studi dan praktik etis memfasilitasi pembelajaran melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan sumber daya teknologi yang tepat (Januszewski & Molenda, 2008). Proyek ini adalah implementasi etis dari definisi tersebut: Padlet adalah sumber daya teknologi yang dikelola (melalui embedding) untuk memfasilitasi interaksi, yang pada gilirannya meningkatkan kinerja kolaboratif mahasiswa. Proyek ini menegaskan peran desainer pembelajaran dalam menghubungkan sistem yang berbeda (SPADA dan Padlet) demi mencapai tujuan edukatif, bahkan ketika dihadapkan pada keterbatasan teknis dari platform resmi.
Bagian IV: Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek
Paragraf 7: Aksesibilitas & Konsep Pembelajaran
Aksesibilitas dirancang untuk mempertahankan prinsip user-centered design. Mahasiswa mengakses Padlet melalui embedded link di halaman mata kuliah SPADA. Akses ini dirancang sebagai gerbang masuk menuju pembelajaran aktif, di mana kemudahan akses harus diimbangi dengan tuntutan partisipasi kognitif. Secara pedagogis, alur ini memastikan bahwa setiap langkah teknis (Login-Klik Link-Posting) berujung pada konstruksi pengetahuan yang terfokus, meminimalkan cognitive load yang disebabkan oleh navigasi yang membingungkan.
Paragraf 8: Tutorial & Video
Interaksi dimulai dengan Kontribusi Individual, di mana mahasiswa mengunggah argumen berbasis media. Dilanjutkan dengan Interaksi Sosial wajib (peer discussion) yang menguatkan pemahaman. Siklus ini mencapai resolusi kognitif ketika mahasiswa menerima Umpan Balik Kualitatif dari dosen dan mengisi Kolom Refleksi Pribadi. Hal ini mengonversi partisipasi digital menjadi learning progress yang tervalidasi.
Bagian V: Penutup
Paragraf 9: Kesimpulan & Unconstrained Learning
Secara kesimpulan, proyek SPADA Connect berbasis Padlet berhasil menciptakan model pembelajaran yang adaptif, mengatasi kegagalan sistematis melalui solusi eksternal yang inovatif. Nilai strategis proyek ini adalah kemampuan adaptasi teknologisnya. Karya ini secara eksplisit mendukung paradigma Unconstrained Learning (Pembelajaran Tanpa Kendala, Moller & Huett, 2012). Padlet menghilangkan kendala media, kendala waktu (asinkronus), dan kendala interaktivitas LMS yang kaku, sehingga memungkinkan proses belajar berlangsung secara partisipatif dan dinamis, melampaui batas LMS tradisional. Sebagai rekomendasi inovatif lanjutan, disarankan agar pengembang SPADA menyediakan Open API atau Widget Internal yang mengadopsi fungsionalitas visual dan kolaboratif Padlet, untuk menjamin integrasi data yang mulus di masa depan.
Daftar Referensi
- Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
- Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
- Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
- Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
- Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
- Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
- Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
- Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.

Tinggalkan Balasan