“Digital-Savvy Student”: Proyek Konten Digital Microlearning di Instagram Stories untuk Meningkatkan Keterampilan Belajar Mandiri Mahasiswa

·

·

, ,

Rizky Mutiara Sari Setiawan

230151600910

Offering TEP-PGSD

Harapan Proyek

Pendidikan di era digital menuntut pendekatan yang adaptif terhadap perilaku mahasiswa untuk menciptakan pengalaman belajar yang relevan dan efektif. Harapan utama dari proyek ini adalah mentransformasi platform media sosial yang sering dianggap sebagai distraksi menjadi ruang belajar yang konstruktif. Proyek ini berupaya melampaui penyampaian konten konvensional dengan menghadirkan pengalaman belajar yang memfasilitasi konstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial dan refleksi diri. Fokus utamanya adalah meningkatkan kemampuan belajar mandiri (Self-Regulated Learning/SRL) dan keterampilan metakognitif mahasiswa dalam menghadapi tuntutan akademik tingkat lanjut.

Konteks Proyek

Pencapaian kemandirian belajar (SRL) memerlukan lingkungan yang dirancang secara intensional untuk “menjemput bola” di mana audiens berada, yakni di platform digital yang mereka gunakan sehari-hari. Hal ini selaras dengan prinsip Teknologi Pendidikan yang menekankan pada penciptaan dan penggunaan sumber daya teknologi yang tepat guna. Dalam konteks proyek ini, Instagram Stories dipilih sebagai ekosistem pembelajaran karena familiaritasnya dengan target audiens. Perancangan konten dalam proyek ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan didasarkan pada prinsip-prinsip desain instruksional modern, memadukan fitur interaktif bawaan (Poll, Quiz, Q&A) dengan strategi pedagogis yang terukur untuk mendorong keterlibatan aktif.

Deskripsi Kesenjangan

Realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara tuntutan belajar mandiri di perguruan tinggi dengan keterampilan metakognitif yang dimiliki mahasiswa. Meskipun mahasiswa merupakan “digital natives”, mereka sering kali mengalami kesulitan dalam memproses informasi secara mendalam dan rentan terhadap beban kognitif asing (extraneous load) akibat distraksi digital. Metode penyampaian materi konvensional sering kali kurang efektif menjangkau atensi mahasiswa. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang memecah materi kompleks menjadi segmen-segmen kecil yang terfokus (microlearning) untuk meminimalkan beban kognitif tanpa mengurangi esensi pembelajaran. Solusi ini harus mampu menyeimbangkan aspek teknis penyampaian konten visual dengan kebutuhan pedagogis untuk interaksi sosial.

Uraian Deskripsi Solusi Proyek

Sebagai solusi konkret atas tantangan tersebut, proyek ini mengembangkan “Digital-Savvy Student”, sebuah inisiatif konten digital berbasis Microlearning yang didistribusikan melalui Instagram Stories. Proyek ini berupa akun Instagram edukasi (@digital.savvy.student) yang menyajikan modul-modul pembelajaran singkat (5-7 frames per modul). Solusi ini dirancang di atas tiga landasan teoretis utama:

1. Konstruktivisme Sosial: Memanfaatkan fitur Q&A dan Poll untuk menciptakan ruang dialog, memungkinkan mahasiswa berbagi pengalaman, dan belajar dari rekan sejawat.

2. Teori Beban Kognitif (Cognitive Load Theory): Membatasi teks maksimal 15-20 kata per frame dan fokus pada satu ide kunci untuk memastikan informasi dapat diproses secara optimal dan meminimalkan beban kognitif asing.

3. Prinsip Multimedia Mayer: Menerapkan prinsip Signaling (penandaan visual) dan Coherence (penghapusan elemen pengganggu) untuk menjamin pesan tersampaikan secara efektif.

Rumusan Masalah Proyek

Permasalahan utama dalam proyek ini berfokus pada bagaimana media sosial populer seperti Instagram dapat direkayasa ulang menjadi sarana pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan Self-Regulated Learning (SRL) mahasiswa. Tantangan utamanya adalah merancang konten visual yang mampu mensinergikan prinsip desain multimedia dengan strategi belajar mandiri, sehingga mampu meningkatkan keterlibatan audiens minimal 10% dan pemahaman strategi belajar tanpa membebani kognisi mereka.

Tujuan Proyek

Tujuan utama dari proyek ini adalah meningkatkan kapabilitas Self-Regulated Learning (SRL) dan keterampilan metakognitif mahasiswa dalam menghadapi tuntutan akademik di era digital.Secara khusus, proyek ini bertujuan untuk:

1. Menghasilkan 10 modul microlearning visual yang praktis, mencakup topik manajemen waktu (seperti Teknik Pomodoro), pemrosesan informasi (seperti Metode Cornell), dan metakognisi.

2. Meningkatkan pemahaman audiens tentang strategi belajar mandiri melalui penyajian konten yang mematuhi prinsip Cognitive Load Theory.

3. Menciptakan keterlibatan aktif (engagement), diukur dari partisipasi dalam kuis dan jajak pendapat serta interaksi sosial antar pengguna.

Metodologi Pengembangan Proyek

Proyek ini dilaksanakan dengan mengadaptasi model pengembangan konten digital yang sistematis, mencakup tahapan analisis, desain, dan evaluasi:

Tahap Analisis & Dekonstruksi: Berfokus pada pemetaan kebutuhan mahasiswa akan strategi belajar. Materi dipecah menjadi 3 pilar utama: Manajemen Waktu & Fokus, Pemrosesan Informasi, dan Metakognisi & Well-being. Target audiens diidentifikasi sebagai mahasiswa yang membutuhkan intervensi belajar yang “menjemput bola” di platform digital.

Tahap Desain & Produksi: Mencakup perancangan storyboard detail dan aset visual untuk 10 modul. Setiap modul dirancang dengan struktur microlearning (5-7 frames). Logika penyusunan visual menerapkan prinsip Signaling (penggunaan panah/lingkaran) dan pembatasan warna dominan. Alur navigasi dirancang dalam dua level: Alur Makro (Navigasi Akun) dan Alur Mikro (Navigasi Modul Story).

Tahap Implementasi & Evaluasi: Konten didistribusikan melalui Instagram Stories. Evaluasi formatif dilakukan dengan memantau insight Instagram untuk mengukur keterlibatan audiens (target minimal 10%) serta analisis jawaban pada fitur interaktif (kuis/poll) untuk menilai keberhasilan awal pemahaman materi.

Referensi

Association for Educational Communications and Technology (AECT). (2007). Educational technology: A definition with commentary [9575].

Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.) [15003].

Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.) [17419].

Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2020). Educational technology beyond content: A new focus for learning [16172].

Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future [9624].

Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning [17029].

Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking [16521].

Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2022). Bridging human intelligence and artificial intelligence [18274].

Branch, R. M. (2009). Instructional design: The ADDIE approach.

Fujawati, F. S., & Raharja, R. M. (2021). Pemanfaatan Media Sosial (Instagram) sebagai Media Penyajian Kreasi Seni dalam Pembelajaran. JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni), 6(1), 32-44.

Miarso, Y. (2004). Menyemai benih teknologi pendidikan. Kencana Prenadamedia Group.

Santoso Sudarma, B., Firdaus, R., & Indrajit, R. E. (2023). Microlearning; Belajar dalam Sesi Singkat. Media Akademi.

Zimmerman, B. J., & Schunk, D. H. (Eds.). (2012). Self-regulated learning and academic achievement: Theory, research, and practice. Springer Science & Business Media.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *