EduConnect: Platform Microlearning Interaktif sebagai Model Unconstrained Learning bagi Guru dan Mahasiswa Pendidikan

·

·

,

Bagian I Pendahuluan

Analisis Kesenjangan

Perkembangan pembelajaran digital di pendidikan tinggi Indonesia menunjukkan paradoks yang signifikan antara harapan ideal dan realitas implementasi di lapangan. Di satu sisi, pembelajaran daring diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang interaktif, personal, dan kolaboratif; namun pada praktiknya, sebagian besar Learning Management System (LMS) masih berorientasi pada distribusi konten satu arah berupa video panjang dan materi teks statis. Kondisi ini berdampak pada rendahnya keterlibatan belajar dan terbatasnya proses refleksi pedagogis, khususnya bagi guru dan mahasiswa pendidikan sebagai calon pendidik. Bishop et al. (2020) menegaskan bahwa teknologi pendidikan yang hanya berfungsi sebagai media penyampaian konten gagal membangun pengalaman belajar bermakna. Kesenjangan inilah yang melatarbelakangi perancangan EduConnect, sebuah platform microlearning interaktif yang berupaya menjembatani kebutuhan pembelajaran fleksibel dengan pendekatan pedagogis reflektif dan kolaboratif berbasis teknologi digital.

Bagian II – Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)

Fokus Masalah & Landasan Desain

Fokus utama permasalahan dalam proyek EduConnect terletak pada rendahnya keterlibatan kognitif dan reflektif peserta belajar dalam pembelajaran daring. Pembelajaran yang terlalu berpusat pada konten menyebabkan peserta menjadi konsumen pasif, bukan pembangun pengetahuan. Oleh karena itu, desain EduConnect berlandaskan pada pendekatan learner-centered design dan project-based learning, yang menempatkan peserta sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Spector et al. (2014) menjelaskan bahwa desain pembelajaran digital yang efektif harus mengintegrasikan tujuan, aktivitas, dan asesmen secara koheren. Fitur microlearning, refleksi kontekstual, dan asesmen berbasis proyek dalam EduConnect dirancang untuk mendorong keterlibatan aktif, pemaknaan pengalaman, serta penerapan konsep pedagogis dalam konteks nyata.

Transformasi Teknologi & Koherensi Fitur

Transformasi teknologi dalam EduConnect tidak diposisikan sebagai sekadar digitalisasi materi, melainkan sebagai rekonstruksi pengalaman belajar. Koherensi antar fitur—video microlearning, kuis reflektif, forum diskusi terpandu, dan proyek autentik—dibangun berdasarkan prinsip konstruktivisme sosial, di mana pembelajaran terjadi melalui interaksi dan refleksi. Hokanson et al. (2018) menekankan bahwa teknologi pendidikan masa kini harus melampaui konten dan berfokus pada pembentukan pengalaman belajar. Dengan demikian, setiap fitur EduConnect saling terhubung secara logis: microlearning memantik pemahaman awal, refleksi memperdalam makna, diskusi memperkaya perspektif, dan proyek menguatkan transfer pembelajaran ke praktik pedagogis nyata.

Bagian III – Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)

Analisis “How”: Kolaborasi Manusia & Teknologi

Dari perspektif tekno-pedagogi, EduConnect bekerja sebagai sistem kolaboratif antara manusia dan teknologi. Platform ini memanfaatkan learning analytics dan umpan balik berbasis sistem untuk mendukung proses refleksi peserta, sementara peran manusia tetap dominan dalam diskusi, mentoring, dan penilaian proyek. Albert et al. (2021) menjelaskan bahwa sinergi antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan memungkinkan terciptanya pembelajaran yang adaptif dan bermakna. Dalam EduConnect, teknologi berfungsi sebagai fasilitator yang mempercepat akses, memetakan progres belajar, dan memberikan rekomendasi, sedangkan makna pembelajaran tetap dibangun melalui interaksi sosial dan refleksi pedagogis.

Analisis “How”: Dekomposisi Masalah

Pendekatan sistematis EduConnect juga dapat dianalisis melalui konsep dekomposisi masalah. Permasalahan kompleks berupa rendahnya kompetensi pedagogik digital diuraikan menjadi komponen-komponen yang lebih sederhana, yaitu akses materi, pemahaman konsep, refleksi, kolaborasi, dan penerapan. Setiap komponen tersebut diwujudkan dalam fitur spesifik dalam platform. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip computational thinking yang menekankan pemecahan masalah secara terstruktur (Rich & Hodges, 2017). Dengan struktur modular microlearning, peserta dapat belajar secara bertahap tanpa terbebani kompleksitas sistem secara keseluruhan.

Analisis “How”: Definisi & Peran Teknologi

Berdasarkan definisi standar Teknologi Pendidikan oleh Januszewski dan Molenda (2008), teknologi pendidikan adalah studi dan praktik etis dalam memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan proses serta sumber teknologi. EduConnect secara jelas menempatkan dirinya dalam disiplin ini, karena platform tidak hanya menyediakan media digital, tetapi juga dirancang secara sistematis untuk memfasilitasi proses belajar, mengelola pengalaman pembelajaran, serta meningkatkan kompetensi pedagogik pengguna. Dengan demikian, EduConnect bukan sekadar aplikasi pembelajaran, melainkan artefak keilmuan Teknologi Pendidikan yang berlandaskan teori dan praktik instruksional.

Bagian IV – Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek

Aksesibilitas & Konsep Pembelajaran

EduConnect dapat diakses melalui peramban web menggunakan laptop maupun smartphone, sehingga mendukung fleksibilitas belajar lintas perangkat. Pengguna memulai dengan membuat akun, memilih topik microlearning, dan mengikuti modul secara mandiri. Desain akses ini mencerminkan prinsip unconstrained access dalam pembelajaran jarak jauh, di mana waktu dan tempat tidak lagi menjadi hambatan utama (Moller & Huett, 2012). Setiap modul dirancang singkat namun bermakna, sehingga selaras dengan karakteristik pembelajar dewasa yang membutuhkan efisiensi dan relevansi.

Tutorial & Video

Proses penggunaan EduConnect dimulai dengan menonton video microlearning berdurasi 3–7 menit yang disertai pertanyaan reflektif dan kuis interaktif. Selanjutnya, pengguna diarahkan ke forum diskusi terpandu untuk berbagi pandangan dan pengalaman praktik. Tahap akhir adalah pengerjaan proyek sederhana, seperti perancangan rencana pembelajaran digital.

Bagian V – Penutup

Kesimpulan & Unconstrained Learning

EduConnect merepresentasikan upaya strategis dalam menjawab tantangan pembelajaran digital melalui pendekatan microlearning interaktif yang terintegrasi secara pedagogis dan teknologis. Platform ini menunjukkan bahwa pembelajaran digital yang bermakna tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi pada desain pengalaman belajar yang reflektif, kolaboratif, dan kontekstual. Sejalan dengan konsep Unconstrained Learning (Moller & Huett, 2012), EduConnect berkontribusi dalam menghilangkan batasan tradisional pembelajaran—baik waktu, tempat, maupun peran—sehingga guru dan mahasiswa pendidikan dapat belajar secara lebih bebas, adaptif, dan berkelanjutan di era pendidikan digital.

Referensi

Albert, D., Steiner, C. M., & Körber, B. (2021). Bridging Human and Artificial Intelligence: Implications for Education and Learning Design. Springer.

Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (2020). How People Learn: Designing for Learner-Centered Instruction. Springer.

Buchem, I., & Hamelmann, H. (2010). Microlearning: A strategy for ongoing professional development. eLearning Papers, 21, 1–15.

Moller, L., & Huett, J. (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.

Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (2014). Handbook of Research on Educational Communications and Technology. Springer.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Harvard University Press.

Siemens, G. (2005). Connectivism: A learning theory for the digital age. International Journal of Instructional Technology and Distance Learning, 2(1), 3–10.

Kohnke, L., & Moorhouse, B. L. (2022). Facilitating microlearning in higher education. Journal of Educational Technology Systems, 51(1), 24–40.

Looi, C.-K., & Teh, L.-W. (2021). Design principles for microlearning. Australasian Journal of Educational Technology, 37(5), 50–66.

Mayer, R. E. (2020). The promise of multimedia learning: Using the same instructional design methods across different media. Learning and Instruction, 68, 101–119.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *