Hafizh Athallah Yuffi Ananda
230121604841
Kelas C
Harapan Proyek
Transformasi pendidikan di era digital menuntut pendekatan yang lebih dari sekadar penyampaian materi, yaitu penciptaan pengalaman belajar yang interaktif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan profesional peserta didik. Berdasarkan analisis dalam dokumen proyek EduConnect, pembelajaran daring di Indonesia masih didominasi oleh penyajian konten satu arah berupa video panjang dan teks statis, sehingga tidak mampu mendorong engagement serta penerapan nyata dari konsep yang dipelajari. Hal ini sejalan dengan temuan Bishop et al. (2020) yang menekankan urgensi pembelajaran berbasis interaksi bermakna (meaningful interaction) dan jejaring (networked learning) untuk membangun kompetensi abad ke-21.
Harapan proyek adalah menghadirkan pengalaman microlearning interaktif yang memungkinkan peserta belajar tidak sekadar menerima konten, tetapi melakukan refleksi, dialog, hingga penerapan konsep secara kontekstual. Pendekatan microlearning adaptif yang memanfaatkan kecerdasan buatan, sebagaimana disoroti Albert et al. (2021), diharapkan dapat membantu memberikan umpan balik otomatis, rekomendasi personal, dan tantangan berbasis kinerja. Dengan demikian, EduConnect diharapkan mampu menjembatani kebutuhan pengguna akan pembelajaran yang fleksibel, reflektif, dan berbasis data sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna dan berkelanjutan.
Konteks Proyek
Pengembangan EduConnect berangkat dari kebutuhan untuk merancang lingkungan belajar digital yang tidak hanya fungsional, tetapi juga didesain secara intensional (intentionally designed) untuk meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar. Hal ini sejalan dengan definisi Teknologi Pendidikan oleh Januszewski dan Molenda (2008), yang menekankan pentingnya proses menciptakan, menggunakan, dan mengelola sumber teknologi pembelajaran secara etis.
Dalam dokumen EduConnect, Bishop et al. (2020) menekankan bahwa desain ekosistem pembelajaran digital harus berbasis riset dan melibatkan integrasi teknologi dengan strategi pedagogis yang valid. EduConnect mengadopsi pendekatan tersebut melalui microlearning interaktif, learning analytics, serta forum diskusi terpandu yang dirancang agar mampu membangun kolaborasi dan refleksi peserta didik.
Konteks proyek juga diperkaya oleh prinsip konstruktivisme sosial (Vygotsky, 1978) dan connectivism (Siemens, 2005), di mana pembelajaran dipandang sebagai proses membangun makna melalui interaksi, jejaring, dan pengalaman kolaboratif. Pendekatan ini menjadikan EduConnect bukan sekadar media belajar, tetapi sebuah ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang memfasilitasi pertumbuhan profesional guru dan mahasiswa pendidikan.
Deskripsi Kesenjangan
Meskipun banyak platform pembelajaran daring telah digunakan, dokumen menunjukkan adanya kesenjangan besar antara kebutuhan pembelajaran abad ke-21 dengan praktik pembelajaran yang masih bersifat konten-sentris, tidak interaktif, dan tidak personal. Guru dan mahasiswa pendidikan membutuhkan pengalaman belajar yang memfasilitasi refleksi, kolaborasi, dan penerapan konsep, namun banyak sistem yang ada belum mampu mendukung hal tersebut.
Berdasarkan Moller & Huett (2012), keberhasilan pembelajaran daring sangat ditentukan oleh interaktivitas, personalisasi, dan dukungan sosial. Namun, sistem yang ada masih kurang mengakomodasi ketiga aspek tersebut. Selain itu, rendahnya kemampuan adaptif platform berdampak pada lemahnya motivasi dan keterlibatan peserta.
Kesenjangan lain muncul dari kurangnya integrasi AI dan learning analytics sebagai pendukung pembelajaran. Temuan Albert et al. (2021) tentang pentingnya bridging human and artificial intelligence belum terimplementasi dalam banyak LMS konvensional. Padahal, data analitik dapat membantu memberikan umpan balik yang lebih cepat, personal, dan kontekstual.
Oleh karena itu, EduConnect hadir sebagai solusi untuk menutup kesenjangan antara kebutuhan pedagogis modern dan kapasitas teknologi yang tersedia.
Uraian Deskripsi Solusi Proyek
Solusi yang ditawarkan adalah pengembangan EduConnect – Platform Microlearning Interaktif yang memadukan pendekatan pedagogis modern dengan teknologi adaptif. Platform ini dirancang untuk menghadirkan video interaktif pendek, kuis terintegrasi, forum diskusi terpandu, asesmen berbasis proyek, serta rekomendasi pembelajaran melalui learning analytics.
Pendekatan microlearning yang digunakan mengacu pada Buchem & Hamelmann (2010), yang menegaskan bahwa unit belajar yang pendek, fokus, dan kontekstual terbukti efektif untuk retensi pengetahuan. Integrasi learning analytics, sesuai dengan konsep Albert et al. (2021), memungkinkan pemberian umpan balik otomatis dan rekomendasi topik sesuai pola belajar pengguna.
Strategi desain platform mengacu pada prinsip learner-centered design (Spector et al., 2014), sehingga fitur seperti reflexive journaling, forum diskusi, dan project-based assessment dikembangkan untuk memperdalam pemahaman dan mendorong penerapan konsep dalam konteks nyata.
EduConnect juga memanfaatkan integrasi Moodle dengan Articulate Storyline, sehingga konten microlearning dapat disajikan dengan interactivitas tinggi dan penyimpanan data yang terstruktur. Dengan pendekatan ini, EduConnect menjadi solusi yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memfasilitasi konstruksi pengetahuan melalui pengalaman belajar aktif dan reflektif.
Rumusan Masalah Proyek
Rumusan masalah dalam proyek pengembangan EduConnect berfokus pada tantangan bagaimana merancang platform microlearning interaktif yang mampu meningkatkan keterlibatan, refleksi, dan personalisasi pembelajaran bagi guru dan mahasiswa pendidikan di Indonesia. Permasalahan ini muncul dari kondisi bahwa sistem pembelajaran daring yang digunakan saat ini masih cenderung pasif dan terpusat pada konten, sehingga tidak memberikan ruang yang cukup bagi peserta untuk membangun pemahaman melalui dialog dan pengalaman belajar reflektif. Selain itu, pengintegrasian teori konstruktivisme sosial dan connectivism ke dalam lingkungan digital masih belum optimal, padahal kedua teori tersebut memiliki relevansi tinggi dalam membangun pembelajaran berbasis interaksi dan jejaring (Vygotsky, 1978; Siemens, 2005). Tantangan lainnya adalah bagaimana memanfaatkan learning analytics dan kecerdasan buatan secara efektif untuk memberikan umpan balik adaptif yang relevan dan membantu peserta belajar secara mandiri. Keterbatasan LMS yang ada dalam menyediakan asesmen berbasis proyek dan rekomendasi pembelajaran adaptif juga menjadi bagian penting dari rumusan masalah ini (Bishop et al., 2020; Albert et al., 2021). Dengan demikian, rumusan masalah proyek mencakup kebutuhan untuk mensinergikan pendekatan pedagogis modern dengan teknologi edukasi berbasis AI agar pembelajaran digital lebih bermakna dan sesuai kebutuhan abad ke-21
Tujuan Proyek
Tujuan utama proyek EduConnect adalah menghadirkan sebuah platform pembelajaran digital berbasis microlearning interaktif yang mampu meningkatkan motivasi belajar, kompetensi pedagogik, dan literasi digital guru serta mahasiswa pendidikan. Proyek ini diarahkan untuk menghasilkan pengalaman belajar yang relevan, fleksibel, dan kontekstual sehingga dapat menjawab keterbatasan model pembelajaran daring konvensional. Secara lebih spesifik, proyek ini bertujuan mengembangkan konten microlearning berdurasi singkat namun mendalam, dilengkapi dengan fitur refleksi digital dan forum diskusi terpandu yang dapat mendorong kemampuan berpikir kritis serta kolaborasi.
Tujuan lain adalah mengintegrasikan learning analytics untuk memfasilitasi pemberian umpan balik otomatis yang adaptif sehingga peserta belajar dapat memahami perkembangan diri secara lebih akurat (Albert et al., 2021). Selain itu, proyek ini juga ingin menghasilkan model pembelajaran digital yang kompatibel dengan SPADA Indonesia dan mendukung asesmen berbasis proyek sebagai bentuk penerapan konsep dalam konteks kelas nyata (Moller & Huett, 2012; Spector et al., 2014). Dengan demikian, tujuan proyek mencakup penguatan pedagogi, teknologi, dan aksesibilitas untuk mewujudkan pembelajaran digital yang inklusif dan bermakna.
Metodologi Pengembangan Proyek
Metodologi pengembangan proyek EduConnect diadaptasi dari model ADDIE yang sistematis dan banyak digunakan dalam desain pembelajaran digital. Tahap pertama, yaitu Analysis, dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan guru dan mahasiswa pendidikan yang membutuhkan pembelajaran fleksibel, interaktif, dan dapat diakses dari berbagai perangkat. Analisis ini juga mencakup pemetaan tantangan utama seperti rendahnya interaktivitas LMS konvensional serta kebutuhan akan refleksi dan kolaborasi dalam pembelajaran daring, merujuk pada prinsip-prinsip pedagogis dari Bishop et al. (2020) dan Moller & Huett (2012). Tahap berikutnya adalah Design, di mana struktur konten, storyboard microlearning, alur interaksi, desain UI/UX responsif, serta komponen asesmen berbasis proyek dirancang secara cermat berdasarkan prinsip learner-centered design (Spector et al., 2014).
Pada tahap Development, berbagai aset digital diproduksi, termasuk video microlearning interaktif melalui Articulate Storyline, modul LMS berbasis Moodle, dashboard progres, fitur refleksi, serta rubrik asesmen proyek. Pendekatan teknologi ini dipilih karena keduanya mendukung konten fleksibel dan interaktif yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran digital modern. Tahap selanjutnya adalah Implementation, di mana purwarupa diuji coba secara terbatas kepada pengguna awal, yaitu guru dan mahasiswa pendidikan sebagai target utama. Dari uji coba tersebut diperoleh umpan balik yang kemudian dianalisis dalam tahap Evaluation menggunakan prinsip evaluasi formatif sebagaimana dijelaskan oleh Spector et al. (2014). Melalui evaluasi tersebut, proyek dapat direvisi dan disempurnakan agar sesuai dengan kebutuhan pengguna dan tujuan pembelajaran yang dirancang. Dengan demikian, metodologi ini memastikan bahwa pengembangan EduConnect dilakukan melalui proses sistematis yang mengintegrasikan pedagogi, teknologi, dan hasil riset pendidikan terkini.
Referensi
Albert, D., Steiner, C. M., & Körber, B. (2021). Bridging Human and Artificial Intelligence: Implications for Education and Learning Design. Springer.
Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (2020). How People Learn: Designing for Learner-Centered Instruction. Springer.
Buchem, I., & Hamelmann, H. (2010). Microlearning: A strategy for ongoing professional development. eLearning Papers, 21, 1–15.
Moller, L., & Huett, J. (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (2014). Handbook of Research on Educational Communications and Technology. Springer.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Harvard University Press.
Siemens, G. (2005). Connectivism: A learning theory for the digital age. International Journal of Instructional Technology and Distance Learning, 2(1), 3–10.
Kohnke, L., & Moorhouse, B. L. (2022). Facilitating microlearning in higher education. Journal of Educational Technology Systems, 51(1), 24–40.
Looi, C.-K., & Teh, L.-W. (2021). Design principles for microlearning. Australasian Journal of Educational Technology, 37(5), 50–66.
Mayer, R. E. (2020). The promise of multimedia learning: Using the same instructional design methods across different media. Learning and Instruction, 68, 101–119.

Tinggalkan Balasan