
MERARI ELSE PRADIPTA
Bagian I : Pendahuluan
- Uraian Produk Proyek
Pengembangan profesional guru di era digital telah menemukan peluang baru melalui evolusi MOOC dan micro-credentials. Micro-credentials menyediakan jalur sertifikasi singkat yang fleksibel, portabel, dan berfokus pada kompetensi bagi profesional pendidikan. Harapan proyek ini adalah memanfaatkan tren tersebut untuk meningkatkan kompetensi guru secara praktis dalam merancang Blended Learning. Namun, kondisi kenyataan menunjukkan adanya tantangan klasik pada MOOC, seperti rendahnya tingkat penyelesaian dan kurangnya praktek terapan di lapangan. Kesenjangan utama adalah perbedaan antara pemahaman teori guru tentang blended learning dan kemampuan nyata dalam menerapkan Rencana Pelajaran Blended (RPB) di kelas. Untuk mengatasi hal ini, program Micro-Credentials; Blended Learning for Teacher dikembangkan. Solusinya menggabungkan micro-credentials (badging) dengan tugas praktikum yang berbasis bukti (evidence-based) dan penilaian terstandar untuk memvalidasi keterampilan serta mendorong penerapan praktik baru.
Bagian II : Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)
2. Hasil Analisis Fokus Proyek
Fokus masalah proyek adalah bagaimana desain micro-credentials berbasis bukti dapat memperkuat kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan blended learning. Landasan desain pembelajaran proyek ini berakar pada tiga pilar pedagogis: competency-based education, job-embedded learning, dan active learning. Desain kursus menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) yang terbukti efektif untuk pengembangan program pendidikan profesional yang terstruktur. Strategi ini memastikan bahwa produk yang dihasilkan—tiga micro-credentials (stackable)—memiliki koherensi fitur teknis dengan landasan teori. Tugas praktik dirancang sebagai work-integrated, di mana guru menerapkan pembelajaran langsung di kelas.
Bagian III : Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)
Produk Micro-Credentials ini bekerja sebagai solusi sistematis melalui kolaborasi konkret antara guru (manusia) dan teknologi. Guru sebagai Instructional Implementer berkolaborasi dengan teknologi (LMS dan H5P) untuk memecah kompleksitas desain Blended Learning.
Peran Teknologi: Moodle menyediakan kerangka kerja yang terstruktur (scaffolding) untuk proses pembelajaran stackable, sementara H5P menyediakan alat untuk menciptakan interaksi tanpa memerlukan keahlian coding intensif dari guru. Peran Manusia (Guru): Guru (peserta) berfokus pada aplikasi praktis dengan membuat artefak (RPB, video demo) dan melakukan peer review. Di jalur MOCC (berbayar), mentor (manusia) menyediakan bimbingan dan verifikasi artefak akhir, menjamin kualitas kompetensi yang teruji. Masalah kompleks penerapan Blended Learning didekomposisi (diurai) menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana (modul) melalui struktur
5. Stackable Pathway.Fundamental (Badge 1: Architect): Menguraikan masalah besar “desain” menjadi tugas yang lebih kecil: pemilihan model dan penyusunan Draft RPB.Implementasi (Badge 2: Manager): Menguraikan masalah “eksekusi” menjadi dua bagian: pengelolaan sesi sinkron dan pembuatan konten interaktif asinkron (menggunakan H5P).
Evaluasi (Badge 3: Assessor): Menguraikan masalah “penilaian dan peningkatan” menjadi komponen: feedback digital, analisis data pre-post, dan re
6. Definisi Peran dan Teknologi
Peran teknologi dalam proyek ini adalah sebagai alat sistematis untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja. Proyek ini sesuai dengan definisi standar Teknologi Pendidikan, yaitu sebagai “studi dan praktik etis memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengelola proses dan sumber daya teknologi yang tepat”. Produk ini (LMS Micro-Credentials) berperan sebagai resource teknologi untuk memfasilitasi pembelajaran competency-based bagi guru, memungkinkan mereka menciptakan artefak RPB yang terintegrasi teknologi, yang pada akhirnya meningkatkan kinerja mereka dalam merancang Blended Learning.
Bagian IV: Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek
7. Aksesibilitas & Konsep Pembelajaran
Aksesibilitas produk difokuskan pada platform Moodle, yang dipilih karena fleksibel dan terjangkau untuk hosting modul. Peserta (n=100 akan mengakses LMS ini untuk mengikuti jalur pembelajaran stackable pathway Konsep pembelajaran yang diterapkan adalah microlearning Guru memulai dengan video instruksional singkat (5-8 menit), yang secara akademis terhubung dengan konsep job-embedded learning karena tugas praktik harus segera diterapkan di kelasAkses diatur melalui jalur MOOC freemium (akses terbuka) dengan opsi upgrade ke MOCC berbayar yang menjanjikan verifikasi artefak oleh mentor dan badge Credly/Badgr.
B. Langkah Proyek
Tutorial pemanfaatan dimulai dengan Badge 1: Blended Learning Architect. Setelah login ke Moodle, peserta masuk ke Modul 1. Mereka menyelesaikan Unit 1 dan 2 (memahami model Blended Learning). Pada Unit 3, peserta menonton video tutorial (WAJIB embed VIDEO TUTORIAL ANDA DI SINI) tentang cara memilih teknologi yang koheren, dengan fokus pada penggunaan H5P di Moodle. Tujuan akhir tutorial ini adalah memandu peserta untuk mengunduh Template RPB dan mengisi bagian-bagiannya dengan integrasi teknologi yang logis, sebelum mengunggahnya ke modul Penugasan sebagai artefak bukti
Bagian V : Penutup
9. Kesimpulan dan Dampak
Kesimpulannya, proyek Micro-Credentials; Blended Learning for Teacher adalah solusi sistematis yang efektif dalam menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik guru. Nilai strategis produk ini terletak pada desain evidence-based badging dan stackable pathway yang memaksa guru untuk menghasilkan artefak kerja nyata. Proyek ini sejalan dengan konsep Unconstrained Learning (Pembelajaran Tanpa Kendala). LMS ini menghilangkan hambatan tradisional dengan menawarkan:
- Aksesibilitas Waktu: Format microlearning membebaskan guru dari jadwal kaku.
- Aksesibilitas Lokasi: Sebagai LMS online, program dapat diakses dari mana saja, kapan saja.
- Kendala Sertifikasi: Sistem micro-credentials yang portable (Credly/Badgr) menghilangkan kendala pengakuan dan validasi keterampilan yang diperoleh, memfasilitasi pengembangan profesional yang lebih mandiri dan terverifikasi di luar batasan institusi tunggal.
Refrensi
- Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
- Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
- Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
- Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
- Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
- Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
- Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
- Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.
Tinggalkan Balasan