OPTIMALISASI PEMAHAMAN KONSEP ABSTRAK PADA MOOC MELALUI VIDEO INTERAKTIF MICROLEARNING

·

·

, ,

Shandy Nugroho
230121603629
Kelas A23

BAGIAN 1: IMPLEMENTASI DAN DISEMINASI HASIL PROYEK

Skenario Implementasi di Lingkungan Belajar

Implementasi proyek video interaktif microlearning ini dilakukan pada tahap akhir pengembangan sebagai uji coba terbatas untuk melihat bagaimana produk bekerja dalam konteks pembelajaran nyata. Pendekatan microlearning berbasis video dipilih karena terbukti efektif dalam meningkatkan fokus dan retensi belajar pada pembelajaran daring berjangka pendek (Mayer, 2005; Jainuri et al., 2025). Uji coba dilaksanakan pada lingkungan pembelajaran daring berbasis LMS yang menyerupai skema MOOC, dengan melibatkan mahasiswa strata satu sebagai pengguna. Pemilihan konteks ini didasarkan pada kesesuaian antara karakteristik produk dan kebutuhan pengguna yang terbiasa belajar secara mandiri melalui media digital.

Pada saat implementasi, pengguna mengakses modul melalui halaman pembelajaran yang telah disiapkan. Alur interaksi dimulai ketika mahasiswa membuka halaman modul dan menekan tombol mulai, yang kemudian menampilkan video pembuka berisi judul modul dan penjelasan singkat tujuan pembelajaran. Setelah itu, mahasiswa diarahkan untuk menonton video materi utama yang dibagi ke dalam beberapa segmen pendek. Pada segmen tertentu, sistem secara otomatis menghentikan video dan menampilkan hotspot atau pertanyaan interaktif yang harus dijawab sebelum video dapat dilanjutkan.

Respons sistem dirancang untuk memberikan umpan balik langsung terhadap setiap input pengguna. Ketika mahasiswa menjawab dengan benar, video akan berlanjut ke segmen berikutnya. Sebaliknya, jika jawaban kurang tepat, sistem menampilkan penjelasan singkat mengenai letak kesalahan dan merekomendasikan pengulangan bagian materi yang relevan. Pola ini menciptakan alur belajar yang bersifat reflektif dan mendorong mahasiswa untuk secara aktif memperbaiki pemahamannya sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya.

Demonstrasi Fungsionalitas Produk

Fungsionalitas utama produk ini terletak pada integrasi antara video microlearning dan interaksi kuis tertanam di dalam video. Desain ini selaras dengan temuan Bishop et al. (2020) dan Liu et al. (2022) yang menegaskan bahwa interaksi langsung dalam media video dapat meningkatkan keterlibatan kognitif peserta didik. Fitur ini menjadi inti proyek karena memungkinkan proses belajar tidak berlangsung secara linear, melainkan diselingi oleh aktivitas kognitif berupa pengujian pemahaman dan refleksi. Dengan demikian, video tidak hanya berfungsi sebagai media penyampai informasi, tetapi juga sebagai sarana evaluasi formatif.

Produk ini juga dirancang agar mudah diakses melalui berbagai perangkat, termasuk laptop dan telepon pintar, tanpa memerlukan instalasi aplikasi tambahan. Integrasi dengan platform berbasis web memungkinkan pengguna mengakses modul kapan saja dan di mana saja. Selain itu, hasil interaksi pengguna dapat direkam oleh sistem dalam bentuk skor kuis dan status penyelesaian modul, sehingga memudahkan pemantauan ketercapaian tujuan pembelajaran.

Dari sisi pemecahan masalah, fitur kuis tertanam dan umpan balik langsung terbukti mampu mengatasi kendala video pembelajaran pasif. Mahasiswa tidak lagi hanya menonton, tetapi dipaksa untuk berhenti, berpikir, dan mengevaluasi pemahamannya. Hal ini secara langsung menjawab masalah rendahnya keterlibatan kognitif yang sering ditemukan pada pembelajaran MOOC berbasis video konvensional.

Analisis Penerimaan Pengguna (User Acceptance)

Penerimaan pengguna terhadap produk ini dianalisis berdasarkan respons dan umpan balik yang diperoleh selama uji coba terbatas. Analisis penerimaan ini mengacu pada kerangka user acceptance dalam pembelajaran digital yang menekankan kemudahan penggunaan dan persepsi manfaat (Alyoussef, 2023). Secara umum, pengguna menyatakan bahwa modul mudah digunakan dan alur pembelajarannya jelas. Beberapa mahasiswa menyampaikan bahwa adanya pertanyaan langsung di tengah video membantu mereka tetap fokus dan menyadari bagian materi yang belum dipahami dengan baik.

Testimoni pengguna menunjukkan indikator keberhasilan pada aspek kemudahan penggunaan dan kejelasan materi. Pengguna menilai bahwa durasi video yang singkat membuat materi lebih mudah dicerna, sementara umpan balik langsung mengurangi kebingungan yang biasanya muncul ketika belajar mandiri. Dari sisi dampak kognitif, mahasiswa merasa lebih percaya diri karena mengetahui secara langsung apakah pemahamannya sudah benar atau masih perlu diperbaiki.

Selain itu, penggunaan video interaktif juga memberikan dampak psikologis positif berupa peningkatan motivasi belajar. Proses belajar terasa lebih terarah dan tidak monoton, sehingga beban kognitif yang biasanya muncul saat menonton video panjang dapat ditekan. Temuan ini mengindikasikan bahwa produk memiliki tingkat penerimaan pengguna yang baik dan relevan dengan kebutuhan pembelajaran daring.

Strategi Diseminasi Profesional

Diseminasi proyek ini dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu kanal visual dan kanal konseptual. Strategi ini sejalan dengan pandangan Januszewski dan Molenda (2008) bahwa artefak teknologi pendidikan perlu dikomunikasikan baik secara praktis maupun konseptual agar dapat dipahami secara utuh oleh komunitas pembelajaran. Kanal visual diwujudkan dalam bentuk video demonstrasi yang menampilkan cara kerja produk, mulai dari tampilan awal hingga mekanisme interaksi di dalam modul. Video ini ditujukan untuk menjangkau praktisi pendidikan dan mahasiswa yang ingin memahami implementasi produk secara cepat dan konkret.

Sementara itu, kanal konseptual diwujudkan melalui penulisan artikel dan laporan akademik yang menjelaskan landasan teoritis, desain pembelajaran, serta refleksi pengembangan produk. Pendekatan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa produk tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga memiliki dasar pedagogis yang kuat. Diseminasi dilakukan sebagai upaya berbagi praktik baik dan membuka ruang umpan balik dari komunitas akademik dan praktisi teknologi pendidikan.

BAGIAN 2: REFLEKSI KRITIS DAN PENGEMBANGAN PROYEK

Tantangan Signifikan dalam Pengembangan

Tantangan utama dalam pengembangan proyek ini terletak pada upaya menerjemahkan konsep teoretis ke dalam bentuk teknis yang dapat diimplementasikan secara realistis. Kesenjangan antara teori pedagogi dan implementasi teknologi merupakan isu umum dalam pengembangan konten digital pendidikan (Hokanson et al., 2018). Prinsip-prinsip pembelajaran seperti mastery learning dan pengelolaan beban kognitif idealnya menuntut sistem yang adaptif dan bercabang. Namun, keterbatasan platform yang digunakan mengharuskan penyesuaian desain agar tetap fungsional tanpa kehilangan esensi pedagogis.

Selain itu, kompleksitas desain juga menjadi tantangan tersendiri. Keinginan untuk menghadirkan interaksi yang kaya harus diimbangi dengan kesederhanaan antarmuka agar pengguna tidak merasa terbebani. Proses ini menuntut pengambilan keputusan yang bersifat kompromistis antara desain ideal dan kemampuan teknis yang tersedia.

Pembelajaran Penting (Key Insights)

Salah satu pembelajaran penting dari proyek ini adalah pemahaman bahwa teknologi berperan sebagai jembatan, bukan solusi tunggal dalam pembelajaran. Perspektif ini konsisten dengan pandangan Spector et al. (2014) yang menekankan bahwa teknologi pendidikan harus mendukung proses belajar, bukan menggantikannya. Efektivitas produk tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan fitur, tetapi oleh keselarasan antara tujuan pembelajaran, desain interaksi, dan kebutuhan pengguna. Teknologi menjadi bermakna ketika digunakan untuk memperkuat proses belajar, bukan sekadar menampilkan inovasi.

Dari perspektif pengguna, proyek ini memberikan wawasan bahwa kesederhanaan sering kali lebih dihargai dibandingkan kompleksitas fitur. Pengguna cenderung lebih nyaman dengan tampilan yang jelas dan alur yang mudah diikuti, meskipun fitur yang disediakan relatif terbatas. Insight ini menjadi pelajaran penting dalam merancang produk pembelajaran digital yang berorientasi pada pengalaman pengguna.

Rencana Pengembangan Diri dan Proyek Lanjutan

Apabila proyek ini dilanjutkan, pengembangan selanjutnya dapat difokuskan pada penambahan fitur asesmen adaptif yang memungkinkan jalur pembelajaran berbeda berdasarkan performa pengguna. Selain itu, integrasi analitik pembelajaran yang lebih mendalam juga dapat dilakukan untuk mendukung pengambilan keputusan instruksional berbasis data.

Dari sisi pengembangan diri, proyek ini mendorong kebutuhan untuk memperdalam kompetensi di bidang desain interaksi dan analisis data pembelajaran. Penguasaan keterampilan teknis yang lebih lanjut, seperti pengembangan konten interaktif lanjutan dan pemanfaatan data pengguna, menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas proyek serupa di masa mendatang.

KESIMPULAN

Sintesis Keberhasilan Proyek

Secara keseluruhan, proyek video interaktif microlearning ini berhasil menjawab permasalahan rendahnya pemahaman konsep abstrak dalam pembelajaran MOOC. Melalui implementasi video berdurasi singkat yang dilengkapi interaksi dan umpan balik langsung, proses belajar menjadi lebih terarah, reflektif, dan bermakna bagi pengguna. Hasil uji coba menunjukkan bahwa produk dapat meningkatkan keterlibatan kognitif dan memberikan pengalaman belajar yang lebih positif.

Penutup

Proyek ini juga menunjukkan bahwa siklus pengembangan konten digital dapat dilaksanakan secara utuh, mulai dari analisis kebutuhan, perancangan, produksi, implementasi, hingga evaluasi dan diseminasi. Dengan demikian, pengembangan video interaktif microlearning tidak hanya menghasilkan produk pembelajaran, tetapi juga menjadi proses pembelajaran reflektif bagi pengembang dalam memahami peran teknologi pendidikan secara lebih mendalam.

Refrensi

Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.

Al Raisia, J., Al Mahfudhi, J., Naidu, V. R., Hasan, R., Jesrani, K., & Al Farei, K. (2020). Role of interactive multimedia to support MOOC for enhanced e-learning in the higher education sector in Oman. Journal of Student Research.

Alyoussef, I. Y. (2023). The impact of massive open online courses (MOOCs) on knowledge management using integrated innovation diffusion theory and the technology acceptance model. Education Sciences, 13(6), 531.

Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.

Conde-Caballero, D., Castillo-Sarmiento, C. A., Ballesteros-Yánez, I., et al. (2024). Microlearning through TikTok in higher education: An evaluation of uses and potentials. Education and Information Technologies, 29, 2365–2385.

Faridah Mohd Shah, M., Bakri, M. Z., & Bakrin, S. (@Suhailie). (2025). The role of microlearning in enhancing learning engagement among Gen Z students. International Journal of Modern Education (IJMOE), 7(25).

Haghegh, M., & Nugroho, A. (2021). Video-based flipped learning in higher education: Effects on students’ learning motivation, attitudes, and engagement. Journal of Educational Management and Instruction (JEMIN), 1(2), 92–101.

Hidayati, D., & Slamet, J. (2025). Interactive multimedia via LMS on a reading comprehension course: Enhancing engagement and learning outcomes in Islamic higher education. Journal of Studies in the English Language, 20(1), 95–122.

Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.

Ilham, M., & Sari, D. D. (2025). Microlearning in higher education: Student challenges and engagement. Asghar: Journal of Children Studies, 5(1), 69–77.

Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.

Jainuri, M., Kamid, K., Syaiful, S., & Huda, N. (2025). Microlearning effectiveness in higher education: A systematic review and meta-analysis of student retention and learning outcomes. Jurnal Mathema: Jurnal Pendidikan Matematika, 7(2).

Liu, Y., Cai, N., Zhang, Z., & Fu, H. (2022). Exploration of micro-video teaching mode of college students using deep learning and human–computer interaction. Frontiers in Psychology, 13, 916021.

Meliana, R., & Seli, F. Y. (2023). Microlearning in social media TikTok video. HORIZON: Indonesian Journal of Multidisciplinary, 1(2), 84–91.

Mayer, R. E. (2005). The Cambridge handbook of multimedia learning. Cambridge University Press.

Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.

Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.

Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.

Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.

Yunianti, N. P., Khaerudin, & Kusumawardani, D. (2023). Microlearning as a digital learning strategy in higher health education: Literature review. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, 22(1).



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *