Nasywa Nur Rahmania
Bagian I: Pendahuluan
Uraian Produk Proyek
Pendidikan di era digital menuntut pergeseran fundamental, dari sekedar transfer pengetahuan faktual menuju penciptaan pengalaman belajar yang mendalam (deep learning). Paradigma teknologi pendidikan harus bergeser ke arah ‘Beyond Content’, di mana fokusnya adalah merancang pengalaman yang mampu mengembangkan kapasitas intelektual pembelajar, bukan sekadar efisiensi penyampaian materi statis (Hokanson et al., 2018). Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pemanfaatan Learning Management System (LMS) sering terjebak pada peran pasif sebagai repositori materi. Kesenjangan ini menciptakan dua masalah utama bagi mahasiswa khususnya mahasiswa tahun pertama dan kedua, yaitu beban kognitif tinggi akibat materi panjang dan rendahnya motivasi serta kemandirian belajar (Self-Regulated Learning / SRL). Kegagalan LMS dalam menyediakan umpan balik visual dan struktur yang memotivasi menuntut sebuah solusi sistematis yang mampu mentransformasi LMS pasif menjadi lingkungan yang mendukung Unconstrained Learning (Moller & Huett, 2012).
Bagian II: Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)
Hasil Analisis Fokus Masalah & Landasan Desain
Produk ini secara spesifik dirancang untuk memfasilitasi Belajar Mandiri (Self-Regulated Learning / SRL) mahasiswa, yang merupakan fokus masalah utama dalam pembelajaran daring pasif. Inti desainnya terletak pada integrasi fitur teknis yaitu Microlearning dan Progress Tracking. Microlearning digunakan sebagai landasan desain untuk mereduksi beban kognitif dengan memecah materi menjadi unit-unit kecil (dengan durasi belajar sekitar 10-15 menit), sejalan dengan prinsip Mastery Learning. Keputusan desain ini merupakan langkah intensional untuk memastikan bahwa setiap intervensi teknologi didasarkan pada prinsip-prinsip riset instruksional yang valid (Bishop et al., 2020). Lebih lanjut, sistem Progress Tracking yang diaktifkan melalui fitur Activity Completion dan Gradebook di dalam LMS Moodle berfungsi sebagai umpan balik visual real-time. Umpan balik yang valid dan tepat waktu ini adalah prasyarat fundamental bagi mahasiswa untuk melatih SRL, karena mereka dapat memantau perkembangan diri secara mandiri (Spector et al., 2014; Tirado-Olivares et al., 2024).
Hasil Analisis Transformasi Teknologi & Koherensi Fitur
Transformasi teknologi dalam proyek ini dicapai melalui koherensi fitur yang dirancang secara pedagogis untuk mendukung SRL. Struktur Microlearning ini menjamin bahwa materi disajikan secara koheren dan bertahap, memaksa mahasiswa menyelesaikan unit secara sekuensial sebelum berpindah ke modul berikutnya. Koherensi ini mentransformasi LMS dari sekadar repositori menjadi sistem yang mampu memandu mahasiswa secara terstruktur. Logika internal Moodle (seperti Activity Completion dan Progress Tracking) adalah wujud dari koherensi fitur yang terhubung secara wajar: jika aktivitas (Microlearning) diselesaikan, maka sistem akan memberikan umpan balik visual (Progress Bar). Transformasi ini berfokus pada prinsip-prinsip pendidikan di mana mekanisme visual dan urutan berjenjang (koherensi) secara intrinsik memotivasi dan memvalidasi kemajuan belajar mahasiswa, bukan hanya efisiensi penyampaian konten.
Bagian III: Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)
Jembatan Antara Pedagogi Manusia dan Otomasi Sistem (Bridging Intelligence)
Konsep inti dari pengembangan ini terletak pada upaya menjembatani intensi pedagogis (Mastery Learning dan Motivasi) dengan kemampuan otomasi Moodle. Integrasi Gamifikasi (poin dan badges) berfungsi sebagai mekanisme pendorong motivasi ekstrinsik. Model interaksi ini merupakan manifestasi konkret dari upaya “Menjembatani Kecerdasan Manusia dan AI” (Albert et al., 2021). Dalam kerangka ini, niat dosen untuk memberi reward atas ketekunan (human intelligence) diterjemahkan menjadi algoritma di Moodle yang secara otomatis memberikan badge saat Activity Completion tercapai 100% (artificial intelligence).
Penerapan Berpikir Komputasional (Computational Thinking) dan Koherensi Fitur
Analisis struktural terhadap aplikasi fitur Moodle mengungkapkan penerapan prinsip Berpikir Komputasional yang kuat (Rich & Hodges, 2017). Kompleksitas manajemen motivasi berhasil didekomposisi menjadi unit-unit logis: Unit Microlearning (Input) – Activity Completion (Proses) – Progress Bar (Umpan Balik) – Gamifikasi Badge (Output). Desain yang memisahkan dan menghubungkan komponen-komponen ini secara sistematis menjamin koherensi fungsional. Logika ini selaras dengan definisi Teknologi Pendidikan yang dikemukakan Januszewski dan Molenda (2008), yang menegaskan bahwa fokusnya adalah studi dan praktik etis yang bertujuan untuk memfasilitasi belajar melalui pengelolaan proses dan sumber daya teknologi secara sistematis, bukan acak.
Definisi dan Peran Teknologi
Peran utama teknologi dalam proyek ini adalah sebagai fasilitator dan manajer proses pembelajaran yang sistematis. Logika desain dan implementasi yang terstruktur ini selaras dengan definisi Teknologi Pendidikan yang dikemukakan Januszewski dan Molenda (2008). Definisi standar tersebut menegaskan bahwa fokusnya adalah studi dan praktik etis yang bertujuan untuk memfasilitasi belajar melalui pengelolaan proses dan sumber daya teknologi secara sistematis, bukan acak. Proyek ini secara eksplisit menegaskan posisinya dalam disiplin ilmu Teknologi Pendidikan dengan mengubah fungsi pasif LMS (repositori) menjadi lingkungan yang aktif mengelola tiga sumber daya utama: Microlearning (konten), Progress Tracking (proses), dan Gamifikasi (motivasi). Dengan demikian, inovasi ini berfungsi sebagai solusi sistematis yang dirancang untuk mendukung ekosistem Unconstrained Learning.
Bagian IV: Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek
Aksesibilitas dan Persiapan (Ubiquitous Learning)
Untuk menjamin kemudahan pemanfaatan dan adopsi yang luas, kursus inovasi ini dikembangkan di LMS Moodle yang dapat diakses langsung melalui peramban standar (web-based). Keputusan desain arsitektur sistem ini selaras dengan visi teknologi masa depan yang dipaparkan oleh Moller, Huett, dan Harvey (2009), yang menekankan pentingnya Ubiquitous Learning. Dengan menyediakan platform yang ubiquitous (dapat diakses di mana saja dan kapan saja), hambatan teknis infrastruktur dapat diminimalisir, sehingga mahasiswa memiliki fleksibilitas penuh untuk belajar tanpa terikat pada satu stasiun kerja tertentu.
Panduan Proyek: Memanfaatkan Fitur Integrasi Moodle
Langkah Proyek 1: Microlearning dan Progress Tracking
Tahap operasional pertama dimulai dari sisi mahasiswa. Mahasiswa mengakses aktivitas microlearning Bahasa Arab yang disusun per unit (misalnya: Kosakata, Kemahiran Menyimak, Kemahiran Membaca, dan Kemahiran Menulis). Setiap unit harus diselesaikan secara berurutan (Mastery Learning). Setelah latihan atau tugas di satu unit diselesaikan, Moodle secara otomatis mencentang kotak Activity Completion dan menambah persentase di Progress Bar mahasiswa. Panduan teknis bagi dosen adalah memastikan semua aktivitas memiliki syarat penyelesaian yang ketat dan Gradebook telah dikonfigurasi untuk menampilkan nilai capaian secara langsung.
Langkah Proyek 2: Pengaktifan Gamifikasi
Langkah teknis berlanjut pada tahap motivasi. Setelah mahasiswa menyelesaikan seluruh aktivitas dalam satu unit (misalnya mencapai Progress 100%), sistem akan memproses data tersebut untuk memicu pemberian Badge (Lencana) atau Poin Pengalaman (XP) secara otomatis. Pemberian reward ini berfungsi vital sebagai pendorong motivasi, mengubah tugas belajar menjadi aktivitas yang lebih menyenangkan dan menantang (Smirani & Yamani, 2022). Hasil akhirnya adalah lingkungan LMS yang memberikan umpan balik reward secara presisi dan objektif, yang meminimalisir masalah kejenuhan dalam pembelajaran daring.
Bagian V: Penutup
Kesimpulan dan Dampak (Unconstrained Learning)
Implementasi integrasi Microlearning, Progress Tracking, dan Gamifikasi di Moodle menawarkan dampak transformatif dengan mengeliminasi batasan struktural dan motivasional yang selama ini menghambat mahasiswa. Beban kognitif terkait materi yang padat direduksi, sementara umpan balik visual meningkatkan kesadaran diri mahasiswa terhadap proses belajarnya. Kondisi ini secara langsung mendukung terciptanya ekosistem Unconstrained Learning sebagaimana digagas oleh Moller dan Huett (2012), di mana hambatan-hambatan prosedural dan motivasional diminimalisir. Dengan demikian, proyek ini berhasil menyediakan model desain instruksional yang membebaskan potensi belajar mahasiswa, menjadikan proses belajar mandiri lebih adaptif, terstruktur, dan sepenuhnya berpusat pada kebutuhan individu.
Referensi
Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
Richey, R. C., Silber, K. H., & Ely, D. P. (2008). Educational technology: A definition with commentary. Association for Educational Communications and Technology.
Smirani, L., & Yamani, H. (2022). Analysing the impact of gamification techniques on enhancing learner engagement, motivation, and knowledge retention: A structural equation modelling approach. Electronic Journal of e-Learning, 20(5), 405–420.
Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.
Tirado-Olivares, S., Cózar-Gutiérrez, R., González-Calero, J. A., & Dorotea, N. (2024). Evaluating the impact of learning management systems in geographical education in primary school: An experimental study on the importance of learning analytics-based feedback. Sustainability, 16(7), 2616.

Tinggalkan Balasan