Sailin Nikhlah
2203416600245
Bagian I: Pendahuluan
Uraian Produk Proyek
Pendidikan sains di era digital menuntut pergeseran fundamental dari sekadar transfer pengetahuan faktual dan hafalan istilah menuju penciptaan pengalaman belajar yang bermakna dan berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi. Sejalan dengan perspektif tersebut, pembelajaran Biologi seharusnya memfasilitasi kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta, bukan lagi didominasi oleh pendekatan konvensional. Pergeseran ini diperkuat oleh temuan yang menekankan bahwa pembelajaran sains harus menjadi wahana untuk mengembangkan keterampilan abad ke-21 melalui pendekatan inkuiri , yang mendorong siswa membangun pengetahuan melalui eksplorasi dan refleksi mandiri. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara kebutuhan siswa akan pembelajaran interaktif dengan ketersediaan media yang relevan. Media yang digunakan seringkali belum berevolusi secara optimal, masih berupa e-book statis atau video ceramah pasif yang kurang memberi ruang bagi siswa untuk melakukan investigasi mandiri. Akibatnya, pembelajaran menjadi tidak kontekstual dan kurang menarik, menyebabkan siswa hanya menghafal definisi tanpa memahami maknanya secara fungsional. Kesenjangan ini, yang diperparah oleh rendahnya literasi sains siswa Indonesia dalam menjelaskan fenomena ilmiah dan merancang penyelidikan , menuntut solusi yang menempatkan konten digital sebagai platform simulasi untuk menjembatani defisit pemahaman konsep abstrak, seperti genetika dan evolusi.
Bagian II: Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)
Hasil Analisis Fokus Proyek
Permasalahan utama proyek ini adalah bagaimana konten digital berbasis inkuiri dan microlearning dapat dirancang secara efektif untuk meningkatkan pemahaman konsep abstrak siswa dalam pembelajaran sains. Pencapaian pemahaman mendalam (deep learning) dalam materi Biologi yang bersifat abstrak menuntut lingkungan belajar yang dirancang secara intensional dengan bantuan teknologi. Hal ini selaras dengan pandangan bahwa efektivitas teknologi tidak ditentukan oleh alatnya semata, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk memperkuat proses berpikir dan membangun pengalaman belajar bermakna. Solusi yang dikembangkan, “BioQuest ID,” dirancang untuk memecah materi Biologi yang kompleks menjadi potongan pembelajaran singkat (bite-sized learning) yang fokus pada satu konsep inti , sejalan dengan tren global yang menempatkan microlearning sebagai strategi efektif untuk meningkatkan retensi belajar. Strategi desain ini bertujuan untuk mengubah paradigma pembelajaran dari hafalan menjadi pemahaman konseptual yang mendalam.
Bagian III: Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)
Analisis “How” – Kolaborasi Manusia & Teknologi
BioQuest ID berfungsi sebagai jembatan kognitif yang memfasilitasi eksplorasi konsep abstrak seperti pewarisan sifat melalui simulasi digital yang ringan namun mendalam. Kolaborasi konkret antara manusia (siswa) dengan produk teknologi ini diwujudkan melalui platform simulasi yang sistematis. Dalam tahap Analysis model ADDIE, kebutuhan belajar siswa dan karakteristik digital native diidentifikasi. Selanjutnya, pada tahap Design, alur inkuiri, storyboard, dan struktur microlearning dirancang untuk memfasilitasi proses bertanya, mengamati, dan menyimpulkan. Produk ini, yang dibuat menggunakan platform Genially, menawarkan fitur interaktif intuitif tanpa memerlukan pengkodean kompleks, mendukung visi teknologi yang memperkuat proses berpikir. Dengan demikian, teknologi tidak menggantikan guru, melainkan menjadi mediator yang mengorkestrasi interaksi aktif siswa dengan konsep, selaras dengan pandangan bahwa teknologi harus dinilai berdasarkan kemampuannya membangun pengalaman belajar yang bermakna
Analisis “How” – Dekomposisi Masalah
Aspek dekomposisi masalah dalam struktur BioQuest ID diimplementasikan melalui pendekatan microlearning dan inkuiri yang sistematis. Materi Biologi yang kompleks (misalnya, Genetika) didekomposisi menjadi potongan-potongan pembelajaran singkat (bite-sized learning). Struktur konten BioQuest ID disusun berdasarkan dekomposisi inkuiri, di mana setiap micro-modul berfokus pada satu konsep inti dan memfasilitasi tahapan inkuiri:
- Bertanya: Memunculkan pertanyaan pemicu berdasarkan studi kasus lokal.
- Mengamati/Eksplorasi: Menyediakan simulasi sederhana dan animasi untuk mengamati fenomena abstrak (misalnya, mekanisme pewarisan sifat).
- Menyimpulkan/Refleksi: Menyajikan kuis reflektif berbasis inkuiri untuk mendorong siswa membangun pengetahuan dan menarik kesimpulan.Dekomposisi ini memastikan bahwa keterbatasan fasilitas fisik laboratorium di sekolah dapat diatasi melalui visualisasi interaktif yang sistematis.
Analisis “How” – Definisi & Peran Teknologi
BioQuest ID dikembangkan sebagai platform konten digital untuk meningkatkan pemahaman konsep abstrak siswa dalam pembelajaran sains. Peran teknologi ini adalah sebagai platform simulasi dan media interaktif yang menjembatani defisit pemahaman konseptual. Dalam disiplin ilmu Teknologi Pendidikan, karya ini mengambil posisi penting. Menurut Januszewski & Molenda (2008), Teknologi Pendidikan adalah studi dan praktik etis untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengelola proses dan sumber daya teknologi yang tepat. BioQuest ID secara spesifik berfokus pada menciptakan, menggunakan, dan mengelola sumber daya teknologi (konten digital berbasis inkuiri dan microlearning) untuk memfasilitasi pembelajaran (Genetika) dan meningkatkan kinerja (pemahaman konsep abstrak dan keterampilan berpikir tingkat tinggi). Dengan demikian, BioQuest ID adalah contoh konkret dari intervensi Teknologi Pendidikan yang sistematis dan bertujuan.
Bagian IV: Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek
Aksesibilitas & Konsep Pembelajaran
BioQuest ID, sebagai produk yang dihasilkan dari fase Development model ADDIE , memanfaatkan platform Genially untuk memastikan aksesibilitas yang tinggi dan kemudahan penggunaan. Sifatnya yang mobile-friendly mendukung konsep pembelajaran yang fleksibel dan dapat diakses oleh digital native di mana saja. Integrasi microlearning memecah kompleksitas materi menjadi unit-unit pembelajaran yang ringan, selaras dengan kebutuhan untuk meningkatkan retensi. Produk ini dirancang sebagai purwarupa yang memuat animasi, simulasi, dan studi kasus lokal , yang secara pedagogis memfasilitasi proses inkuiri dan refleksi mandiri. Akses ke BioQuest ID cukup dilakukan melalui peramban web pada perangkat smartphone atau komputer.
Tutorial Penggunaan BioQuest ID: Microlearning Berbasis Inkuiri
Panduan penggunaan BioQuest ID dirancang untuk memandu siswa melalui alur inkuiri terstruktur:
- Memulai Eksplorasi (Menganalisis Kebutuhan): Siswa mengakses tautan BioQuest ID yang mengarah pada modul Genially. Halaman awal menyajikan studi kasus lokal yang berfungsi sebagai pemicu (stimulus) untuk proses inkuiri, sesuai dengan pentingnya learning design berbasis konteks.
- Mengamati dan Berhipotesis (Design & Development): Siswa memilih sub-topik (misalnya, Hukum Mendel) yang disajikan dalam format microlearning. Setiap sub-topik mengandung simulasi digital interaktif dan animasi sederhana yang memungkinkan siswa “mengamati” proses abstrak (misalnya, persilangan gen) secara visual, mengatasi keterbatasan visualisasi dua dimensi.
- Mengumpulkan Data (Implementasi Strategi): Siswa berinteraksi dengan elemen gamifikasi di dalam platform, di mana umpan balik instan (seperti poin atau feedback korektif) diberikan untuk setiap langkah eksplorasi. Ini adalah fase aktif di mana siswa secara mandiri membangun pengetahuan.
- Menarik Kesimpulan (Evaluation): Setelah menyelesaikan simulasi, siswa dihadapkan pada kuis reflektif berbasis inkuiri. Kuis ini menuntut siswa untuk menganalisis hasil simulasi dan menarik kesimpulan konseptual, bukan sekadar menghafal. Hasil evaluasi ini juga digunakan sebagai refleksi untuk penyempurnaan produk.
Bagian V: Penutup
Kesimpulan & Unconstrained Learning
BioQuest ID mewakili sebuah inisiatif strategis dalam Teknologi Pendidikan, yang berhasil mengorkestrasi microlearning dan inkuiri untuk menjembatani pemahaman konsep abstrak Biologi, khususnya Genetika. Nilai strategis produk terletak pada kemampuannya mentransformasi konten statis menjadi pengalaman visual, interaktif, dan mobile-friendly , sekaligus menumbuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan kesadaran ekologis melalui pemanfaatan teknologi yang kontekstual. Proyek ini secara inheren mendukung konsep Unconstrained Learning (Pembelajaran Tanpa Kendala). Dengan mengatasi keterbatasan fasilitas fisik laboratorium di sekolah dan menyediakan akses konten yang fleksibel dan bite-sized, BioQuest ID secara sistematis menghilangkan hambatan tradisional (seperti keterbatasan waktu, lokasi, dan alat) yang membatasi proses belajar. Ia menciptakan ekosistem pembelajaran yang memungkinkan siswa digital native untuk mengeksplorasi dan merefleksikan konsep ilmiah kapan saja dan di mana saja, menjadikan pembelajaran Biologi yang abstrak menjadi pengalaman yang nyata, fungsional, dan mendalam.
Referensi:
Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (2021). Handbook of Research on Educational Communications and Technology (5th ed.). Springer.
Bower, M., DeWitt, D., & Lai, J. W. M. (2023). Interactive Learning with Digital Tools. ETR&D, 71(2), 345-367.
Cronin, J., & Durham, M. L. (2024). Microlearning: a concept analysis. CIN: Computers, Informatics, Nursing, 42(6), 413-420.
Hakimi, M., Katebzadah, S., & Fazil, A. W. (2024). Comprehensive insights into e-learning in contemporary education: Analyzing trends, challenges, and best practices. Journal of Education and Teaching Learning (JETL), 6(1), 86-105.
Irawati, H., & Hidayati, D. (2024). Transformasi Digital dalam Pembelajaran Biologi di SMA Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 9(1), 332-340.
Jones, B. D. (2021). Motivating and Engaging Students Using Educational Technologies. Handbook of Educational Communications and Technology (5th ed.).
Mailani, E., Rarastika, N., Purba, D. S., Napitupulu, S., & Malau, J. D. A. (2025). Strategi Pengembangan Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam Pembelajaran Matematika SD: Tinjauan Pustaka. Jurnal Pendidikan Sains dan Teknologi Terapan, 2(2), 194-200.
Ningsih, A. W., Hidayatullah, A. F., & Rofi’ah, N. L. (2023). Development of Biology E-Module Based on POGIL in Virus and Bacteria Material to Train HOTS X Graders of Senior High School. Bioeduca: Journal of Biology Education, 5(2), 105-110.
Pamungkas, R., Suwono, H., Susilo, H., Ibrohim, I., Saefi, M., Marlina, R., & Sari, T. M. (2023). Students’ achievement of the 21st century skills in the process of teaching and learning biology among science students. JPBI (Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia), 9(3), 293-300.
Pamungkas, A., Sari, D., & Wulandari, P. (2023). Implementasi Inquiry-Based Learning untuk Meningkatkan HOTS Siswa dalam Pembelajaran Sains. Jurnal Inovasi Pendidikan Sains, 12(1), 45-56.
Pangestu, T. N., & Jamaludin, D. N. (2025). Kajian Literasi: Pendekatan Inkuiri Dalam Pembelajaran Biologi Di Era Revolusi Industri 4.0. BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology), 8(1), 127-133.
Rahmayumita, R., & Hidayati, N. (2023). Kurikulum Merdeka: Tantangan dan implementasinya pada pembelajaran Biologi. Biology and Education Journal, 3(1), 1-9.
Reeves, T. C., & Reeves, P. M. (2015). Educational Technology Research in a VUCA World. Educational Technology, 55(2), 26-30.
Siregar, Z., Zhafira, N., & Riandi, R. (2024). Inovasi Pembelajaran Model Inkuiri Terbimbing Berbasis Teknologi. Biodik Journal, 10(2), 112-122.
Tinggalkan Balasan