Bagian I: Pendahuluan
Paragraf 1 – Analisis Kesenjangan
Pendidikan ideal menuntut pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik, khususnya pada ranah analisis, evaluasi, dan kreasi. Pembelajaran Biologi seharusnya tidak hanya berfokus pada hafalan konsep, tetapi mendorong pemahaman konseptual yang mendalam melalui aktivitas berpikir ilmiah. Paradigma pendidikan masa depan menekankan pembelajaran yang interaktif, kolaboratif, dan bermakna dengan dukungan teknologi digital agar peserta didik mampu mengonstruksi pengetahuan secara aktif (Bishop et al., 2020; Hokanson et al., 2018). Namun, di lapangan, pembelajaran Biologi di kelas XI SMAN 3 Kediri masih didominasi metode ceramah dan penggunaan buku teks, sehingga kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan kognitif tingkat tinggi pada materi Ekosistem belum optimal. Rendahnya pemanfaatan teknologi pembelajaran juga berdampak pada hasil belajar kognitif yang belum mencapai target pembelajaran abad ke-21 (Moller et al., 2009). Kesenjangan inilah yang menjadi dasar pengembangan proyek media E-Learning berbantuan Google Sites berbasis Think Pair Share (TPS).
Bagian II: Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)
Paragraf 2 – Fokus Masalah & Landasan Desain
Fokus utama permasalahan dalam proyek ini adalah rendahnya hasil belajar kognitif siswa akibat pembelajaran yang belum berpusat pada peserta didik dan kurang mendorong aktivitas berpikir tingkat tinggi. Oleh karena itu, desain pembelajaran dalam proyek ini mengintegrasikan model Think Pair Share (TPS) sebagai pendekatan pedagogis yang menekankan proses berpikir individual, diskusi kolaboratif, dan refleksi bersama. Desain media E-Learning disusun untuk memfasilitasi ketiga sintaks TPS melalui E-LKPD digital, latihan soal HOTS, serta aktivitas diskusi daring, sehingga pembelajaran Biologi menjadi lebih bermakna dan berorientasi pada penguasaan ranah kognitif tingkat tinggi sesuai taksonomi Bloom revisi (Spector et al., 2014).
Paragraf 3 – Transformasi Teknologi & Koherensi Fitur
Transformasi teknologi dalam proyek ini diwujudkan melalui pemanfaatan Google Sites sebagai platform E-Learning yang fleksibel dan mudah diakses. Setiap fitur dalam media—mulai dari halaman materi interaktif, E-LKPD berbasis TPS, kuis digital, hingga latihan soal C4–C6—dirancang secara koheren dan saling terhubung untuk mendukung alur pembelajaran yang logis. Koherensi ini mencerminkan prinsip bahwa teknologi pendidikan tidak sekadar menyajikan konten, tetapi memperkuat proses belajar melalui struktur pembelajaran yang terencana dan berorientasi pada aktivitas kognitif peserta didik (Hokanson et al., 2018; Bishop et al., 2020).
Bagian III: Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)
Paragraf 4 – Analisis “How”: Kolaborasi Manusia & Teknologi
Secara teknopedagogis, media E-Learning berbantuan Google Sites berfungsi sebagai sarana kolaborasi konkret antara manusia dan teknologi. Peserta didik berperan aktif dalam mengolah informasi, berdiskusi, dan merefleksikan pemahaman, sementara teknologi berfungsi sebagai fasilitator yang mengatur alur belajar dan menyediakan sumber belajar digital. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan kolaborasi antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan dalam mendukung proses berpikir tingkat tinggi dan pengambilan keputusan peserta didik (Albert et al., 2021).
Paragraf 5 – Analisis “How”: Dekomposisi Masalah
Dari sisi dekomposisi masalah, struktur Google Sites dirancang dengan membagi sistem pembelajaran menjadi komponen-komponen sederhana, seperti halaman materi, aktivitas Think, Pair, dan Share, serta evaluasi formatif. Setiap komponen memiliki fungsi spesifik yang saling melengkapi, sehingga kompleksitas pembelajaran Biologi dapat dikelola secara sistematis. Pendekatan ini mendukung pengembangan keterampilan berpikir komputasional dan pemecahan masalah peserta didik melalui pembelajaran yang terstruktur dan bertahap (Rich & Hodges, 2017).
Paragraf 6 – Analisis “How”: Definisi & Peran Teknologi
Dalam perspektif disiplin Teknologi Pendidikan, media yang dikembangkan ini memenuhi definisi standar teknologi pendidikan sebagai studi dan praktik etis dalam memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan proses serta sumber belajar yang tepat (Januszewski & Molenda, 2008). Google Sites dalam proyek ini berperan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana strategis untuk menciptakan pembelajaran yang efektif, efisien, dan bermakna sesuai karakteristik peserta didik dan tuntutan pembelajaran abad ke-21.
Bagian IV: Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek
Paragraf 7 – Aksesibilitas & Konsep Pembelajaran
Media E-Learning ini dapat diakses melalui perangkat smartphone maupun laptop yang terhubung dengan internet sekolah. Peserta didik mengakses Google Sites untuk mempelajari materi Ekosistem secara mandiri, mengerjakan E-LKPD digital berbasis TPS, serta mengikuti kuis formatif. Aksesibilitas ini mendukung pembelajaran fleksibel dan mandiri, selaras dengan prinsip pembelajaran digital dan pembelajaran jarak jauh yang tidak terikat ruang dan waktu (Moller & Huett, 2012).
Paragraf 8 – Tutorial & Video
Panduan penggunaan media disajikan secara bertahap, mulai dari navigasi halaman utama, pemanfaatan materi interaktif, pengisian E-LKPD TPS, hingga pelaksanaan diskusi dan evaluasi kognitif. Untuk memperjelas penggunaan produk, disediakan video tutorial yang disematkan (embed) dari YouTube dengan presenter menampilkan wajah pengembang sebagai bentuk autentikasi dan personalisasi pembelajaran.
Bagian V: Penutup
Paragraf 9 – Kesimpulan & Unconstrained Learning
Pengembangan media E-Learning berbantuan Google Sites berbasis Think Pair Share (TPS) merupakan solusi strategis untuk menjembatani kesenjangan antara pembelajaran ideal dan praktik konvensional di kelas. Produk ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar kognitif siswa, tetapi juga mendukung paradigma Unconstrained Learning, yaitu pembelajaran tanpa batas yang menghilangkan hambatan ruang, waktu, dan metode dalam proses belajar. Dengan demikian, media ini relevan untuk diterapkan dalam konteks pendidikan digital masa kini dan masa depan (Moller & Huett, 2012).
Daftar putaka
Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence.
Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.
Springer.Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
Tinggalkan Balasan