Pengembangan E-Modul Flipbook Sistem Pernapasan Berbasis PBL untuk Siswa Kelas V SD

·

·

Kamila Safira

230151607683

TEPPGSD

Bagian I: Pendahuluan

Pendidikan era digital menuntut pergeseran paradigma dari sekadar transfer pengetahuan menjadi penciptaan pengalaman belajar yang mendalam (deep learning). Harapan utama dalam proyek ini adalah membekali siswa Kelas V SD dengan kemampuan berpikir kognitif tinggi, khususnya Berpikir Kritis (CT), yang selaras dengan visi teknologi pembelajaran abad ke-21. Namun, kondisi kenyataan di lapangan menunjukkan kesenjangan yang lebar; siswa usia SD (tahap operasional konkret) seringkali mengalami kebuntuan kognitif saat dihadapkan pada materi IPA yang bersifat abstrak, seperti sistem pernapasan atau siklus air, karena keterbatasan media visual yang memadai. Kesenjangan ini semakin diperburuk oleh pendekatan instruksional yang masih bersifat manual dan berfokus pada konten statis. Untuk mengatasi hal tersebut, proyek ini mengintegrasikan E-Modul Multimedia Interaktif (E-MMI) berbasis Problem-Based Learning (PBL) sebagai solusi sistematis untuk memfasilitasi transisi kognitif siswa dari pemikiran konkret ke pemahaman konsep abstrak yang kompleks.

Bagian II: Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)

Fokus masalah dalam proyek ini berpusat pada bagaimana teknologi dapat dirancang untuk meminimalkan beban kognitif siswa dalam memahami fenomena yang tidak terlihat secara kasat mata. Landasan desain E-MMI-PBL Kritis berakar pada teori konstruktivisme, di mana fitur multimedia interaktif (video dan animasi 2D) berfungsi sebagai alat pengkonkretan (concretization tool). Secara pedagogis, hubungan antara fitur teknis “Animasi Interaktif” dengan landasan teori desain pembelajaran adalah sebagai penyedia scaffolding visual yang kuat. Dengan adanya visualisasi proses internal (misalnya pertukaran gas di alveolus), beban kognitif intrinsik siswa untuk berimajinasi dikurangi, sehingga energi mental mereka dapat dialihkan sepenuhnya untuk melakukan analisis dan evaluasi bukti dalam kerangka berpikir kritis.

Transformasi teknologi dalam proyek ini tidak hanya sekadar mendigitalisasi buku teks, melainkan mengadopsi prinsip Educational Technology Beyond Content. Logika yang membuat fitur dalam E-MMI terhubung adalah integrasi sistematis antara konten IPA dengan fase inkuiri PBL. Fitur “Skenario Masalah Ill-structured” di awal modul tidak berdiri sendiri, melainkan koheren dengan fitur “Navigasi Berbasis Fase” yang memandu siswa melakukan penyelidikan mandiri. Transformasi ini menggeser fokus belajar dari “menghafal fakta” menjadi “memecahkan masalah menggunakan bukti visual”, yang merupakan esensi dari literasi teknologi di masa depan.

Bagian III: Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)

Alat ini bekerja sebagai solusi sistematis melalui kolaborasi konkret antara kecerdasan manusia (Human Intelligence) dan sumber daya digital. Dalam struktur E-MMI, teknologi berperan sebagai sistem pengelola informasi dan representasi data ilmiah, sementara manusia (siswa) berperan sebagai agen yang melakukan penalaran, interpretasi, dan pengambilan keputusan kritis. Kolaborasi ini menciptakan lingkungan di mana teknologi bertindak sebagai mitra kognitif yang memfasilitasi inkuiri, bukan sekadar penyampai pesan searah.

E-MMI menerapkan aspek dekomposisi masalah—komponen kunci dalam Computational Thinking (CT)—dengan menguraikan tantangan belajar materi abstrak yang kompleks menjadi bagian-bagian mikro yang terkelola. Struktur aplikasi ini membagi proses belajar menjadi lima fase PBL yang terukur: Orientasi (identifikasi masalah), Penyelidikan (pengumpulan bukti visual), Analisis, Pengembangan Solusi, dan Evaluasi. Melalui dekomposisi ini, siswa dilatih untuk memecah masalah besar (misalnya dampak polusi udara) menjadi sub-masalah yang dapat diselesaikan melalui interaksi dengan elemen multimedia spesifik dalam modul.

Penerapan E-MMI-PBL Kritis secara eksplisit menempatkan dirinya dalam disiplin ilmu Teknologi Pendidikan. Sesuai dengan definisi standar AECT, teknologi pendidikan adalah “studi dan praktik etis untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengelola proses dan sumber daya teknologi yang sesuai”. Proyek ini memenuhi definisi tersebut dengan menggunakan platform coding-free yang appropriate (sesuai) bagi ekosistem SD, serta melalui praktik etis pengembangan yang sistematis (model ADDIE) guna memastikan produk yang dihasilkan benar-benar meningkatkan kinerja kognitif siswa.

Bagian IV: Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek

E-MMI-PBL Kritis dirancang dengan sifat aksesibilitas yang luas, didistribusikan melalui format HTML5 Flipbook yang dapat diakses melalui tautan web di perangkat apapun (laptop/smartphone). Sifat produk yang portabel ini mendukung konsep Ubiquitous Learning (pembelajaran di mana saja dan kapan saja) dan menyediakan berbagai representasi informasi sesuai prinsip Universal Design for Learning (UDL). Hal ini memberikan otonomi belajar kepada siswa, memungkinkan mereka untuk memonitor kemajuan belajarnya secara mandiri (self-regulated learning). Untuk menggunakan E-MMI-PBL, ikuti langkah-langkah berikut: Selesaikan kuis interaktif di bagian akhir untuk mendapatkan umpan balik insta, Klik tautan modul yang diberikan untuk masuk ke antarmuka Flipbook, Di halaman awal (Fase Orientasi), baca skenario masalah autentik IPA, Gunakan fitur navigasi untuk beralih ke halaman multimedia; klik hotspot atau tombol animasi untuk mengamati proses abstrak dan mengumpulkan bukti visual, Isi lembar kerja digital (LKPD) yang tersemat untuk merumuskan solusi berbasis data.

Bagian V: Penutup

E-MMI-PBL Kritis merupakan nilai strategis yang menggabungkan kekuatan visualisasi multimedia dengan pedagogi inkuiri yang sistematis untuk menghasilkan peningkatan keterampilan berpikir kritis yang terukur. Keberhasilan produk ini mencerminkan paradigma Unconstrained Learning (Pembelajaran Tanpa Kendala), yang bertujuan menghilangkan hambatan tradisional seperti keterbatasan sarana fisik dan abstraksi materi kognitif yang membatasi akses belajar siswa SD. Dengan menghilangkan batasan ruang, waktu, dan kognisi, proyek ini menjadi bukti nyata bagaimana Teknologi Pendidikan mampu menciptakan ekosistem belajar yang mandiri, inklusif, dan relevan dengan tantangan masa depan.

Referensi

  • Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
  • Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
  • Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
  • Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
  • Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
  • Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
  • Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
  • Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *