Pengembangan ECO-LAB Problem Solver Interaktif Berbasis Google Sites dengan model Problem Based Learning

·

·

Bagian I: Pendahuluan

Paragraf 1: Analisis Kesenjangan Kondisi ideal pendidikan di era digital menuntut pergeseran paradigma dari transfer informasi yang bersifat pasif menuju penciptaan lingkungan belajar yang mampu mendorong konstruksi pengetahuan yang bermakna (konstruktivisme). Secara spesifik, dalam mata pelajaran Biologi, peserta didik dituntut mampu mengaplikasikan konsep kompleks, seperti materi Perubahan Lingkungan, ke dalam isu-isu nyata dan merumuskan solusi berbasis sains. Sejalan dengan perspektif tersebut, teknologi pendidikan harus melampaui konten statis (beyond content) dan lebih berfokus pada pengembangan kapasitas intelektual peserta didik, khususnya keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis dan pemecahan masalah (4C Skills). Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya jurang pemisah yang signifikan (gap) antara tuntutan penguasaan keterampilan pemecahan masalah (HOTS) dengan praktik pembelajaran. Kesenjangan ini salah satunya disebabkan oleh media digital konvensional yang masih mengadopsi model transfer informasi satu arah, sehingga gagal memicu keterlibatan aktif dan menghambat pengembangan HOTS. Selain itu, penggunaan metode atau media presentasi statis seringkali gagal memvisualisasikan kompleksitas fenomena lingkungan, menjadikan materi terasa abstrak dan minim konteks nyata.

Bagian II: Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)

Paragraf 2: Fokus Masalah & Landasan Desain Fokus masalah dalam proyek ini adalah mengatasi keterbatasan media digital konvensional dan materi abstrak pada pembelajaran Biologi dengan mengembangkan purwarupa website pembelajaran interaktif “Eco-Lab: Problem Solver”. Solusi ini didasarkan pada landasan teori desain pembelajaran yang intensional, di mana struktur navigasi website dirancang untuk secara penuh mengintegrasikan strategi pedagogis Problem Based Learning (PBL). Desain instruksional yang canggih ini bertujuan untuk memfasilitasi penyelidikan mandiri (self-directed) oleh peserta didik. Integrasi sintaks PBL ke dalam struktur visual dan alur navigasi aplikasi memastikan setiap fitur teknis, seperti LKPD kolaboratif (Google Docs) dan kuis evaluasi (Google Forms), berfungsi untuk mendukung tahapan PBL secara sistematis. Penggunaan Google Sites sebagai platform, yang memiliki keunggulan dalam integrasi ekosistem Google Workspace, adalah sebuah keputusan desain yang koheren untuk menciptakan lingkungan belajar yang interaktif dan kolaboratif , selaras dengan prinsip-prinsip desain instruksional yang menekankan pada lingkungan pembelajaran yang berdaya guna.

Paragraf 3: Transformasi Teknologi & Koherensi Fitur Proyek ini merepresentasikan transformasi teknologi dengan mengubah fungsi media digital dari sekadar repositori materi menjadi laboratorium ekologi digital (Eco-Lab). Transformasi ini diwujudkan melalui koherensi fitur: website berbasis Google Sites dipilih karena aksesibilitasnya yang tinggi (dapat diakses kapan saja dan di mana saja) dan kemampuannya untuk mengintegrasikan konten multimodal. Integrasi ini sangat penting untuk mendukung tahapan PBL, di mana video YouTube berfungsi sebagai stimulus kasus nyata pada tahap Orientasi Masalah, Google Docs memfasilitasi kolaborasi pada tahap Organisasi Belajar, dan konten interaktif memicu Penyelidikan Mandiri. Koherensi fitur ini memiliki landasan teoritis dalam mendorong pengembangan kapasitas intelektual peserta didik, khususnya untuk mencapai 4C Skills. Dengan menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan eksplorasi mandiri dan kolaboratif, purwarupa ini secara akademis terhubung dengan visi teknologi instruksional abad ke-21 yang mengutamakan pengembangan keterampilan.

Bagian III: Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)

Paragraf 4: Analisis “How” – Kolaborasi Manusia & Teknologi Eco-Lab: Problem Solver bekerja sebagai solusi yang sistematis melalui kolaborasi konkret antara manusia (peserta didik) dengan produk teknologi. Alih-alih menggantikan peran guru, teknologi ini berperan sebagai resource yang mendorong siswa untuk membangun pemahaman mereka sendiri melalui interaksi aktif dengan konten (konstruktivisme). Dalam konteks ini, Google Sites berfungsi sebagai antarmuka yang mengelola alur belajar mandiri (self-directed learning), memungkinkan peserta didik memegang kendali atas kecepatan dan kedalaman eksplorasi mereka, serta memfasilitasi penyelidikan mandiri. Ini adalah bentuk kolaborasi yang menggarisbawahi bagaimana alat digital dapat mengaugmentasi kemampuan intelektual manusia, menyediakan struktur dan sumber daya yang esensial untuk memecahkan masalah kontekstual pada materi Biologi.

Paragraf 5: Analisis “How” – Dekomposisi Masalah Materi Perubahan Lingkungan seringkali terasa kompleks, sehingga Eco-Lab dirancang untuk bekerja secara sistematis melalui aspek dekomposisi masalah. Struktur navigasi website yang secara langsung merepresentasikan sintaks PBL berfungsi sebagai kerangka dekomposisi. Masalah besar (masalah pemicu di awal modul) diuraikan menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana melalui empat tahap utama: 1) Orientasi Masalah (melihat kasus nyata), 2) Organisasi Belajar (membentuk kelompok dan merencanakan investigasi), 3) Penyelidikan Mandiri (mengumpulkan data dan eksplorasi konten multimodal), hingga 4) Perumusan Solusi (menyimpulkan dan berpikir kritis). Proses penguraian masalah ini memandu peserta didik secara terstruktur untuk mengelola informasi yang kompleks, sebuah pendekatan yang sejalan dengan prinsip berpikir komputasional (computational thinking) dalam merestrukturisasi masalah pembelajaran.

Paragraf 6: Analisis “How” – Definisi & Peran Teknologi Peran teknologi dalam proyek ini adalah mentransformasi media digital dari sekadar tempat penyimpanan materi menjadi lingkungan yang aktif. Eco-Lab ini menegaskan posisinya dalam disiplin ilmu Teknologi Pendidikan, yang didefinisikan sebagai “studi dan praktik etis dalam memfasilitasi belajar dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengelola proses dan sumber daya teknologi yang tepat”. Sebagai purwarupa, Eco-Lab adalah bentuk aplikasi dari definisi ini, di mana Google Sites digunakan secara etis dan tepat guna untuk menciptakan lingkungan PBL yang terstruktur, menggunakan ekosistem Google Workspace untuk interaksi, dan mengelola alur belajar yang mendukung kemandirian siswa. Dengan demikian, purwarupa ini bukan hanya alat, tetapi sebuah proses sistematis untuk memecahkan masalah pendidikan yang nyata.

Bagian IV: Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek

Paragraf 7: Aksesibilitas & Konsep Pembelajaran Purwarupa Eco-Lab: Problem Solver dapat diakses secara publik dan mudah. Sebagai produk berbasis Google Sites, ia menawarkan aksesibilitas tinggi (dapat diakses kapan saja dan di mana saja) tanpa perlu instalasi aplikasi tambahan. Pembelajar dapat mengaksesnya melalui tautan resmi yang telah dipublikasikan: https://sites.google.com/students.um.ac.id/ecolab?usp=sharing. Sifat produk yang web-based dan user-friendly ini secara langsung menghubungkan dengan konsep pembelajaran generasi baru, salah satunya adalah unconstrained learning (pembelajaran tanpa kendala) , di mana hambatan ruang dan waktu dihilangkan untuk memungkinkan penyelidikan mandiri yang fleksibel.

Paragraf 8: Tutorial & Video

Bagian V: Penutup

Paragraf 9: Kesimpulan & Unconstrained Learning

Eco-Lab: Problem Solver adalah purwarupa media pembelajaran interaktif yang bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara tuntutan keterampilan pemecahan masalah (HOTS) dengan realitas pembelajaran materi Perubahan Lingkungan yang masih konvensional. Nilai strategis produk ini terletak pada integrasi sistematis antara teknologi Google Sites dengan model pedagogis PBL dan pendekatan Konstruktivisme. Keberhasilan pengembangan ini menciptakan lingkungan belajar yang terstruktur, informatif, dan mudah diakses. Lebih lanjut, platform berbasis website yang memanfaatkan ekosistem digital ini secara fundamental mendukung konsep Unconstrained Learning (Pembelajaran Tanpa Kendala). Dengan menghilangkan hambatan akses tradisional (unconstrained learning), Eco-Lab memfasilitasi pembelajaran jarak jauh dan digital yang memungkinkan peserta didik melakukan penyelidikan mandiri tanpa batas ruang dan waktu. Purwarupa ini menjadi dasar yang kuat untuk pengujian efektivitas lebih lanjut, memastikan bahwa pendidikan di era digital benar-benar bergeser menuju penciptaan pengetahuan yang aktif dan mandiri.

Referensi

Aisyah, S., Fatonah, U., Nuri, S., Munawarah, S., & Niarti, D. (2025). Efektivitas Model Pembelajaran Problem-Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Kompetensi Peserta Didik Kelas V terhadap Materi Organ Pernapasan Manusia pada Pembelajaran IPAS. JURNAL KOMPETENSI GURU INDONESIA, 1, 76–85.

Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.

Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.

Branch, R. M. (2009). Instructional Design: The ADDIE Approach. USA: University of Georgia.

Cahyaningsih, A., Aulia, H., Ramadhani, L., Alwi, N. A., & Padang, U. N. (2025). Transformasi Kurikulum dalam Menghadapi Tantangan Pendidikan Abad.

Darwati, I. M., & Purana, I. M. (2020). Problem Base Learning (PBL) : Suatu Model Untuk Mengembangkan Cara Berpikir Kritis Peserta Didik. Widya Accarya: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra, 11(1), 24–33.

Effendi, M., Elmunsyah, H., & Widiyati. (2024). Peran Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) terhadap Ketercapaian 4C Skills (Critical Thinking, Creative Thinking, Collaboration, and Communication) Siswa SMK. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(001), 435–444.

Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.

Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.

Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.

Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.

Muhartini, Amril Mansur, & Abu Bakar. (2023). PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING. Lencana: Jurnal Inovasi Ilmu Pendidikan, 1(1), 66–77.

Nafis, H., Ms, T. K., Sa, S., & Asmaret, D. (2025). Transformasi Metode / Teknik Mengajar Era Digital.

Napitu, F. R., Fitri, I. N., Limbong, J., Sulistiani, N. R., Korespondensi, P., & Sites, G. (2023). Pemanfaatan google sites sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran ipa di kelas iii sekolah dasar. Jurnal Siliwangi: Seri Pendidikan, 9(1), 2–7.

Nerita, S., Ananda, A., & Mukhaiyar. (2023). Pemikiran Konstruktivisme dan Implementasinya dalam Pembelajaran. Jurnal Education and Development, 11(2), 292–297.

Pratami, R. (2024). Pendekatan Konstruktivisme dalam Kebijakan Pembelajaran Berbasis Proyek: Transformasi Pendidikan Menuju Kreativitas dan Kolaborasi Constructivism Approach in Project-based Learning Policy: Transforming Education Toward Creativity and Collaboration. JEJARING ADMINISTRASI PUBLIK, 16(c), 76–87.

Rajagukguk, H. O., & Mayasari, L. I. (2025). Massive Open Online Courses (MOOC) dalam Proses Digitalisasi Pembelajaran di Perguruan Tinggi.

Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.

Sarbani, Y. A., Mulyati, H., & Astuti, S. I. (2024). Literasi Digital, Lansia, dan Konstruktivisme. Scriptura, 14(1), 72–81.

Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.

Syah, Y. A., & Hidayatullah, R. S. (2024). Pengembangan media pembelajaran interaktif google sites untuk meningkatkan hasil belajar siswa smk. JVTE: Journal of Vocational and Technical Education, 6, 56–65.

Walangitan, M. N., Sumampouw, H. M., Tengker, A. C., Jl, A., Unima, K., Selatan, K. T., Minahasa, K., & Utara, S. (2025). Peningkatan Hasil Belajar Biologi melalui Pendekatan Kontekstual Berbantuan PowerPoint Interaktif: Studi pada Materi Sistem Pernapasan Manusia and Learning (CTL). Pentagon: Jurnal Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, 3(3), 13–26.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *