Pengembangan Fitur Simulasi Peer-Review Tugas Menggunakan Padlet Untuk Meningkatkan Sense Of Community Mahasiswa Dalam Pembelajaran Daring.

·

·

, ,

Bagian I: Pendahuluan

Uraian Produk Proyek

Pembelajaran daring di perguruan tinggi pada dasarnya diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang kolaboratif, partisipatif, dan membangun sense of community mahasiswa. Harapan ini sejalan dengan pandangan bahwa pembelajaran daring yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh akses terhadap materi, tetapi juga oleh kualitas interaksi sosial dan akademik yang terbangun di dalamnya. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup signifikan antara harapan tersebut dengan praktik pembelajaran daring yang berlangsung. Banyak perkuliahan daring masih didominasi oleh aktivitas satu arah, seperti unggah materi dan pengumpulan tugas, sementara ruang untuk dialog, umpan balik sejawat, dan interaksi bermakna antarmahasiswa masih sangat terbatas. Kondisi ini berpotensi melemahkan keterlibatan mahasiswa dan menurunkan rasa memiliki terhadap komunitas belajar.

Kesenjangan tersebut semakin terasa ketika aktivitas evaluasi pembelajaran masih terpusat pada dosen, tanpa melibatkan mahasiswa secara aktif dalam proses refleksi dan penilaian. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa sense of community dalam pembelajaran daring berperan penting dalam meningkatkan motivasi dan keberlanjutan partisipasi mahasiswa (Rovai, 2002). Selain itu, kerangka Community of Inquiry menegaskan bahwa kehadiran sosial (social presence) perlu dirancang secara sadar melalui aktivitas kolaboratif yang memungkinkan mahasiswa saling berinteraksi dan membangun makna bersama (Garrison, Anderson, & Archer, 2000). Sayangnya, dalam praktiknya, banyak dosen masih menghadapi keterbatasan dalam merancang aktivitas kolaboratif yang mudah diimplementasikan dan didukung oleh teknologi yang ramah pengguna. Kesenjangan inilah yang menunjukkan perlunya sebuah solusi pembelajaran digital yang tidak hanya memanfaatkan teknologi sebagai media penyampaian, tetapi juga sebagai sarana untuk memfasilitasi interaksi sejawat yang terstruktur dan bermakna.

Bagian II: Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)

Hasil Analisis Fokus Proyek

Proyek ini dirancang untuk mengatasi permasalahan rendahnya keterlibatan sosial dan akademik mahasiswa dalam pembelajaran daring dengan memanfaatkan strategi pembelajaran kolaboratif berbasis peer-review. Fokus pedagogis utama dari pengembangan simulasi peer-review menggunakan Padlet adalah mendorong mahasiswa berperan aktif sebagai pemberi dan penerima umpan balik, sehingga proses belajar tidak berhenti pada penyelesaian tugas individual semata. Pendekatan ini selaras dengan perspektif konstruktivisme sosial yang menekankan bahwa pembelajaran bermakna terbentuk melalui interaksi dan dialog antar individu. Dalam konteks pembelajaran daring, aktivitas peer-review menjadi sarana penting untuk menghadirkan social presence, yaitu rasa kehadiran sosial yang memungkinkan mahasiswa merasa terhubung satu sama lain dalam komunitas belajar. Garrison, Anderson, dan Archer (2000) menegaskan bahwa social presence merupakan elemen krusial dalam menciptakan pembelajaran daring yang efektif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, penggunaan Padlet sebagai ruang kolaboratif diposisikan bukan sekadar sebagai media berbagi tugas, melainkan sebagai lingkungan belajar sosial yang dirancang secara sadar untuk membangun interaksi dan rasa kebersamaan akademik.

Hasil Analisis Transformasi Asesmen yang Valid

Simulasi peer-review dalam proyek ini juga berfungsi sebagai bentuk transformasi asesmen dari penilaian yang bersifat satu arah menjadi asesmen formatif yang partisipatif dan reflektif. Mahasiswa tidak hanya dinilai oleh dosen, tetapi juga dilibatkan dalam proses penilaian melalui pemberian umpan balik terhadap karya teman sejawat dengan menggunakan kriteria atau rubrik sederhana. Transformasi ini penting karena asesmen yang terintegrasi dengan aktivitas belajar terbukti mampu meningkatkan pemahaman konseptual dan kesadaran metakognitif mahasiswa. Topping (1998) menyatakan bahwa peer-assessment yang dirancang dengan kriteria yang jelas dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, sekaligus menumbuhkan tanggung jawab akademik dan kemampuan evaluatif peserta didik. Dengan demikian, fitur komentar dan umpan balik pada Padlet diposisikan sebagai instrumen pedagogis yang mendukung validitas asesmen, bukan sekadar fitur teknis. Asesmen dalam proyek ini tidak lagi berfungsi sebagai alat pengukuran hasil akhir semata, tetapi sebagai bagian integral dari proses pembelajaran kolaboratif yang mendorong refleksi, perbaikan, dan pembentukan komunitas belajar yang aktif.

Bagian III: Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)

Kolaborasi Mahasiswa dan Teknologi dalam Simulasi Peer-Review

Dari perspektif tekno-pedagogi, simulasi peer-review berbasis Padlet bekerja sebagai solusi sistematis melalui kolaborasi konkret antara aktivitas manusia dan dukungan teknologi digital. Dalam desain ini, mahasiswa berperan aktif sebagai agen pembelajaran yang menghasilkan, menilai, dan merefleksikan karya akademik, sementara Padlet berfungsi sebagai medium yang memfasilitasi interaksi tersebut secara terstruktur dan terdokumentasi. Teknologi tidak mengambil alih proses berpikir mahasiswa, melainkan menyediakan ruang dan mekanisme yang memungkinkan interaksi akademik terjadi secara berkelanjutan dalam lingkungan daring. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa efektivitas teknologi pendidikan terletak pada kemampuannya memperkuat praktik pedagogis, bukan menggantikannya. Melalui fitur unggah tugas, kolom diskusi, dan komentar, Padlet menjadi perpanjangan dari aktivitas sosial-kognitif mahasiswa yang sebelumnya sulit terwujud secara optimal dalam pembelajaran daring asinkron.

Dekomposisi Masalah dalam Desain Simulasi Peer-Review

Secara sistematis, Padlet mendukung penyelesaian masalah pembelajaran daring melalui proses dekomposisi masalah yang jelas dan terkelola. Permasalahan kompleks berupa rendahnya interaksi, keterbatasan umpan balik, dan lemahnya rasa kebersamaan akademik diurai menjadi aktivitas-aktivitas pembelajaran yang lebih sederhana dan terstruktur. Proses ini diwujudkan melalui pemisahan tahapan kerja, seperti unggah tugas individu, pemberian umpan balik sejawat berdasarkan panduan, serta refleksi terhadap masukan yang diterima. Setiap tahapan difasilitasi oleh fitur spesifik Padlet, sehingga mahasiswa dapat memahami peran dan tugasnya secara jelas tanpa kebingungan alur. Dengan demikian, teknologi berfungsi sebagai kerangka kerja yang membantu mengorganisasi aktivitas belajar kolaboratif secara logis, memungkinkan mahasiswa fokus pada kualitas interaksi dan refleksi akademik, bukan pada kompleksitas teknis pelaksanaan tugas.

Definisi dan Peran Padlet dalam Perspektif Teknologi Pendidikan

Dalam disiplin Teknologi Pendidikan, proyek ini menegaskan bahwa Padlet tidak diposisikan sekadar sebagai alat bantu digital, melainkan sebagai sistem yang dirancang untuk memfasilitasi belajar dan meningkatkan kinerja pembelajaran. Hal ini selaras dengan definisi Teknologi Pendidikan yang dikemukakan oleh Januszewski dan Molenda (2008), yang menyatakan bahwa teknologi pendidikan merupakan studi dan praktik etis dalam memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan proses serta sumber daya teknologi yang tepat. Melalui perancangan simulasi peer-review, Padlet berperan sebagai sarana yang diciptakan dan dikelola secara pedagogis untuk mendukung interaksi sosial, asesmen formatif, dan refleksi belajar. Dengan demikian, karya ini menegaskan posisinya sebagai implementasi nyata prinsip Teknologi Pendidikan, dimana teknologi di orkestrasi secara sadar untuk mendukung tujuan pedagogis dan membangun komunitas belajar yang bermakna dalam konteks pembelajaran daring.

Bagian IV: Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek

Aksesibilitas dan Konsep Pembelajaran

Produk proyek ini dikembangkan dengan memanfaatkan Padlet sebagai platform kolaboratif berbasis web yang dapat diakses secara luas melalui peramban standar pada berbagai perangkat, seperti laptop, tablet, maupun smartphone. Pengguna—baik dosen maupun mahasiswa—cukup mengakses situs resmi Padlet dan masuk menggunakan akun Google atau email institusi tanpa memerlukan proses instalasi tambahan. Karakteristik aksesibilitas ini menjadikan Padlet sesuai untuk mendukung pembelajaran daring yang fleksibel dan inklusif. Dari sisi pedagogis, kemudahan akses tersebut memungkinkan pembelajaran kolaboratif berlangsung secara berkelanjutan, tidak terikat oleh ruang dan waktu, serta mendukung prinsip pembelajaran sosial (social learning) yang menekankan interaksi sebagai inti konstruksi pengetahuan. Dengan demikian, pemanfaatan Padlet dalam proyek ini tidak hanya mempertimbangkan aspek teknis, tetapi juga dirancang untuk mendukung terbentuknya sense of community dalam lingkungan pembelajaran daring.

Panduan Proyek

Langkah Proyek 1: Pembuatan Ruang Simulasi Peer-Review di Padlet

Tahap operasional pertama dimulai dengan pembuatan papan (board) Padlet yang berfungsi sebagai ruang simulasi peer-review. Dosen mengawali proses dengan memilih jenis tampilan Padlet yang sesuai, seperti Wall atau Columns, untuk mengorganisasi unggahan tugas dan umpan balik mahasiswa secara sistematis. Selanjutnya, dosen menuliskan deskripsi tugas secara jelas pada bagian judul dan instruksi, termasuk tujuan pembelajaran, tenggat waktu, serta panduan pemberian umpan balik. Kejelasan instruksi pada tahap ini berperan penting dalam mengarahkan interaksi mahasiswa agar tetap berada dalam koridor akademik dan reflektif. Dari perspektif pembelajaran, tahap ini menempatkan Padlet sebagai lingkungan belajar sosial yang dirancang secara intensional, bukan sekadar ruang berbagi file.

Langkah Proyek 2: Unggah Tugas dan Aktivasi Interaksi Peer-Review

Pada tahap kedua, mahasiswa mengunggah hasil tugas mereka ke papan Padlet sesuai instruksi yang telah ditetapkan. Setiap unggahan merepresentasikan kontribusi individu dalam komunitas belajar. Setelah seluruh tugas terunggah, mahasiswa diarahkan untuk memberikan umpan balik terhadap karya teman sejawat melalui fitur komentar. Umpan balik diberikan berdasarkan panduan atau rubrik sederhana yang disediakan oleh dosen, sehingga proses peer-review tetap terarah dan bernilai akademik. Interaksi ini mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, merefleksikan kualitas karya orang lain, serta membandingkannya dengan hasil kerja sendiri. Secara pedagogis, tahap ini memperkuat asesmen formatif berbasis kolaborasi dan memperluas peran mahasiswa dari penerima materi menjadi partisipan aktif dalam proses belajar.

Langkah Proyek 3: Refleksi dan Penguatan Sense of Community

Tahap akhir dari simulasi peer-review difokuskan pada refleksi dan penguatan sense of community. Mahasiswa diminta membaca umpan balik yang diterima, menanggapi komentar teman, serta melakukan perbaikan atau refleksi singkat terhadap hasil tugasnya. Dosen kemudian dapat memberikan umpan balik penguatan atau rangkuman umum terhadap proses diskusi yang terjadi di Padlet. Tahap ini penting karena menegaskan bahwa pembelajaran tidak berhenti pada penilaian, tetapi berlanjut pada dialog dan refleksi bersama. Melalui siklus ini, Padlet berfungsi sebagai ruang sosial-akademik yang mendukung keterhubungan emosional dan intelektual antar mahasiswa dalam pembelajaran daring.

Bagian V: Penutup

Kesimpulan dan Implikasi terhadap Unconstrained Learning

Sebagai simpulan, pengembangan simulasi peer-review tugas berbasis Padlet menawarkan kontribusi strategis dalam menjawab tantangan pembelajaran daring, khususnya terkait rendahnya interaksi akademik dan lemahnya sense of community mahasiswa. Dengan memanfaatkan Padlet sebagai lingkungan kolaboratif yang terstruktur, proyek ini mampu mentransformasikan pembelajaran daring dari aktivitas individual yang terfragmentasi menjadi proses sosial-akademik yang partisipatif dan reflektif. Teknologi dalam proyek ini tidak berfungsi sebagai pengganti peran pendidik atau interaksi manusia, melainkan sebagai medium yang memperkuat kualitas dialog, umpan balik, dan keterhubungan antar mahasiswa secara sistematis.

Lebih lanjut, implementasi simulasi peer-review ini mendukung terwujudnya paradigma Unconstrained Learning sebagaimana dikemukakan oleh Moller dan Huett (2012), di mana hambatan tradisional dalam pembelajaran—seperti keterbatasan ruang, waktu, dan interaksi—diminimalisir melalui pemanfaatan teknologi digital yang tepat guna. Mahasiswa dapat terlibat dalam proses belajar kolaboratif kapan pun dan dari mana pun, sementara dosen memiliki fleksibilitas dalam mengelola dan memfasilitasi aktivitas pembelajaran tanpa dibatasi oleh mekanisme tatap muka konvensional. Dengan demikian, proyek ini menegaskan bahwa pembelajaran daring yang dirancang secara pedagogis dan didukung teknologi yang tepat mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih terbuka, adaptif, dan berpusat pada komunitas belajar, selaras dengan arah perkembangan pendidikan digital masa depan.

Daftar Referensi 

Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.

Garrison, D. R., Anderson, T., & Archer, W. (2000). Critical inquiry in a text-based environment: Computer conferencing in higher education. The Internet and Higher Education, 2(2–3), 87–105. https://doi.org/10.1016/S1096-7516(00)00016-6

Hrastinski, S. (2009). A theory of online learning as online participation. Computers & Education, 52(1), 78–82. https://doi.org/10.1016/j.compedu.2008.06.009

Januszewski, A., & Molenda, M. (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.

Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.

Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.

Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.

Topping, K. J. (1998). Peer assessment between students in colleges and universities. Review of Educational Research, 68(3), 249–276. https://doi.org/10.3102/00346543068003249



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *