PENGEMBANGAN KONTEN DIGITAL BERBASIS MICROLEARNING UNTUK PENINGKATAN KOMPETENSI GURU SEKOLAH DASAR DALAM PEMBELAJARAN INOVATIF

·

·

RACHEL ANNISA AINURAHMA

230151608155

KELAS B23

HARAPAN PROYEK

Pendidikan dasar pada era digital menuntut guru untuk mampu merancang pembelajaran yang inovatif, efektif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Idealnya, guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi berperan sebagai fasilitator yang mampu menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan terstruktur. Paradigma pembelajaran masa depan menekankan fleksibilitas, personalisasi, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung pembelajaran mandiri. Microlearning menjadi salah satu pendekatan yang sangat sesuai dengan idealita ini karena menyajikan pembelajaran dalam unit singkat dan terfokus, sehingga memudahkan guru dalam memahami konsep dan keterampilan baru secara praktis. Sejalan dengan pemikiran Januszewski & Molenda (2008) serta Hokanson et al. (2018), teknologi pendidikan idealnya dapat memfasilitasi proses belajar melalui perencanaan yang terarah, penyajian konten yang relevan, dan pengalaman belajar yang dirancang secara etis dan efektif.

KONTEKS PROYEK

Proyek ini diterapkan pada konteks pengembangan profesional guru Sekolah Dasar yang membutuhkan media pelatihan singkat, fleksibel, dan mudah diakses. Lingkungan belajar guru saat ini seringkali terbatas oleh waktu, beban kerja, serta kurangnya pelatihan yang praktis. Teknologi pendidikan berperan penting sebagai sarana untuk menghadirkan pelatihan berbasis microlearning yang ringkas namun bermakna. Melalui pemanfaatan platform digital seperti EdApp, Moodle, atau Canva Web, guru dapat mengakses modul pelatihan kapan saja, melakukan pembelajaran mandiri, serta mendapatkan pengalaman belajar yang adaptif. Sejalan dengan Bishop et al. (2020), optimalisasi lingkungan belajar virtual dapat meningkatkan kinerja dan pemahaman peserta didik, termasuk guru, apabila dirancang dengan pendekatan instruksional yang berbasis riset dan kebutuhan nyata.

DESKRIPSI KESENJANGAN

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kompetensi guru dalam merancang pembelajaran inovatif masih belum optimal. Sebagian besar guru belum terbiasa menggunakan teknologi digital secara efektif dalam pembelajaran karena minimnya pelatihan yang praktis dan berkelanjutan. Pelatihan guru yang ada cenderung bersifat seminar atau workshop satu arah yang tidak memberikan kesempatan bagi guru untuk mempraktikkan keterampilan secara langsung. Selain itu, keterbatasan waktu membuat guru sulit mengikuti pelatihan panjang. Microlearning menjadi solusi untuk mengatasi kesenjangan ini karena menyajikan pembelajaran dalam bentuk modul singkat yang fokus pada satu keterampilan spesifik dan mudah diterapkan. Sejalan dengan Spector et al. (2014), hal ini menunjukkan perlunya pengembangan materi digital yang relevan, efektif, dan sesuai dengan karakteristik pembelajaran orang dewasa.

URAIAN DESKRIPSI SOLUSI PROYEK

Solusi yang ditawarkan adalah pengembangan konten digital berbasis microlearning yang berfokus pada peningkatan kompetensi guru dalam menerapkan strategi pembelajaran inovatif. Konten ini dikemas dalam bentuk modul pendek berdurasi 5–10 menit, yang berisi video pembelajaran, infografis ringkas, studi kasus, serta kuis reflektif. Setiap modul akan membahas satu keterampilan inti, seperti merancang media digital sederhana, menerapkan gamifikasi, membuat aktivitas berbasis proyek, atau memanfaatkan AI dalam pembelajaran. Konten microlearning ini dirancang agar fleksibel, mudah diakses, dan memungkinkan guru untuk belajar secara mandiri di sela waktu mengajar. Pendekatan ini sejalan dengan tren pembelajaran dewasa yang menekankan relevansi, kemandirian, dan pengalaman belajar berbasis praktik.

RUMUSAN MASALAH PROYEK

Permasalahan utama yang melatarbelakangi proyek ini berkaitan dengan rendahnya kompetensi guru Sekolah Dasar dalam menerapkan strategi pembelajaran inovatif, terutama dalam konteks pendidikan berbasis teknologi. Banyak guru masih mengalami kesulitan dalam memahami dan mempraktikkan pendekatan-pendekatan modern seperti pembelajaran berbasis proyek, gamifikasi, atau pemanfaatan alat digital sederhana. Kendala waktu, beban administrasi, serta terbatasnya pelatihan yang bersifat praktis membuat guru kesulitan mengembangkan dirinya secara optimal. Berdasarkan permasalahan tersebut, proyek ini dirancang untuk menjawab bagaimana konten digital berbasis microlearning dapat menjadi sarana yang efektif, fleksibel, dan mudah diakses untuk membantu meningkatkan kompetensi profesional guru dalam menerapkan pembelajaran inovatif di kelas.

TUJUAN

TUJUAN UMUM

Tujuan umum dari proyek ini adalah mengembangkan sebuah konten digital microlearning yang dapat membantu guru Sekolah Dasar meningkatkan keterampilan mereka dalam merancang dan menerapkan pembelajaran yang inovatif. Microlearning dirancang agar menjadi media pelatihan singkat yang mampu memberikan pemahaman terstruktur, mudah dipraktikkan, dan relevan dengan kebutuhan guru dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Dengan adanya konten ini, diharapkan guru dapat lebih percaya diri dan terampil dalam memanfaatkan teknologi serta menerapkan strategi pembelajaran modern secara efektif.

TUJUAN KHUSUS

Secara lebih terperinci, tujuan proyek ini adalah untuk memberikan pengalaman belajar yang ringkas dan terarah kepada guru melalui modul-modul microlearning yang berfokus pada satu kompetensi spesifik pada setiap sesinya. Konten yang dikembangkan bertujuan membantu guru memahami konsep pembelajaran inovatif secara bertahap, menguasai penggunaan media digital sederhana, dan menerapkan strategi pembelajaran kreatif yang sesuai dengan kebutuhan siswa di kelas. Selain itu, proyek ini juga bertujuan menciptakan media yang dapat digunakan guru secara fleksibel kapan saja, sehingga mereka dapat mengatur waktu belajar sesuai kebutuhan. Dengan pendekatan singkat, visual, dan interaktif, konten microlearning ini diharapkan mampu menjadi solusi praktis yang mendukung pengembangan profesional guru secara berkelanjutan tanpa mengganggu rutinitas mengajar mereka.

METODOLOGI PENGEMBANGAN PROYEK

Metodologi pengembangan proyek ini menggunakan model ADDIE yang terdiri dari lima tahap yang saling berkaitan dan dilakukan secara berurutan. Pada tahap pertama, yaitu tahap Analisis, proses dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan guru Sekolah Dasar terhadap konten pelatihan yang praktis, singkat, dan relevan. Pada fase ini dilakukan pengumpulan informasi mengenai kesulitan guru dalam menerapkan pembelajaran inovatif dan hambatan yang mereka rasakan ketika mengikuti pelatihan yang cenderung panjang dan kurang aplikatif. Analisis juga mencakup karakteristik pembelajaran orang dewasa serta kondisi lingkungan kerja guru yang menuntut fleksibilitas dan akses pelatihan yang mudah. Hasil analisis ini menjadi dasar untuk menentukan struktur konten microlearning yang akan dikembangkan.

Tahap kedua adalah Desain, yaitu proses merancang struktur konten microlearning berdasarkan hasil analisis sebelumnya. Pada tahap ini disusun alur pembelajaran setiap modul, termasuk penentuan tujuan pembelajaran, pembuatan storyboard, konsep visual, pilihan media, serta bentuk interaksi yang digunakan dalam modul. Setiap elemen dirancang agar pembelajaran berlangsung singkat, padat, dan mudah dipahami dalam waktu 5–10 menit. Desain dibuat dengan mempertimbangkan prinsip andragogi dan teori pembelajaran berbasis pengalaman sehingga setiap modul fokus pada satu keterampilan spesifik yang relevan untuk guru Sekolah Dasar.

Tahap selanjutnya adalah Pengembangan, yaitu tahap di mana desain yang telah dirumuskan sebelumnya mulai diwujudkan menjadi produk nyata. Pada fase ini dilakukan pembuatan video microlearning, penyusunan infografis, produksi materi visual digital, dan penyusunan kuis reflektif singkat yang mendukung tujuan pembelajaran. Semua elemen tersebut dirakit ke dalam platform digital seperti Canva, sebelum nantinya diintegrasikan ke LMS atau media lain yang mendukung akses mandiri. Tahap ini memastikan bahwa produk yang dihasilkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga fungsional dan mudah digunakan oleh guru.

Tahap keempat adalah Implementasi, yaitu proses menguji coba konten microlearning kepada sejumlah guru sebagai pengguna awal. Pada tahap ini guru diminta mencoba modul yang telah dibuat untuk melihat bagaimana mereka berinteraksi dengan media, memahami materi, serta merasakan manfaat dari pembelajaran singkat yang disajikan. Melalui uji coba ini dapat diketahui apakah konten mudah dipahami, apakah tampilannya sudah sesuai, dan apakah struktur microlearning efektif dalam menyampaikan materi inovatif. Implementasi ini memberikan gambaran nyata mengenai keberhasilan konten dan memunculkan masukan penting untuk perbaikan.

Tahap terakhir adalah Evaluasi, yaitu proses menilai efektivitas keseluruhan konten dan proses pengembangannya. Evaluasi dilakukan secara formatif dan sumatif untuk mengidentifikasi apakah konten sudah memenuhi kebutuhan pengguna, apakah strategi microlearning telah memberikan dampak positif, serta bagian mana yang masih perlu disempurnakan. Hasil evaluasi digunakan untuk melakukan revisi sebelum konten diterapkan secara lebih luas. Pada tahap ini juga dianalisis sejauh mana modul microlearning membantu guru meningkatkan pemahaman mereka terhadap pembelajaran inovatif dan bagaimana konten ini dapat dikembangkan lebih lanjut menuju versi yang lebih lengkap dan komprehensif.

REFERENSI

Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.

Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.

Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.

Januszewski, A., & Molenda, M. (2008). Educational technology: A definition with commentary. Routledge.

Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.

Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.

Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.

Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.

Hug, T. (2015). Microlearning and Narration. Waxmann.

Pappas, C. (2019). Microlearning’s impact in digital training. eLearning Industry.

Buchem, I., & Hamelmann, H. (2010). Microlearning: A strategy for ongoing professional development. International Journal of Emerging Technologies in Learning, 5(2).

Shah, D., & Cheng, J. (2024). The effectiveness of microlearning for professional educators. Journal of Digital Learning, 12(1), 45–60.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *