Dava Fayrano Morey Widiama
230121603964
Kelas A
Bagian I: Pendahuluan
- Analisis Kesenjangan (Harapan vs. Kenyataan)
Pendidikan di era digital menuntut adanya pergeseran fundamental, di mana teknologi tidak lagi sekadar alat penyampaian konten statis, tetapi harus melampaui konten (beyond content) demi mengembangkan kapasitas intelektual pembelajar. Harapan proyek ini adalah memfasilitasi konstruksi pengetahuan yang mendalam (deep learning) melalui pengalaman belajar yang dirancang. Namun, kondisi kenyataan di lapangan menunjukkan kesenjangan signifikan. Materi pecahan pada siswa SD Kelas V masih menjadi hambatan terbesar karena sifatnya yang abstrak. Metode tradisional cenderung mengandalkan gambar statis, gagal menyediakan pengalaman konkret yang dibutuhkan oleh siswa pada tahap operasional konkret. Kesenjangan ini diperparah oleh keterbatasan alat peraga di lingkungan formal, membuat guru kesulitan memberikan pengalaman manipulatif yang memadai. Oleh karena itu, diperlukan solusi teknologi berupa simulasi interaktif yang dapat menjembatani pemahaman dari simbol angka ke makna kuantitatif nyata.
Bagian II: Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)
- Fokus Masalah & Landasan Desain
Fokus masalah proyek PEI adalah kesulitan siswa SD Kelas V dalam memahami konsep dan operasi hitung pecahan secara abstrak. Kesulitan ini menuntut landasan desain pembelajaran yang kuat untuk mengurangi beban kognitif (Hendriyati Haryani et al., 2023) dan meningkatkan pemahaman konseptual. Proyek ini memilih strategi Pembelajaran Berbasis Penemuan (Discovery Learning) , yang esensial karena memungkinkan siswa memanipulasi objek virtual secara mandiri untuk menemukan pola dan aturan matematika. Fitur teknis utama produk, yaitu Manipulatif Virtual Dinamis (misalnya memotong pizza digital atau membagi balok), secara langsung berhubungan dengan landasan Discovery Learning. Melalui interaksi langsung dengan simulasi Toy Theater yang dibingkai, siswa dipandu melalui eksplorasi aktif di mana pemahaman dibangun melalui observasi, bukan sekadar penerimaan rumus pasif.
- Transformasi Teknologi & Koherensi Fitur
Transformasi teknologi dalam proyek PEI diwujudkan melalui pergeseran dari alat peraga konkret yang terbatas di kelas menjadi alat bantu belajar mandiri virtual yang fleksibel dan mobile-friendly. Koherensi fitur proyek yang menggabungkan simulasi interaktif dari Toy Theater ke dalam struktur modul microlearning yang dibuat dengan Articulate Storyline/Genially didasarkan pada prinsip Penguasaan (Mastery Learning). Setiap modul microlearning yang disajikan singkat. Logikanya adalah bahwa teknologi ini berfungsi sebagai sistem adaptif yang memastikan siswa mencapai tingkat penguasaan yang memadai pada satu sub-topik (seperti pecahan senilai) sebelum melanjutkan ke operasi yang lebih kompleks (seperti penjumlahan pecahan beda penyebut). Hal ini mendukung self-regulated learning dan memperkuat pemahaman konsep secara sistematis dan mendalam (Heliawati et al., 2022).
Bagian III: Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)
- Analisis “How” – Kolaborasi Manusia & Teknologi
Proyek PEI bekerja sebagai solusi sistematis melalui kolaborasi konkret antara manusia (siswa) dan produk teknologi. Alat ini dirancang untuk memfasilitasi tindakan manusia (berpikir, bereksplorasi, memanipulasi) melalui antarmuka virtual. Secara operasional, modul PEI mengambil peran sebagai panduan instruksional yang terstruktur, di mana teknologi menyediakan Simulasi Interaktif yang berfungsi sebagai representasi eksternal (visualisasi) dari ide-ide abstrak. Siswa, sebagai pembelajar aktif, berinteraksi dengan simulasi tersebut, sementara teknologi memberikan feedback instan, memungkinkan siswa untuk mengoreksi kesalahannya secara mandiri dan mencapai penguasaan pada laju mereka sendiri (self-paced). Kolaborasi ini mengimplementasikan prinsip-prinsip komunikasi instruksional yang efisien, mengurangi beban kognitif pada materi sulit.
- Analisis “How” – Dekomposisi Masalah
Aspek dekomposisi masalah dalam struktur aplikasi PEI terlihat jelas dalam pengorganisasian konten melalui Strategi Microlearning. Masalah besar dalam menguasai pecahan (yang meliputi konsep dasar, perbandingan, dan empat operasi hitung) diuraikan menjadi sub-topik yang lebih kecil dan sederhana.
- Struktur Aplikasi: Setiap modul hanya berfokus pada satu simulasi Toy Theater yang relevan dan Assessment Embedded (kuis formatif), memastikan siswa tidak terbebani secara kognitif. Pendekatan ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa kesulitan siswa dalam memahami konsep pecahan pada dasarnya dapat diatasi dengan memecah materi menjadi bagian-bagian yang mudah dicerna dan disertai visualisasi yang realistis (Tahsinia et al., 2022).
- Analisis “How” – Definisi & Peran Teknologi
Peran utama teknologi dalam proyek PEI adalah sebagai sumber belajar yang diciptakan untuk memfasilitasi dan mengelola proses belajar. Teknologi yang digunakan adalah Konten Digital Interaktif yang berfokus pada simulasi. Sesuai dengan definisi standar disiplin ilmu, Teknologi Pendidikan adalah “teori dan praktik perancangan (design), pengembangan (development), pemanfaatan (utilization), pengelolaan (management), dan evaluasi (evaluation) proses dan sumber untuk belajar” (Siswa et al., 2023). Karya PEI ini menegaskan posisi dalam disiplin ilmu melalui:
- Perancangan dan Pengembangan: Menggunakan model ADDIE yang sistematis untuk merancang modul microlearning.
- Pemanfaatan: Mengintegrasikan simulasi Toy Theater sebagai alat peraga virtual dinamis.
- Pengelolaan: Mengelola alur belajar siswa melalui struktur Mastery Learning. Dengan demikian, PEI bukan hanya media, tetapi merupakan hasil dari proses sistematis yang bertujuan untuk memecahkan masalah pembelajaran abstrak secara efektif.
Bagian IV: Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek
- Aksesibilitas & Konsep Pembelajaran
Modul “Pecahan Eksplorasi Interaktif (PEI)” dirancang sebagai prototipe fungsional (MVP) berbasis web yang sepenuhnya responsif dan mobile-friendly. Hal ini secara langsung mendukung konsep Pembelajaran Tanpa Kendala (Unconstrained Learning) (Subhan et al., 2023), karena siswa dapat mengakses modul ini kapan saja dan di mana saja hanya melalui browser di ponsel, tablet, atau laptop. Untuk memulai, siswa hanya perlu mengakses tautan web yang disediakan. Antarmuka yang dikembangkan dengan Articulate Storyline atau Genially akan menjadi interface yang menyediakan instruksi terstruktur, narasi panduan, dan kuis formatif yang mengarahkan interaksi dengan simulasi secara sistematis. Aksesibilitas tinggi ini menjamin bahwa tidak ada hambatan tradisional dalam proses belajar mandiri di luar lingkungan sekolah.
- Tutorial & Video
Langkah-langkah pemanfaatan Modul “Pecahan Eksplorasi Interaktif (PEI)” berpusat pada eksplorasi mandiri dan pengecekan penguasaan konsep:
Langkah Proyek 1: Memulai Sesi Microlearning (Analisis Tujuan dan Konsep)Tahap operasional pertama dimulai dengan akses ke platform PEI. Pengguna (siswa) mengawali proses dengan memilih Modul Pecahan yang ingin dipelajari. Sistem memastikan siswa memahami apa yang harus mereka kuasai sebelum memasuki simulasi, memberikan konteks yang jelas untuk pembelajaran berbasis penemuan.
Langkah Proyek 2: Eksplorasi Konsep melalui Manipulasi Virtual (Discovery Learning)Setelah pengantar, siswa diarahkan ke bingkai utama modul, yang menyematkan (embed) simulasi interaktif dari Toy Theater (misalnya, Fraction Circles atau Fraction Bars). Siswa didorong untuk memanipulasi objek virtual secara mandiri untuk menemukan hubungan matematis. Interaksi langsung ini memungkinkan siswa mengonstruksi pemahaman konseptual (misalnya konsep KPK) secara mandiri dan intuitif, sejalan dengan prinsip Discovery Learning.
Langkah Proyek 3: Pengecekan Penguasaan Konsep (Mastery Assessment Embedded)Langkah teknis berlanjut pada tahap validasi penguasaan, yang dirancang untuk menjamin linieritas antara proses eksplorasi dan hasil belajar. Setelah berinteraksi dengan simulasi, modul akan memunculkan Assessment Embedded (kuis formatif) yang terdiri dari 10 pertanyaan yang menguji konsep yang baru saja dieksplorasi. Siswa harus mencapai skor penguasaan minimum (misalnya 80%) untuk dianggap lulus.
Bagian V: Penutup
- Kesimpulan dan Dampak (Unconstrained Learning)
Proyek “Pecahan Eksplorasi Interaktif (PEI)” berhasil merangkum nilai strategis teknologi pendidikan dengan menyediakan solusi yang sistematis dan menarik untuk mengatasi kesulitan pemahaman konsep pecahan yang abstrak pada siswa SD Kelas V. Nilai strategis produk ini terletak pada integrasi koheren antara Discovery Learning dan Mastery Learning yang dibingkai dalam format Microlearning berbasis simulasi interaktif. Secara keseluruhan, desain ini mewujudkan Pembelajaran Tanpa Kendala (Unconstrained Learning). Karena produk ini berbasis web yang mobile-friendly dan tidak memerlukan sistem LMS yang kompleks untuk pelacakan jangka panjang, PEI berhasil menghilangkan hambatan-hambatan tradisional yang membatasi akses dan proses belajar. Dengan menghilangkan kendala ruang, waktu, dan ketersediaan alat peraga fisik, PEI memastikan siswa memiliki akses fleksibel dan self-paced untuk membangun pemahaman konseptual yang mendalam di mana saja dan kapan saja.
Daftar Referensi
Heliawati, L., Lidiawati, L., & Pursitasari, I. D. (2022). Articulate Storyline 3 multimedia based on gamification to improve critical thinking skills and self-regulated learning. 11(3). https://doi.org/10.11591/ijere.v11i3.22168
Hendriyati Haryani, Wahid, S. M., Fitriani, A., & Ariq, M. faris. (2023). Analisa Peluang Penerapan Teknologi Blockchain dan Gamifikasi pada Pendidikan. Jurnal MENTARI: Manajemen, Pendidikan Dan Teknologi Informasi, 1(2), 163–174. https://doi.org/10.33050/mentari.v1i2.250
Kudus, U. M., Tengah, J., Kudus, U. M., & Tengah, J. (2024). SISWA KELAS V MATERI PECAHAN Miftakhur Rohmah Universitas Muria Kudus , Jawa Tengah , Indonesia F . Shoufika Hilyana Diana Ermawati Abstrak Al-Madrasah : Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Al-Madrasah : Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah. 8(2), 708–718. https://doi.org/10.35931/am.v8i2.3425
Pendidikan, J., Terapan, T., Mailani, E., Rarastika, N., Parista, I., Syakura, W., & Fitri, M. (2025). Strategi Pembelajaran Matematika untuk Mengatasi Kesulitan Pemahaman Konsep Pecahan pada Siswa Sekolah Dasar. 02(02), 131–135.
Septorini, A. (2025). PERMATA-S ( Pembelajaran Pecahan Matematika dengan Scratch ): Pengembangan Media Ajar Berbasis Scratch MIT untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Pecahan Siswa Kelas IV Sekolah Dasar. 2(1), 1–12. https://doi.org/10.70277/jgsd.v2i1.1
Siswa, P., Sd, K. V, & Sidomulyo, N. (2023). 3 1,2,3. 08, 3360–3369.
Subhan, M., Putri, S. R., Maryanis, E., Fkip, P., & Dharmas, U. (2023). No Title. 09.
Tahsinia, J., Nurhayanti, H., & Kusmawati, R. (2022). MODEL REALISTIC MATHEMATIC EDUCATION DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA dalam upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi ( Arini , 2019 ). Sampai batas dalam berbagai keperluan . Akan tetapi banyak siswa memiliki persepsi negatif terhadap. 3(2), 156–166.
Viii, K., Ngawi, M., & Ajaran, T. (2022). No Title.
Volume, J., Tahun, N., & Pendidikan, J. (2021). Research & Learning in Faculty of Education Penggunaan Media Pembelajaran Papan Pecahan untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika Pada Siswa Sekolah Dasar. 3.

Tinggalkan Balasan