Pendahuluan
Transformasi pembelajaran digital pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada dasarnya membawa ekspektasi terwujudnya proses pembelajaran yang lebih fleksibel, interaktif, serta berorientasi pada peserta didik sebagai pusat kegiatan belajar. Pembelajaran digital diharapkan mampu memberikan ruang partisipasi yang luas, mendorong kemandirian belajar, serta memfasilitasi pengalaman belajar yang bermakna. Namun demikian, kondisi empiris di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup signifikan antara harapan ideal tersebut dengan praktik pembelajaran daring yang berlangsung. Proses pembelajaran masih didominasi oleh metode penyampaian satu arah, sehingga siswa cenderung berperan sebagai penerima informasi pasif. Akibatnya, tingkat keterlibatan siswa relatif rendah dan aktivitas belajar lebih banyak terbatas pada konsumsi materi, bukan pada pengalaman belajar yang bersifat eksploratif dan reflektif. Kesenjangan ini mengindikasikan perlunya perancangan pembelajaran digital yang tidak hanya berfokus pada penyajian konten, melainkan juga mampu memfasilitasi pengalaman belajar yang bermakna. Atas dasar pemikiran tersebut, Sejalan dengan kajian teknologi pendidikan modern, pembelajaran digital idealnya dirancang sebagai sistem yang mengintegrasikan manusia, proses, dan teknologi secara koheren (Agustian dan Salsabila 2021). Oleh karena itu, proyek konten interaktif “Learn by Doing” dikembangkan sebagai upaya untuk menjembatani kesenjangan antara kondisi ideal dan realitas pembelajaran daring melalui penyediaan pengalaman belajar aktif yang berbasis praktik dan refleksi.
Bagian II. Analisis Keilmuan Pendidikan
Permasalahan utama yang menjadi fokus dalam proyek ini adalah rendahnya tingkat partisipasi siswa dalam pembelajaran daring Bahasa Arab pada jenjang SMP. Dari sudut pandang pedagogis, permasalahan tersebut dapat dipahami sebagai indikasi kurang optimalnya desain pembelajaran dalam mengakomodasi kebutuhan siswa akan pembelajaran yang aktif dan bermakna. Desain pembelajaran yang diterapkan dalam proyek “Learn by Doing” berlandaskan pada pendekatan experiential learning dan problem-based learning, yang menempatkan pengalaman langsung sebagai inti dari proses pembelajaran. Pendekatan ini menekankan keterlibatan aktif siswa melalui praktik, eksplorasi, serta refleksi terhadap pengalaman belajar yang dialami. Oleh karena itu, fitur-fitur teknis yang dikembangkan, seperti video interaktif, kuis reflektif, dan tugas praktik, dirancang secara khusus untuk mendorong keterlibatan siswa tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga afektif dan sosial. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan bahwa desain pembelajaran tidak semata-mata berorientasi pada penyampaian konten, tetapi pada penciptaan pengalaman belajar yang bermakna(Hokanson et al. 2020).
Transformasi teknologi dalam proyek ini diwujudkan melalui pemanfaatan berbagai platform interaktif, seperti Genially, Canva, dan Google Form, yang dirancang dan disusun secara terintegrasi dalam satu alur pembelajaran yang sistematis. Koherensi antarfitur tercermin dari keterkaitan logis antara penyajian permasalahan, pelaksanaan aktivitas praktik, pemberian umpan balik, serta kegiatan refleksi. Setiap fitur tidak dirancang sebagai elemen yang berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dan mendukung pencapaian tujuan pedagogis yang telah ditetapkan. Transformasi ini menegaskan bahwa teknologi tidak diposisikan hanya sebagai alat bantu visual atau sarana penyampaian materi, tetapi berperan sebagai mediator pembelajaran yang memfasilitasi terjadinya pengalaman belajar aktif(Selwyn 2016). Hal ini selaras dengan pandangan bahwa inovasi teknologi pendidikan harus berangkat dari kebutuhan pedagogis dan terintegrasi secara sistematis dalam desain pembelajaran (Vannest et al. 2025).
Bagian III. Analisis Keilmuan Teknologi (Tekno-Pedagogi)
Ditinjau dari perspektif tekno-pedagogi, produk “Learn by Doing” berfungsi sebagai sebuah sistem pembelajaran kolaboratif yang melibatkan interaksi antara guru, siswa, dan teknologi. Dalam sistem ini, guru berperan sebagai perancang sekaligus fasilitator pembelajaran, siswa sebagai subjek aktif yang terlibat secara langsung dalam proses belajar, sementara teknologi berfungsi sebagai lingkungan belajar interaktif yang mendukung terjadinya interaksi tersebut (Syafriafdi 2020). Dengan demikian, teknologi tidak menggantikan peran manusia dalam pembelajaran, melainkan memperkuat kapasitas pedagogis guru serta memperkaya pengalaman belajar siswa.
Produk ini juga merepresentasikan penerapan prinsip dekomposisi masalah melalui penguraian kompleksitas pembelajaran daring ke dalam komponen-komponen yang lebih sederhana dan terstruktur. Materi Bahasa Arab disusun dalam bentuk modul mikro (microlearning) yang mencakup pengenalan konteks, pelaksanaan aktivitas praktik, serta kegiatan refleksi. Struktur aplikasi dan konten dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa untuk memahami satu permasalahan secara fokus sebelum melanjutkan ke tahapan berikutnya(Iswanto 2017).
Menurut (Januszewski dan Molenda 2013) teknologi pendidikan didefinisikan sebagai studi dan praktik etis dalam memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan proses serta sumber daya teknologi yang tepat. Berdasarkan definisi tersebut, proyek “Learn by Doing” menempati posisi yang jelas dalam disiplin Teknologi Pendidikan karena dirancang sebagai sistem terencana yang memadukan teori, praktik, dan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Teknologi dalam proyek ini berperan sebagai sarana fasilitasi pembelajaran aktif, bukan sekadar media penyampai informasi.
Produk “Learn by Doing” dapat diakses secara daring melalui tautan yang dibagikan oleh guru pada platform pembelajaran seperti Google Classroom. Siswa mengakses konten menggunakan perangkat komputer atau gawai dengan koneksi internet. Dari sisi konsep pembelajaran, aksesibilitas ini mendukung fleksibilitas belajar dan memungkinkan siswa belajar secara mandiri maupun kolaboratif.
Tutorial Video
Tahap pertama penggunaan produk dimulai dengan menonton video pengantar interaktif yang menjelaskan tujuan pembelajaran dan konteks materi. Selanjutnya, siswa diarahkan untuk mengikuti aktivitas praktik dan kuis reflektif yang tersedia dalam modul. Setiap aktivitas dilengkapi umpan balik otomatis untuk membantu siswa melakukan refleksi mandiri. Pada bagian ini disematkan video tutorial dari YouTube yang menampilkan penulis sebagai presenter, menjelaskan langkah-langkah penggunaan produk secara visual dan naratif.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, konten interaktif “Learn by Doing” memiliki nilai strategis dalam menjawab tantangan pembelajaran daring dengan menghadirkan pengalaman belajar aktif, kontekstual, dan reflektif. Proyek ini sejalan dengan paradigma unconstrained learning, yaitu pembelajaran tanpa kendala ruang, waktu, dan metode tradisional, yang menempatkan teknologi sebagai enabler pembelajaran berkelanjutan (Hidayat dan Khotimah 2019). Dengan desain yang pedagogis dan teknologi yang terintegrasi, produk ini berpotensi mendukung transformasi pendidikan digital menuju pembelajaran yang lebih inklusif dan bermakna.
Referensi
Agustian, Niar, dan Unik Hanifah Salsabila. 2021. “Peran teknologi pendidikan dalam pembelajaran.” Islamika 3(1):123–33.
Hidayat, Nandang, dan Husnul Khotimah. 2019. “Pemanfaatan teknologi digital dalam kegiatan pembelajaran.” Jurnal Pendidikan Dan Pengajaran Guru Sekolah Dasar (JPPGuseda) 2(1):10–15.
Hokanson, Brad, Gregory Clinton, Andrew A. Tawfik, Amy Grincewicz, dan Matthew Schmidt. 2020. Educational Technology Beyond Content.
Iswanto, Rahmat. 2017. “Pembelajaran bahasa arab dengan pemanfaatan teknologi.” Arabiyatuna: Jurnal Bahasa Arab 1(2 December):139–52.
Januszewski, Al, dan Michael Molenda. 2013. Educational technology: A definition with commentary. Routledge.
Selwyn, Neil. 2016. Education and technology: Key issues and debates. Bloomsbury Publishing.
Syafriafdi, Non. 2020. “Peran teknologi pendidikan dalam pembelajaran.” Al-Aulia: Jurnal Pendidikan Dan Ilmu-Ilmu Keislaman 6(1):1–8.
Vannest, Kimberly J., Kelly Swindlehurst, Penny A. Bishop, dan Katharine G. Shepherd. 2025. “The evidence for personalized learning plans: a systematic review of the literature for student outcomes and measures Grades 7-12.” On the Horizon: The International Journal of Learning Futures 33(1):104–15.
Tinggalkan Balasan