Pengembangan Media Google Site untuk Mendukung Pembelajaran Mendalam pada Materi Produktivitas Primer dan Sekunder melalui Pengamatan Langsung Ekosistem

·

·

Bagian I: Pendahuluan

  • Paragraf 1: Analisis Kesenjangan

Paragraf 1: Analisis Kesenjangan

Penjelasan: Pembelajaran produktivitas primer dan sekunder secara ideal menuntut keterlibatan langsung siswa dalam mengamati ekosistem agar terbentuk pemahaman konseptual yang mendalam. Namun, praktik di lapangan masih didominasi pendekatan berbasis konten dan transfer informasi, sehingga pengalaman belajar kontekstual belum optimal. Kesenjangan ini sejalan dengan kritik terhadap pembelajaran yang terlalu berfokus pada materi tanpa memperhatikan proses belajar bermakna (Hokanson et al., 2018; Bishop et al., 2020). Oleh karena itu, pengembangan media Google Site diarahkan untuk menjembatani kesenjangan tersebut dengan mengintegrasikan observasi langsung, refleksi, dan sumber belajar digital yang mendukung pembelajaran mendalam.

Bagian II: Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)

  • Paragraf 2: Fokus Masalah & Landasan Desain

Penjelasan: Fokus masalah dalam proyek ini adalah kurangnya media pembelajaran yang mampu mengintegrasikan pengalaman lapangan dengan penguatan konsep secara sistematis. Desain Google Site berlandaskan teori pembelajaran konstruktivistik dan experiential learning, yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui pengalaman nyata dan refleksi terarah. Fitur seperti panduan observasi, dokumentasi hasil, dan refleksi dirancang untuk mendukung proses belajar aktif sebagaimana direkomendasikan dalam kajian desain pembelajaran modern (Spector et al., 2014).

  • Paragraf 3: Transformasi Teknologi & Koherensi Fitur

Penjelasan: Transformasi teknologi dalam proyek ini tidak sekadar digitalisasi materi, melainkan rekonstruksi pengalaman belajar melalui platform Google Site yang koheren. Setiap fitur mulai dari materi konseptual, panduan lapangan, hingga evaluasi terhubung secara logis dalam satu alur pembelajaran. Koherensi ini mencerminkan pergeseran paradigma teknologi pendidikan yang menekankan integrasi proses, bukan sekadar penyajian konten (Bishop et al., 2020; Hokanson et al., 2018).

Bagian III: Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)

  • Paragraf 4: Analisis “How” – Kolaborasi Manusia & Teknologi

Penjelasan: Google Site berfungsi sebagai medium kolaborasi antara guru, siswa, dan teknologi, di mana guru berperan sebagai perancang pengalaman belajar dan siswa sebagai aktor aktif dalam eksplorasi ekosistem. Teknologi mendukung pengorganisasian informasi, refleksi, dan dokumentasi hasil observasi, sehingga tercipta kolaborasi manusia teknologi yang saling melengkapi, selaras dengan konsep integrasi kecerdasan manusia dan sistem digital dalam pendidikan (Albert et al., 2021).

  • Paragraf 5: Analisis “How” – Dekomposisi Masalah

Penjelasan: Konsep produktivitas ekosistem yang kompleks didekomposisi ke dalam tahapan pembelajaran yang lebih sederhana melalui struktur Google Site, seperti pengenalan konsep, observasi lapangan, analisis data, dan refleksi. Pendekatan ini mendukung kemampuan berpikir sistematis dan komputasional siswa dalam memahami hubungan sebab-akibat dalam ekosistem (Rich & Hodges, 2017).

  • Paragraf 6: Analisis “How” – Definisi & Peran Teknologi

Penjelasan: Mengacu pada definisi Teknologi Pendidikan menurut Januszewski dan Molenda (2008), teknologi pendidikan merupakan studi dan praktik etis dalam memfasilitasi pembelajaran melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan sumber belajar. Google Site dalam proyek ini berperan sebagai sumber belajar digital yang dirancang dan dikelola secara sistematis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, sehingga menegaskan posisinya dalam disiplin Teknologi Pendidikan.

Referensi Wajib: Gunakan Januszewski & Molenda (2008) untuk definisi standar Teknologi Pendidikan.

Bagian IV: Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek

Paragraf 7: Aksesibilitas & Konsep Pembelajaran

Penjelasan:Google Site dapat diakses melalui berbagai perangkat tanpa instalasi tambahan, sehingga mendukung fleksibilitas dan akses belajar yang luas. Karakteristik ini sejalan dengan prinsip pembelajaran jarak jauh dan pembelajaran mandiri, di mana siswa dapat mengatur tempo dan kedalaman belajarnya sesuai kebutuhan (Moller & Huett, 2012; Moller et al., 2009).

  • Paragraf 8 (dan seterusnya): Tutorial & Video

Penjelasan: Penggunaan media diawali dengan mengakses halaman utama Google Site yang memuat tujuan pembelajaran dan panduan observasi ekosistem. Siswa kemudian mengikuti tahapan pengamatan, pengunggahan hasil, dan refleksi pembelajaran. Untuk mendukung pemahaman teknis, disediakan video tutorial yang disematkan dari YouTube dengan pengembang sebagai presenter, sehingga pengguna memperoleh panduan visual yang jelas dan sistematis.

Syarat Multimedia: Bagian ini WAJIB dilengkapi dengan VIDEO TUTORIAL yang disematkan (embed) dari YouTube, menampilkan wajah Anda sebagai presenter.

Bagian V: Penutup

Paragraf 9 (Terakhir): Kesimpulan & Unconstrained Learning

Penjelasan: Media Google Site yang dikembangkan memiliki nilai strategis dalam mendukung pembelajaran mendalam materi produktivitas primer dan sekunder melalui pengamatan langsung ekosistem. Produk ini merepresentasikan konsep Unconstrained Learning dengan menghilangkan batasan ruang, waktu, dan akses belajar, serta mendukung pembelajaran digital yang fleksibel dan berpusat pada peserta didik (Moller & Huett, 2012). Dengan demikian, proyek ini relevan untuk menjawab tantangan pendidikan digital dan pembelajaran jarak jauh masa kini.


C. Daftar Referensi Wajib (8 Sumber)

Pastikan Anda mensitasi ke-8 sumber berikut dalam artikel Anda:

  1. Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
  2. Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
  3. Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
  4. Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
  5. Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
  6. Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
  7. Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
  8. Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *