Bagian I Pendahuluan
- Uraian Produk Proyek
Pembelajaran IPA di tingkat SMP idealnya tidak hanya berorientasi pada penguasaan fakta, tetapi diarahkan pada pengembangan literasi sains yang memungkinkan peserta didik memahami, menganalisis, serta menerapkan konsep ilmiah dalam konteks kehidupan nyata. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan tersebut dengan praktik pembelajaran aktual. Berbagai hasil asesmen nasional dan observasi kelas memperlihatkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep abstrak, khususnya pada materi Bumi dan Tata Surya, seperti rotasi, revolusi, dan mekanisme gerhana. Pembelajaran cenderung berpusat pada ceramah dan hafalan, sementara media yang digunakan belum mampu memvisualisasikan fenomena astronomi secara dinamis dan bermakna. Kondisi ini menunjukkan bahwa teknologi pembelajaran yang tersedia belum dimanfaatkan untuk mentransformasi strategi pedagogis secara fundamental. Sejalan dengan gagasan beyond content yang dikemukakan oleh Hokanson et al. (2018), pembelajaran sains di era digital seharusnya bergeser dari sekadar penyajian materi menuju penciptaan pengalaman belajar yang menumbuhkan inquiry, refleksi, dan pemaknaan mendalam. Oleh karena itu, diperlukan solusi pedagogis dan teknologis yang mampu menjembatani kebutuhan pembelajaran sains modern dengan praktik pembelajaran di kelas secara sistematis dan kontekstual.
BAGIAN II ANALISIS KEILMUAN PENDIDIKAN
2. Hasil Analisis Fokus Proyek
Fokus permasalahan dalam proyek ini terletak pada rendahnya literasi sains siswa SMP yang disebabkan oleh keterbatasan pengalaman belajar eksploratif dan visual dalam pembelajaran IPA. Untuk menjawab permasalahan tersebut, proyek ini dirancang dengan mengintegrasikan pendekatan inquiry learning ke dalam format microlearning interaktif. Microlearning dipilih sebagai landasan desain karena mampu menyajikan materi dalam unit-unit kecil yang terfokus, sehingga menurunkan beban kognitif siswa dan meningkatkan retensi konsep. Setiap unit microlearning disusun mengikuti tahapan inquiry learning, mulai dari mengamati fenomena, merumuskan pertanyaan, menguji hipotesis melalui simulasi, hingga menarik kesimpulan. Keputusan desain ini sejalan dengan pandangan Bishop et al. (2020) yang menegaskan bahwa desain pembelajaran efektif di era digital harus berbasis riset, berstruktur modular, dan mendorong keterlibatan aktif peserta didik agar intervensi teknologi benar-benar berdampak pada capaian belajar.
3. Transformasi Teknologi & Koherensi Fitur
Transformasi teknologi dalam proyek ini diwujudkan melalui koherensi antara fitur microlearning, pendekatan inquiry learning, dan tujuan peningkatan literasi sains. Setiap modul microlearning dilengkapi dengan animasi pergerakan benda langit, simulasi interaktif, serta kuis reflektif dengan umpan balik otomatis yang dirancang selaras dengan tujuan pembelajaran. Koherensi ini memastikan bahwa aktivitas belajar, konten, dan evaluasi berada dalam satu kerangka yang terintegrasi. Pendekatan tersebut mengacu pada perspektif Spector et al. (2014) yang menekankan bahwa teknologi pendidikan tidak boleh berhenti pada digitalisasi konten, tetapi harus meningkatkan kualitas dan validitas pengalaman belajar. Dengan demikian, microlearning interaktif ini berfungsi sebagai sarana transformasi pembelajaran IPA dari pembelajaran pasif menuju pembelajaran bermakna yang mendorong pemahaman konseptual secara mendalam.
BAGIAN III ANALISIS KEILMUAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
4. Kolaborasi Manusia & Teknologi
Produk microlearning interaktif ini dirancang sebagai bentuk kolaborasi konkret antara kecerdasan pedagogis guru dan teknologi digital. Guru berperan sebagai perancang pengalaman belajar dengan menentukan tujuan pembelajaran, konteks materi, serta alur inquiry yang relevan, sementara teknologi berfungsi untuk mengeksekusi rancangan tersebut melalui visualisasi, simulasi, dan interaktivitas. Platform Genially dimanfaatkan untuk mengintegrasikan berbagai elemen multimedia tanpa menuntut kemampuan pemrograman yang kompleks, sehingga guru tidak terbebani aspek teknis. Model kolaborasi ini mencerminkan konsep bridging human intelligence and artificial intelligence sebagaimana dikemukakan oleh Albert et al. (2021), di mana teknologi diposisikan sebagai mitra kognitif yang memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya.
5. Dekomposisi Masalah
Dari perspektif teknologi, microlearning interaktif ini menerapkan prinsip dekomposisi masalah melalui pemecahan materi kompleks menjadi unit-unit pembelajaran yang lebih sederhana dan terkelola. Materi Bumi dan Tata Surya yang bersifat abstrak diuraikan ke dalam modul-modul singkat berdurasi 3–5 menit, masing-masing dengan fokus konsep yang spesifik. Struktur ini mencerminkan penerapan Computational Thinking, khususnya pada aspek dekomposisi dan pengurutan logis konten. Sebagaimana dijelaskan oleh Rich dan Hodges (2017), pendekatan ini membantu pendidik dan peserta didik dalam memandang masalah kompleks sebagai kumpulan bagian yang dapat dipahami dan diselesaikan secara sistematis. Dengan demikian, teknologi tidak hanya menyajikan konten, tetapi juga membentuk pola berpikir terstruktur dalam pembelajaran.
6. Definisi dan Peran Teknologi
Proyek microlearning interaktif ini menegaskan posisinya dalam disiplin Teknologi Pendidikan sebagai sebuah sistem yang dirancang untuk memfasilitasi belajar dan meningkatkan kinerja, bukan sekadar sebagai media pendukung pembelajaran. Hal ini selaras dengan definisi Teknologi Pendidikan yang dirumuskan oleh Januszewski dan Molenda (2008), yang menyatakan bahwa teknologi pendidikan merupakan studi dan praktik etis dalam menciptakan, menggunakan, dan mengelola proses serta sumber daya teknologi untuk memfasilitasi belajar dan meningkatkan kinerja. Melalui integrasi inquiry learning, desain modular, dan visualisasi interaktif, produk ini mengaktualisasikan fungsi tersebut secara komprehensif. Teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pengalaman belajar siswa sekaligus membantu guru dalam mengelola pembelajaran IPA yang kompleks secara lebih efektif dan efisien.
BAGIAN IV TUTORIAL PEMANFAATAN PRODUK PROYEK
7. Aksebilitas dan Konsep Pembelajaran
Microlearning interaktif ini dikembangkan sebagai media pembelajaran berbasis web yang dapat diakses melalui peramban standar tanpa memerlukan instalasi aplikasi tambahan. Platform Genially memungkinkan siswa dan guru mengakses modul pembelajaran kapan saja dan di mana saja, sehingga mendukung prinsip ubiquitous learning. Desain ini sejalan dengan visi teknologi pembelajaran masa depan yang dikemukakan oleh Moller, Huett, dan Harvey (2009), yang menekankan pentingnya fleksibilitas akses untuk meminimalkan hambatan teknis dalam proses belajar. Dengan akses yang mudah dan tampilan visual yang intuitif, microlearning ini dirancang untuk mendukung pembelajaran mandiri sekaligus pembelajaran di kelas.
8. Panduan Proyek
Tahap awal penggunaan microlearning dimulai dengan memilih modul pembelajaran sesuai topik, misalnya rotasi Bumi, revolusi Bumi, atau gerhana. Setiap modul diawali dengan stimulus visual berupa animasi atau simulasi yang mendorong siswa mengamati fenomena. Selanjutnya, siswa diarahkan untuk menjawab pertanyaan pemantik, melakukan eksplorasi melalui simulasi interaktif, dan mengerjakan kuis reflektif untuk menguji pemahaman. Seluruh tahapan ini disajikan dalam bentuk video tutorial yang disematkan melalui platform YouTube, dengan penjelasan langsung dari pengembang sebagai presenter. Integrasi multimedia ini bertujuan memberikan panduan yang jelas bagi guru dan siswa dalam memanfaatkan produk secara optimal.
BAGIAN V PENUTUP
9. Kesimpulan dan Dampak
Sebagai simpulan, pengembangan microlearning interaktif berbasis inquiry learning ini menawarkan solusi tekno-pedagogis yang strategis untuk meningkatkan literasi sains siswa SMP. Dengan memanfaatkan desain modular, visualisasi interaktif, dan pendekatan inquiry, produk ini mampu mengurangi hambatan konseptual dan teknis dalam pembelajaran IPA, khususnya pada materi Bumi dan Tata Surya. Implementasi microlearning ini mendukung terciptanya ekosistem unconstrained learning sebagaimana dikemukakan oleh Moller dan Huett (2012), di mana pembelajaran menjadi lebih fleksibel, adaptif, dan berpusat pada kebutuhan peserta didik. Dengan demikian, teknologi pendidikan berperan tidak hanya sebagai alat bantu, tetapi sebagai sistem yang membebaskan potensi belajar siswa dan meningkatkan kualitas praktik pedagogis guru.
Referensi
Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
Andriani, A. E., Sulistyorini, S., Witanto, Y., & Kiptiyah, S. M. (2025). Improving teachers’ digital pedagogy through the use of interactive multimedia using Genially in elementary school learning. Warta Pengabdian Andalas, 32(2), 228–237
Astiwardhani, W., & Sobandi, A. (2024). Transforming educational paradigms: How micro learning shapes student understanding, retention, and motivation? Journal of Education Action Research, 8(2), 300–309.
Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
Monib, W. K., Qazi, A., & Apong, R. A. (2025). Microlearning beyond boundaries: A systematic review and a novel framework for improving learning outcomes. Heliyon, 11(2), e41413.
Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.

Tinggalkan Balasan