Pengembangan Modul Augmented Rjeality (AR) Prosedur Kimia: Senyawa Hidrogen untuk Meningkatkan Keterampilan Prosedural Siswa SMA

·

·

, ,

Ridho Bima Suliantoro Putra

230121600565

Offering A23

Harapan Proyek

Harapan utama dari pengembangan Modul Augmented Reality (AR) Prosedur Kimia: Senyawa Hidrogen ini adalah untuk menciptakan solusi belajar yang transformatif dan berbasis teknologi. Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan penguasaan keterampilan prosedural siswa SMA Kelas XI dalam melaksanakan eksperimen kimia, yang sering kali terhambat oleh keterbatasan peralatan dan risiko keselamatan di laboratorium nyata. Melalui simulasi AR yang imersif, siswa akan mendapatkan panduan visual langkah demi langkah yang detail, memungkinkan mereka untuk berlatih tanpa batas hingga mencapai kompetensi, sehingga menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik. Selain itu, proyek ini secara signifikan diharapkan mampu meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa. Penggunaan teknologi terkini selaras dengan visi Pendidikan Era Digital yang menekankan pada inovasi dan adaptasi teknologi dalam proses belajar (Albert, Lin, Spector, & Dunn, 2021). Dengan demikian, Modul AR ini tidak hanya menjadi alat bantu belajar yang efektif, tetapi juga merupakan kontribusi nyata dalam mempersiapkan generasi pelajar yang siap menghadapi tantangan abad ke-21 (Moller, Huett, & Harvey, 2009). Dengan demikian, proyek ini berkontribusi pada transformasi paradigma pembelajaran abad ke-21 yang berpusat pada pengalaman belajar imersif dan teknologi cerdas.

Konteks Proyek

Proyek pengembangan konten digital ini berakar kuat pada kebutuhan mendesak di lingkungan pembelajaran Kimia tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) Kelas XI. Penguasaan materi Prosedur Kimia, khususnya yang berkaitan dengan Senyawa Hidrogen, menuntut keterampilan praktis yang tinggi, namun implementasinya sering terbentur oleh berbagai kendala. Sekolah seringkali menghadapi isu keterbatasan sumber daya laboratorium, baik dari segi alat, bahan kimia yang mahal, maupun alokasi waktu praktikum yang terbatas. Lebih lanjut, aspek keselamatan kerja menjadi perhatian utama, di mana kesalahan prosedur dapat berakibat fatal. Dalam konteks ini, Teknologi Pendidikan menawarkan solusi yang cerdas, sejalan dengan definisi bahwa teknologi harus meningkatkan komunikasi dan proses belajar (Januszewski & Molenda, 2008). Augmented Reality (AR) dipilih sebagai teknologi kunci karena kemampuannya untuk menempatkan visualisasi 3D yang kompleks (seperti alat laboratorium atau molekul) ke dalam dunia nyata pengguna, menawarkan pengalaman unconstrained learning (Moller & Huett, 2012) yang mengatasi batasan fisik laboratorium. Dengan fokus pada konteks kurikulum yang menuntut penguasaan keterampilan ilmiah, Modul AR ini diposisikan sebagai inovasi strategis untuk memastikan setiap siswa dapat mengakses simulasi praktikum berkualitas tinggi kapan saja dan di mana saja (Moller, Huett, & Harvey, 2009). Peran teknologi pendidikan dalam konteks ini bukan hanya sebagai alat bantu, tetapi sebagai sistem penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan pengalaman belajar yang terstruktur.

Deskripsi Kesenjangan (Gap Description)

Kesenjangan utama yang diidentifikasi dalam konteks pembelajaran prosedur Kimia di SMA adalah perbedaan signifikan antara kompetensi prosedural yang dituntut kurikulum dengan realitas pengalaman praktikum siswa di lapangan. Secara ideal, siswa harus mampu melakukan serangkaian prosedur kimia dengan akurat dan aman; namun, seringkali waktu praktikum yang singkat dan jumlah alat yang tidak memadai memaksa guru hanya menunjukkan demonstrasi, atau siswa hanya sekadar membaca buku tanpa melakukan praktik langsung. Kesenjangan ini diperparah oleh sifat materi kimia yang abstrak, di mana proses dan mekanisme di tingkat molekuler sulit divisualisasikan, menciptakan kesulitan yang telah lama menjadi fokus penelitian teknologi pendidikan (Spector, Merrill, Elen, & Bishop, 2014). Selain itu, meskipun computational thinking semakin penting dalam pendidikan (Rich & Hodges, 2017), kurangnya integrasi teknologi canggih dalam simulasi praktikum berarti siswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan pemahaman prosedural dan konseptual secara holistik. Kesenjangan ini pada akhirnya menghasilkan lulusan yang mungkin memahami teori, tetapi kurang terampil dan kurang percaya diri dalam mengaplikasikan pengetahuan prosedural di dunia nyata. Selain itu, guru sering mengalami keterbatasan waktu, beban administrasi, serta kurangnya pelatihan teknologi, sehingga idealitas pembelajaran tidak tercapai.

Uraian Deskripsi Solusi Proyek (Solution Description)

Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi kesenjangan tersebut adalah Pengembangan Modul Augmented Reality (AR) Prosedur Kimia: Senyawa Hidrogen. Modul AR ini akan menjadi konten digital interaktif yang dirancang khusus untuk memvisualisasikan seluruh urutan prosedur kimia yang kompleks, mulai dari persiapan bahan, penggunaan alat standar laboratorium, hingga pembacaan hasil dan pembuangan limbah, dalam lingkungan simulasi yang aman. Modul ini akan memanfaatkan keunggulan AR untuk memproyeksikan objek 3D (seperti labu Erlenmeyer, buret, atau reaksi kimia) secara real-time ke lingkungan fisik siswa, memungkinkan mereka memanipulasi objek virtual tersebut melalui smartphone atau tablet. Pendekatan ini selaras dengan prinsip Educational Technology Beyond Content yang berfokus pada pengalaman belajar baru dan adaptif (Hokanson, Clinton, Tawfik, Grincewicz, & Schmidt, 2018). Modul AR ini akan berfungsi sebagai “laboratorium virtual saku”, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengulangi prosedur berulang kali, mengoreksi kesalahan tanpa konsekuensi, dan secara efektif mengisi kekosongan pengalaman praktikum yang tidak terpenuhi oleh keterbatasan fisik sekolah (Moller, Huett, & Harvey, 2009).

Rumusan masalah utama dalam proyek ini adalah: Bagaimana pengembangan Modul Augmented Reality (AR) Prosedur Kimia: Senyawa Hidrogen dapat meningkatkan keterampilan prosedural siswa SMA Kelas XI?

Tujuan Proyek (Project Objectives)

Tujuan pertama adalah menghasilkan sebuah Modul Augmented Reality (AR) Prosedur Kimia: Senyawa Hidrogen yang berkualitas, dikembangkan melalui tahapan yang sistematis dan teruji, sehingga memenuhi kriteria kelayakan sebagai media pembelajaran di SMA.

Tujuan kedua adalah mengukur dan menganalisis efektivitas Modul AR yang dikembangkan, khususnya dalam meningkatkan aspek keterampilan prosedural siswa, seperti ketepatan urutan langkah, penggunaan alat, dan pemahaman keselamatan kerja.

Tujuan ketiga proyek ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menyimpulkan tingkat respons dan penerimaan pengguna terhadap modul yang dihasilkan, menilai kualitas, kemudahan penggunaan, dan manfaat praktisnya sebagai inovasi yang mendukung visi Pendidikan Era Digital.


Metodologi Pengembangan Proyek
Metodologi yang dipilih untuk memandu pengembangan Modul Augmented Reality (AR) Prosedur Kimia: Senyawa Hidrogen adalah model sistematis ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation), sebuah kerangka kerja yang teruji dan diakui dalam bidang Teknologi Pendidikan. Pemilihan model ini sejalan dengan pandangan bahwa setiap proyek yang melibatkan komunikasi dan teknologi untuk pembelajaran harus dikembangkan secara terencana dan terstruktur (Spector, Merrill, Elen, & Bishop, 2014). Sifat model ADDIE yang fleksibel, tetapi sistematis, memastikan bahwa proses penciptaan media ini tidak hanya menghasilkan konten yang inovatif, tetapi juga layak secara instruksional dan efektif secara pedagogis, selaras dengan definisi Teknologi Pendidikan itu sendiri (Januszewski & Molenda, 2008).

Tahap Pertama: Analisis (Analysis)

Tahap analisis berfungsi sebagai fondasi proyek, di mana kebutuhan dan masalah diidentifikasi secara mendalam. Pada tahap ini, kegiatan utama yang dilakukan adalah analisis kebutuhan (need assessment) untuk memahami secara spesifik kesenjangan penguasaan keterampilan prosedural siswa SMA Kelas XI pada topik Senyawa Hidrogen dan mengidentifikasi kendala praktikum di lapangan. Selain itu, analisis kurikulum dilakukan untuk memetakan kompetensi yang harus dicapai, dan analisis karakteristik pengguna (siswa dan guru) dilaksanakan untuk memastikan Modul AR yang akan dirancang relevan dan mudah digunakan.

Tahap Kedua: Desain (Design)

Setelah kebutuhan teridentifikasi, tahap kedua adalah mengubah temuan analisis menjadi spesifikasi produk yang rinci. Sesuai dengan prinsip desain instruksional, langkah krusial di sini adalah perancangan tujuan pembelajaran yang spesifik dan terukur, diikuti dengan pembuatan papan cerita (storyboard) yang mendetail. Storyboard ini memvisualisasikan bagaimana setiap urutan prosedur kimia akan dianimasikan dan diinteraksikan dalam lingkungan AR. Selain itu, pemilihan teknologi dan perancangan instrumen evaluasi (seperti tes keterampilan dan angket penerimaan pengguna) dilakukan pada tahap ini.

Tahap Ketiga: Pengembangan (Development)

Tahap ketiga adalah realisasi desain menjadi produk prototipe yang fungsional. Proses ini melibatkan produksi konten AR melalui pemodelan 3D dan animasi prosedur kimia. Konten tersebut kemudian diintegrasikan melalui pemrograman aplikasi untuk membangun fungsionalitas interaktif dan antarmuka pengguna yang intuitif. Setelah prototipe selesai, produk wajib menjalani validasi ahli—melibatkan ahli materi dan ahli media—guna mendapatkan masukan, kritik, dan rekomendasi. Validasi ini penting untuk memastikan bahwa modul telah melampaui konten statis dan fokus pada pengalaman belajar yang efektif (Hokanson, Clinton, Tawfik, Grincewicz, & Schmidt, 2018). Revisi produk dilakukan secara menyeluruh berdasarkan temuan validasi sebelum dilakukan uji coba lapangan.

Tahap Keempat: Implementasi (Implementation)

Tahap implementasi adalah pengujian produk di lingkungan belajar nyata untuk mengukur efektivitas dan kepraktisannya. Setelah uji coba terbatas dilakukan untuk perbaikan teknis, dilakukan implementasi uji coba utama pada kelompok sampel yang lebih besar untuk mengukur dampak Modul AR secara kuantitatif, sesuai dengan Rumusan Masalah Proyek. Pada tahap ini, pengumpulan data dilakukan secara aktif, mencakup hasil penguasaan keterampilan prosedural siswa dan data respons pengguna yang menunjukkan sejauh mana modul ini dapat diterima dan mendukung pembelajaran di era digital.

Tahap Kelima: Evaluasi (Evaluation)

Tahap terakhir, evaluasi, adalah proses penilaian kinerja produk dan efektivitas proyek secara menyeluruh. Evaluasi ini bersifat formatif dan sumatif. Aktivitas utama meliputi analisis data efektivitas yang komprehensif, untuk melihat peningkatan keterampilan prosedural siswa, dan analisis data kepraktisan untuk menilai tingkat penerimaan pengguna. Proses ini sejalan dengan perlunya penelitian yang mendalam mengenai komunikasi dan teknologi pendidikan (Bishop, Boling, Elen, & Svihla, 2020). Hasil analisis ini kemudian disintesiskan untuk menjawab seluruh Tujuan Proyek dan menyusun laporan akhir. Pemilihan model ADDIE dibandingkan model lain didasarkan pada sifatnya yang sistematis, fleksibel, dan telah terbukti efektif dalam proyek digital education.

Referensi

  1. Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
  2. Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
  3. Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
  4. Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
  5. Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
  6. Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
  7. Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
  8. Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *