Dimas Eka Saputra
230121610078
Kelas B
I. Pendahuluan
Analisis Kesenjangan
Dalam kerangka ideal pendidikan era digital, pembelajaran asinkron di perguruan tinggi seharusnya dirancang sebagai ruang belajar yang mengaktifkan keterlibatan kognitif, refleksi, dan otonomi mahasiswa, bukan sekadar sarana distribusi materi. Teknologi pendidikan, sebagaimana ditegaskan oleh Januszewski dan Molenda (2008), dipahami sebagai proses dan sumber yang secara intentional dikelola untuk memfasilitasi pembelajaran, sejalan dengan paradigma beyond content yang menuntut pengalaman belajar bermakna dalam lingkungan digital (Hokanson et al., 2018). Namun, temuan pada tahap perancangan proyek ini menunjukkan kesenjangan yang signifikan antara idealitas tersebut dan praktik aktual pembelajaran asinkron. Dalam konteks mata kuliah Manajemen Inovasi (Offering D10) Universitas Negeri Malang, platform SIPEJAR cenderung dimanfaatkan secara administratif untuk unggah materi dan pengumpulan tugas, sehingga mendorong pola belajar pasif dan berorientasi pada penyelesaian kewajiban akademik. Kondisi ini berdampak pada rendahnya keterlibatan belajar, minimnya interaksi bermakna, serta lemahnya regulasi diri mahasiswa, yang bertentangan dengan prinsip desain pembelajaran digital modern seperti segmentasi materi, interaktivitas, dan umpan balik cepat untuk membangun cognitive presence dan self-directed learning (Bishop et al., 2020; Spector et al., 2014). Kesenjangan inilah yang menjadi titik tolak proyek ini, sekaligus menegaskan urgensi pendekatan pembelajaran asinkron yang mampu mereposisi teknologi dari sekadar wadah administratif menjadi mekanisme pedagogis yang mengaktifkan pengalaman belajar mahasiswa secara lebih mendalam.
II. Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)
Fokus Masalah & Landasan Desain
Fokus utama permasalahan dalam proyek ini terletak pada lemahnya keterlibatan belajar mahasiswa dalam pembelajaran asinkron yang bukan semata disebabkan oleh rendahnya motivasi individu, melainkan oleh desain instruksional digital yang minim struktur pedagogis dan interaksi bermakna. Lingkungan belajar yang tidak dirancang secara intentional cenderung mendorong pola belajar pasif dan berorientasi pada penyelesaian tugas, sehingga menghambat keterlibatan kognitif dan refleksi belajar mahasiswa. Oleh karena itu, perancangan modul microlearning interaktif dalam proyek ini berangkat dari kebutuhan untuk merekonstruksi desain pembelajaran asinkron agar lebih selaras dengan prinsip-prinsip pedagogis modern. Prinsip microlearning dipilih karena kemampuannya memecah kompleksitas materi ke dalam unit-unit belajar tersegmentasi yang mendukung konstruksi makna secara bertahap melalui pengelolaan beban kognitif (Bishop et al., 2020). Integrasi interaktivitas, navigasi non-linear, dan umpan balik instan dirancang untuk membangun cognitive presence serta memfasilitasi refleksi dan pembelajaran mandiri sebagaimana ditegaskan oleh Spector et al. (2014). Selaras dengan paradigma beyond content (Hokanson et al., 2018), fitur-fitur teknis tersebut tidak diposisikan sebagai elemen tambahan, melainkan sebagai strategi pedagogis yang secara sadar dirancang untuk mendorong keterlibatan aktif dan otonomi belajar. Dengan demikian, hubungan antara fitur teknis produk dan landasan teori desain pembelajaran dalam proyek ini bersifat koheren dan saling menguatkan dalam menjawab fokus masalah utama pembelajaran asinkron.
Transformasi Teknologi & Koherensi Fitur
Transformasi teknologi dalam proyek ini tidak dimaknai sebagai digitalisasi materi pembelajaran, melainkan sebagai upaya sistematis untuk menerjemahkan prinsip-prinsip pedagogis ke dalam mekanisme teknologis yang koheren. Platform Genially berfungsi sebagai medium transformasional yang memungkinkan fitur microlearning, interaktivitas, umpan balik instan, dan gamifikasi bekerja dalam satu alur pengalaman belajar yang saling terhubung, bukan sebagai elemen terpisah. Segmentasi materi (chunking) berperan sebagai fondasi pengelolaan beban kognitif, sementara navigasi non-linear dan interaktivitas mendorong eksplorasi aktif mahasiswa dalam membangun pemahaman. Integrasi kuis adaptif dan umpan balik instan berfungsi sebagai mekanisme regulasi diri yang memperkuat cognitive presence serta menjembatani keterbatasan pembelajaran asinkron yang minim interaksi langsung. Koherensi desain ini selaras dengan pandangan Januszewski dan Molenda (2008) bahwa teknologi pendidikan harus menciptakan kondisi belajar yang intentional melalui pengelolaan proses dan sumber belajar, serta sejalan dengan kerangka unconstrained learning (Moller & Huett, 2012) yang menekankan fleksibilitas belajar tanpa kehilangan struktur pedagogis. Dengan demikian, transformasi teknologi dalam proyek ini tercermin dari keterpaduan antarfitur yang secara sadar dirancang untuk mengaktifkan keterlibatan, refleksi, dan otonomi belajar mahasiswa dalam pembelajaran asinkron.
III. Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)
Analisis “How” – Kolaborasi Manusia & Teknologi
Dalam perspektif tekno-pedagogi, modul microlearning interaktif berbasis Genially dalam proyek ini bekerja sebagai sistem kolaboratif antara manusia dan teknologi, di mana mahasiswa tetap menjadi aktor utama dalam pengambilan keputusan belajar, sementara teknologi berperan sebagai fasilitator proses kognitif dan regulasi diri. Kolaborasi ini diwujudkan melalui desain sistem yang secara sadar membagi peran: mahasiswa mengelola ritme, jalur, dan strategi eksplorasi pembelajaran, sedangkan teknologi menyediakan struktur pembelajaran, stimulus interaktif, serta umpan balik instan yang menjaga arah pedagogis. Pendekatan ini selaras dengan definisi teknologi pendidikan oleh Januszewski dan Molenda (2008) yang menegaskan bahwa teknologi harus diciptakan dan dikelola untuk memfasilitasi pembelajaran secara intentional, bukan sekadar mengotomatisasi penyampaian konten. Dalam kerangka unconstrained learning (Moller & Huett, 2012), fleksibilitas belajar yang ditawarkan modul ini tetap diimbangi dengan struktur pedagogis melalui segmentasi materi, kuis adaptif, dan penanda progres yang membantu mahasiswa merefleksikan pemahamannya secara berkelanjutan. Dengan demikian, produk ini berfungsi sebagai pedagogical partner yang memperkuat keterlibatan, refleksi, dan otonomi belajar mahasiswa dalam pembelajaran asinkron, tanpa menggantikan peran manusia dalam konstruksi makna.
Analisis “How” – Dekomposisi Masalah
Dalam proyek ini, modul microlearning interaktif dirancang sebagai solusi sistematis melalui dekomposisi permasalahan pembelajaran asinkron ke dalam sub-masalah pedagogis yang lebih terkelola. Rendahnya keterlibatan belajar dan lemahnya regulasi diri tidak ditangani sebagai masalah tunggal, melainkan diurai menjadi kebutuhan desain yang spesifik. Kompleksitas materi dipecah melalui segmentasi konten berbasis microlearning untuk mengelola beban kognitif, sementara keterlibatan aktif difasilitasi melalui interaktivitas dan navigasi non-linear yang memberi kontrol belajar pada mahasiswa. Ketiadaan umpan balik cepat direspons melalui integrasi kuis adaptif dan umpan balik instan sebagai mekanisme evaluasi formatif dan regulasi diri. Struktur modular pada platform Genially memungkinkan setiap komponen tersebut bekerja secara mandiri namun saling terhubung, sehingga membentuk sistem pembelajaran yang koheren. Dengan demikian, produk teknologi ini berfungsi bukan sebagai kumpulan fitur terpisah, melainkan sebagai sistem hasil dekomposisi masalah yang secara sadar dirancang untuk menjawab kompleksitas pembelajaran asinkron.
Analisis “How” – Definisi & Peran Teknologi
Dalam kerangka disiplin Teknologi Pendidikan, modul microlearning interaktif yang dikembangkan dalam proyek ini diposisikan bukan sebagai media digital semata, melainkan sebagai sistem teknologi pendidikan sebagaimana didefinisikan oleh Januszewski dan Molenda (2008), yaitu praktik yang melibatkan proses penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan sumber serta proses belajar secara intentional untuk memfasilitasi pembelajaran. Cara kerja produk ini mencerminkan definisi tersebut melalui desain sistematis yang mengintegrasikan analisis masalah belajar, perancangan struktur pembelajaran, serta pengelolaan interaksi dan umpan balik dalam satu kesatuan pengalaman belajar. Teknologi dalam proyek ini berperan sebagai pengatur kondisi belajar (learning condition manager), bukan pengganti peran pendidik atau mahasiswa, dengan menyediakan struktur pedagogis yang memungkinkan terjadinya keterlibatan kognitif, refleksi, dan regulasi diri dalam pembelajaran asinkron. Dengan demikian, produk ini menegaskan posisinya sebagai praktik Teknologi Pendidikan yang berorientasi pada pemecahan masalah pembelajaran melalui desain sistem, bukan sekadar pengembangan artefak digital, serta konsisten dengan paradigma keilmuan yang menempatkan teknologi sebagai sarana fasilitasi belajar yang dirancang dan dikelola secara sadar.
IV. Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek
Aksesibilitas & Konsep Pembelajaran
Akses terhadap produk proyek ini dirancang untuk mendukung fleksibilitas dan otonomi belajar dalam konteks pembelajaran asinkron. Modul microlearning interaktif diakses melalui tautan berbasis web yang dapat dibuka tanpa instalasi aplikasi tambahan, sehingga memungkinkan mahasiswa menggunakan perangkat dan waktu belajar yang beragam. Struktur antarmuka dirancang sederhana dan intuitif dengan navigasi mandiri yang memungkinkan mahasiswa memilih urutan belajar sesuai kebutuhan dan kesiapan kognitifnya. Setiap unit pembelajaran disajikan dalam bentuk segmen singkat yang terintegrasi dengan aktivitas interaktif dan umpan balik langsung, sehingga proses akses tidak hanya bersifat teknis, tetapi sekaligus mengarahkan mahasiswa pada pengalaman belajar aktif dan reflektif. Dengan demikian, cara mengakses dan menggunakan produk ini tidak dipisahkan dari konsep pembelajaran yang mendasarinya, melainkan menjadi bagian dari strategi pedagogis untuk membangun keterlibatan, pengelolaan beban kognitif, dan regulasi diri dalam pembelajaran asinkron.
Panduan Proyek
Panduan pemanfaatan produk proyek ini disusun dalam bentuk langkah-langkah konseptual yang merepresentasikan alur penggunaan satu sistem microlearning interaktif berbasis Genially secara utuh.
Langkah Proyek 1 (Orientasi dan Pemantik Konseptual)
Diawali melalui halaman pembuka modul yang berfungsi membangun konteks belajar dan orientasi kognitif mahasiswa. Pada tahap ini, mahasiswa memasuki pembelajaran melalui informasi judul dan tujuan singkat, kemudian melanjutkan ke panel video interaktif sebagai stimulus utama. Video berperan membangun pemahaman awal terhadap konsep inti dan secara sistemik dirancang sebagai prasyarat, sehingga mahasiswa tidak dapat melanjutkan pembelajaran tanpa menyelesaikan tahap pemaknaan awal tersebut.
Langkah Proyek 2 (Pengecekan dan Penguatan Pemahaman Konsep) dilanjutkan melalui kuis adaptif yang terintegrasi langsung setelah pemutaran video. Pada tahap ini, mahasiswa melakukan pengecekan penguasaan konsep melalui pertanyaan berbasis konten video, disertai umpan balik instan benar–salah yang memungkinkan koreksi pemahaman dan pengulangan secara mandiri. Mekanisme adaptif dan looping kuis berfungsi sebagai kontrol pedagogis yang menjaga keterlibatan sekaligus memastikan penguasaan konsep sebelum beralih ke tahap berikutnya.
Langkah Proyek 3 (Refleksi dan Penguatan Motivasi Belajar) mengarahkan mahasiswa pada aktivitas refleksi tertulis sebagai bentuk internalisasi dan regulasi diri. Penyelesaian refleksi menjadi prasyarat sistemik untuk memperoleh penguatan motivasional berupa badge penghargaan, sebelum mahasiswa diarahkan ke halaman penutup yang merangkum capaian pembelajaran. Keseluruhan alur penggunaan ini kemudian didiseminasikan melalui video tutorial penggunaan modul yang dibuat di Genially, yang berfungsi menjelaskan urutan penggunaan sekaligus logika pedagogis di balik setiap langkah, sehingga mahasiswa memahami bagaimana teknologi bekerja secara sistematis dalam mendukung pembelajaran asinkron yang bermakna.
V. Penutup
Kesimpulan & Unconstrained Learning
Sebagai simpulan, proyek modul microlearning interaktif berbasis Genially ini menegaskan bahwa pembelajaran asinkron dapat ditransformasikan dari sekadar distribusi konten menjadi sistem belajar yang terstruktur, interaktif, dan reflektif. Nilai strategis produk ini terletak pada penerjemahan prinsip pedagogis ke dalam mekanisme teknologi yang bersyarat dan saling terhubung, sehingga teknologi berfungsi sebagai fasilitator keterlibatan dan regulasi diri mahasiswa, bukan pengganti peran pendidik. Dalam perspektif Unconstrained Learning (Moller & Huett, 2012), pembelajaran tanpa kendala tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan ruang dan waktu, tetapi juga sebagai penghilangan hambatan pedagogis dalam pembelajaran jarak jauh, seperti fragmentasi materi, minimnya interaksi bermakna, dan lemahnya kontrol proses belajar. Dengan demikian, proyek ini menunjukkan bahwa pembelajaran digital generasi baru menuntut desain teknologi pendidikan yang intentional dan berorientasi pada pengalaman belajar, agar kebebasan belajar tetap berpijak pada struktur pedagogis yang kuat.
Referensi
Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.

Tinggalkan Balasan