
Dian Aulia Rahmadita
230121601590
B23
Bagian I: Pendahuluan
- Uraian Produk Proyek
Transformasi pembelajaran daring di pendidikan tinggi membawa harapan besar terhadap terciptanya proses belajar yang fleksibel, terbuka, dan kolaboratif. Namun, dalam praktiknya, realitas pembelajaran daring masih dihadapkan pada kesenjangan signifikan antara potensi teknologi digital dan kualitas interaksi sosial mahasiswa. Forum diskusi pada Learning Management System (LMS) kerap dimanfaatkan sebatas sebagai ruang pengumpulan tugas atau diskusi linier yang minim dialog bermakna, sehingga mahasiswa cenderung pasif dan mengalami isolasi sosial akademik. Kondisi ini bertolak belakang dengan harapan pembelajaran digital yang seharusnya mampu membangun komunitas belajar yang aktif dan reflektif. Sejalan dengan pandangan Hokanson et al. (2018) tentang pentingnya pendekatan Beyond Content, teknologi pendidikan tidak lagi cukup berfungsi sebagai media penyampai informasi, tetapi harus mampu memfasilitasi pengalaman belajar yang menumbuhkan interaksi, kolaborasi, dan kehadiran sosial. Oleh karena itu, diperlukan sebuah solusi sistematis yang mampu mentransformasi forum daring konvensional menjadi ruang belajar sosial yang bermakna. Berdasarkan kesenjangan tersebut, proyek PeerLink dikembangkan sebagai respons tekno-pedagogis untuk meningkatkan interaksi sosial mahasiswa melalui aktivitas kolaboratif berbasis Padlet.
Bagian II: Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)
- Hasil Analisis Fokus Proyek
Produk PeerLink secara spesifik dirancang untuk merespons rendahnya kualitas interaksi sosial mahasiswa dalam pembelajaran daring, yang berdampak langsung pada keterlibatan kognitif dan afektif. Secara pedagogis, PeerLink berlandaskan konstruktivisme sosial yang menempatkan interaksi antarpebelajar sebagai prasyarat utama pembentukan pengetahuan. Aktivitas kolaboratif yang dirancang melalui Padlet mendorong mahasiswa untuk membangun makna secara kolektif melalui unggahan ide, diskusi terbuka, serta umpan balik sejawat. Pendekatan desain ini bersifat intensional, karena sebagaimana ditegaskan oleh Bishop et al. (2020), lingkungan belajar digital yang efektif harus dirancang berdasarkan prinsip riset instruksional agar intervensi teknologi benar-benar berdampak pada kualitas pembelajaran.
- Hasil Analisis Transformasi Interaksi Sosial
Pemanfaatan Padlet dalam PeerLink tidak dimaknai sebagai sekadar papan berbagi informasi, melainkan sebagai ruang sosial akademik yang terstruktur. Transformasi pedagogis ini terlihat pada koherensi antara tujuan pembelajaran, struktur aktivitas, dan bentuk interaksi yang diharapkan. Mahasiswa tidak hanya diminta mengunggah konten, tetapi juga berinteraksi secara reflektif melalui komentar dan diskusi sejawat. Transformasi ini sejalan dengan pandangan Spector et al. (2014) yang menekankan bahwa teknologi pendidikan seharusnya meningkatkan kualitas proses belajar, bukan sekadar mendigitalisasi praktik konvensional. Dengan demikian, PeerLink merepresentasikan perubahan paradigma penggunaan teknologi dari alat pasif menjadi medium aktif pembentuk pengalaman belajar sosial.
Bagian III: Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)
- Kolaborasi Manusia dan Teknologi (Bridging Human–Technology Interaction)
Dari perspektif tekno-pedagogi, PeerLink menunjukkan bagaimana kolaborasi antara manusia dan teknologi dapat diwujudkan secara sistematis dalam pembelajaran daring. Mahasiswa berperan sebagai aktor utama yang membangun dan menegosiasikan makna melalui kontribusi konten dan umpan balik sejawat, sementara Padlet berfungsi sebagai mediator yang memfasilitasi interaksi tersebut secara visual dan multimodal. Relasi ini mencerminkan konsep bridging human intelligence and technology sebagaimana dikemukakan oleh Albert et al. (2021), di mana teknologi tidak menggantikan peran manusia, melainkan memperluas kapasitas interaksi dan kolaborasi manusia dalam konteks pembelajaran.
- Penerapan Prinsip Dekomposisi Masalah
Struktur aktivitas dalam PeerLink merefleksikan penerapan prinsip dekomposisi masalah sebagai bagian dari pendekatan sistematis teknologi pendidikan. Permasalahan kompleks berupa rendahnya interaksi sosial diuraikan menjadi tahapan-tahapan sederhana, yaitu kontribusi ide, interaksi sejawat melalui komentar, dan refleksi kolektif. Setiap tahapan dirancang saling terhubung dalam satu alur kolaboratif yang koheren. Pendekatan ini sejalan dengan konsep berpikir komputasional yang dibahas oleh Rich dan Hodges (2017), di mana masalah kompleks dipecah menjadi unit-unit terkelola untuk menghasilkan solusi yang efektif dan berkelanjutan.
- Definisi dan Peran Teknologi Pendidikan
PeerLink menegaskan posisinya dalam disiplin ilmu Teknologi Pendidikan sebagaimana didefinisikan oleh Januszewski dan Molenda (2008), yaitu sebagai studi dan praktik etis untuk memfasilitasi belajar dan meningkatkan kinerja. Dalam konteks ini, PeerLink tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu teknis, tetapi sebagai sistem pembelajaran yang memfasilitasi interaksi sosial mahasiswa dan meningkatkan kinerja dosen dalam mengelola kelas daring. Integrasi aktivitas, teknologi, dan peran pengguna menunjukkan bahwa PeerLink merepresentasikan praktik Teknologi Pendidikan yang utuh dan kontekstual.
Bagian IV: Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek
- Aksesibilitas dan Konsep Pembelajaran
PeerLink dikembangkan dengan mempertimbangkan kemudahan akses dan fleksibilitas penggunaan agar dapat diadopsi secara luas dalam pembelajaran daring. Produk ini memanfaatkan platform Padlet berbasis web yang dapat diakses melalui berbagai perangkat tanpa instalasi tambahan. Dosen cukup menautkan papan Padlet ke dalam LMS seperti Google Classroom atau Moodle, kemudian membagikan panduan aktivitas kepada mahasiswa. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ubiquitous learning yang dikemukakan oleh Moller, Huett, dan Harvey (2009), di mana teknologi memungkinkan pembelajaran berlangsung tanpa terikat ruang dan waktu.
- Panduan Proyek: Aktivitas PeerLink Berbasis Padlet
Tahap penggunaan PeerLink diawali dengan pembuatan papan Padlet oleh dosen sesuai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Dosen menentukan format papan, seperti wall atau grid, kemudian menyusun instruksi aktivitas yang mendorong mahasiswa mengunggah ide, analisis, atau refleksi dalam bentuk teks, gambar, maupun video. Mahasiswa selanjutnya diminta memberikan komentar dan umpan balik terhadap unggahan teman sejawat sebagai bentuk interaksi sosial akademik. Seluruh alur penggunaan ini dijelaskan melalui video tutorial yang menampilkan langkah-langkah praktis pemanfaatan PeerLink, mulai dari pembuatan papan hingga strategi memoderasi diskusi kolaboratif. Video tutorial tersebut disematkan melalui platform YouTube sebagai bagian integral dari diseminasi produk proyek.
Bagian V: Penutup
Sebagai penutup, PeerLink menawarkan nilai strategis dalam mengatasi keterbatasan interaksi sosial pada pembelajaran daring melalui desain aktivitas kolaboratif yang terstruktur dan berbasis teknologi yang mudah diakses. Dengan memanfaatkan Padlet sebagai ruang sosial akademik, PeerLink mampu menghilangkan batasan tradisional berupa keterasingan mahasiswa dalam kelas daring dan menggantinya dengan pengalaman belajar yang lebih partisipatif dan humanis. Kondisi ini mendukung terwujudnya paradigma Unconstrained Learning sebagaimana dikemukakan oleh Moller dan Huett (2012), di mana hambatan ruang, waktu, dan struktur kaku pembelajaran diminimalkan. Dengan demikian, PeerLink tidak hanya berfungsi sebagai solusi praktis pembelajaran daring, tetapi juga sebagai representasi transformasi teknologi pendidikan yang berorientasi pada kebebasan belajar, kolaborasi, dan penguatan komunitas akademik digital.
Referensi
Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.
Tinggalkan Balasan