Masyitah
230121606586
Kelas C23
Harapan Proyek
Pendidikan di era digital menuntut adanya pergeseran fundamental dari sekadar transfer pengetahuan faktual menuju penciptaan pengalaman belajar yang mendalam (deep learning) dan terukur. Kondisi ideal ini sejalan dengan pandangan Hokanson et al. (2018), yang menyatakan bahwa teknologi pendidikan harus melampaui fokus pada konten statis (beyond content) dan berperan sebagai sarana untuk mengembangkan kapasitas intelektual serta keterampilan abad ke-21 yang dibutuhkan oleh pasar kerja. Filosofi ini menjamin bahwa luaran pendidikan tidak hanya berupa nilai akademik, tetapi kemampuan nyata dalam aplikasi dan pemecahan masalah. Aspirasi ini diperkuat oleh konsep Unconstrained Learning (Pembelajaran Tanpa Batasan) yang diuraikan oleh Moller dan Huett (2012), di mana sistem pembelajaran masa depan harus membebaskan pembelajar dari batasan rigid waktu, tempat, dan kurikulum formal SKS, sehingga memungkinkan lifelong learning yang fleksibel, dan Microcredential menjadi implementasi yang ideal dari prinsip ini. Secara makroekonomi, tuntutan pasar kerja global semakin menguat dan mengutamakan pengakuan keterampilan modular yang terstandarisasi industri, yang dikonfirmasi oleh temuan Hooi K.K. (2025) yang menunjukkan bahwa mayoritas pemberi kerja (96%) setuju bahwa Microcredentials secara signifikan memperkuat lamaran kerja dan bersedia menawarkan gaji awal yang lebih tinggi (10–15%) , oleh karena itu, harapan proyek ini adalah untuk menciptakan jalur resmi pengakuan keterampilan di dalam ekosistem pendidikan nasional (SPADA) yang mampu menghasilkan lulusan dengan jaminan kompetensi yang kredibel, yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing ekonomi mereka.
Konteks Proyek
Proyek ini dilaksanakan dalam konteks ekosistem Sistem Pembelajaran Daring Indonesia (SPADA), di mana SPADA, yang berfungsi sebagai agregator Learning Management System (LMS) nasional, menyediakan infrastruktur teknologi, namun proyek ini secara strategis memosisikan Professional Track di dalamnya sebagai jalur non-SKS untuk memanfaatkan jangkauan SPADA sambil menghindari kekakuan administrasi akademik. Peran teknologi dalam proyek ini didefinisikan secara sistematis, konsisten dengan definisi Teknologi Pendidikan yang disajikan oleh Januszewski dan Molenda (2008), yang menekankan bahwa fasilitasi belajar terjadi melalui proses “penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan” sumber daya teknologi yang etis, sehingga Modul Interaktif H5P berfungsi sebagai sumber daya teknologi yang diciptakan untuk mengelola proses penguasaan kompetensi (Mastery) melalui alur yang terstruktur dan terkelola. Kompleksitas perancangan Microcredential yang terintegrasi industri menuntut lingkungan belajar yang dirancang secara canggih dan intensional, yang sesuai dengan pandangan Bishop et al. (2020) mengenai perlunya penerapan prinsip-prinsip riset instruksional terkini untuk membangun ekosistem pembelajaran yang efektif dan adaptif , serta desain modul ini berorientasi pada teknologi yang ubiquitous dan mudah diakses, sejalan dengan visi masa depan teknologi instruksional yang dikemukakan oleh Moller, Huett, dan Harvey (2009), di mana pemilihan H5P (HTML5 Package) menjamin portabilitas konten dan kemampuan integrasi yang tinggi dengan SPADA, mendukung visi pembelajaran tanpa batas dan mudah diakses.
Deskripsi Kesenjangan
Meskipun harapan pendidikan ideal menekankan deep learning dan fleksibilitas, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan yang parah, yang terbagi menjadi Kesenjangan Sistemik dan Kesenjangan Pedagogis-Teknis. Kesenjangan Sistemik terjadi karena SPADA saat ini beroperasi primernya sebagai platform akademik yang berfokus pada SKS, sehingga luaran pembelajarannya terbatas pada nilai akademik dan ijazah, namun gagal menjembatani kesenjangan kompetensi (skill gap) yang dituntut pasar kerja modern, di mana kurangnya mekanisme resmi Microcredential di SPADA memperburuk kesenjangan ini (Brown et al., 2022) dan memperlambat inisiatif lifelong learning , sehingga kesenjangan antara validitas akademik dan relevansi industri ini harus diatasi melalui kolaborasi yang lebih erat dengan DUDI, sebagaimana diakui oleh pemangku kepentingan pendidikan vokasi di Indonesia (Dr. Sulistio Mukti Cahyono, 2025). Kesenjangan Pedagogis-Teknis muncul karena mencapai deep learning menuntut strategi pembelajaran kompleks, seperti Project-Based Learning (PBP) yang berpusat pada Kreasi (C5), namun proses perancangan manual untuk skenario asesmen yang kompleks dan adaptif membebani waktu dan kognisi desainer instruksional, sehingga diperlukan solusi yang menempatkan kecerdasan buatan (AI) atau otomatisasi instruksional bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai mitra kolaboratif, sesuai dengan pendekatan “menjembatani kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan” (bridging human intelligence and artificial intelligence) (Albert et al., 2021), yang memastikan teknologi menyediakan mekanisme otomatisasi yang mengurangi beban teknis desain, sambil tetap menjamin luaran pembelajaran memiliki kualitas pedagogis yang tinggi dan kredibilitas industri.
Uraian Deskripsi Solusi Proyek
Solusi konkret yang diusulkan adalah pengembangan Prototipe Satu Unit Modul Hybrid-Microcredential: Literasi Digital Dasar: Keamanan Data Pribadi, yang berfungsi sebagai unit percontohan untuk SPADA Professional Track, dengan berinovasi mengintegrasikan validasi industri ke dalam ekosistem LMS nasional. Modul ini mengadopsi arsitektur Hybrid-Microlearning, di mana materi dasar dibagi menjadi sesi 5-10 menit untuk retensi maksimal, dan menggabungkan teori akademis dengan aplikasi praktis industri, menggunakan teknologi utama H5P untuk menciptakan Interactive Video (untuk materi teori dan klasifikasi data) dan Branching Scenarios (untuk simulasi pengambilan keputusan kritis), karena efektivitas H5P dijustifikasi dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan mengatasi masalah konten pasif, yang merupakan kelemahan umum LMS tradisional. Solusi ini berfokus pada penegakan penguasaan melalui Mastery Learning dengan ambang batas kelulusan 75% di setiap checkpoint, di mana logika yang dibangun di dalam H5P akan memicu Remedial Loop tersegmentasi jika terjadi kegagalan, mengirim peserta kembali ke bagian materi spesifik untuk review, yang merupakan aplikasi praktis dari prinsip Bridging Human Intelligence dan Artificial Intelligence (Albert et al., 2021). Asesmen akhir berpusat pada Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP), di mana peserta diwajibkan untuk Menyusun SOP Handling Phishing sebagai deliverable yang dibutuhkan di setiap perusahaan, menguji kemampuan peserta pada level Kreasi (C5), yang merupakan prasyarat utama untuk mendapatkan Microcredential yang diakui industri, sehingga solusi ini menjamin bukti kompetensi yang terukur dan relevan.
Rumusan Masalah Proyek
Rumusan masalah proyek ini dirangkum dalam dua pertanyaan kunci yang memandu pengembangan arsitektur dan konten: Pertama, proyek ini berfokus pada bagaimana merancang arsitektur Modul Hybrid-Microcredential di platform SPADA yang berorientasi pada Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP) untuk mengukur keterampilan terapan tingkat tinggi (C5) yang divalidasi industri, yang secara efektif memisahkan jalur pengakuan kompetensi dari batasan administrasi akademik formal. Kedua, penelitian ini merumuskan bagaimana pengembangan prototipe konten interaktif berbasis H5P dapat dioptimalkan untuk menegakkan prinsip Mastery Learning (dengan logic gates 75%) dan meningkatkan employability pembelajar, sejalan dengan visi Bridging Human Intelligence dan Artificial Intelligence (Albert et al., 2021).
Tujuan Proyek
Tujuan utama proyek ini adalah untuk meningkatkan kapabilitas dan daya saing kerja (employability) mahasiswa tingkat akhir dan alumni melalui penyediaan jalur pengakuan kompetensi Microcredential yang berbasis bukti kinerja dan divalidasi oleh standar Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Tujuan khusus yang menyertainya dirancang untuk mendukung visi ini, yang meliputi: (1) Pengembangan Prototipe Konten, yaitu mengembangkan Satu Prototipe Unit Modul Microlearning Interaktif H5P (termasuk Interactive Video dan Branching Scenario) untuk kompetensi Literasi Digital Dasar, yang valid secara pedagogis dan teruji fungsionalitasnya dalam menegakkan Mastery Learning (2) Perumusan Kerangka Validasi, dengan merumuskan Kerangka Komponen Capstone Project dan Rubrik Penilaian yang terstandardisasi, yang memenuhi tuntutan Kreasi (C5) dan menjamin luaran proyek memiliki kualitas setara profesional entry-level serta (3) Desain UX Konseptual, yaitu menyajikan Wireframe Konseptual Alur Navigasi yang memamerkan pengalaman pengguna yang lebih intuitif dan mendukung sifat fleksibel Unconstrained Learning (Moller & Huett, 2012).
Metodologi Pengembangan Proyek
Proyek ini menggunakan Successive Approximation Model (SAM), sebuah metodologi iteratif yang berfokus pada siklus pengembangan cepat (rapid development), yang sangat sesuai untuk pengembangan konten digital dalam batas waktu terbatas.
Tahap pertama, Analisis dan Perancangan Pedagogis (Preparation & Design), berfokus pada pemetaan kebutuhan pasar dan penetapan standar rigor instruksional, yang menetapkan bahwa Microcredential harus menguji kompetensi terapan hingga level Kreasi (C5), bukan hanya pengetahuan faktual. Sebagaimana diamanatkan oleh Bishop et al. (2020), desain pembelajaran harus didasarkan pada prinsip-prinsip instruksional yang valid, sehingga strategi Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP) dipilih karena sesuai dengan tuntutan Microcredential untuk mengukur kompetensi terapan, didukung oleh teori Konstruktivisme. Perancangan Modul ini secara eksplisit mengintegrasikan prinsip Computational Thinking (CT) (Rich & Hodges, 2017) di mana logika ketat dari Mastery Gate (75%) dan alur Remedial Loop di dalam H5P adalah manifestasi dari penerapan CT, sementara Capstone Project (Menyusun SOP Keamanan Digital) berfungsi sebagai alat ukur langsung dari keterampilan CT tingkat tinggi, yang merupakan aset berharga di industri.
Tahap kedua, Pengembangan Cepat (Development – Rapid Cycle), berfokus pada produksi Prototipe Satu Unit Modul Interaktif H5P, di mana pemilihan H5P (platform berbasis web) konsisten dengan visi ubiquitous access untuk mendukung pembelajaran tanpa batas, sebagaimana diuraikan oleh Moller, Huett, dan Harvey (2009). Secara teknis, implementasi Mastery Learning sangat ketat, di mana skor 75% pada asesmen formatif H5P (C1-01 dan C2-01) bertindak sebagai gerbang wajib (Mastery Gate), dan kegagalan pada checkpoint akan memicu Remedial Loop tersegmentasi yang mengirim peserta kembali ke segmen materi spesifik, bukan mengulang seluruh modul. Jaminan bahwa teknologi mengelola jalur diagnostik dan remedial ini adalah manifestasi dari prinsip Bridging Human Intelligence dan Artificial Intelligence (Albert et al., 2021), memastikan optimalisasi waktu belajar dan rigor instruksional.
Tahap ketiga, Evaluasi (Evaluation – Alpha Testing dan Validasi), melibatkan uji coba internal (Alpha testing) untuk memverifikasi fungsionalitas H5P dan kelayakan Capstone Brief, dengan fokus pada penegakan validitas asesmen, sebagaimana ditekankan oleh Spector et al. (2014) untuk mengukur dampak teknologi secara objektif. Kualitas keberhasilan proyek sangat bergantung pada seberapa jelas dan realistisnya brief Capstone Project, serta seberapa baik Rubrik Penilaian yang dirumuskan mampu mengukur luaran Kreasi (C5) yang setara dengan profesional entry-level. Rigor dalam evaluasi (R8) dan validitas rubrik penilaian merupakan prasyarat mutlak untuk kredibilitas Microcredential , dan jika hasil Capstone Project (P-01) terbukti kredibel melalui validasi, maka Microcredential yang dikeluarkan akan memiliki nilai pasar yang tinggi, sesuai dengan harapan ekonomi yang ditetapkan di awal proyek.
Referensi
Albert, M. V., Lin, L., Spector, J. M., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
Brown, A., Oliver, K., & Smith, T. (2022). Micro-credentials as a lucrative new business model for Higher Education. Journal of Higher Education Strategy, 7(1), 12-25.
Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
Hooi K.K. (2025). From Degrees to Skills: Are Micro-Credentials the Future of Workforce Development? Journal of Information and Knowledge Management. 10.1142/S0219649225500844.
Jacob, C. E., & Centofanti, L. (2023). Effectiveness of H5P in improving student learning outcomes in an online tertiary education setting. BMC Medical Education, 23(1), 321.
Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
Pirkkalainen, H., Sood, I., Padron Napoles, C., Kukkonen, A., & Camilleri, A. (2023). How might micro-credentials influence institutions and empower learners in higher education? Educational Research, 65(1), 40-63.
Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.
Sinnayah, P., et al. (2023). Interactive H5P content for increased student engagement in a dental hygiene program. BMC Medical Education, 23(1), 321.

Tinggalkan Balasan