Pengembangan Video Pembelajaran Interaktif Berbasis Microlearning untuk Meningkatkan Keterlibatan Mahasiswa SPADA Indonesia

·

·

, ,

Nama : Reni Dwi Rahayu
NIM : 230121600284
Offering : A

Harapan Proyek

Ketika memikirkan pembelajaran ideal di era digital, saya membayangkan sebuah pengalaman belajar yang tidak hanya memindahkan materi dari kelas ke layar, tetapi benar-benar memanfaatkan teknologi untuk membuat mahasiswa terlibat secara aktif. Pembelajaran seharusnya membantu mahasiswa membangun pemahaman mereka sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam Educational Technology: A Definition with Commentary (Januszewski & Molenda, 2008) bahwa teknologi pendidikan bukan sekadar alat, melainkan sebuah upaya sistematis untuk meningkatkan kualitas belajar.

Dalam situasi ideal, mahasiswa dapat:

  • belajar dengan ritme mereka sendiri,
  • mengakses materi kapan saja,
  • mendapatkan bantuan visual yang membuat konsep sulit terasa lebih ringan,
  • dan tetap terhubung dengan esensi pembelajaran meskipun dilakukan secara daring.

Selain itu, menurut Albert et al. (2021), masa depan pendidikan sangat bergantung pada kolaborasi kecerdasan manusia dan teknologi. Artinya, teknologi seharusnya memudahkan mahasiswa memahami materi, bukan malah membuat mereka kewalahan dengan teks panjang atau video pasif yang monoton.

Dengan gambaran ideal itu, saya melihat perlunya pembelajaran digital yang lebih ringkas, interaktif, dan fokus pada pengalaman belajar yang memberi ruang berpikir bagi mahasiswa, bukan hanya menyodorkan materi.

Konteks Proyek

Proyek ini saya kerjakan dengan melihat kebutuhan nyata dalam sistem pembelajaran daring di SPADA Indonesia, terutama pada mata kuliah yang selama ini banyak menggunakan bahan berupa PDF panjang, slide statis, dan video yang sifatnya hanya “untuk ditonton”.

Padahal jika melihat perkembangan teknologi pendidikan, seperti disampaikan oleh Hokanson et al. (2018), pendidikan digital harus bergerak “melampaui konten”. Artinya, teknologi bukan hanya tempat menyimpan materi, tetapi juga sarana untuk menciptakan pengalaman belajar baru yang memberi kesempatan mahasiswa untuk berpikir, bereksplorasi, dan terlibat.

Dengan semakin meningkatnya jumlah mahasiswa yang belajar secara daring, teknologi pendidikan di SPADA seharusnya menjadi jembatan untuk membuat pembelajaran lebih manusiawi—lebih visual, lebih interaktif, dan lebih responsif terhadap kebutuhan mahasiswa yang sering kali belajar secara mandiri.

Deskripsi Kesenjangan

Hasil pengamatan saya terhadap materi-materi di SPADA menunjukkan bahwa banyak mahasiswa mengalami kesulitan mempertahankan fokus ketika berhadapan dengan materi yang panjang dan minim visual. Selain itu, mahasiswa tidak memiliki momen untuk sekadar berhenti sejenak, berpikir, atau mengevaluasi pemahaman.

Beberapa hal yang saya temukan:

  1. Materi dominan berbentuk teks sehingga terasa berat untuk dipelajari.
  2. Video pembelajaran tidak memiliki titik jeda sehingga mahasiswa hanya menjadi penonton pasif.
  3. Minimnya visualisasi membuat konsep-konsep yang abstrak tidak mudah dipahami.
  4. Kurangnya strategi microlearning, padahal mahasiswa yang belajar online mudah kehilangan fokus.

Rich & Hodges (2017) juga menjelaskan bahwa pembelajaran digital menuntut adanya variasi media dan aktivitas yang mendorong mahasiswa untuk terlibat secara kognitif. Sayangnya, sebagian besar materi SPADA belum sampai ke tahap itu.

Kesenjangan inilah yang mendorong saya untuk merancang solusi yang tidak hanya memodifikasi tampilan, tetapi membantu mahasiswa memahami materi melalui cara yang lebih sesuai dengan pola belajar digital saat ini.

Uraian Deskripsi Solusi Proyek

Solusi yang saya tawarkan adalah sebuah video pembelajaran interaktif yang disusun berdasarkan prinsip microlearning. Video tidak dibuat panjang; setiap bagian dipotong menjadi beberapa segmen pendek dengan visual pendukung, narasi, dan instruksi interaktif yang mengajak mahasiswa berpikir.

Beberapa elemen utama produk:

  1. Segmentasi Materi

Materi dibagi menjadi beberapa bagian kecil agar mahasiswa tidak merasa kewalahan. Prinsip ini mengacu pada teori Multimedia Learning dari Mayer, di mana konten yang lebih pendek terbukti lebih mudah dipahami.

  1. Penyisipan Pertanyaan Reflektif

Pada beberapa bagian video, mahasiswa diajak berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan atau merenungkan konsep yang sedang dipelajari.

  1. Penggunaan Visual Pendukung

Setiap konsep utama akan dibantu dengan diagram, ikon, atau ilustrasi sederhana agar tidak hanya bergantung pada narasi lisan.

  1. Format Video yang Fleksibel

Video disimpan dalam format MP4 sehingga mudah diunggah ke SPADA. Mahasiswa pun bisa mengaksesnya melalui berbagai perangkat.

Solusi ini saya pilih karena sesuai dengan pandangan Moller & Huett (2012) yang menyatakan bahwa pembelajaran jarak jauh generasi baru harus dirancang fleksibel, mudah diakses, dan mampu menjaga fokus belajar pengguna.

Rumusan Masalah Proyek

Bagaimana pengembangan video pembelajaran interaktif berbasis microlearning dapat meningkatkan keterlibatan dan pemahaman mahasiswa dalam pembelajaran melalui platform SPADA Indonesia?

Metodologi Pengembangan Proyek

Proses pengembangan proyek ini saya susun secara runtut sejak awal semester, mengikuti tahapan yang biasanya digunakan dalam desain pembelajaran.

  1. Analisis Awal

Saya mulai dengan mengamati pola belajar mahasiswa SPADA serta meninjau jenis materi yang tersedia. Tahap ini membantu saya memahami kebutuhan pengguna.

  1. Kajian Literatur

Saya mencari referensi dari buku-buku teknologi pendidikan, terutama 8 referensi wajib dari dosen, untuk memahami teori yang relevan seperti konstruktivisme, multimedia learning, microlearning, dan instructional design.

  1. Perumusan Tujuan

Saya menetapkan tujuan pembelajaran dan manfaat jangka panjang dari produk yang dikembangkan.

  1. Perancangan Konten

Pada tahap ini saya menyusun peta konten (content map), menentukan topik utama, serta mengumpulkan materi inti yang akan dimasukkan dalam video.

  1. Penyusunan Storyboard

Saya membuat storyboard yang memuat visual, narasi, teks di layar, dan titik interaksi. Storyboard ini menjadi panduan produksi video agar alurnya jelas.

  1. Produksi Video

Saya membuat ilustrasi, menata layout, merekam narasi, kemudian menggabungkannya dalam proses editing. Pada tahap ini juga saya menambahkan jeda refleksi dan transisi.

  1. Evaluasi Internal

Setelah video selesai, saya melakukan review pribadi dan meminta beberapa rekan untuk menonton dan memberikan masukan terkait durasi, alur, serta tampilan visual.

Metode ini sesuai dengan rekomendasi dalam Handbook of Research on Educational Communications and Technology (Spector et al., 2014) tentang pentingnya proses desain yang sistematis dan berbasis kebutuhan pengguna.

Daftar Referensi Wajib 

  1. Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
  2. Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
  3. Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
  4. Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
  5. Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
  6. Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
  7. Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
  8. Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology 
  9. Abidin, Z., Wijayanti, L., & Putra, H. (2024). Interactive microlearning for higher education: Student engagement and cognitive load analysis. Journal of Digital Learning Innovation, 12(1), 44–58.
  10. Ningrum, S., & Haris, M. (2025). Designing reflective checkpoints in online video learning: A study on student attention and retention. International Journal of Online Pedagogy, 8(2), 77–95.
  11. Rahardjo, T., & Dewi, A. P. (2024). Multimedia learning strategies for complex concepts in distance education. Asian Journal of Educational Technology, 6(3), 101–119.
  12. Sung, K.-T., & Lim, J. (2023). Segmenting long-form instructional videos: Impacts on learner focus in asynchronous environments. Interactive Learning Research Review, 14(4), 211–230.
  13. Wibowo, R., & Prasetyo, A. (2025). Student engagement patterns in SPADA Indonesia: Challenges and redesign opportunities. Journal of Open and Distance Education Studies, 9(1), 1–15. 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *