
Tiara Aisyah Putri
Bagian I: Pendahuluan
- Uraian Produk Proyek
Di tengah akselerasi pembelajaran daring pascapandemi, institusi pendidikan tinggi di Indonesia dihadapkan pada tantangan baru yang tidak lagi bersifat teknis semata, melainkan bersifat psikologis dan emosional. Platform pembelajaran daring seperti SPADA Indonesia telah berhasil menyediakan infrastruktur pembelajaran jarak jauh yang stabil dan terstandar, namun dalam praktiknya masih berfokus pada distribusi materi, penugasan, dan asesmen kognitif. Akibatnya, dimensi sosial dan emosional mahasiswa kerap terpinggirkan, padahal proses belajar tidak pernah terlepas dari kondisi emosi, motivasi, dan rasa keterhubungan sosial.
Pengalaman belajar daring yang minim interaksi empatik berpotensi memunculkan berbagai permasalahan, seperti kelelahan digital (digital fatigue), rasa kesepian akademik (academic loneliness), serta menurunnya keterlibatan belajar. Sebagaimana ditegaskan oleh Hokanson et al. (2018), teknologi pendidikan modern harus bergerak beyond content, yaitu melampaui sekadar penyampaian konten menuju perancangan pengalaman belajar yang bermakna dan berpusat pada manusia. Tanpa pendekatan ini, pembelajaran daring berisiko menjadi proses mekanis yang kehilangan nilai kemanusiaannya.
Berdasarkan kesenjangan tersebut, proyek MindConnect dikembangkan sebagai solusi pedagogis yang berfokus pada penguatan keterlibatan emosional mahasiswa dalam pembelajaran daring. Produk ini dirancang sebagai paket microlearning berbasis storytelling, refleksi digital, forum empati, dan pemantauan kondisi emosional mahasiswa yang terintegrasi dalam lingkungan SPADA. MindConnect tidak bertujuan menggantikan LMS yang ada, melainkan melengkapi fungsinya dengan menghadirkan ruang belajar yang aman secara emosional, reflektif, dan sosial.
Bagian II: Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)
- Hasil Analisis Fokus Proyek
Fokus utama proyek MindConnect adalah penguatan emotional engagement dan social presence mahasiswa dalam pembelajaran daring. Pembelajaran daring yang hanya menekankan aspek kognitif terbukti kurang mampu mempertahankan motivasi dan keberlanjutan belajar mahasiswa. Oleh karena itu, MindConnect dirancang dengan pendekatan Learning Experience Design (LXD) yang menempatkan pengalaman emosional mahasiswa sebagai inti dari proses pembelajaran.
Melalui video storytelling berdurasi pendek, mahasiswa diajak mengalami situasi yang dekat dengan realitas akademik mereka, seperti stres akibat tugas menumpuk, konflik kerja kelompok, dan kelelahan digital. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Bishop et al. (2020) yang menekankan bahwa desain pembelajaran harus berbasis riset instruksional dan pengalaman belajar autentik agar intervensi teknologi berdampak nyata terhadap capaian belajar.
Refleksi digital terstruktur kemudian digunakan sebagai sarana bagi mahasiswa untuk memaknai pengalaman tersebut secara personal. Proses refleksi ini mendorong mahasiswa membangun kesadaran diri (self-awareness) dan regulasi emosi sebagai bagian dari kompetensi belajar abad ke-21.
- Hasil Analisis Transformasi Pengalaman Belajar
MindConnect mentransformasikan pengalaman belajar daring dari aktivitas individual menjadi pengalaman sosial yang bermakna melalui forum empati (MindShare Forum). Forum ini dirancang dengan aturan komunikasi empatik, non-judgmental, dan berorientasi pada validasi pengalaman. Pendekatan ini memperkuat konstruktivisme sosial, di mana pengalaman mahasiswa lain menjadi sumber belajar yang berharga.
Sebagaimana ditegaskan oleh Spector et al. (2014), teknologi pendidikan tidak seharusnya hanya mendigitalisasi aktivitas belajar konvensional, tetapi harus meningkatkan kualitas interaksi dan proses belajar itu sendiri. Dengan demikian, MindConnect berfungsi sebagai medium pedagogis yang menjembatani pembelajaran kognitif dan emosional secara terpadu.
Bagian III: Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)
- Kolaborasi Manusia dan Teknologi dalam Pembelajaran Emosional
Konsep inti MindConnect terletak pada kolaborasi antara mahasiswa sebagai subjek pembelajaran dan teknologi sebagai fasilitator pengalaman belajar. Teknologi dalam proyek ini tidak diposisikan sebagai pengendali proses belajar, melainkan sebagai enabler yang menyediakan ruang refleksi, interaksi sosial, dan pemantauan kondisi emosional mahasiswa.
Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Bridging Human Intelligence and Artificial Intelligence yang dikemukakan oleh Albert et al. (2021), di mana teknologi berfungsi memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya. Dalam MindConnect, teknologi mendukung mahasiswa untuk mengenali emosi, mengekspresikannya secara aman, serta membangun empati melalui interaksi sosial yang terstruktur.
- Dekomposisi Masalah dalam Desain Teknologi
Secara struktural, MindConnect menerapkan prinsip dekomposisi masalah dengan membagi pengalaman belajar ke dalam komponen-komponen sederhana: video microlearning, refleksi digital, forum empati, dan MoodCheck Dashboard. Pendekatan ini memudahkan mahasiswa mengikuti alur belajar tanpa mengalami beban kognitif berlebih.
Prinsip ini sejalan dengan kerangka computational thinking yang dibahas oleh Rich dan Hodges (2017), di mana sistem kompleks dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih terkelola dan mudah dipahami.
- Definisi dan Peran Teknologi Pendidikan
MindConnect menegaskan posisinya sebagai karya dalam disiplin Teknologi Pendidikan sesuai definisi Januszewski dan Molenda (2008), yaitu studi dan praktik etis untuk memfasilitasi belajar dan meningkatkan kinerja. Produk ini tidak hanya berfungsi sebagai media, tetapi sebagai sistem pembelajaran yang mengintegrasikan penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan sumber belajar digital secara etis dan berorientasi pada kesejahteraan mahasiswa.
Bagian IV: Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek
- Aksesibilitas dan Konsep Penggunaan
MindConnect dikembangkan sebagai website microlearning berbasis Canva Website yang dapat diakses melalui peramban standar tanpa instalasi tambahan. Pendekatan ini mendukung prinsip ubiquitous learning, memungkinkan mahasiswa mengakses materi kapan saja dan di mana saja (Moller et al., 2009).
- Panduan Penggunaan Prototype (Video Tutorial)
Langkah pertama, pengguna mengakses halaman utama MindConnect yang berisi pilihan Modul 1, 2, dan 3. Setiap modul diawali dengan video storytelling untuk membangun konteks emosional. Setelah menonton video, mahasiswa diarahkan untuk mengisi refleksi digital yang telah disediakan. Selanjutnya, mahasiswa berpartisipasi dalam forum empati untuk berbagi pengalaman dan memberikan tanggapan empatik. Pada akhir modul, mahasiswa mengisi MoodCheck sebagai alat pemantauan kondisi emosional secara berkala.
Bagian V: Penutup
- Kesimpulan dan Unconstrained Learning
Sebagai simpulan, MindConnect menghadirkan pendekatan pembelajaran daring yang lebih humanis dengan mengintegrasikan dimensi emosional, reflektif, dan sosial ke dalam LMS yang sudah ada. Produk ini membantu mengurangi batasan psikologis dalam pembelajaran daring dan mendukung terwujudnya Unconstrained Learning, di mana mahasiswa dapat belajar tanpa terhambat oleh keterasingan emosional dan kelelahan digital (Moller & Huett, 2012).
Referensi
Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.
Tinggalkan Balasan