Masyitah
230121606586
Kelas C23
BAGIAN I: PENDAHULUAN
- Uraian Produk Proyek
Pendidikan di era digital menuntut pergeseran filosofis, yaitu bergerak melampaui konten statis (beyond content) menuju penciptaan pengalaman belajar mendalam yang menghasilkan kompetensi terukur (Hokanson et al., 2018). Kondisi ideal ini, sayangnya, terkendala oleh realitas sistemik di lapangan, di mana Sistem Pembelajaran Daring Indonesia (SPADA) masih beroperasi primernya sebagai agregator Learning Management System (LMS) formal yang berfokus pada nilai SKS akademik. Kesenjangan krusialnya terletak pada kegagalan sistem tersebut dalam menyediakan jalur resmi pengakuan keterampilan terapan, yaitu Microcredential, yang divalidasi oleh industri (Brown et al., 2022). Kurangnya mekanisme ini menghambat inisiatif lifelong learning dan memperburuk skill gap , padahal tuntutan pasar kerja saat ini semakin mengutamakan pengakuan keterampilan modular dan bersedia menawarkan gaji awal yang lebih tinggi bagi pemegang Microcredential (Hooi K.K., 2025). Oleh karena itu, proyek SPADA Professional Track hadir sebagai solusi untuk menjembatani kesenjangan antara validitas akademik dan relevansi industri.
BAGIAN II: ANALISIS KEILMUAN PENDIDIKAN (PEDAGOGI)
- Hasil Analisis Fokus Proyek
Fokus masalah utama dalam proyek ini adalah bagaimana mengukur kompetensi terapan tingkat tinggi (Kreasi/C5) secara kredibel di platform digital, untuk memastikan bahwa luaran Microcredential memiliki nilai di mata industri. Landasan desain pedagogis kami adalah Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP), karena strategi ini secara inheren meniru tuntutan industri dan mendukung prinsip Konstruktivisme, di mana pembelajar mengkonstruksi pengetahuan melalui aplikasi praktis pada studi kasus nyata. Fitur teknis seperti Mastery Gate (ambang batas kelulusan 75%) yang ditanamkan dalam konten H5P (Branching Scenario dan Drag & Drop) berfungsi sebagai prasyarat wajib yang memastikan peserta menguasai kompetensi dasar (C2) sebelum diizinkan mengakses Capstone Project (Menyusun SOP). Rigor instruksional ini sejalan dengan pandangan Bishop et al. (2020) yang menyoroti perlunya penerapan prinsip-prinsip riset terkini untuk membangun ekosistem pembelajaran yang efektif.
- Hasil Analisis Transformasi Asesmen yang Valid
Proyek ini menggunakan teknologi untuk mentransformasi Modul Literasi Digital Dasar: Keamanan Data Pribadi dari konten pasif menjadi pengalaman pembelajaran yang aktif dan terstruktur. Koherensi fitur Hybrid-Microcredential dalam modul ini sangat kuat dengan tujuan pedagogisnya. Modul dibagi menjadi unit Microlearning sesi 5-10 menit untuk retensi maksimal , dan teknologi H5P (Interactive Video, Branching Scenario) dipilih untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan memfasilitasi pembelajaran mandiri (Jacob & Centofanti, 2023; Sinnayah et al., 2023) [1, 1]. Integrasi Mastery Learning dengan logika H5P memastikan setiap unit kompetensi dasar dikuasai secara bertahap. Dengan demikian, teknologi tidak hanya berperan sebagai penyampai konten, tetapi sebagai arsitektur manajemen kinerja instruksional, yang mengubah SPADA menjadi platform yang menghasilkan kompetensi terukur sesuai filosofi Hokanson et al. (2018).
BAGIAN III: ANALISIS KEILMUAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN (TEKNO-PEDAGOGI)
- Jembatan Antara Guru dan AI (Bridging Intelligence)
Proyek ini menghadirkan solusi sistematis yang merupakan bentuk kolaborasi konkret antara kecerdasan manusia (perancangan pedagogis) dan teknologi (eksekusi instruksional). Kolaborasi ini terwujud secara eksplisit dalam mekanisme Remedial Loop Tersegmentasi yang diotomatisasi oleh H5P. Jika peserta gagal mencapai skor 75% pada checkpoint (misalnya pada C1-01), teknologi secara cerdas mengarahkan mereka kembali ke segmen materi spesifik (review segmen U1-02 atau U2-02), bukan mengulang seluruh modul. Otomatisasi jalur diagnostik dan remedial ini adalah manifestasi praktis dari prinsip “menjembatani kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan” (bridging human intelligence and artificial intelligence) (Albert et al., 2021) , di mana teknologi mengurangi beban teknis instruktur sambil tetap menjamin rigor penguasaan konten yang telah dirancang secara intensional.
- Penerapan Berpikir Komputasional (Computational Thinking)
Prototipe modul ini bekerja sebagai solusi sistematis dengan menerapkan aspek dekomposisi masalah, yang merupakan inti dari Computational Thinking (CT). Masalah kompetensi yang kompleks (Keamanan Data Pribadi) dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana (dekomposisi) untuk memastikan penguasaan bertahap. Unit 1 berfokus pada dekomposisi masalah Klasifikasi Data (diukur dengan H5P Drag & Drop), sementara Unit 2 berfokus pada dekomposisi masalah Prosedur Respons Phishing (diukur dengan Branching Scenario). Proses penguraian masalah menjadi langkah-langkah prosedural yang logis ini selaras dengan kerangka CT (Rich & Hodges, 2017). Puncaknya, Capstone Project (Menyusun SOP Handling Phishing) mengharuskan pembelajar untuk menyusun algoritma atau prosedur sistematis untuk penanganan krisis, yang merupakan bukti akhir dari penguasaan keterampilan CT tingkat tinggi.
- Definisi dan Peran Teknologi
Sesuai dengan definisi standar disiplin ilmu, Teknologi Pendidikan adalah “studi dan praktik etis yang bertujuan untuk memfasilitasi belajar dan meningkatkan kinerja melalui proses penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan sumber teknologi” (Januszewski & Molenda, 2008). Dalam proyek ini, Prototipe Modul H5P berfungsi sebagai “sumber teknologi yang diciptakan” untuk mengelola proses penguasaan kompetensi praktis, dengan fokus pada peningkatan kinerja (employability) lulusan. Peran teknologi kami tidak hanya memfasilitasi belajar, tetapi juga meningkatkan kinerja pembelajar di pasar kerja melalui penyediaan bukti kompetensi yang tervalidasi industri. Oleh karena itu, karya ini berposisi dalam ranah Design and Development (Spector et al., 2014) , di mana media digital dirancang spesifik untuk memvalidasi keterampilan yang setara standar profesional.
BAGIAN IV: TUTORIAL PEMANFAATAN PRODUK PROYEK
- Aksesibilitas dan Persiapan
Prototipe Modul SPADA Professional Track dirancang untuk diakses melalui platform SPADA, memanfaatkan integrasi H5P yang mulus dengan Moodle, sehingga menjamin aksesibilitas tinggi dan portabilitas konten (ubiquitous access), selaras dengan visi masa depan teknologi instruksional (Moller, Huett, & Harvey, 2009). Pembelajar mengakses modul melalui alur navigasi yang non-linear namun sangat terstruktur (melibatkan Pre-Test, Unit Pembelajaran, dan Checkpoint), yang secara kolektif mendukung konsep pembelajaran aktif dan mandiri (self-directed learning). Interaktivitas H5P (Interactive Video dan Branching Scenario) memastikan peserta tidak hanya mengonsumsi konten, tetapi berpartisipasi aktif dalam simulasi pengambilan keputusan kritis, yang merupakan inti dari efektivitas Microlearning.
(Sisipkan link embed video YouTube di sini, menampilkan wajah Anda sebagai presenter, mendemonstrasikan tutorial penggunaan modul)
- Panduan Proyek
Penggunaan modul ini diatur dalam tiga fase utama yang memastikan Mastery Learning dan rigor asesmen terapan, di mana setiap fase harus diselesaikan secara berurutan:
Langkah Proyek 1: Uji Penguasaan Awal (Mastery Check) Penggunaan modul dimulai dengan Fase Mastery Check pertama, di mana peserta diwajibkan menyelesaikan Checkpoint 1 (C1-01) berupa simulasi Drag & Drop untuk menguji kemampuan klasifikasi data (Data Sensitif vs. Non-Sensitif). Tahapan ini berfungsi sebagai gerbang wajib (Mastery Gate), di mana peserta harus mencapai skor minimal 75% untuk melanjutkan. Logika Mastery Learning diterapkan secara ketat di sini: jika peserta gagal mencapai skor ambang batas, sistem secara otomatis memicu Remedial Loop Tersegmentasi dan mengarahkan peserta kembali ke segmen spesifik video interaktif (U1-02) yang berisi materi korektif, memastikan penguasaan konsep dasar sebelum melangkah lebih jauh.
Langkah Proyek 2: Simulasi Keputusan Kritis Setelah berhasil melewati gerbang penguasaan pertama, proses tutorial dilanjutkan dengan Fase Mastery Check kedua yang berfokus pada pengambilan keputusan kritis melalui Branching Scenario (C2-01). Pada tahap ini, peserta dihadapkan pada simulasi email phishing di lingkungan kantor dan harus memilih tindakan profesional yang paling aman. Keputusan yang tepat akan memacu mereka ke Post-Test (T-01), sedangkan kegagalan akan memicu Diagnostic Loop yang mengarahkan peserta untuk meninjau kembali segmen materi yang berfokus pada 4 Indikator Phishing (U2-02), selaras dengan prinsip Bridging Human Intelligence dan Artificial Intelligence (Albert et al., 2021) dalam menyediakan umpan balik adaptif.
Langkah Proyek 3: Asesmen Terapan dan Capstone Project Langkah terakhir dalam alur SPADA Professional Track adalah Fase Applied Assessment, yang dimulai dengan Post-Test (T-01) yang berisi 10 pertanyaan komprehensif. Kelulusan (Mastery Gate 75%) pada Post-Test ini merupakan prasyarat mutlak untuk membuka akses ke Capstone Project (P-01). Peserta yang lulus kemudian dapat mengunduh Capstone Brief dan rubrik penilaian untuk menyusun tugas akhir mereka, yaitu SOP Handling Phishing (maks. 2 halaman, PDF) untuk portofolio kerja mereka. Dokumen SOP ini harus mencakup Langkah Identifikasi, Prosedur Pelaporan ke IT, dan Protokol Pemulihan Akun, yang secara langsung menguji kemampuan Kreasi (C5) dan menjamin deliverable memiliki kualitas setara profesional entry-level yang diakui industri.
BAGIAN V: PENUTUP
- Kesimpulan dan Dampak (Unconstrained Learning)
Secara keseluruhan, proyek SPADA Professional Track berhasil menyajikan luaran strategis berupa arsitektur Mastery Learning yang kredibel dan mekanisme validasi kompetensi tingkat Kreasi (C5) yang setara standar industri, mengubah SPADA menjadi ekosistem yang relevan dengan pasar kerja. Nilai strategis proyek ini adalah mewujudkan konsep Unconstrained Learning (Pembelajaran Tanpa Kendala) yang diadvokasi oleh Moller dan Huett (2012). Modul Hybrid-Microcredential ini secara fundamental membebaskan pembelajar dari batasan tradisional SKS, jadwal kaku, dan kurikulum formal, memungkinkan mereka untuk fokus secara fleksibel pada perolehan unit kompetensi spesifik yang berorientasi pada karier. Transformasi ini mendukung lifelong learning dan memastikan bahwa pendidikan tinggi mampu menghasilkan lulusan dengan jaminan kompetensi yang relevan dan memiliki daya saing yang tinggi di era digital.
Referensi
Albert, M. V., Lin, L., Spector, J. M., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
Brown, A., Oliver, K., & Smith, T. (2022). Micro-credentials as a lucrative new business model for Higher Education. Journal of Higher Education Strategy, 7(1), 12-25.
Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
Hooi K.K. (2025). From Degrees to Skills: Are Micro-Credentials the Future of Workforce Development? Journal of Information and Knowledge Management. 10.1142/S0219649225500844.
Jacob, C. E., & Centofanti, L. (2023). Effectiveness of H5P in improving student learning outcomes in an online tertiary education setting. BMC Medical Education, 23(1), 321.
Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
Pirkkalainen, H., Sood, I., Padron Napoles, C., Kukkonen, A., & Camilleri, A. (2023). How might micro-credentials influence institutions and empower learners in higher education? Educational Research, 65(1), 40-63.
Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.
Sinnayah, P., et al. (2023). Interactive H5P content for increased student engagement in a dental hygiene program. BMC Medical Education, 23(1), 321.

Tinggalkan Balasan