SPADA NEXT: Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Proyek dan AI

·

·

, ,

Dina Marrina
230121601177
Kelas B


Harapan Proyek

Proyek SPADA Next diharapkan dapat menghadirkan ekosistem pembelajaran tinggi Indonesia yang tidak hanya digital, tetapi juga humanis, kolaboratif, adaptif, dan berpusat pada mahasiswa. Kondisi ideal pendidikan yang ingin dicapai adalah lingkungan belajar yang memungkinkan mahasiswa mengonstruksi pengetahuan secara aktif melalui dialog, kolaborasi, dan pengalaman autentik, sebagaimana ditegaskan dalam teori konstruktivisme sosial bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi bermakna (Vygotsky, 1978; Garrison, Anderson, & Archer, 2000). Paradigma pendidikan masa depan tidak lagi berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi pada pembangunan komunitas belajar yang reflektif dan kooperatif yang mendukung perkembangan kognitif dan sosial mahasiswa. Dalam konteks pembelajaran digital, pendidikan ideal juga diharapkan mampu memadukan kecerdasan manusia (human intelligence) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) secara harmonis. AI bukan hanya perangkat teknis, tetapi berfungsi sebagai learning companion yang membantu personalisasi, refleksi diri, dan pengembangan kemandirian belajar (Holmes, Bialik, & Fadel, 2019; Kerr, 2016). Dengan demikian, paradigma pembelajaran masa depan menempatkan AI sebagai pendamping strategis untuk meningkatkan kualitas interaksi, bukan menggantikan peran pendidik sebagai fasilitator (Hew et al., 2020).

Selain itu, proyek ini diarahkan untuk membangun ekosistem yang menumbuhkan sense of community, yaitu rasa kebersamaan dan keterhubungan yang terbukti meningkatkan retensi, motivasi, dan kedalaman belajar mahasiswa dalam ruang daring (Rovai, 2002; Zhou, 2021). Melalui fitur kolaborasi proyek dan forum diskusi cerdas, SPADA Next diharapkan dapat menciptakan ruang belajar daring yang dialogis, suportif, dan inklusif, sehingga mahasiswa merasa terlibat secara emosional maupun akademik. Secara keseluruhan, harapan proyek ini adalah terwujudnya paradigma pendidikan tinggi yang kolaboratif, personal, dan berorientasi pada pengalaman belajar autentik. SPADA Next diharapkan menjadi model pembelajaran digital masa depan yang memfasilitasi pengembangan kecakapan abad 21 seperti kreativitas, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, serta kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah (Bell, 2010; Kokotsaki, Menzies, & Wiggins, 2016). Dengan demikian, pembelajaran digital tidak hanya berfungsi sebagai platform, tetapi sebagai ekosistem yang mentransformasi cara mahasiswa belajar, berinteraksi, dan membangun pengetahuan secara berkelanjutan.

Konteks Proyek

Proyek SPADA Next diterapkan dalam ekosistem pembelajaran daring pendidikan tinggi Indonesia melalui platform SPADA Kemdikti, yang berfungsi sebagai Learning Management System nasional untuk memperluas akses, pemerataan, dan kualitas pendidikan tinggi. Lingkungan ini ditandai oleh keberagaman latar belakang mahasiswa, kebutuhan fleksibilitas belajar, serta skala pengguna yang besar, sehingga membutuhkan sistem pembelajaran yang adaptif, kolaboratif, dan mampu mendukung interaksi bermakna di ruang daring. Dalam konteks tersebut, teknologi pendidikan memiliki peran strategis sebagai penghubung antara pedagogi, interaksi sosial, dan pengalaman belajar yang berkesinambungan. Teknologi tidak hanya menjadi medium penyampaian materi, tetapi sebagai enabling system yang memfasilitasi konstruksi pengetahuan, refleksi diri, kolaborasi lintas kampus, serta personalisasi pembelajaran. Melalui integrasi fitur kecerdasan buatan, learning analytics, dan ruang kolaboratif proyek, SPADA Next berperan dalam meningkatkan teaching presence, social presence, dan cognitive presence sebagaimana dijelaskan dalam kerangka Community of Inquiry (Garrison, Anderson, & Archer, 2000).

Peran teknologi dalam proyek ini juga mencakup penyediaan AI Learning Companion yang membantu mahasiswa memahami konsep, mengelola tugas, menerima umpan balik otomatis, serta mengembangkan kemampuan belajar mandiri (Holmes, Bialik, & Fadel, 2019). Selain itu, sistem kolaborasi berbasis proyek mendukung pedagogi abad 21 dengan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menciptakan solusi nyata, bekerja dalam tim, dan terlibat dalam diskusi reflektif yang difasilitasi oleh AI dan fitur gamifikasi (Bell, 2010; Dicheva et al., 2015). Dengan demikian, konteks proyek ini tidak hanya menggambarkan penggunaan teknologi sebagai alat, tetapi sebagai bagian integral dari desain pengalaman belajar. SPADA Next berfungsi sebagai lingkungan digital yang menghubungkan aktivitas pembelajaran, interaksi sosial, dan personalisasi melalui pemanfaatan teknologi cerdas, sehingga mendukung transformasi pembelajaran di pendidikan tinggi Indonesia menuju model yang lebih adaptif, kolaboratif, dan bermakna.

Deskripsi Kesenjangan

Meskipun SPADA Kemdikti telah menjadi platform pembelajaran daring nasional, kondisi aktual di lapangan menunjukkan bahwa kualitas interaksi, kolaborasi, dan keterlibatan mahasiswa masih jauh dari ideal. Sebagian besar mahasiswa menggunakan SPADA hanya untuk mengakses materi dan mengumpulkan tugas tanpa berpartisipasi dalam diskusi bermakna. Hal ini menunjukkan belum tercapainya social presence dan cognitive presence yang merupakan komponen penting dalam kerangka Community of Inquiry (Garrison, Anderson, & Archer, 2000). Forum diskusi cenderung bersifat formal, kurang terstruktur, dan tidak kontekstual, sehingga tidak mendorong partisipasi aktif maupun pembelajaran reflektif. Salah satu faktor penyebab adalah minimnya umpan balik berkualitas dan tepat waktu. Banyak dosen menghadapi keterbatasan waktu, beban mengajar yang tinggi, serta kurangnya pelatihan dalam pedagogi digital, sehingga kesulitan memberikan meaningful feedback pada tugas mahasiswa. Kondisi ini menghambat perkembangan keterampilan berpikir kritis dan refleksi diri, padahal studi sebelumnya menegaskan bahwa umpan balik yang cepat dan personal sangat penting dalam pembelajaran daring (Hew et al., 2020; Chen & Lee, 2020).

Selain itu, sistem SPADA saat ini belum menyediakan fitur kolaboratif yang mendukung pembelajaran berbasis proyek. Mahasiswa sering menghadapi tantangan seperti koordinasi tim, minimnya motivasi intrinsik, dan tidak adanya mekanisme penghargaan yang mendorong partisipasi aktif. Hal ini sejalan dengan temuan bahwa desain platform yang kurang mendukung interaksi sosial dapat mengurangi rasa memiliki (sense of community) dan meningkatkan risiko kelelahan belajar (Rovai, 2002; Shea et al., 2019). Hambatan teknis seperti antarmuka yang kurang intuitif, diskusi yang tidak terkurasi, serta alur aktivitas yang tidak memfasilitasi peer collaboration semakin memperlebar kesenjangan antara potensi pembelajaran daring dan implementasi nyatanya. Selain itu, literasi digital dosen dan mahasiswa yang tidak merata menyebabkan penggunaan fitur pembelajaran canggih menjadi kurang optimal. Padahal, pembelajaran masa depan menuntut kemampuan mengintegrasikan teknologi, data, dan kolaborasi sebagai kompetensi dasar (Holmes, Bialik, & Fadel, 2019).

Secara keseluruhan, kesenjangan ini mengindikasikan bahwa pembelajaran daring di SPADA belum mampu menghadirkan ekosistem yang adaptif, personal, dan kolaboratif. Keterbatasan sistem dalam mendukung umpan balik, interaksi sosial, dan pembelajaran berbasis proyek menjadi faktor utama mengapa harapan pendidikan masa depan belum terwujud sepenuhnya. Oleh sebab itu, inovasi SPADA Next diperlukan untuk menjembatani kesenjangan ini melalui integrasi AI, learning analytics, dan desain ekosistem kolaboratif yang lebih humanis serta berorientasi pada pengalaman belajar autentik.

Uraian Deskripsi Solusi Proyek

Solusi utama yang ditawarkan untuk mengatasi kesenjangan pembelajaran daring di SPADA Kemdikti adalah pengembangan SPADA Next, sebuah ekosistem pembelajaran digital yang mengintegrasikan kecerdasan buatan, kolaborasi berbasis proyek, dan desain pengalaman belajar yang lebih humanis. SPADA Next dirancang untuk menghadirkan alur belajar yang lebih adaptif dan kolaboratif melalui tiga komponen inti. Pertama, AI Learning Companion berfungsi sebagai pendamping belajar virtual yang memberikan umpan balik otomatis, rekomendasi belajar personal, dan panduan refleksi kepada mahasiswa. Pendekatan ini dirancang untuk menjawab masalah minimnya umpan balik tepat waktu yang menjadi hambatan utama pembelajaran daring, serta sejalan dengan temuan penelitian bahwa AI dapat meningkatkan personalisasi dan self-regulated learning (Holmes, Bialik, & Fadel, 2019; Chen & Lee, 2020).

Kedua, Project-Based Collaboration Hub menyediakan ruang kolaborasi digital bagi mahasiswa lintas kampus untuk mengerjakan proyek berbasis masalah nyata. Fitur ini mencakup workspace kelompok, pembagian peran otomatis berbantuan AI, monitoring kontribusi anggota tim, dan integrasi dokumen kolaboratif. Desain ini bertujuan meningkatkan interaksi sosial dan sense of community, mengingat kolaborasi terbukti menjadi komponen penting dalam keberhasilan pembelajaran daring (Rovai, 2002; Kokotsaki, Menzies, & Wiggins, 2016). Ketiga, Smart Discussion Forum dikembangkan untuk memperbaiki kultur diskusi yang selama ini pasif dengan menghadirkan AI sebagai kurator yang merangkum diskusi, menampilkan komentar paling relevan, serta mengelompokkan topik secara otomatis. Fitur gamifikasi turut ditambahkan untuk meningkatkan motivasi dan partisipasi mahasiswa, sesuai temuan bahwa gamifikasi dapat memperkuat engagement dalam pembelajaran digital (Dicheva et al., 2015).

Selain itu, SPADA Next dilengkapi Learning Analytics Dashboard bagi dosen dan mahasiswa. Dashboard ini menampilkan data keterlibatan belajar, pola akses materi, dinamika kolaborasi tim, serta deteksi dini risiko akademik. Kehadiran analitik pendidikan ini mendukung pengambilan keputusan berbasis data dan memungkinkan dosen memberikan intervensi lebih tepat sasaran (Kerr, 2016; Hew et al., 2020). Seluruh fitur SPADA Next dibangun dengan prinsip user-centered design dan berlandaskan kerangka Community of Inquiry, yang menekankan pentingnya keseimbangan antara teaching presence, social presence, dan cognitive presence dalam pembelajaran daring (Garrison, Anderson, & Archer, 2000). Dengan demikian, SPADA Next tidak hanya memperbaiki aspek teknis SPADA, tetapi menciptakan pengalaman belajar yang lebih kaya, bermakna, dan selaras dengan paradigma pendidikan masa depan yang kolaboratif, adaptif, dan berbasis pengalaman autentik.

Rumusan Masalah Proyek

Rumusan masalah utama dalam proyek ini berfokus pada bagaimana pengembangan SPADA Next—sebuah ekosistem pembelajaran kolaboratif berbasis proyek yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan—dapat meningkatkan keterlibatan mahasiswa, memperkuat interaksi sosial, serta memperbaiki kualitas pengalaman belajar dalam lingkungan pembelajaran daring SPADA Kemdikti. Proyek ini ingin menjawab pertanyaan terkait efektivitas fitur-fitur seperti AI Learning Companion, Project-Based Collaboration Hub, dan Smart Discussion Forum dalam mengatasi rendahnya partisipasi, minimnya umpan balik, serta kurangnya kolaborasi yang selama ini menjadi hambatan utama dalam pembelajaran digital. Dengan demikian, rumusan masalah ini menjadi dasar pengembangan solusi yang lebih adaptif, humanis, dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa di era pembelajaran daring modern.

Tujuan Proyek

Tujuan utama proyek SPADA Next adalah mengembangkan ekosistem pembelajaran daring yang lebih adaptif, kolaboratif, dan personal melalui integrasi kecerdasan buatan dan pembelajaran berbasis proyek, sehingga mampu meningkatkan keterlibatan, interaksi sosial, dan kualitas pengalaman belajar mahasiswa dalam SPADA Kemdikti.

Tujuan Khusus

  • Meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran daring melalui fitur interaktif, forum diskusi cerdas, dan aktivitas berbasis proyek.
  • Memfasilitasi kolaborasi lintas kampus dan lintas disiplin melalui Project-Based Collaboration Hub yang mendukung kerja kelompok secara terstruktur.
  • Menyediakan umpan balik otomatis, cepat, dan personal melalui AI Learning Companion untuk mendukung kemandirian dan regulasi diri mahasiswa.
  • Meningkatkan kualitas interaksi sosial dengan menghadirkan ruang diskusi yang lebih terkurasi, relevan, dan berbasis rekomendasi AI.
  • Membantu dosen dalam monitoring perkembangan mahasiswa melalui dashboard learning analytics yang menampilkan data keterlibatan dan dinamika kolaborasi.
  • Mendorong pembelajaran yang humanis, reflektif, dan autentik melalui pendekatan project-based learning yang relevan dengan dunia nyata.
  • Mengurangi hambatan pedagogis dan teknis yang selama ini menghambat kualitas pembelajaran daring di SPADA Kemdikti.

Metodologi Pengembangan Proyek

Metodologi pengembangan proyek SPADA Next menggunakan model pengembangan instruksional ADDIE, yang terdiri atas tahap Analisis, Desain, Pengembangan, Implementasi, dan Evaluasi. Pada tahap Analisis, dilakukan identifikasi kebutuhan mahasiswa dan dosen melalui observasi awal terhadap penggunaan SPADA Kemdikti, analisis kesenjangan keterlibatan belajar, serta kajian terhadap fitur yang belum optimal dalam mendukung interaksi sosial dan kolaborasi. Tahap ini bertujuan memahami konteks pengguna dan tantangan pembelajaran daring yang ada (Branch, 2009). Selanjutnya, tahap Desain mencakup perancangan fitur utama seperti AI Learning Companion, Project-Based Collaboration Hub, dan Smart Discussion Forum, termasuk penyusunan alur kerja pengguna (user flow), prototipe antarmuka dasar, serta desain pedagogis berbasis PjBL dan kerangka Community of Inquiry (Garrison, Anderson, & Archer, 2000).

Pada tahap Pengembangan, rancangan yang telah disusun mulai diwujudkan dalam bentuk prototipe digital menggunakan platform berbasis Moodle dan integrasi API AI untuk mensimulasikan fungsi tutor virtual. Proses pengembangan dilakukan secara iteratif untuk memastikan kesesuaian antara fitur, kebutuhan pengguna, dan prinsip desain pembelajaran. Tahap berikutnya adalah Implementasi, yakni uji coba terbatas pada satu mata kuliah daring untuk melihat efektivitas AI feedback, dinamika kolaborasi proyek, dan respons mahasiswa terhadap fitur forum yang ditingkatkan. Uji coba ini juga melibatkan pengumpulan data melalui observasi, log aktivitas sistem, dan umpan balik pengguna guna mengetahui tingkat keberterimaan dan kelayakan teknis. Tahap terakhir adalah Evaluasi, mencakup evaluasi formatif terhadap prototipe, penilaian efektivitas fitur berbasis indikator keterlibatan dan interaksi sosial, serta perbaikan sistem berdasarkan temuan evaluasi. Dengan pendekatan ADDIE, pengembangan SPADA Next berjalan secara sistematis, terstruktur, dan berbasis kebutuhan sehingga mampu menghasilkan solusi yang relevan dan efektif bagi pembelajaran daring.

Referensi

Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging Human Intelligence and Artificial Intelligence. Springer.

Anderson, T. (2020). The Theory and Practice of Online Learning. Athabasca University Press.

Bell, S. (2010). Project-Based Learning for the 21st Century: Skills for the Future. The Clearing House.

Belland, B. R. (2017). Instructional Scaffolding in STEM Education: Strategies and Efficacy Evidence. Springer.

Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of Research in Educational Communications and Technology (5th ed.). Springer.

Branch, R. M. (2009). Instructional Design: The ADDIE Approach. Springer.

Chen, C. M., & Lee, T. H. (2020). Effects of AI-based Feedback in Online Learning. Computers & Education, 150, 103–135.

Clark, R. C., & Mayer, R. E. (2016). E-Learning and the Science of Instruction. Wiley.

Dicheva, D., Dichev, C., Agre, G., & Angelova, G. (2015). Gamification in Education: A Systematic Mapping Study. Educational Technology & Society, 18(3), 75–88.

Garrison, D. R., Anderson, T., & Archer, W. (2000). Critical Inquiry in a Text-Based Environment: Computer Conferencing in Higher Education. The Internet and Higher Education, 2(2–3), 87–105.

Garrison, D. R., & Arbaugh, J. B. (2007). Researching the Community of Inquiry Framework: Review, Issues, and Future Directions. The Internet and Higher Education.

Hew, K. F., Jia, C., Gonda, D. E., & Bai, S. (2020). Transitioning to the Next Normal of Learning: Leveraging Online Pedagogies. Educational Research Review, 31, 100–339.

Holmes, W., Bialik, M., & Fadel, C. (2019). Artificial Intelligence in Education: Promises and Implications for Teaching and Learning. Center for Curriculum Redesign.

Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational Technology: A Definition with Commentary. Lawrence Erlbaum Associates.

Kerr, A. (2016). Adaptive Learning Systems: A Review of the Field. Journal of Learning Analytics, 3(1), 39–65.

Kokotsaki, D., Menzies, V., & Wiggins, A. (2016). Project-Based Learning: A Review of the Literature. Improving Schools, 19(3), 267–277.

Piaget, J. (1972). The Psychology of the Child. Basic Books.

Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging Research, Practice, and Policy on Computational Thinking. Springer.

Rovai, A. P. (2002). Building Sense of Community at a Distance. The International Review of Research in Open and Distributed Learning, 3(1).

Shea, P., Li, C. S., & Pickett, A. (2019). Online Learner Presence and Interaction Patterns. Journal of Asynchronous Learning Networks, 23(2), 1–15.

Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of Research on Educational Communications and Technology (4th ed.). Springer.

Thomas, J. W. (2020). A Review of Research on Project-Based Learning. Buck Institute for Education.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Harvard University Press.

Zawacki-Richter, O., et al. (2019). Systematic Review of Research on Artificial Intelligence in Higher Education. International Journal of Educational Technology in Higher Education, 16(1), 39.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *