Speak Up: Kampus Tanpa Bullying – Microlearning Interaktif Berbasis Simulasi untuk Membangun Kesadaran Anti-Perundungan di Perguruan Tinggi

·

·

Lana Ulfatun Ni’mah

Bagian I: Pendahuluan

Analisis Kesenjangan

Secara ideal, pendidikan tinggi di era digital diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan karakter serta kesejahteraan psikologis mahasiswa. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa praktik perundungan di lingkungan kampus masih kerap terjadi, baik dalam bentuk verbal, sosial, maupun digital. Minimnya literasi sosial-emosional serta pendekatan edukatif yang masih bersifat konvensional menyebabkan mahasiswa sering tidak menyadari bahwa perilaku tertentu termasuk kategori bullying. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan digital belum sepenuhnya menyentuh aspek empatik dan reflektif pembelajaran. Sejalan dengan pandangan Spector et al. (2014) dan Bishop et al. (2020), teknologi pendidikan seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai media penyampai informasi, tetapi juga sebagai sarana membangun pengalaman belajar bermakna yang mampu menjawab permasalahan nyata di konteks sosial pendidikan.

Bagian II: Analisis Keilmuan Pendidikan (Pedagogi)

Fokus Masalah & Landasan Desain

Fokus utama proyek “Speak Up: Kampus Tanpa Bullying” adalah rendahnya kesadaran mahasiswa terhadap bentuk, dampak, dan respon etis terhadap perundungan. Permasalahan ini menuntut desain pembelajaran yang tidak sekadar informatif, tetapi juga reflektif dan kontekstual. Oleh karena itu, modul ini dirancang dengan landasan teori konstruktivisme, di mana mahasiswa membangun pemahaman melalui pengalaman belajar aktif dan refleksi personal. Pendekatan ini selaras dengan pandangan bahwa pembelajaran efektif terjadi ketika peserta didik terlibat langsung dalam proses pengambilan makna, bukan sekadar menerima pengetahuan secara pasif (Spector et al., 2014).

Transformasi Teknologi & Koherensi Fitur

Transformasi teknologi dalam proyek ini diwujudkan melalui penerapan microlearning interaktif yang memecah materi kompleks menjadi unit kecil dan terfokus. Koherensi fitur ditunjukkan melalui alur yang saling terhubung antara video interaktif, mini-game reflektif, dan simulasi AI-chat. Setiap fitur dirancang untuk mendukung tujuan pembelajaran yang sama, yakni membangun empati, kesadaran, dan kemampuan mengambil keputusan etis. Hal ini sejalan dengan konsep educational technology beyond content yang menekankan bahwa teknologi pembelajaran harus membangun makna dan pengalaman, bukan sekadar menyampaikan materi (Hokanson et al., 2018).

Bagian III: Analisis Keilmuan Teknologi Pendidikan (Tekno-Pedagogi)

Analisis “How”: Kolaborasi Manusia & Teknologi

Dari perspektif tekno-pedagogis, proyek ini merepresentasikan kolaborasi konkret antara kecerdasan manusia dan teknologi. Mahasiswa sebagai pengguna tetap menjadi aktor utama dalam proses refleksi dan pengambilan keputusan, sementara teknologi berperan sebagai fasilitator pengalaman belajar. Integrasi simulasi AI-chat memungkinkan mahasiswa berinteraksi dengan skenario sosial yang menyerupai situasi nyata, sehingga tercipta pembelajaran empatik berbasis pengalaman. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan bridging human intelligence and artificial intelligence yang menempatkan teknologi sebagai mitra kognitif, bukan pengganti peran manusia (Albert et al., 2021).

Analisis “How”: Dekomposisi Masalah

Proyek “Speak Up” juga menerapkan prinsip dekomposisi masalah dengan memecah isu perundungan menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Masalah kompleks seperti bullying diuraikan menjadi pengenalan bentuk perundungan, dampak psikologis, peran individu (korban, pelaku, bystander), serta strategi respon yang tepat. Struktur aplikasi yang berlapis—dimulai dari video, dilanjutkan mini-game, hingga simulasi—memungkinkan mahasiswa memahami masalah secara bertahap dan sistematis. Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran komputasional dalam pendidikan yang menekankan pemecahan masalah kompleks melalui struktur yang terorganisir (Rich & Hodges, 2017).

Paragraf 6 – Analisis “How”: Definisi & Peran Teknologi

Berdasarkan definisi standar teknologi pendidikan menurut Januszewski dan Molenda (2008), teknologi pendidikan merupakan studi dan praktik etis dalam memfasilitasi pembelajaran serta meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan proses serta sumber belajar yang tepat. Proyek ini menegaskan posisinya dalam disiplin teknologi pendidikan dengan memanfaatkan perangkat digital secara etis untuk memfasilitasi pembelajaran sosial-emosional. Dengan demikian, “Speak Up” tidak hanya berfungsi sebagai media digital, tetapi sebagai sistem pembelajaran yang dirancang secara sadar untuk mencapai tujuan pedagogis tertentu.

Bagian IV: Tutorial Pemanfaatan Produk Proyek

Aksesibilitas & Konsep Pembelajaran

Produk “Speak Up: Kampus Tanpa Bullying” dikemas dalam bentuk aplikasi berbasis Android (APK) yang dapat diakses melalui perangkat mobile mahasiswa. Aksesibilitas ini mendukung prinsip fleksibilitas belajar, di mana mahasiswa dapat belajar kapan saja dan di mana saja. Karakter microlearning memungkinkan pembelajaran berlangsung singkat namun bermakna, selaras dengan pola belajar mahasiswa di era digital yang dinamis dan mobile-oriented (Moller & Huett, 2012).

Tutorial & Video

Untuk menggunakan aplikasi, pengguna membuka modul dan mengikuti alur pembelajaran yang telah disusun, dimulai dari video interaktif dengan checkpoint reflektif, dilanjutkan mini-game pengambilan keputusan, serta simulasi AI-chat berbasis skenario sosial. Setiap tahap memberikan umpan balik langsung untuk memperkuat pemahaman pengguna. Pada bagian ini disematkan video tutorial YouTube yang menampilkan penulis sebagai presenter untuk menjelaskan cara penggunaan aplikasi secara langsung, sesuai dengan prinsip diseminasi produk pembelajaran digital

Bagian V: Penutup

Kesimpulan & Unconstrained Learning

Sebagai kesimpulan, proyek “Speak Up: Kampus Tanpa Bullying” merepresentasikan upaya penerapan teknologi pendidikan yang berorientasi pada pembelajaran tanpa batas (unconstrained learning). Modul microlearning interaktif ini menghilangkan keterbatasan ruang, waktu, dan metode konvensional dalam edukasi anti-perundungan. Sejalan dengan Moller et al. (2009) dan Moller & Huett (2012), pembelajaran digital masa depan harus mampu menjangkau kebutuhan nyata peserta didik secara fleksibel dan humanis. Proyek ini menunjukkan bahwa teknologi, ketika dirancang dengan landasan pedagogis yang kuat, dapat menjadi sarana strategis untuk membangun kesadaran, empati, dan perubahan perilaku di lingkungan pendidikan tinggi.

Daftar Pustaka

  1. Albert, M. V., Lin, L., Spector, M. J., & Dunn, L. S. (Eds.). (2021). Bridging human intelligence and artificial intelligence. Springer.
  2. Bishop, M. J., Boling, E., Elen, J., & Svihla, V. (Eds.). (2020). Handbook of research in educational communications and technology (5th ed.). Springer.
  3. Hokanson, B., Clinton, G., Tawfik, A. A., Grincewicz, A., & Schmidt, M. (Eds.). (2018). Educational technology beyond content: A new focus for learning. Springer.
  4. Januszewski, A., & Molenda, M. (Eds.). (2008). Educational technology: A definition with commentary. Lawrence Erlbaum Associates.
  5. Moller, L., & Huett, J. B. (Eds.). (2012). The next generation of distance education: Unconstrained learning. Springer.
  6. Moller, L., Huett, J. B., & Harvey, D. M. (Eds.). (2009). Learning and instructional technologies for the 21st century: Visions of the future. Springer.
  7. Rich, P. J., & Hodges, C. B. (Eds.). (2017). Emerging research, practice, and policy on computational thinking. Springer.
  8. Spector, J. M., Merrill, M. D., Elen, J., & Bishop, M. J. (Eds.). (2014). Handbook of research on educational communications and technology (4th ed.). Springer.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *